
Karena mengikuti beberapa saran, aku jadi lanjut disini 🙏 Tapi karena udah buat predikat "End" aku gak mungkin ganti lagi karena itu bisa menurunkan Level Novel-- Itu sih kata seseauthor yang aku tanyain.
Jadi intinya, aku tetap lanjut disini ya.. Jangan di Unfavorit makanya, biar pemberitahuannya kalau pas Up tetap muncul di apk Noveltoon/Mangatoon kalian.
Jangan lupa Like dan komentarnya ya 🙏Semua bentuk dukungan dari kalian adalah penyemangatku..💕💕
Happy Reading...
_______
.
Waktu yang telah berlalu, sejatinya akan terus berputar. Semakin lama, semakin jauh, semakin meninggalkan masa-masa yang pernah terjadi. Itulah kenapa kenangan hanya untuk dikenang dan penyesalan terkadang diratapi. Semua itu terjadi karena waktu yang berlalu tak akan pernah bisa diulangi. Waktu yang telah bergerak, beranjak dan tidak bisa ditukarkan dengan apapun di dunia ini untuk bisa kembali kemasa itu untuk merubah sesuatu yang telah terjadi.
Begitu juga dengan Ammar, lelaki itu begitu larut dalam penyesalannya. Satu hal yang paling ia sesali adalah ketika dia tidak mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi dan telah menimpa istrinya, Kinan.
Ammar, terlalu larut dalam keegoisannya. Emosi menguasainya saat dia menemukan keadaan Kinan saat itu. Bagaimana Ammar bisa menampik sesuatu yang sudah terlihat jelas dimatanya? Begitu banyak kissmark di leher jenjang istrinya itu. Sehingga, yang ada dipikirannya saat itu ialah Kinan memang telah menghianatinya.
Ammar ingin membuktikan kebenaran atas semua pikiran dan tuduhannya terhadap Kinan. Lelaki itu masih ingin menepis semua dugaannya. Ia juga merasa janggal dengan semua yang terjadi. Tapi lagi-lagi pikiran kotor yang menguasainya, membuat amarahnya memuncak. Belum lagi saat Ammar ingin mencari tahu kebenarannya melalui CCTV rumah, lelaki itu tak menemukan apapun. Ammar menghela nafas pendek-pendek, menahan rasa gemuruh dihatinya. CCTV di nonaktifkan sejak sehari sebelum menghilangnya Kinan dari rumah. Saat dia bertanya pada Ibunya, Latifa mengatakan kepada Ammar jika CCTV dirumah mereka sedang dalam masa perbaikan.
Sejujurnya, Ammar merasa semakin janggal dengan kebetulan yang ada. Tapi ucapan Latifa dan Shirly, tidak bisa ia anggap angin lalu, semua ucapan mereka seakan meyakinkan Ammar yang dalam perasaan kalut dan emosi pada saat itu. Ibaratkan suasana Ammar sedang berapi, kata-kata Shirly dan Ibunya semacam bensin yang semakin mengobarkan api itu, membuat apinya semakin besar dan marak. Ammar menggerutu hingga akhirnya menafsirkan semua berdasarkan logika dan emosinya.
Selang beberapa bulan, Ammar mulai sibuk bekerja lagi dan tak mau ambil pusing dengan perlakuan Latifa pada Kinan karena ia pun sudah teramat lelah untuk beradu argumen dirumah. Ammar beranggapan, dia harus menata hidupnya sendiri yang sudaj semakin terpuruk setelah perbuatan yang dilakukan Kinan--perbuatan yang tentu saja mencoreng harga dirinya sebagai suami.
Beberapa kali Ammar melakukan perjalanan bisnis ke Luar Kota lagi, semata-mata untuk menghindari Kinan yang selalu mencari-cari kesempatan untuk memberikan alasan yang menurutnya tidak masuk akal. Saat Ammar kembali berada dirumah, dia dikejutkan dengan Kinan yang pingsan dan setelah diperiksa Kinan malah mengandung--entah anak siapa. Kemurkaan Ammar pun semakin menjadi. Ditambah pula kebingungannya yang tiba-tiba meluap-luap akibat kenyataan jika Kinan hamil dan itu tentu saja bukan anaknya.
Ammar tidak tahu harus melakukan apa saat Dokter juga memvonis Kinan menderita Histeria. Sampai akhirnya Ammar yang marah bercampur bingung harus merelakan Kinan untuk dia antarkan ke Rumah Sakit Jiwa dengan tangannya sendiri.
Disitulah awal mula penderitaan Kinan dan disitu pula awal mula mata Ammar yang tertutup kabut emosi mulai terbuka perlahan-lahan.
Tapi, disaat Ammar ingin memperbaiki semuanya, disaat ia mulai ingin mengunjungi Kinan di RSJ, disaat itu pula lah Ammar melihat lelaki bernama Rey tengah berada disana--Lelaki bernama Rey itulah yang menemukan Kinan ketika Kinan sempat hilang di Rumah Sakit Umum. Ammar bukan lelaki polos yang percaya begitu saja saat Rey mengatakan ingin bertemu temannya yang adalah suster penjaga di RSJ itu. Ammar segera mengecek ke daftar kunjungan pasien.
Saat Ammar mengetahui jika Rey sering datang mengunjungi Istrinya, saat itulah dia menyadari bahwa ada sesuatu yang telah terjadi diantara keduanya--Kinan dan Rey.
Awalnya, Ammar melihat buket mawar putih yang telah diletakkan di vas bunga didalam ruang rawat Kinan. Lalu, beberapa hari selanjutnya, Ammar melihat sekotak coklat berada di nakasnya. Membuat Ammar urung mengunjungi Kinan lagi. Ia hanya melihat dibalik tirai, apa yang tengah Kinan lalui disana. Menjenguk dan tidak menunjukkan wajah. Tentu saja Ammar memperhatikan diam-diam, karena ia sudah mencurigai Rey saat melihat daftar tamu yang ternyata, lelaki bernama Rey itu rutin dan nyaris tidak pernah absen datang untuk mengunjungi Kinan di RSJ.
"Lalu, apa yang anda rasakan saat itu?" Tanya Joana yang tengah mendengar cerita masa lalu Ammar, awal mula kehancurannya. Joana mencatat detail penting tentang kondisi Ammar saat ini yang bisa ia prediksi dari cerita Ammar disebuah catatan kecil.
"Tentu saja aku merasa marah. Ada lelaki asing yang rutin mengunjungi istriku." Jawab Ammar yang telah memerah matanya saat mengungkapkan semua yang telah terjadi dimasa lalunya.
"Kenapa anda malah melihatnya saja dan tidak mengambil sikap? Bukankah seharusnya anda memperlihatkan eksistensi anda dihadapan Rey-emm maksud saya dihadapan lelaki itu?---Bagaimanapun anda masih suami Kinan pada saat itu, bukan?"
"Karena aku melihat mata Kinan yang berbinar dan bercahaya saat melihatnya. Aku.. merasa telah gagal saat itu." Ammar menunduk dan menyeka airmatanya yang telah membasahi sudut matanya.
"Saya mengerti kalau anda tidak mau menyakiti Kinan lagi pada saat itu." Ucap Joana dengan lembut. Wanita itu sesekali menatap Ammar dengan pandangan prihatin yang tulus.
Ammar mengangguk. "Saat itu aku merasa aku telah kalah. Untuk apa lagi aku mengunjungi dan bertatap wajah dengannya? Sedangkan aku tahu, jika kehadiranku sama sekali tak berarti dan diharapkan oleh Kinan. Aku telah melakukan kesalahan yang fatal. Hu..hu..hu.." Ammar terisak mengingat semua kelakuannya dimasa lalu terhadap Kinan.
"Tapi bukankah itu bisa menyebabkan istri anda menganggap Anda tidak peduli lagi padanya?" Saat anda tidak mau mengunjunginya?"
"Ya.. aku tahu, tapi dibalik sikap tidak peduliku selama ini, aku hanya memikirkan kondisinya. Sesungguhnya saat itu aku sudah malu untuk bertemu dengannya dan aku takut dia makin histeris melihat kedatanganku. Jauh berbeda saat dia menyambut kedatangan Rey."
"...Dia bahkan tidak pernah menatapku dengan tatapan berbinar seperti itu. Saat aku tahu dia kabur dari RSJ, aku sudah curiga jika dia kabur bersama Rey. Tapi aku terus menampik perasaanku sendiri karena aku sudah terlanjur banyak berbuat salah pada Kinan. Tapi---"
"Tapi CCTV di RSJ memperlihatkan jika mereka benar-benar pergi bersama dan itu semakin membuatku hancur!"
"Apa anda sudah mencintai Kinan saat itu? Kenapa Anda begitu sakit hati?--Maafkan saya, saya ingin mengetahui detail perasaan anda agar saya tahu seberapa dalam perasaan itu. Paling tidak, saya akan ikut mengetahui luka batin anda. Saya sangat berharap anda bisa sembuh, mengingat kondisi anak Anda yang pasti sangat membutuhkan dukungan dari Anda." Joana menghentikan aktifitas menulisnya, ia menatap Ammar lagi dengan tatapan lembut.
Ammar mengangguk. "Untuk itulah aku datang kesini, aku memikirkan nasib anak-anakku. Karena aku tahu, mereka sangat membutuhkan aku." Ammar kembali menyeka airmatanya yang kini membasahi tulang pipinya yang menirus.
"Aku tidak tahu sejak kapan aku mencintai Kinan. Tapi sejak aku memutuskan agar kami tidur dalam satu kamar, saat itulah aku telah membuka hatiku agar Kinan bisa masuk. Aku semakin semangat bekerja agar aku bisa membahagiakannya dan anak-anak. Semangatku terpacu kembali sejak Kinan menjadi istriku. Dan setelah kejadian itu, apa aku salah jika aku kecewa terhadap Kinan?"
Joana menghela nafas panjang. Ia tahu kekecewaan Ammar dan ia merasakan bagaimana kemarahan Ammar karena sedikit banyak Joana juga tahu cerita ini dari versi Kinan, mengingat jika Kinan yang juga adalah pasiennya, dulu.
"Saya mengerti, saya rasa untuk hari ini sampai disini dulu sesi cerita kita. Saya harap setelah ini Bapak Ammar bisa merasa lega karena telah mengeluarkan beban cerita Anda yang mungkin telah dipendam." Joana membuka kacamata yang sering ia gunakan saat bekerja. Bukan kacamata minus atau plus tapi hanya kacamata pelengkap penampilannya. Wanita itu yakin jika dengan kacamata itu dia akan memiliki aura tersendiri sebagai seorang psikiater, lebih tepatnya Joana akan merasa percaya diri jika menggunakan kacamata itu.
Ammar beranjak berdiri, diikuti oleh Joana yang juga berdiri setelahnya.
"Terima kasih kamu mau mendengarkan semua ceritaku. Aku harap, untuk selanjutnya kita bisa berbicara secara nonformal."
"Sama-sama. Itu sudah tugas saya dan itu pekerjaan saya. It's my job. You know!" Jawab Joana sambil tertawa renyah dan Ammar tersenyum sekilas. Mereka kemudian berjabat tangan satu sama lain.
"Jadwal terapi Anda selanjutnya adalah hari rabu di jam yang sama." Lanjut Joana sebelum Ammar meninggalkan ruangan prakteknya.
"Baiklah, aku akan mengingatnya. Kau juga harus ingat--Emm..gunakan bahasa yang nonformal." Jawab Ammar.
Joana sedikit terkekeh. "Baiklah. As you wish." Ucapnya.
Ammar meninggalkan ruangan praktek milik Joana. Sedangkan Joana memandang punggung pria yang baru saja meninggalkan ruangannya. Punggung itu terlihat bergetar dan lesu. Joana tahu jika Ammar pun memiliki penyesalan yang besar dimasa lalu. Kini ia mulai menghubungkan dengan bersi cerita Kinan. Tidak sepenuhnya Ammar bersalah dan tidak sepatutnya pula tindakan Ammar untuk dibenarkan. Semua ada kekurangan dimasing-masing versi.
"Semua orang punya masa lalu kan." Gumam Joana kemudian sambil mengangkat bahu. Ia lalu meminta asistennya untuk menelepon pasien selanjutnya yang dijadwalkan akan berkunjung hari ini juga.
Sambil menunggu, wanita itu mencuci muka di wastafel lalu memoles wajahnya dengan make-up tipis. Joana juga merapikan rambut dan memakai sedikit lip balm di bibirnya dengan menggunakan cermin yang dia ambil dari laci meja kerjanya.
Tak berapa lama, pintu diketuk dari luar. Joana bersiap, ini adalah pasien selanjutnya. Biasanya, pasien yang akan datang memang tak dibiarkan menunggu diluar ruangannya. Mereka akan membuat janji temu dulu sebelum hari H jadi tidak akan pernah ada pasien yang mengantri diluar ruangan. Joana tidak mau hal itu diberlakukan karena ia sendiri paling tidak suka menunggu berlama-lama. Mengingat kadang pasiennya suka sekali curhat panjang kali lebar kali tinggi, jadi Joana tak mengizinkan sistem antrian di tempat prakteknya. Ia takut membuat oranglain menunggu lama.
Joana akan meminta asistennya mengirim pesan pengingat sebelum hari H kepada pasien yang telah mendaftar dan membuat janji. Kemudian, ketika hari H asisten Joana akan mengirimi pesan lagi jika sudah waktunya berangkat menuju tempat prakteknya.
"Silahkan masuk." Ucap Asisten Joana pada pasien selanjutnya yang sepertinya telah datang.
Joana tengah menulis diselembar kertas--entah apa. Ia tidak memperhatikan pintu masuk yang sebentar lagi akan dilewati pasien yang akan menuju ke meja kerjanya. Joana lalu sibuk menyiapkan catatan kecil yang biasa ia gunakan untuk mencatat detail permasalahan pasien yang mengikuti terapinya. Joana mengetahui ini adalah pasien baru yang baru hari ini mengunjungi prakteknya, karena asistennya sempat memberinya data pasien selanjutnya.
"Silahkan." Ucap Joana, ia menengadahkan wajah dan matanya memicing saat menatap sesosok yang kini berdiri dihadapannya.
"Kau!" Pekik Joana dengan nada tak senang. Lalu sosok itu tersenyum simpul sambil membalas tatapan yang Joana berikan padanya.
.
.
.
...Bersambung.......