
Kinan menguap sambil menggeliat pelan diatas tempat tidurnya, ia melirik jam yang terletak di meja nakas. Masih terlalu dini untuk bangun, namun Kinan tetap beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.
Kinan sedikit terkesiap melihat keberadaan seseorang yang tengah tertidur di sofa.
"Ah, dia benar-benar ada disini." Gumam Kinan pada dirinya sendiri.
Kinan memperhatikan Rey yang masih terlelap dalam tidurnya. Jemarinya ingin meraih dan menyentuh wajah pemuda itu namun ia cepat-cepat menggeleng dan menepis keinginannya itu.
Kinan berjalan kembali menuju kamar mandi. Sayup-sayup ia mendengar suara Rey menyebut namanya, Kinan berhenti dan berbalik untuk melihat Rey, tapi yang Kinan lihat adalah Rey yang masih tertidur dengan wajah teduhnya.
"Kau bermimpi?" Gumam wanita itu, ia tersenyum tipis. Kinan memutuskan kembali menuju ranjang, mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Rey dengan selimut itu. Udara di London cukup sejuk walau ini bukan musim dingin.
Kinan melirik makanan yang di hidangkan malam tadi.
"Ck, kau sama sekali tidak memakannya?" Kinan beranjak, ia memutuskan mengambil baju ganti dan akan mandi sekarang juga.
Setelah selesai mandi dan sudah mengenakan pakaiannya, Kinan memutuskan keluar kamar. Ia meninggalkan Rey yang masih terlelap itu.
Kinan memasuki area dapur yang ternyata belum nampak sesiapapun disana. Ia membuka lemari pendingin dan memilih beberapa bahan makanan yang bisa ia masak.
Saat Kinan tengah asyik memotong sayuran, seorang pelayan memasuki area dapur dan terkejut mendapati Kinan yang sudah lebih dulu berada disana.
"Apa yang kau lakukan, Miss? Aku yang akan menyiapkan sarapan dan makan untukmu!" Ucap pelayan wanita tiu sungkan.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin makan makanan indonesia. Biar aku yang membuatnya!" Ucap Kinan diselingi senyumannya yang natural. Pelayan itu mengangguk dan menawarkan bantuan apa yang bisa ia lakukan untuk meringankan kegiatan Kinan.
"Tidak usah, aku sudah terbiasa seperti ini sebelumnya." Ucap Kinan. Ia mengingat sekilas rutinitasnya dulu ketika masih sering menyiapkan sarapan dirumah Ammar.
"Baiklah, Miss. Aku akan membantumu menyajikan makanan ini ke dalam kamarmu!"
"Ah, tidak usah. Biar aku yang akan membawanya kesana. Kau lakukan saja tugas yang lain." Ucap Kinan disela-sela kegiatannya.
"Yes, Miss"
"Oh iya, jangan bersihkan kamarku. Aku yang akan membersihkannya hari ini."
"Kenapa Miss?" Pelayan itu nampak heran.
"Emm, tak apa. Mood ku sedang baik hari ini." Kinan tersenyum menatap pelayan wanita itu.
"Ok, Miss." Ucap pelayan itu sambil sedikit tertunduk. Kinan mengangguk, dan ia melanjutkan kegiatan memasaknya.
Setelah lebih dari satu jam, Kinan pun sudah menyelesaikan masakannya. Ia memasak kwetiau goreng dengan seafood, sup ayam dan beberapa potong sandwich isi daging. Kinan menata makanan itu dalam sebuah troli makanan. Tak lupa ia membawa nasi sebagai pelengkap dan juga teh dan air putih sebagai minumannya. Perutnya mendadak lapar karena tadi malam ia juga tak memakan apapun.
Kinan membuka apronnya, lalu berjalan perlahan menuju kamarnya sendiri sambil mendorong pelan troli makanan itu. Sesampainya dikamar, ia gegas mengunci pintunya dan melihat Rey yang masih tertidur juga. Kinan meletakkan troli makanan itu tepat di depan sofa tempat Rey tertidur. Kemudian, ia membuka tirai gorden agar cahaya matahari masuk ke dalam kamarnya.
"Selamat pagi." Ucapan Rey itu mengagetkan Kinan ketika ia hampir menoleh kebelakang. Kinan memegangi dadanya yang terkejut, dan Rey terkekeh melihatnya.
"Kau terbiasa bangun siang, huh?" ejek Kinan. Rey menggeleng. "Ini belum terlalu siang, lagi pula baru tadi malam rasanya aku tidur dengan nyenyak." Rey melihat Kinan yang masih berdiri didepan jendela tapi sedetik kemudian indera penciumannya mencium aroma lezat makanan dan ia menyadari troli makanan itu ada didepannya.
"Apa pelayan itu sudah tahu aku disini?" Tebak Rey, karena ia berfikir pelayan yang mengantar makanan itu pasti melihat keberadaannya.
"Menurutmu?" Kinan menghampiri troli dan menyajikan makanan itu satu persatu ke atas meja. "Mandilah, setelah itu sarapan. Kau pasti lapar." Ucap Kinan sambil menuangkan teh ke dalam cangkir.
Rey bangkit dari posisinya dan ia menurut untuk mandi. Kinan duduk di sofa dan menunggu Rey selesai dengan aktifitasnya. Selang beberapa menit, pemuda itu sudah keluar dengan rambut yang masih basah dengan mengenakan kembali baju dan celana yang sama.
"Aku tidak punya baju ganti." Ucap Rey sambil terkikik. Entah kenapa wajahnya begitu senang saat ini.
"Duduk dan makanlah, Mas." Ucap Kinan lembut. Tapi, Rey malah fokus mengeringkan rambutnya dengan handuk. Kinan berdecak dan akhirnya menghampiri Rey. Tanpa berkata apapun, ia menarik handuk dari tangan Rey dan mendorong tubuh pemuda itu untuk duduk di pinggir ranjang. Rey menatapnya dengan tatapan heran, apa yang akan dilakukannya?-Pikir Rey.
Kinan dalam posisi berdiri, sementara Rey terduduk di pinggiran ranjang itu. Kinan mengusapkan handuk tadi ke atas kepala Rey, ternyata ia ingin membantu Rey mengeringkan rambutnya. Rey tersenyum mendapat perlakuan itu. Matanya tak henti-hentinya menatap ke arah Kinan yang begitu perhatian hari ini.
"Sudah siap. Ayo sarapan!" Suara itu berucap datar tapi ditelinga Rey bagaikan ucapan lembut yang penuh kasih. Rey bagai terhipnotis, ia mengikuti gerak Kinan menuju sofa dan keduanya duduk berdampingan di sofa itu.
"Kau mau makan yang mana?" Tanya Kinan.
Rey melihat makanan yang tersaji. "Yang mana saja." Ucap Rey dan detik itu juga Kinan mengambilkannya nasi beserta sup ayam.
"Makanlah yang banyak. Kau terlihat kurus sekarang!" Ucap Kinan dan Rey mengangguk mengiyakan.
"Kenapa? Apa makanannya tidak enak?" Tanya Kinan.
"Bukan, ini sangat enak. Aku jadi rindu masakan Mama."
"Baguslah, jadi tidak sia-sia aku memasaknya." Ucap Kinan datar.
"Kamu yang memasaknya?" Rey tersenyum senang, ternyata Kinan benar-benar mempedulikannya.
"Iya, kenapa terus melihatku begitu?" lagi-lagi Kinan menggigit sandwich-nya.
"Aku mau itu juga!" Ucap Rey. Belum sempat Kinan menjawab, Rey sudah mengambil tangan Kinan yang berisi potongan sandwich, lalu mengarahkan tangan Kinan itu ke arah mulutnya dan dia ikut memakan sandwich kepunyaan Kinan.
"Mas! itu masih banyak kenapa makan yang ini!" Protes Kinan.
Rey tersenyum miring dan memutuskan diam seraya menikmati sandwich yang sudah masuk ke mulutnya.
"Mas!" Kinan menuntut jawaban dari lelaki itu.
"Aku mau makanan yang kau makan." Ucap Rey enteng dan Kinan memutar bola matanya.
"Apa aku boleh menghabiskan semuanya?" Tanya Rey, kini tangannya siap mengambil kwetiau dari piring.
"Hmm" Kinan bergumam, sesungguhnya hatinya bahagia melihat Rey makan masakannya dengan lahap.
"Makanlah juga yang banyak, anak dan calon istriku harus sehat." Ucapan Rey yang tiba-tiba itu membuat Kinan tersedak.
"Pelan-pelan." Rey gegas memberi Kinan air dan tisu.
"Sudah tidak apa-apa?" Rey melihat Kinan mengangguk dan merasa lega.
__
"Kapan kau akan meninggalkan kamarku, Mas?" Tanya Kinan setelah mereka selesai sarapan.
"Kenapa? Kau tidak senang aku disini?" Rey menatap Kinan serius.
"Bukan begitu, aku takut kau ketahuan dan menjadi akhir yang tidak baik untuk dirimu!"
"Kau menghawatirkan aku?" Rey menyeringai.
Kinan bangkit dari duduknya. "Entahlah." Ucapnya.
"Apa Paspor dan Visa mu di tahan?" Tanya Rey.
"Tidak, semuanya ada padaku."
"Bagus, kita pulang besok!"
"Mas, ini tidak semudah itu. Aku punya janji pada orang lain dan jika tidak menepatinya anak yang ku lahirkan akan diambil."
"Apa?" Rey terperangah dan berdiri dari posisinya, sementara Kinan mengangguk. Kinan menjelaskan semuanya pada Rey dan pemuda itu tampak mengerti.
"Biar ini menjadi urusanku." Ucap Rey sambil mengelus lembut rambut Kinan. Tidak ada penolakan lagi dari wanita itu, membuat Rey yakin jika kini Kinan telah memaafkannya seutuhnya. Kini Rey tinggal memikirkan bagaimana ia harus keluar dari kamar Kinan dan merencanakan kepulangannya bersama Kinan.
"Apa kita menikah saja di kota ini lalu menetap disini saja?" Rey menatap lembut mata Kinan. Wanita itu berkedip sekali dan sedetik kemudian wajahnya memerah akibat ucapan Rey.
.
.
.
.
Bersambung...