
"Masuk saja, Sa!" ucap Joana saat pintu ruang prakteknya diketuk dari luar. Ia mengira Sasa akan memberitahu list para pasien yang akan melakukan terapi hari ini. Joana yang sibuk dengan tulisannya di selembar kertas tak menghiraukan seseorang yang baru saja masuk kedalam ruangannya, karena ia pikir itu adalah Sasa sang Asisten.
"Letakkan saja datanya di meja, Sa!" titah Joana tanpa melirik sedikitpun kearah depan, ia terus menulis menggunakan bolpoint di buku catatannya sendiri.
"Jo, apa kamu memang terlalu sibuk sampai-sampai untuk melihatku saja tidak sempat?"
Joana sedikit terperanjat mendengar suara itu, ia mengadahkan kepala untuk melihat seseorang yang berdiri dihadapannya. Orang itu tersenyum seraya bersedekap menatap Joana.
"Ammar? Kenapa kau--"
"Kenapa aku ada disini?" ucap Ammar melanjutkan kalimat Joana yang sengaja ia potong. "Aku akan melanjutkan terapiku hari ini." lanjutnya.
"Apa Sasa tidak mengatakan jika jadwalnya diundur? Akibat praktekku libur dua hari waktu itu, semua schedulle jadi berantakan."
Ammar hanya menggeleng pelan.
"Kau datang pagi-pagi sekali, aku pikir Sasa yang mengetuk pintu."
Ammar tersenyum. "Bahkan Sasa belum datang, ya? Maaf jika aku datang kepagian. Apa sekarang aku boleh duduk?"
"Ah, eh..ya tentu saja. Silahkan." Joana gelabakan.
Hari ini Joana datang lebih awal karena akibat omelan Doni tempo hari, ia harus melakukan sarapan bersama keluarga. Alhasil, ia jadi memutuskan ketempat praktek seusai sarapan, bahkan Sasa yang biasanya sudah datang pun, belum tiba saat Joana masuk ke ruangannya. Ia tak menyangka, Ammar ternyata menjadi pasien pertamanya dipagi ini.
Ammar pun duduk tepat dihadapan Joana, hanya sebuah meja persegi panjang yang menghalangi jarak diantara mereka berdua.
"Tidak biasanya Sasa lupa memberi info pada pasien." gumam Joana.
"Kenapa Jo?" tanya Ammar yang tak sengaja mendengar Joana yang tengah bergumam.
Joana segera menggeleng cepat. "Tidak. Tidak apa-apa," ucapnya. "Baiklah, sekarang kita mulai terapi-mu." Entah kenapa semenjak pertanyaan Ammar kemarin saat mereka jalan-jalan ke pantai, Joana merasa ada yang aneh dari tatapan Ammar kepadanya. Atau itu hanya perasaannya saja? Tapi Joana sangat peka dan profesinya menuntut agar ia bisa membaca gerak-gerik seseorang. Apa kali ini Joana salah prediksi?
Ammar pun mulai melanjutkan cerita tentang masa silamnya yang belum Joana ketahui. Terutama masa kelam yang ia lewati pasca berpisah dari Kinan. Tentu saja itu dilakukan sebagai bentuk pengobatan yang ia lakukan. Joana menjadi pendengar yang baik, itu memang tugasnya. Tak jarang, Joana juga melempar pertanyaan pada Ammar. Kadang itu mengarah pada faktor-faktor yang memicu kesehatan psikis lelaki itu.
"Melupakan masa lalumu adalah hal yang mustahil, kau tidak perlu melupakannya. Tugasmu sekarang adalah kau harus menstimulasi pikiranmu kearah yang positif. Berpikir yang baik. Jaga pola hidup yang baik. Semua tergantung dengan usahamu.
Ammar mengangguki statement yang Joana berikan.
"That's good. Itu bisa mendorongmu untuk berpikir bahwa kau masih layak hidup dengan baik. Jangan lupakan tujuan awalmu, visi-misi hidupmu yang membuatmu bertahan sampai hari ini." Joana menatap serius pada Ammar, mengalihkan diri dari catatan yang ia coret di kertasnya.
"Visi-misi?"
"Ya, kau pasti mempunyainya. Contohnya, apa yang bisa membuatmu kuat sampai hari ini? Tentunya masa lalu yang buruk tidak akan membunuhmu, bukan? Kau hanya perlu kuat menghadapi itu dan mengingat apa yang menjadi kekuatanmu. Anak, misalnya."
"Anak-anakku.. Ya mereka terlalu sering ku kecewakan akhir-akhir ini." ucap Ammar lesu.
"Nah, jangan mengingat yang buruknya tapi kau harus mengingat yang baiknya, kau mungkin sudah mengecewakan mereka, namun itu bisa kau jadikan pacuan agar kau jadi lebih baik lagi agar tak membuat mereka semakin kecewa."
"Ya itu benar. Anak-anakku tidak boleh semakin kecewa lagi karena ulahku.
"Usaha barumu bagaimana?"
"Sejauh ini lumayan lancar.."
"Bagus. Itu juga bisa menjadi tujuanmu. Berkembanglah dengan baik. Aku yakin masih banyak hal positif yang bisa kau lakukan."
"Aku pasti bisa jadi lebih baik. Terima kasih, Jo. Kau membuat pikiranku semangat dan terbuka."
"Bukan masalah. Itu memang pekerjaanku." Joana tersenyum simpul. Ia menutup catatannya.
"Ammar.."
"Ya?" Ammar menatap Joana yang telah melihatnya lekat.
"Kinan sudah memaafkanmu, bukan?"
"Aku yakin Kinan pasti sudah memaafkan kesalahanmu. Kinan dulunya juga pasienku. Aku sangat mengerti benang kusut yang sempat terjadi di Rumah Tangga kalian." Joana berdiri dihadapan Ammar yang masih terduduk, ia menyandarkan pinggangnya di bibir meja.
Tidak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut Ammar sekarang, ia seperti menyelami maksud dari perkataan Joana. Joana menghela nafasnya, kemudian ia berbicara lagi.
"Karena Kinan sudah memaafkanmu. Kini giliranmu-lah yang memaafkan dirimu sendiri." Joana menepuk pundak Ammar beberapa kali. "Aku merasa, semua keterpurukanmu bukan karena meratapi nasib lagi, tapi itu karena kau sendiri yang belum memaafkan kesalahanmu. Berdamailah dengan dirimu sendiri." Joana menatap lekat ke pemilik mata dengan manik hitam itu.
Disaat yang bersamaan, Ammar seolah tenggelam dalam sikap dan perlakuan Joana. Ucapan Joana terngiang-ngiang dikepalanya. Ia harus berdamai dengan diri sendiri. Memaafkan dirinya dan melupakan kesalahan yang dulu ia perbuat pada Kinan, yang membuatnya merasa amat menyesal. Itulah yang harusnya Ammar lakukan. Ammar bagai teraduk-aduk akibat ucapan Joana, ia bagai larut dalam gelombang yang menyebabkannya sadar bahwa semua sudah berlalu. Semua telah berubah dan semua sudah memaafkannya termasuk Kinan. Lalu bagaimana dengan dirinya sendiri yang amat menyesal atas dosanya yang dulu menelantarkan Kinan? Ya, Ammar belum memaafkan dirinya sendiri, ia belum berdamai dengan dirinya yang amat tega ikut ambil peran dalam menghancurkan hidup Kinan.
"Apa yang harus aku lakukan?" ucap Ammar, mendadak pandangan Ammar terlihat kosong dimata Joana.
Joana menepuk-nepuk punggung tangan Ammar, berharap bisa menyadarkannya dari situasi yang ia yakini bahwa Ammar baru saja terstimulasi oleh ucapannya tadi.
"Kau harus menjadi lebih baik dan jangan pernah ulangi kesalahanmu lagi." ucap Joana.
Seketika itu juga Ammar tersadar, ia seolah baru saja mengalami pergejolakan batin yang begitu tiba-tiba. Ammar menatap serius pada Joana. Joana mengernyit heran melihat tatapan Ammar yang kini sudah berbeda lagi.
"Jo, apa tadi kau menghipnotisku?" tanyanya dan Joana tergelak saat itu juga.
Joana menggelengkan kepalanya berulang kali akibat pertanyaan Ammar yang ia anggap konyol.
"Jo, aku serius. Apa kau juga punya kemampuan untuk menghipnotis orang?"
Lagi, Joana tergelak bahkan kini ia sudah memegangi perutnya sangking merasa lucu akibat ucapan Ammar.
"Astaga, kau ada-ada saja." ucap Joana seraya terus terkekeh, tapi kemudian tawa itu menghilang kala ia melihat wajah Ammar yang serius tanpa berniat mengikuti tawanya yang kencang.
"Maaf." kata Joana seraya berdehem untuk menghentikan sikap absurdnya sendiri.
"Tak apa. Aku tidak peduli itu memang ilmu hipnotismu atau bukan, tapi terima kasih, Jo! Aku akan mengingat semua ucapanmu tadi. Aku akan menjadi lebih baik lagi dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi." paparnya.
"Aku senang kau memahami maksudku. Tampaknya kau tidak memerlukan anti depresan lagi. Sepertinya kau sudah sembuh." Joana tersenyum.
"Jangan mengejekku!" Ammar berdiri dari duduknya, kini ia berdiri tepat dihadapan Joana dan Joana terdiam seketika.
"A-aku tidak bermaksud mengejekmu." Kilah Joana, ia memalingkan wajah karena Ammar menatapnya dengan jarak dekat. Joana lupa berpindah posisi, ia masih berdiri bersandar dibibir meja tepat dihadapan Ammar. Kini Ammar berdiri dan sudah pasti mereka menjadi sangat dekat.
Ammar menatap intens pada Joana. Kenapa didekat Joana ia bisa merasa seperti ini. Seperti terhiponis dan nyaman? Apa iya dia nyaman pada gadis ini?
"Jo, apa lelaki psikopat itu masih mengganggumu?" tanya Ammar, tatapannya tak beralih sedikitpun membuat jantung Joana tiba-tiba berpacu dengan cepat. Apalagi kali ini Ammar menanyakan masalah pribadinya.
"Ti-tidak.." Joana menjadi tergagap.
"Baguslah."
"Hmm.."
"Bisa tolong jaga dirimu sendiri?" tanya Ammar dan pertanyaan itu sukses membuat Joana melongo. Kenapa Ammar harus meminta tolong padanya untuk hal itu?
"Te-tentu, aku--aku akan menjaga di-diriku." jawabnya.
Ammar terkekeh untuk pertama kalinya, padahal dari tadi ia tidak menunjukkan ekspresi itu.
"Ke-kenapa?" tanya Joana, kini ia ikut menatap wajah Ammar karena merasa aneh dengan kekehan Ammar.
"Wajahmu merah." ucapnya, lalu Ammar mendorong kursi dibelakangnya dan gegas keluar ruangan, meninggalkan Joana yang terpaku akibat ucapannya.
Joana secara refleks memegang kedua pipinya sendiri, "Apa wajahku memerah?" gumamnya dengan ekspresi terperangah.
Pintu tiba-tiba terbuka kembali, membuat Joana menatap kesana.
"Aku pulang. Jaga dirimu baik-baik." kata Ammar seraya kembali menutup pintu ruangan Joana. Joana memejamkan matanya, untuk pertama kalinya ia merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia harus segugup itu dihadapan Ammar? Perasaan yang aneh mulai merayapi pikiran dan mungkin sudah turun ke hatinya? Entahlah..
...Bersambung......