
Please dukung karya ini dengan Vote, like, love.. Dan jangan lupa tinggalkan komentar di setiap episode nya yaa๐
Stay healthy! ๐ค๐
_________________________________________
Rey mengacak rambutnya sendiri, saat ini ia tengah mengamati rumah yang ditempati Kinan selama di London. Kemarin, Doni telah menunjukkan alamat Kinan dan sekarang masih sama seperti kemarin, Rey tetap belum melihat Kinan keluar dari rumah itu. Rey hanya memantau dari kejauhan layaknya seorang detektif.
"Apa gue harus datang kerumah itu lalu mengetuk pintunya?" Gerutu Rey pada dirinya sendiri.
"Bagaimana jika para bodyguard itu tahu tentang gue?" Rey menggelengkan kepalanya pelan. Bagaimanapun, semua orang-orang yang menjaga Kinan adalah anak buah Papanya sendiri. Dan Rey, tengah melarikan diri ke London tanpa sepengetahuan sang Ayah. Bisa-bisa ia akan dijemput paksa sebelum menemui Kinan jika Papanya sampai tahu keberadaannya disini.
Rey memutuskan meminta bantuan Doni melalui sambungan telepon. Tak berapa lama Doni telah tiba disana berikut dengan Joana.
Setelah perkenalan singkat antara Rey dan Joana, mereka mulai mengatur strategi agar Kinan bisa keluar dari rumah itu atau terlepas sejenak dari para 'pengawal-nya', karena Rey perlu mengalihkan perhatian para pengawal itu agar bisa menemui Kinan dengan aman dan tanpa dicurigai.
"Tunggu dulu, kenapa kau ingin sekali bertemu Kinan? Kalian ada hubungan apa?" Joana tampak heran melihat Doni dan Rey yang sedang memikirkan cara untuk masuk ke rumah itu.
Doni yang mengerti posisi Rey tak mungkin menceritakan detail tentang masa lalu apa yang terjadi antara ia dan Kinan pun mulai mengambil alih keadaan.
"Sudahlah Jo, intinya Rey ingin bertemu Kinan dan tolong kau juga bantu dia agar bisa masuk kerumah itu!"
"Ya kalau mau kesana tinggal ketuk pintunya, seperti yang kau lakukan waktu itu, Don!" Sindir Joana yang tak mengerti keadaan sebenarnya.
"Begini, aku tidak nyaman kalau harus bertemu dengan para pengawal di depan pintu rumah itu.." Jelas Rey menatap pada Joana.
"Kenapa?" Tanya Joana heran. "Jika kau tidak mengganggu, mereka pasti mempersilahkanmu masuk, itupun jika Kinan mau menemuimu!" Ucap Joana enteng.
"Aku hanya memiliki trauma pada orang-orang seperti mereka." Kilah Rey.
Joana membuang pandangannya, ia bukan orang bodooh yang percaya begitu saja pada ucapan Rey.
"Baiklah, aku akan membantu. Tapi kau harus ingat jangan macam-macam pada Kinan, karena walau bagaimanapun dia itu pasienku!" Ucap Joana sambil memandang tajam wajah tampan lelaki dihadapannya.
"Kalau kau sampai macam-macam, karirku sebagai psikiater akan terancam dan aku akan membuat perhitungan padamu!" Ancam Joana pada pemuda itu.
Rey mengangguk. Joana mulai berpikir langkah apa yang akan ia lakukan untuk membantu Rey.
"Kalau sampai terjadi sesuatu pada Kinan, aku tidak akan memaafkan kalian berdua!" Ucap Joana. Wanita itu tak henti-hentinya menggerutu dan mengancam.
"Iya iya.." Jawab Rey dan Doni kompak.
Setelah beberapa saat memikirkan cara untuk menemui Kinan, akhirnya Rey sepakat untuk ikut Joana kedepan pintu rumah Kinan, tak lupa Rey meminjam topi yang kebetulan Doni gunakan. Ia benar-benar tak mau dikenali oleh salah satu orang-orang suruhan Papanya itu.
"Anda datang bersama siapa, Miss?" Tanya seorang pengawal pada Joana. Tatapannya penuh selidik dan memandangi Rey dari ujung kepala sampai kaki.
"Oh maaf, ini adalah Asistenku." Ucap Joana tak yakin jika para pengawal ini akan percaya pada dalihnya.
"Bisakah kami masuk? Aku akan menerapi Kinan seperti biasanya!" Ucap Joana, padahal hari ini ia sama sekali tak ada jadwal untuk menerapi Kinan.
Dua orang pengawal itu memandang satu sama lain sebelum akhirnya mengangguk dan membukakan pintu untuk Joana dan Rey.
"Aku akan memanggilkan Miss Kinan." Ucap seorang pelayan yang menyambut kedatangan keduanya. Pelayan itu masuk dan pintu rumah pun ditutup dari luar.
Joana dan Rey berjalan perlahan memasuki area rumah.
"Kau lakukanlah tugasmu, aku perlu berbicara 4 mata padanya." Bisik Rey pada Joana seraya berlalu menuju ke arah lain di dalam rumah.
"Apa maksudmu?" Pertanyaan itu tak terjawab, Joana malah terkejut melihat Rey yang sudah berjalan cepat dan semakin masuk ke dalam rumah yang di tinggali Kinan.
"Apa-apaan dia? Dia mau kemana? Aku harus bagaimana ini?" Batin Joana kebingungan melihat ulah Rey itu. Tak lama, seorang pelayan dan Kinan sudah berdiri dihadapan Joana.
"Bukankah kita tidak ada jadwal terapi hari ini, Jo?" Tanya Kinan setelah pelayan itu pergi. Joana yang berdiri kebingungan sendirian, mulai menetralkan perasaannya yang mendadak takut mengingat apa yang akan Rey lakukan. Kinan sempat melihat Rey dan tak tahu jika Joans datang kesini bersama seorang pemuda.
"Jo?" Suara Kinan mulai menuntut Joana untuk berbicara.
"A-ah iya, Kinan. I'm so Sorry. Sepertinya hari ini kita harus melakukan terapi karena..." Joana bingung mau beralasan apa pada Kinan.
"Kenapa?"
"A-aku lupa barangku ada yang tertinggal di mobil." Joana ingin segera keluar dari rumah ini dan pergi. Ia mendadak menjadi bodooh karena ulah Rey. Ia bingung bagaimana ia bisa terlibat dalam persekongkolan antara Rey dan Doni.
"Kau tidak apa-apa Jo? Apa kau sakit?" Tanya Kinan menatap heran dengan tingkah laku wanita di hadapannya.
"Tidak!" Jawab Joana cepat. Kinan ingin bertanya lagi tetapi ponsel Joana terdengar berdering.
"Kau jangan keluar dulu dari sana. Aku akan mengalihkan perhatian para penjaga pintu ini dulu baru kau bisa keluar!" Ucap Doni dari seberang panggilan itu.
"This is crazy! Kenapa kalian melibatkan aku?" Pekik Joana dengan suara tertahan, sesekali ia melirik Kinan yang masih menunggunya menyelesaikan pembicaraannya lewat panggilan telepon.
"Sudahlah, kau ikuti saja! Jangan sampai para bodyguard itu tahu kau keluar sendirian tanpa Rey! Aku akan mentraktirmu nanti!" Doni terkekeh diujung kalimatnya, sementara Joana mendengus dan membuat perhitungan pada dua pemuda itu dalam hatinya sendiri.
"Kinan, ah maafkan aku bisakah kita berbicara sebentar?" Joana memilih untuk mengikuti Doni. Ia akan keluar beberapa saat lagi saja meskipun ia tak yakin apa yang akan di lakukan oleh Doni di luar sana.
...๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ...
"Permisi, dapatkah kalian membantuku?" Tanya Doni pada para pengawal di depan pintu Kinan. Kedua orang itu menatap Doni dengan tatapan waspada.
"Aku pernah kesini sebelumnya, apa kalian tidak ingat?" Ucap Doni lagi yang tetap tak mendapat jawaban apapun dari dua orang itu.
"Kau teman Miss Kinanty?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Yeah..Ternyata kalian mengingatnya. Apa aku bisa meminta bantuan kalian? Mobilku mogok disana dan aku tidak memiliki keahlian dibidang mesin." Doni menatap mereka berdua dengan tatapan penuh harap.
Kedua orang itu melirik satu sama lain, kemudian salah satu diantara mereka mulai bersuara.
"Kenapa kau tidak menelpon bengkel saja?"
Doni ingin memakii dalam hati mendengar pernyataan pria bertubuh tegap itu.
"Aku... aku ingin mencoba membenarkannya dulu sebelum nanti aku yang akan mengantar mobilku sendiri kesana!" Ucap Doni dengan alasan yang dibuat-buat.
"Ku mohon bantu aku kali ini. Siapa tahu nanti kalian butuh bantuanku juga di lain waktu!" Ucap Doni sambil menyatukan jemarinya didepan dada.
Doni menyeringai dan langsung menunjuk ke arah mobilnya di ujung jalan. Sebelumnya, ia sudah memarkirkan mobil itu di tempat yang berbeda dengan letak mobil Rey. Ia juga sudah mencabut salah satu perangkat mobil agar mobil itu tidak bisa dinyalakan.
Sambil berjalan menuju mobilnya, Doni pun mengirimi Joana pesan agar wanita itu segera keluar dari rumah Kinan sekarang juga, sebelum kedua pengawal ini kembali dsn menanyai Joana dimana Rey sekarang. Doni meminta Joana menunggunya di dekat mobil Rey yang terparkir di tempat semula mereka berkumpul tadi.
...๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ...
Rey berjalan perlahan, ia menelusuri rumah yang ditinggali Kinan selama di London. Ia berjalan mengendap-endap seperti seorang pencuri. Ia masih bisa mendengar percakapan antara Kinan dan Joana di ruang tamu depan.
Setelah meyakini jika ruangan yang ada dihadapannya ini adalah kamar Kinan, ia masuk ke dalam sana sebelum ada seseorang yang melihatnya. Rey duduk dengan diam di sebuah sofa yang ada di kamar itu. Melihat-lihat sebentar keadaan kamar dan memainkan ponsel dengan santainya.
Rey sedikit mengalihkan perhatian ke arah pintu ketika ia merasakan ada pergerakan dari luar. Ia bergerak cepat ke lain arah untuk menyembunyikan diri, tapi ia merasa lega ternyata yang masuk ke kamar ini adalah wanita yang ingin ia temui, Kinanty.
Kinan memasuki kamarnya dengan masih membawa perasaan bingung akibat tingkah aneh Joana hari ini. Mereka tak melakukan terapi dan hanya melakukan pembicaraan ringan. Kinan bergerak ke arah nakas, mengambil segelas air yang terletak disana kemudian ia meneguk habis air itu. Tanpa sepengetahuannya, Rey yang berdiri tak jauh dari sana terus memperhatikan wanita itu, seulas senyum terbit dari ujung bibirnya.
Kinan meletakkan gelas itu kembali dan menyadari ada seseorang yang berdiri diujung sana. Matanya melihat mata Rey yang juga tengah menatapnya.
"Apa aku sudah gila? Jika begini terus aku akan menjadi penghuni rumah sakit jiwa lagi." Ucap Kinan pada dirinya sendiri dan ucapannya itu membuat Rey tersenyum menahan tawa.
"Aku bahkan bisa melihatmu tersenyum, seperti nyata saja!" Ucap Kinan pada Rey. Sejatinya ia yang melihat keberadaan Rey, menganggap itu hanyalah imajinasinya saja, bukan kenyataan.
Rey berjalan mendekat ke arah Kinan. Sementara Kinan terkejut melihat itu, ia bahkan membungkam mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara teriakan karena melihat imajinasinya berjalan mendekat.
"Aku merindukanmu." Suara Rey terdengar lirih di pendengaran Kinan.
"Ya ampun, aku benar-benar gila?" Pekik Kinan pada dirinya sendiri. Rey menggeleng pada Kinan.
"Mas...Rey?" Kinan hampir memekik ketika Rey memeluk tubuh terkejutnya. Rey merasa tubuh wanitanya bergetar dan ia semakin mengeratkan pelukan itu.
"Iya, ini aku. Jangan menghindariku lagi. Jangan pergi sejauh ini lagi!" Ucap Rey di sela-sela pelukannya.
Kinan tak kuasa menahan perasaannya, ia meneteskan airmatanya lalu mendorong pelan dada Rey agar lelaki itu melepaskan pelukannya.
"Aku bermimpi kan?" Tanya Kinan sambil tersenyum miris melihat ke arah pemuda itu.
"Kau tidak merindukanku?" Bukannya menjawab, Rey malah mengajukan pertanyaan lain pada Kinan. Kinan memutar arah tubuhnya untuk membelakangi Rey.
"Bagaimana bisa kau ada disini dan tau keberadaanku?" Ucap Kinan sambil menahan isak. Ia tak tahu kenapa dan apa yang terjadi hingga Rey yang nyata benar-benar ada dihadapannya sekarang. Ini benar-benar membuatnya terkejut sekaligus bahagia. Entahlah.
"Aku ada disini karena aku ingin menemuimu dan mengajakmu pulang!"
Kinan menggeleng. "Kita sudah punya hidup masing-masing."
"Hidup masing-masing apa? Aku tidak terfikir untuk hidup seperti ini!" Rey mendekat kearah Kinan dan mencoba membalik tubuh itu agar bisa melihatnya dan Kinan pun berbalik.
"Yang terfikir olehku adalah hidup bersamamu."
"Aku tidak bisa! Pulanglah ke Indonesia!"
"Kenapa? Kau belum memaafkanku?" Rey tertunduk lesu. "Aku tidak akan pulang jika belum mendapat maaf darimu!" Sambung Rey.
"Pergilah, Mas..!"
Rey tersenyum miris, kepalanya mengeleng lemah.
"Kenapa kau sangat keras kepala?" ucap Kinan.
"Kau yang begitu!"
"Kau!"
"Kau lebih keras kepala, Kinan!"
"Tidak, kau yang lebih daripada aku!"
Bukannya marah, Rey malah tersenyum akan perdebatan konyol yang terjadi diantara mereka.
"Baiklah, aku memang keras kepala.." Rey menjeda ucapannya. "Aku keras kepala karena tidak bisa melepaskanmu begitu saja!"
"Huh!" Kinan membuang pandangannya melihat senyuman Rey yang penuh maksud.
"Aku yang keras kepala karena harus mencarimu sampai kesini!" Rey menangkup pipi Kinan dengan kedua tangannya agar wanita itu menatapnya. "Aku keras kepala tapi aku mencintaimu!" Sambung Rey lagi sambil menatap mata Kinan. Kinan pun tak bisa mengelak karena pandangan mata itu seolah terkunci dan mendapati kejujuran dari dalam sana.
"Mas, aku.." Suara Kinan terdengar ragu.
"Apa? Katakanlah!" Rey terus saja menatapi mata Kinan sampai wanita itu malu sendiri dan memerah akibat pandangan mata yang begitu intens itu.
"Jangan menatapku begitu!" Entah kenapa Kinan merasa kehadiran Rey ini membuat mood nya menjadi baik.
"Bagaimana kabarmu dan....kandunganmu?" Rey menatap perut Kinan yang sudah terlihat agak berbeda.
"Semuanya baik-baik saja!" Ucap Kinan datar sambil menepis tangan Rey yang masih berada di pipinya. Mendadak moodnya berubah lagi jika mengingat kehamilannya akibat perbuatan terkutuk laki-laki dihadapannya.
Rey dengan ragu-ragu ingin menyentuh perut Kinan, tapi belum sampai tangan pemuda itu ke perutnya, Kinan sudah lebih dulu mengambil tangan itu dan melepaskannya.
"Kenapa?" Tanya Rey pelan.
"Jangan beri dia harapan lagi." Ucap Kinan dengan mata berbinar.
Rey menggeleng. "Aku akan bertanggung jawab atas hidupnya. Aku janji."
.
.
.
.
Bersambung...
Tolong beri Vote dan hadiah yaaaa๐.. part ini udah 1900 kata lebih๐ nanti aku sambung lagi dehโ๏ธTerima kasih๐