
Rey
Aku menemukan Kinanty yang sudah terdaftar menjadi pasien RSJ Witra Husada pada hari yang sama. Aku menyapanya dan tanpa ku duga ia langsung mengenaliku. Entahlah, dari tatapan dan binar dimatanya, gadis itu nampak sangat berharap padaku. Apa yang harus ku lakukan sekarang?
Tiada hari tanpa mengunjungi Kinan di Rumah Sakit, ku lihat ia berteman dekat dengan seorang suster wanita yang menjaganya. Suster itu bernama Sinta, Aku sempat menitipkan buket bunga pada Sinta, untuk ia berikan pada Kinan, karena disaat yang bersamaan Ammar sudah datang menjenguk Kinan, membuatku tak bisa bertemu dengan Kinan.
Disela-sela pekerjaanku yang padat pun, aku tetap menyempatkan diri agar bisa bertemu dengan Kinan. Lambat laun, aku mulai terbiasa dan merasa ada yang kurang jika aku belum bertemu dan melihatnya. Aku mulai merasa Kinan adalah tanggung jawabku. Apalagi setelah mengetahui perbuatan suaminya. Rasanya amarah dan emosi selalu menguasai jika menyangkut pria bernama Ammar itu.
Jawaban Kinan pun seolah membuatku ingin berbuat lebih terhadapnya. Ia mengatakan jika Ammar sangat jarang mengunjunginya, yah.. mungkin hanya sekali, berbanding terbalik denganku. Aku jadi mencurigai jika yang dikandung Kinan bukanlah anak Ammar, karena jika itu anaknya mana mungkin Ammar membiarkan Kinan berada di RSJ, bukan?
Jika dugaanku itu benar..apakah bayi dalam kandungan Kinan memang anakku? Aku tak kuasa menahan rasa penasaranku. Tanpa ku sadari, secara refleks aku mulai mengelus perut rata Kinan dengan lembutnya, dimana ada janin yang berkembang disana. Walau sempat terkejut, tapi akhirnya Kinan tidak menolak bahkan ia nampak mengulas senyum. Lalu, lagi-lagi jawaban Kinan membuatku takjub sekaligus terkejut, ia mengatakan bahwa perlakuanku diperutnya saat itu jauh lebih baik daripada sekedar obat.
Entah kenapa mendengar ucapannya membuat hatiku menghangat. Bagaimana jika yang ia kandung benar-benar darah dagingku? Apa mungkin Kinan begini karena aku? Apa dia mencoba bunuh diri karena perbuatanku dimasa lalu dan suaminya tidak bisa menerima keadaan?
Aku semakin membuat tekad dalam hati, bahwa Kinan dan bayi yang ada dalam kandungannya kini beralih menjadi tanggung jawabku. Aku tak mau tahu itu anak siapa, yang jelas aku akan melakukan ini sebagai bentuk tanggung jawabku atas pele-cehan yang telah ku perbuat pada Kinan dimasa lalu. Setidaknya aku punya pekerjaan dan bisa menghidupi kami bertiga. Itulah pemikiran singkatku saat itu.
Aku tidak mau memikirkan jika sewaktu-waktu Kinan akan mengingat peristiwa malam itu, karena aku terlalu takut membayangkannya. Aku takut dan belum berani jujur pada Kinan, karena rasa nyaman saat aku bersamanya sekarang jauh lebih penting, dan aku belum mau mengakhiri ini semua dengan kejujuranku.
Aku juga takut jika aku jujur malah berdampak pada kesehatan psikis Kinan. Entah kapan aku akan mengakuinya, tapi semua yang berjalan sejauh ini sangat baik dan membuat ketakutanku menjadi berlebihan. Aku takut kehilangan semua momen hangat diantara kami berdua. Mendadak banyak ketakutan yang timbul dalam diriku.
Jika Ammar tidak mau bertanggung jawab, maka biarkan aku mengambil alih posisinya sebagai suami Kinan, lalu mencari posisiku di hati Kinan, itu jauh lebih baik bukan?
Tanpa ku duga, suatu ketika Kinan mengatakan memiliki perasaan padaku. Ya, aku tahu jika gadis ini pasti memiliki perasaan lebih padaku. Pada siapa lagi? Ammar? Tidak mungkin dia akan memiliki perasaan pada pria itu. Jikapun dulu ia memiliki perasaan pada suaminya itu, mungkin sekarang sudah hilang akibat perbuatan suaminya sendiri dan kehadiranku yang selalu bisa dia andalkan, tentunya. Aku boleh sedikit berbangga diri karena bisa merebut hati gadis yang ku inginkan. Lalu, apa kabar dengan perasaanku sendiri padanya? Entahlah.
Aku senang jika Kinan menaruh harapan besar padaku. Aku pun tak menyangkal jika aku sangat bahagia atas pengakuannya itu. Aku pernah mengatakan jika Kinan boleh berharap yang sangat besar hanya kepadaku, dan lihat sekarang? Dia benar-benar melakukannya!!! Rasanya aku ingin bersorak kegirangan!
Kini tinggal aku yang bingung dengan perasaanku sendiri. Awalnya aku memang hanya ingin bertanggung jawab tanpa ada perasaan apapun, tapi... mata yang menatapku penuh binar itu seakan memintaku untuk membalasnya dengan hal yang sama. Bibirnya yang berceloteh polos dan penuh terus-terang membuatku takut kehilangan, sikapnya yang kadang manja dan menumpukan harapan besar padaku, sedikit demi sedikit mulai membuka pintu hatiku yang sudah lama tertutup. Mengikis kekerasan kepalaku ini.
Aku selalu menampik getaran yang muncul kala sentuhan tak sengaja terjadi diantara kami. Ini berbeda, jauh berbeda saat aku dengan Mona-dulu. Dulu aku menatap Mona juga berawal dari rasa kasihan, sama seperti aku menatap Kinan di awal-awal pertemuan kami. Tapi sekarang, aku menatap Kinan dengan pandangan dan rasa yang berbeda. Selalu ada desiran dan getaran aneh yang bahkan tak kurasakan saat bersama Mona-dulu.
Saat aku menatap wajahnya yang pingsan dipangkuanku, saat itulah aku tersadar bahwa gadis ini telah mengambil sebagian perhatian dan hatiku. Saat itu dia kabur dari RSJ, bertepatan denganku yang kabur dari rumah karena perdebatan dengan Papa. Kebetulan yang sangat klise. Aku kembali menemukannya dan menolongnya.
Aku semakin sering memperhatikannya dalam diam saat kami sudah tinggal bersama di Villa milik keluarga Kevin. Saat ia mengenakan baju Keyra-adik Kevin, Kinan nampak berbeda, membuatku tersenyum dengan rasa kagum sekaligus rasa suka yang berbaur menjadi satu. Rasa suka yang sulit ku utarakan. Bukan yang biasa-biasa saja tapi luar biasa. Ku rasa hanya dia gadis yang mampu membuatku penasaran sekaligus gugup disaat bersamaan.
Saat aku menyisiri rambutnya dan memandang wajahnya di pantulan cermin, aku kembali merasa hatiku menghangat. Apalagi saat mendengarnya memanggilku dengan panggilan khusus. Ah, sepertinya aku harus mengaku kalah saat ini. Aku telah terjatuh sejatuh-jatuhnya pada pesona gadis yang statusnya adalah istri orang lain.
Aku menahan gejolak saat mengecupi bibirnya. Lagi-lagi getaran itu muncul saat kami bersentuhan. Bukan naf-su semata, tapi aku menginginkannya lebih dari itu. Takut kehilangan dan ingin memiliki selama-lamanya. Terlebih saat aku mengajarinya berciuman. Kinan sangat amatiran atau bisa dibilang tidak ahli sama sekali. Bukannya kecewa dengan ketidak-ahliannya, malah aku semakin penasaran. Astaga!!
Aku masih terus berusaha menghilangkan semua perasaan aneh yang tak pernah ku rasakan sebelumnya itu. Mencoba dan berusaha mengalihkan, aku ingin fokus dengan sikap tanggung jawab tanpa adanya perasaan lebih terhadap Kinan. Bukan karena apa-apa, tapi aku takut dimanfaatkan dan disakiti lagi seperti masa laluku. Tapi lagi-lagi aku harus kalah dan mengaku kalah. Kinan yang menang, ia telah memenangkan hatiku. Kinan tidak mungkin memanfaatkanku, bukan? Aku yakin menitipkan perasanku padanya sekarang.
Saat dia memandangku dan hanya berkedip dengan sikap polosnya, saat itu juga aku tidak tahan lagi. Aku mengakui dalam diriku sendiri bahwa...Aku telah jatuh cinta padanya dengan perasaan yang benar-benar kuat.
.
.
.
.
Oke... Pov Rey end.
Next Chapter kembali ke Rumah tangga mereka ya... Nanti aku kasi kejutan disana. Yok Vote dan hadiahnya mana?😂