How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Nyaman bersamamu



"Kalau aku mencintaimu, apa aku juga harus patuh padamu? dan mengikutimu kemanapun? Sekalipun itu harus kabur dari tempat ini?"


"Ka-kamu?"


"iya, Mas!" Ucap Kinan kemudian.


sebuah senyuman terbit dari ujung bibir Rey. Ia berjalan kembali kearah ranjang rawat yang diduduki Kinan.


"Apa-apa ka-kamu serius?" Mendadak Rey tergagap didepan Kinan.


Namun rupanya pertanyaan Rey itu bukan mendapat jawaban dari mulut Kinan, melainkan Kinan langsung memeluk pinggang Rey yang berdiri dihadapannya.


"Bukankah kamu pernah memintaku untuk berharap besar padamu, Mas? dan aku sudah melakukannya sekarang!" Ucap Kinan sambil masih bersandar diperut rata Rey, tangannya melingkar posesif.


Rey mengelus kepala Kinan, naluri yang menuntunnya untuk melakukan hal itu. Entah kenapa ia merasa senang dan perutnya seperti banyak kupu-kupu yang beterbangan saat mendengar ucapan Kinan. Ada perasaan nyaman saat berada dalam posisi ini.


Kinan mendongak melihat wajah Rey, Rey pun menatapnya dengan intens. Tiba-tiba ia melepas pelukan dengan refleks, membuat Rey sedikit terkejut. Kinan merasa malu sendiri dengan ulahnya.


"Ada apa?" Tanya Rey. Ia hendak protes karena Kinan melepas pelukannya. Baru saja Rey berharap waktu akan berhenti sebentar saja, agar rasa nyaman itu tetap ia rasakan. Namun, Kinan terburu-buru melepas tautan itu.


Kinan menggeleng.


"Enggak, enggak apa-apa!" Kinan tersenyum, wajahnya bersemu merah dan tertunduk malu.


Rey berdecak dan memutuskan duduk diranjang, disamping Kinan. Ia ingin menatap wajah Kinan yang tertunduk, tapi Kinan seolah menyembunyikan wajahnya itu.


"Kenapa jadi malu-malu?" goda Rey pada wanita disampingnya yang masih enggan menatap wajah Rey. Rey tersenyum melihat ulah gadis ini.


"Emm tak apa, a-aku jadi terkesan begitu agresif. Aku malu!" Wajah Kinan pasti sudah seperti kepiting rebus saat mengakui ini. Ia membuang muka tak mau menatap Rey yang entah kenapa terus saja mencari-cari wajahnya agar bisa bertatapan.


Rey sengaja menggoda Kinan yang nampak malu-malu, ia sesekali mengikuti kemana wajah Kinan yang sengaja disembunyikan.


"Hahahaha" Suara tawa Rey terdengar tiba-tiba.


"Kamu bukan agresif. Kamu hanya mengekspresikan perasaanmu!" jelas Rey.


Rey mengulurkan tangan, mencoba mengambil wajah Kinan yang tertunduk dan tertutup oleh rambut. Memegang pipi Kinan, dan ia arahkan agar bisa menatap matanya.


"Kinan, apa kau serius dengan kata-katamu tadi? Apa kau mencintaiku dan sudah berharap padaku?" Mata Rey Menatap manik mata Kinan, serius. Tangan Rey masih berada di pipi Kinan, mengelusnya sekilas.


"A-aku, aku. Maaf jika perasaanku itu salah"


Rey menggeleng, bukan itu yang ingin ia dengar.


"Serius atau tidak?" Tekan Rey pada point yang ingin ia dengar saja.


"Baiklah, aku anggap kau serius mengatakannya." Rey menarik nafas dalam.


Hening sejenak, tangan Rey mendekati rambut Kinan yang masih terjulur sedikit menutupi wajahnya. Rey menyelipkan rambut itu ketelinga Kinan, lalu kembali memegang pipi Kinan yang masih bersemu merah.


"Kinan, dengar aku baik-baik! Apapun yang terjadi, aku berjanji tidak akan meninggalkanmu kecuali kau yang memintaku untuk pergi!" Tambah Rey lagi. Ia yakin dan ia serius dengan kata-katanya.


Tangan Rey yang berada dipipi Kinan berangsur turun dan kembali keposisi seharusnya.


"Mas?"


"Ya?"


"Apa perasaanku salah?"


Rey menggeleng.


"Lalu?"


"Lalu apa?"


Kinan menarik nafas panjang sebelum akhirnya ia menanyakan maksudnya.


"Bagaimana perasaanmu mas? maksudku, kenapa kau memberiku harapan yang lebih dan tak mempermasalahkan perasaanku?"


Deg!!!


Rey tak berfikir sejauh ini Kinan akan bertanya, ia tak memikirkan jawaban antisipasi untuk menjawab pertanyaan Kinan barusan. Jika ditanya apa Rey menginginkan Kinan? jawabannya adalah benar. Itu semua Rey lakukan untuk meminimalisir rasa bersalahnya, semata-mata atas dasar tanggung jawab.


Tapi, Jika ditanya ia punya perasaan yang sama terhadap Kinan apa tidak, Rey menjadi bingung. Hampir sebulan kebersamaan mereka, Rey memang merasa nyaman. Tapi itu tak bisa diartikan bahwa Rey juga mencintai Kinan.


"Aku nyaman bersamamu!" Hanya kata itu yang keluar dari mulut Rey untuk bisa menenangkan Kinan.


Rey tak mau berbohong mengatakan persoalan cinta. Dan ia tak mau jika harus berkata soal rasa kasihan atau iba, dan ingin bertanggung jawab. itu akan lebih menyakiti hati Kinan. Biarlah ia bersikap naif saja untuk saat ini.


.


.


.


Bersambung...