
"Jangan beri dia harapan lagi." Ucap Kinan.
Rey menggeleng. "Aku akan bertanggung jawab atas hidupnya. Aku janji."
Kinan menghela nafasnya, ia memutar tubuh untuk duduk di pinggiran ranjang.
"Mas, aku sudah memaafkanmu. Kembalilah ke Indonesia!" Ucap Kinan lembut setelah hening tercipta beberapa saat tadi.
Rey mendekat dan duduk disamping Kinan. "Terima kasih jika kau sudah memaafkanku." Ucap Rey dengan suara terendah.
"Hmm, sudah selesai kan?" Kinan menoleh ke arah Rey dan menatapnya serius, Rey menggeleng. "Belum." Katanya.
"Lalu apa lagi? Kau mau aku memaafkanmu, dan sudah ku lakukan kan?" Ucap Kinan frustasi. Rey memegang kedua pundak Kinan, berusaha menenangkan wanita itu.
"Aku sudah bilang akan bertanggung jawab, Ki! Sekarang jujur padaku satu hal!" Desak Rey. Ia mengambil kedua tangan wanita itu dan menggenggamnya. Tidak ada penolakan, hanya saja Kinan tak mau menatap ke mata pemuda itu, ia seolah tahu apa yang akan Rey tanyakan selanjutnya.
"Anak yang kau kandung adalah anakku kan?"
Kinan menatap kesembarang arah, tak berani menatap mata hazel yang menuntutnya untuk berkata jujur.
"Bukan." Ucapnya dengan pelan, nyaris tak bersuara.
"Lihat aku dan bilang yang sebenarnya, Ki!" Rey menarik dagu wanita itu agar kembali menatapnya dan Rey menemukan mata Kinan sudah basah oleh air matanya sendiri.
"Ada banyak hal yang harus ku urus, aku akan meninggalkan semua urusan itu hanya untuk menunggu jawabanmu!" Rey menghembuskan nafasnya secara perlahan, kemudian melanjutkan bicaranya. "Aku akan menunggu jawabannya disini!" Sambung Rey lagi.
"Anak yang ku kandung adalah anakku!" Kinan memeluk perutnya dengan posesif dan Rey berdecak kesal.
Rey bangkit dari posisinya dan melangkah menuju sofa yang sempat ia duduki tadi. Ia membaringkan tubuhnya dengan nyaman di sofa itu walau kaki panjangnya harus melewati lengan sofa.
"Apa yang kau lakukan, Mas?"
"Menunggumu jujur!" Rey memejamkan matanya. Kinan ingin protes tetapi ketukan di pintu kamarnya membuatnya terkejut.
"Mas, menyingkir dari sana sebelum ada yang melihatmu!" Ucap Kinan. Rey bergeming, ia malah bersedekap dada dan terus memejamkan matanya seolah hendak tidur nyenyak disana.
"Mas.." Desak Kinan diiringi suara ketukan pintu yang semakin kuat.
"Miss, apa kau baik-baik saja di dalam?" Suara pelayan dari luar memanggil Kinan.
"Ya, aku baik-baik saja! Sebentar aku lagi di toilet." Pekik Kinan menjawab pelayan itu. Rey tersenyum miring mendengar kebohongan Kinan.
"Mas, aku akan membuka pintu, aku tidak peduli kau akan ketahuan!" Ucap Kinan dan Rey tetap santai.
"Ya sudah." Ucap Rey tak acuh.
Kinan menjadi kesal sendiri. "Apa yang kau mau?" Tanya Kinan pada Rey yang terpejam.
"Jawab dulu anak itu anakku atau bukan?" Rey merubah posisinya menjadi duduk.
"Aku akan membuka pintu!" Ancam Kinan agar Rey takut, padahal sebenarnya ia juga takut keberadaan Rey akan dilihat pelayan itu.
"Tak usah, biar aku saja.. sekalian saja aku memperkenalkan diri!" Ejek Rey. Rey bangkit dan Kinan terkejut. Ia makin ketakutan jika keberadaan Rey diketahui pelayan dirumah ini.
"Yah ini anakmu! Jika kau sudah puas tolong bersembunyilah!" Ucap Kinan menyerah dan Rey tersenyum menang. Pemuda itu menyingkir dari sana dan menyembunyikan diri di dalam kamar mandi.
Kinan gegas membuka pintu kamarnya dan mendapati pelayan wanita tengah menunggunya di depan pintu sambil membawa nampan berisi makan malam milik Kinan.
"Maaf aku tadi lagi di toilet!" Ucap Kinan dengan gugup. Ia takut keberadaan Rey sudah diketahui pelayan dan para bodyguard itu.
"Ya Miss, aku akan masuk dan menata makan malammu. Dan juga mereka ingin bertemu dan memeriksa keadaan anda!" Ucap Pelayan itu seraya menunjuk dua orang pengawal tengah berdiri di ruang tamu.
Kinan mengangguk. Ia melangkah keluar kamar, sementara pelayan itu masuk ke dalam dan menata makanannya diatas meja yang ada di kamar. Selama ini, Kinan memang tak pernah mau makan di meja makan, karena ia selalu makan sendirian di meja makan, membuatnya makin tak berselera.
Kinan menemui dua pengawal itu diruang tamu, hatinya bertanya-tanya kenapa mereka ingin menemuinya. Kinan yakin pasti ada kaitannya dengan Rey dan Ia menjadi gugup karena harus membuat alasan sekarang.
"Ada apa?" Tanya Kinan pada dua orang berbadan tegap itu. Yang satu berkepala botak dan yang satunya terlihat klimis dengan potongan rambut sedikit panjang yang dikuncir kuda.
"Apa Nona baik-baik saja? Psikiater itu sudah pulang?" Tanya salah satu dari mereka yang berkepala botak.
"Oh maaf Nona, kami tidak melihat kepulangannya karena ada sedikit problem tadi." Jawabnya lagi.
Kinan mengangguk dan tak mempermasalahkannya.
"Baiklah, aku bisa kembali ke kamarku kan?" Tanya Kinan menatap kedua orang itu.
"Tentu, Nona." Jawab yang satunya.
Kinan berbalik badan untuk kembali ke kamarnya tapi langkahnya terhenti karena salah satu diantara pengawal itu kembali bersuara.
"Apa tadi Psikiater anda pulang bersama asistennya?"
"Asisten?" Kinan tampak bingung dan tak mengerti apa yang dimaksud kedua orang ini.
"Ya tadi Nona itu datang bersama seorang pria, katanya itu asistennya. Apa asistennya juga ikut pulang?"
"Ya-yah, tentu saja." Jawab Kinan gugup. "Asistennya ikut pulang bersamanya. Tidak mungkin asistennya menginap disini. Kau tau kan?" Kinan mencoba mengulas senyum diujung kalimatnya, kemudian dua orang itu mengangguk mengerti.
"Baiklah, Nona. Maaf telah mengganggu waktu istirahatmu. Selamat malam!"
"Yah, selamat malam!" Kinan kembali berjalan pelan menuju kamarnya dan merasa lega seolah telah selesai dari interogasi polisi.
Kinan mengunci pintu kamarnya dan kembali duduk di pinggiran ranjang. Ia memikirkan pertanyaan pengawal tadi tentang Joana yang datang bersama asistennya. Lalu ia mengingat-ingat lagi tingkah aneh Joana siang tadi.
"Dorrr!" Suara Rey mengejutkan Kinan. Kinan memandangi pemuda itu dengan tatapan aneh sembari menyembunyikan rasa kagetnya.
"Ada apa?" Tanya Rey yang melihat Kinan menatapnya dengan tatapan berbeda.
"Kau menyamar menjadi asisten Joana?" Kinan memicingkan mata ke arah Rey dan Rey dengan otomatis mengangguk sambil mengelus tengkuknya sendiri.
"Kalian ini benar-benar---" Kinan tak melanjutkan ucapannya.
"Sudahlah, jangan bahas tentang wanita lain. Aku mau membahas tentang kita."
"Kita?"
"Ya, Kita!" Rey menatapi Kinan dengan tatapan gemas.
"Jangan menatapku begitu, Mas! Dan tidak ada yang perlu dibahas tentang kita."
"Baiklah, mungkin kau butuh makan sekarang, makanlah!" Rey menunjuk ke arah meja yang sudah dipenuhi makanan dengan dagunya, mengisyaratkan agar Kinan duduk disana.
"Lalu kau?"
"Aku akan makan jika kau tawarkan." Ucap Rey sambil tersenyum.
"Makanlah, aku akan tidur!" Ucap Kinan cuek.
Rey berdehem sebelum mengucapkan kalimatnya.
"Apa terlalu lancang jika aku ingin menginap disini?" Suara pemuda itu terdengar serius tapi bernada datar.
Kinan mencebik. "Terserah." Ucapnya. Kinan memutuskan untuk tidur tanpa menyentuh makan malamnya yang sudah diantarkan pelayan tadi. Sesungguhnya ia juga tak tahu harus bagaimana. Karena jika Rey tak menginap, mereka berdua harus memikirkan bagaimana caranya agar pemuda itu bisa keluar dari rumah ini tanpa sepengetahuan pelayan dan para bodyguard itu.
Rey tersenyum miring, ia duduk di sofa sembari menyalakan televisi. Posisinya yang santai seolah tak ada beban membuat Kinan semakin serba salah. Lagi-lagi Rey hanya bisa mengu lum senyumnya melihat Kinan yang sudah menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Selamat tidur, Kinanty!" Ucapnya pelan. Sesungguhnya ada perasaan membuncah dalam hatinya sekarang, karena sudah mengetahui jika Kinan benar mengandung anaknya. Perasaan yang sulit diartikan. Terutama Rey bahagia melihat Kinan yang mulai melunak padanya.
.
.
.
Bersambung...