How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Garden Party



Taman belakang rumah besar itu benar-benar disulap menjadi sebuah tempat perhalatan yang indah hari ini. Tidak megah dan mewah, tetapi syahdu dan teduh. Nuansa putih mendomimasi, kursi-kursi tersusun rapi, serta aroma bunga mawar menyeruak dan tercium memenuhi tempat dimana akan dilangsungkannya pernikahan suci antara Rey dan Kinan.




Para tamu yang merupakan rekan terdekat sudah mulai berdatangan dan memasuki area taman yang sudah dihiasi banyak bunga dan lampu-lampu kecil itu. Semua menempati posisi duduk dengan nyaman dikursi masing-masing dan ada pula yang berdiri untuk menantikan sepasang calon pengantin yang belum terlihat dalam acara itu.


Setelah beberapa menit, Rey tampak bergabung. Ia menggunakan tuxedo putih dengan setelah rambut yang disisir rapi. Tak lupa, dasi yang melekat di lehernya turut melengkapi penampilannya. Ini adalah hari yang ia nantikan selama ini.


Sesekali Rey menyapa rekan dan kerabat yang turut hadir dalam acara itu. Mengobrol santai untuk menutupi rasa gugupnya. Ia beberapa kali mengatur nafas dan menetralkan perasaannya yang sudah membuncah walau belum ada pernyataan 'sah' atas pernikahannya. Entahlah, rasanya ini adalah hari paling membahagiakan sekaligus mendebarkan untuknya.


"Rey, apa kau sudah siap?" Tanya Tuan Yazid pada putranya. Rey mengangguk dengan mantap dan Sang Ayah tersenyum seraya menepuk pelan punggung Rey, menyemangati anaknya itu.


Tak berselang lama, Kinan pun muncul diujung penglihatan Rey. Rey terkesima. Ini pertama kalinya ia menatap Kinan dengan penampilan berbeda. Kinan memang cantik, tanpa perlu riasan. Tapi dihari pernikahan mereka kali ini, wanitanya itu tampak berbeda dan semakin membuat Rey tak bisa berkata-kata.


Inner beauty yang dimiliki Kinan, seakan terpampang nyata pada hari ini. Selama ini Kinan menutupi kecantikan itu dengan penampilannya yang sederhana. Walau Rey bisa melihat kecantikan fisik dan hati Kinan, tapi baru kali ini Rey takjub dengan ciptaan Tuhan yang akan menjadi istrinya itu. Rey menatap wanitanya itu dengan tatapan berbinar yang mendamba.


Kinan berjalan perlahan dari pintu keluar rumah, disampingnya sudah ada Nyonya Zehra dan Desi yang turut mendampingi. Desi sendiri sempat terkejut perihal undangan pernikahan Kinan, karena Kinan sama sekali belum mengabari kepulangannya pada Desi, sanking terlalu sibuk memikirkan dan ikut mengurus pernikahan begitu ia tiba di Indonesia. Kinan berhutang cerita dan penjelasan pada Desi, dan Desi akan menuntut untuk itu.


Rey terus tersenyum menatap Kinan dengan balutan gaun pengantinnya. Senyuman teduh yang memancarkan kebahagiaan. Kinan memandang Rey yang berdiri tak jauh darinya, pemuda itu terus menyoroti perjalanan Kinan yang hampir menuju kearahnya. Kinan tersenyum canggung, sementara Rey tak berkedip dan mengunci pandangannya pada Kinan dengan mata elangnya. Sesekali Kinan menunduk malu atas tatapan pemuda itu.


"Jangan menatapku begitu, Mas!" Ucap Kinan lembut ketika ia sudah berada didekat Rey. Nyonya Zehra dan Desi tersenyum atas ucapan Kinan, mereka menyembunyikan kekehan itu di balik tangan yang menutupi bibir mereka masing-masing. Sementara Rey ikut terkekeh mendengar Kinan yang gugup dari cara bicaranya. Sudut bibirnya terangkat dan ia hanya berdehem untuk mencairkan kecanggungannya sendiri karena kini Kinan berada disampingnya.


Semua mata seakan tertuju pada pasangan serasi yang baru saja berdiri berdampingan itu. Semua menatap keduanya dengan senyuman kebahagiaan, bahkan terdengar pula siulan kuat sebagai godaan untuk keduanya. Rey bisa menebak itu siulan Kevin yang berada tak jauh dari panggung.


Mereka berdua pun menantikan waktu untuk mengikrarkan janji pernikahan.


°


Rey menatap wanita yang berada disisinya, Ikrar dan janji telah terucap dengan lantang. Sekarang, wanita itu telah resmi menjadi istrinya. Ada keharuan yang membuncah di dada Rey. Begitupun dengan Kinan, ia menatap Rey yang terus memandanginya dengan tatapan yang sulit ia artikan. Kinan merasa bahagia sekaligus terharu disaat bersamaan. Ini adalah pernikahannya yang kedua, tapi rasanya jauh berbeda dengan yang pertama dulu. Seakan ini adalah yang pertama kali Kinan rasakan.


Mata mereka saling menatap dan pandangan itu seakan terkunci. Tidak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut masing-masing. Tapi Kinan mencium punggung tangan Rey dengan takzim sesaat mereka telah selesai mengucap janji suci. Rey menangkup kedua pipi Kinan dan mencium lembut ujung kepala wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu. Keharuan terjadi diantara mereka. Kinan meneteskan airmatanya dan ia merasakan jemari Rey mengelus pelan ujung kepalanya.


"Aku berjanji akan menebus semua kesalahanku padamu!" Ucap Rey dengan sangat lembut dan Kinan mengangguk sebagai jawaban untuk Rey.


Pesta pun dimulai, musik mulai terdengar dan sayup-sayup suara orang-orang semakin ramai menghadiri acara pernikahan Rey dan Kinan. Banyaknya tamu membuat Kinan sedikit bingung, bukankah mereka hanya mengundang yang terdekat saja?


Beberapa kali mereka mendapatkan ucapan selamat, Kinan sangat bahagia hari ini. Ia tidak pernah merasakan kebahagiaan itu lagi. Sudah lama sekali rasanya ia tak bisa tersenyum lepas. Kinan melirik Rey yang berdiri disampingnya, pemuda itupun sama seperti Kinan. Tampak dari raut wajahnya jika Rey benar-benar bahagia. Kinan bahkan tak pernah melihat wajah Rey sebahagia ini, meski saat mereka menghabiskan waktu di London tempo lalu.


"Kau bahagia?" Bisik Rey di telinga Kinan.


"Hmm"


"Kau tidak ingin menanyakanku hal yang sama?"


"Ayo, tanyakanlah!" Bujuk Rey sedikit memaksa.


"Aku tidak mau!" Jawab Kinan datar seraya melihat ke arah orang-orang yang ternyata tersenyum memperhatikan mereka berdua. Sesungguhnya Kinan malu dihadapan para tamu. Lagipula, Ada kedua mertua Kinan disana yang juga tersenyum melihatnya dan Rey di pelaminan. Ada juga Desi, Kevin, Doni dan juga Joana yang khusus datang ke Indonesia karena pernikahan ini.


"Kalau kau tidak mau, aku akan menggendongmu sekarang juga!" Ancam Rey tanpa melihat Kinan. Ia menyeringai penuh maksud.


"Kau pemaksa sekali. Aku tidak mau! Coba saja kalau berani!" Kinan malah menantang Rey yang ia pikir tak mungkin melakukan hal itu dihadapan banyak orang.


Kinan membuang muka sambil menahan senyumnya, sementara Rey tersenyum melihat sikap Kinan yang semakin membuatnya gemas. Tanpa basa-basi, Rey menarik pelan tangan Kinan dan mengarahkan kedua tangan itu ke lehernya.


"M-mas, ka-kau mau apa?" Kinan tersentak dan ia gugup seketika. Wajahnya memerah akibat perlakuan Rey. Rey tidak menjawab, ia malah tersenyum miring dihadapan Kinan. Kinan merasa gugup sekaligus tidak enak.


Rey mendekat dan sejurus kemudian ia menggendong Kinan dan tentu saja Kinan terkejut atas ulah Rey itu. Kinan menjerit sambil tertawa keras bersamaan dengan musik yang tiba-tiba terdengar lembut. Suasana yang kikuk berubah menjadi romantis. Kinan menutup mulutnya karena malu, kemudian suara orang-orang bersorak untuk meneriaki keduanya yang tersenyum bahagia. Kinan semakin erat melingkari leher Rey dengan kedua tangannya seraya memegang buket bunga yang sedari tadi ada digenggamannya. Mereka berdua tertawa bahagia diiringi musik yang mengalun syahdu di tempat itu.


"Kau percaya sekarang?" Tanya Rey sambil menatap Kinan dalam gendongannya.


"Soal apa?" Mata Kinan membulat heran.


"Jika aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku." Jawab Rey dan Kinan mengangguk sambil terus tertawa, ia tak bisa menahan gelak-nya saat ini.



"Mas turunkan aku!" Pinta Kinan. "Aku malu!" Sambungnya lagi.


"Percayalah mereka semua malah mendukungku untuk membopongmu seperti ini!" Suara Rey sedikit naik untuk mengalahkan suara orang-orang yang ikut bersorak meneriaki keduanya. Kinan hanya bisa pasrah saat ini dan ia larut dalam kebahagiaan.


Pesta itu berjalan dengan tawa bahagia dari semua orang. Semua orang bahagia dan memandang Rey dan Kinan dengan tatapan penuh harapan. Begitu banyak yang mengatakan mereka sangat serasi dan begitu banyak juga yang mendoakan pernikahan mereka dan turut bahagia.


"Terima kasih telah menerimaku menjadi suamimu!" Pekik Rey dengan suara lantang. Kinan semakin tertawa karena Rey yang menggendongnya terus dan sesekali memutar-mutarnya dalam posisi itu.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dikejauhan. Ia menatap pedih dari tempatnya berdiri. Ia mengusap airmatanya yang ternyata jatuh tanpa bisa ia kendalikan.


"Kau merebut kebahagiaanku!" Ucap orang misterius yang datang menggunakan kaca mata hitam itu.


.


.


.


Bersambung...


Kasih hadiah weee🤣🤣 Maksa ini! Lohh Kok Maksa?🤣🤣