How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Gadis yang kabur?



Doni dan Joana datang ke undangan syukuran rumah baru Rey dan Kinan. Keduanya yang memang tak memiliki pasangan, seringkali dianggap sebagai pasangan jika memutuskan pergi berdua seperti ini.


Jika orangtua Rey sudah mengetahui kalau Joana adalah sepupu Doni saat pesta pernikahan Rey tempo hari, lain hal nya dengan orangtua Kevin yang kini juga ikut hadir di acara itu. Mereka menatap Doni dan Joana dengan pandangan yang misterius, seolah-olah ada maksud terselip dibalik senyuman mereka.


"Ada apa Om? Tante?" Sapa Doni pada Nyonya Becca dan Tuan Harun, orangtua Kevin yang melihatnya dengan senyuman aneh.


Tuan Harun hanya menyeringai, sementara istrinya ternyata lebih to the point. "Calonmu?" Tanya Nyonya Becca pada Doni tapi pandangan matanya melirik kearah Joana.


Doni terkekeh. "Kenalkan, Tant. ini Joana sepupuku." Ujar Doni disambut dengan kekehan Tuan Harun yang menggelitik.


"Pftttt!!" Nyonya Becca memutar bola matanya mendengar ucapan Doni. Mereka biasa bersikap apa-adanya, tidak ada yang namanya 'jaga image' diantara para keluarga tiga sekawan ini (Rey, Doni dan Kevin). Nyonya Becca lanjut menyodorkan jemarinya ke arah Joana dan mereka saling memperkenalkan diri.


"Kau tahu, kau kalah cepat dengan Kevin. Kevin dan Desi pacarnya akan segera menikah." Mata Nyonya Becca tampak berbinar-binar, kentara sekali ia tengah bahagia sekarang. Anaknya yang playboy sudah menemukan seseorang yang menjadi pelabuhan hatinya. Dia sudah tak perlu ambil pusing jika kawan sosialitanya selalu mempertanyakan kapan dia akan punya menantu, karena sebentar lagi hal itu akan terwujud.


"Hahaha, soal menikah mungkin aku akan kalah, Tant. Tapi soal ketampanan, sudah jelas aku yang paling tampan daripada Rey dan anak tante itu." Jawab Doni berseloroh dengan sikap pongah.


Sontak saja jawaban itu membuat Tuan Harun, Nyonya Becca dan Joana ikut tertawa karena mendengar ke-narsis-an Doni.


"Tapi Tante dengar kau sudah lama bertunangan, Tante pikir kau yang akan lebih dulu menikah daripada Rey atau Kevin."


"No! Belum puas nakal, Tant. Mana mungkin lebih dulu menikah." Ejek Joana menimpali.


"Jangan begitu! Kalian sudah dewasa, pikirkanlah juga orangtuamu yang menginginkan menantu dan cucu." Nasihat Nyonya Becca, merujuk pada dirinya sendiri yang tak sabar menginginkan cucu dari Kevin.


"Mommy-ku sudah kebal, Tant. Dia tidak mau memaksaku lagi." Jawab Doni asal, seraya matanya memindai mencari Rey dan Kevin yang belum nampak batang hidungnya.


"Bukan tidak mau memaksa, Tant. Tapi Aunty sudah punya pilihan yang tepat untuknya, sehingga lebih memilih menunggu agar Doni menaklukan gadis itu." Celetuk Joana.


"Maksudnya tunangannya belum takluk, begitu? Hahaha... ada-ada saja kalian ini." Tuan Harun ikut nimbrung karena merasa lucu seorang playboy seperti Doni tidak bisa menaklukan wanitanya.


Doni sudah tidak fokus lagi dengan percakapan itu, karena kini matanya menangkap sesosok yang menarik perhatiannya. Pandangan matanya itu pun berhenti di satu sudut, dimana ada Kinan, Desi dan juga gadis yang menjadi fokusnya, gadis yang selama ini ia cari-cari keberadaanya. Benarkah itu dia?


Doni menyeret langkahnya dengan sangat cepat menuju sudut itu, dengan tergesa ia meninggalkan Tuan Harun, Nyonya Becca dan Joana yang masih asyik berbincang entah hal apa lagi.


SRETT!!!


Doni mengambil lengan gadis itu tanpa persetujuan siapapun. Gadis itu menoleh dan pandangan mata mereka bertemu, selama beberapa detik waktu seakan terhenti. Doni hanya fokus pada gadis didepannya dan gadis itu pun seakan terpaku tak percaya dengan apa yang ia lihat. Matanya membola bersamaan dengan tatapan mendamba dari mata Doni.


"Ternyata ini benar-benar kau!" Ucap Doni pelan, menghentikan hening yang terjadi beberapa saat.


Kinan dan Desi yang juga berada dihadapan Doni saling memandang satu sama lain. Tak lama, Joana menyusul Doni ke sudut yang sama. Dibelakangnya, ada Rey dan Kevin yang entah kenapa tiba-tiba sudah berada disana, mereka pun sama, saling melempar pandang dan seolah bertanya satu sama lain tentang apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa? Ada apa?


Tapi, tak ada yang mau bersuara. Hingga mereka pun ikut terdiam dalam keheningan.


"Iya ini aku." Jawab Sinta dengan nada lesu. Wajahnya merah padam. Ia tak bisa mengelak dan melarikan diri lagi sekarang. Sinta menepis cekalan tangan Doni di lengannya dengan sedikit menyentakkan-nya, lalu dia menatap Kinan dengan senyum ironi. "Kinan, maafkan aku jika aku harus pulang sekarang. Selamat atas rumah barumu dan semoga bayimu sehat serta proses melahirkannya nanti lancar." Sinta segera berlari setelah menyelesaikan kalimatnya pada Kinan.


Pemandangan itu tak luput dari perhatian orang-orang yang hadir, tapi mencoba mengabaikan karena sedang menikmati acara. Ada juga yang terdengar menanyakan 'ada apa?' tapi tak ada yang berani menjawab atau justru memang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Kinan menghembuskan nafasnya perlahan. Mulai menyadari hal-hal yang tadi sempat ia cocokkan dalam benaknya. Dugaannya, Sinta adalah tunangan yang dimaksud Doni tempo hari. Desi menggaruk pelipisnya, mendadak ia berfikir tentang Doni, Sinta, London? Ah, sekarang ia mengerti apa yang terjadi, karena Kevin sempat bercerita jika Doni punya tunangan, Mungkinkah Sinta adalah tunangan Doni? Gadis yang kabur dari London?


Sementara Kevin tampak diam, inilah alasannya tak berani menggoda Doni dan Mona secara berlebihan saat di Mansion Doni waktu itu, penyebabnya adalah Kevin tahu pasti hati Doni milik siapa dan jawabannya adalah gadis yang tadi sempat mengobrol akrab dengan Desi dan Kinan. "Kemungkinan itu adalah tunangan Doni." Batin Kevin menerka-nerka.


Rey pun mengerutkan kening, tapi ia tersenyum jua pada akhirnya. Seolah sudah mengerti keadaan yang terjadi.


Doni tampak bergegas dan tak lama ia menghilang juga dari Rumah besar itu, sepertinya ia mengejar Sinta yang entah kemana. Sementara Joana tampak mengadahkan tangan kesamping badan seraya mengangkat kedua bahunya.


"Masalah percintaan memang susah ditebak dan merepotkan." Ujar Joana dengan wajah malas.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


"Berhenti mengejarku!" Ucap Sinta acuh tak acuh.


"Aku akan berhenti jika kau juga berhenti. Ayolah, apa kau tidak letih berlarian begini?" Doni berjalan cepat dibelakang Sinta.


Sinta tetap saja mempercepat langkahnya. Tapi tiba-tiba sepatu heels yang ia kenakan terasa menancap di rerumputan yang ada dihalaman kecil rumah Kinan.


"Kenapa nyangkut, sih?" Batin Sinta ingin berteriak dalam hatinya ketika langkahnya harus terhenti ditempatnya berdiri saat ini.


"Itu tandanya kita ditakdirkan untuk bicara. Jangan menghindar lagi." Doni berkata Seolah mendengar ungkapan hati Sinta. Ia segera berlutut dihadapan Sinta, membantu gadis itu untuk menarik hak sepatu yang tertancap disana. Doni tidak mempedulikan Sinta yang mendengus karena ulahnya.


"Kau masih mau kabur?" Goda Doni pada Sinta tapi Sinta malah memalingkan wajahnya sambil bersedekap. "Kalau kau ingin bicara, ya sudah segera bicaralah!" Ucapnya dengan nada memerintah yang kental.


Tanpa aba-aba, Doni berdiri dan menarik tangan Sinta untuk segera mengikuti langkahnya yang lebar.


"Disini terlalu ramai. Apa kau ingin aku menciummu dikeramaian?" Lagi, Doni menggoda Sinta. Gadis itu akan marah dengan wajah memerah dan membuat Doni gemas karenanya.


Sinta mendengus seraya menghentakkan kakinya. "Cepat katakan dimana mobilmu?" Ucapnya menyerah.


Doni terkekeh pelan tapi tak urung ia tunjukkan juga letak mobilnya dengan menekan kunci mobil yang sudah ia genggam. "Itu." Ucapnya saat alarm kunci terdengar.


Sinta berjalan lebih dulu dan masuk ke mobil tanpa diperintahkan, ia menunggu Doni masuk ke mobil.


Doni masuk ke mobil dan memandang Sinta yang berada disampingnya. "Lalu kapan kita menikah?" Satu pertanyaan pembuka dari Doni yang membuat Sinta memelototkan matanya.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


"Jadi, Sinta benar tunangannya si Kadal?" Rey geleng-geleng kepala, seolah tak percaya fakta yang baru saja ia dengar dari mulut Joana.


Saat ini, Rey, Kinan, Desi, Kevin serta Joana sedang berkumpul di Ruang Tamu Rumah Kinan dan Rey. Acara sudah berakhir, hanya saja mereka memutuskan berkumpul agar semuanya bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Doni dan Sinta.


"Hemm.. Kami dulu satu Universitas. Cuma beda fakultas. Kebetulan aku ambil Psikiater, sedangkan Sinta dia adalah dokter bedah." Jawab Joana tenang.


"Dokter bedah?" Kinan terkejut, Sinta yang ia kenali adalah perawat di RSJ. Pasti Sinta mengalami hal yang buruk makanya dia memutuskan lari dan mau tak mau harus bekerja sebagai perawat untuk hidupnya di kota ini.


"Ya, aku cukup mengenalnya. Sinta itu gadis yang baik. Hanya saja sepupuku sering menyia-nyiakannya."


"Kalo Doni sih gak heran gue!" Sahut Kevin menimpali. Dia sudah bisa menebak apa yang dilakukan Doni pada Sinta.


"Halah, kayak kamu enggak aja, Yang!" Ujar Desi seraya mencubit lengan Kevin.


Semuanya tertawa, kecuali Kevin pastinya. Lelaki itu tampak meringis akibat ulah Desi. "Sakit, Yang!" Protesnya. Lalu Desi malah mengelus lengan Kevin yang sakit, bersikap peduli padahal dia sendiri yang menyebabkan Kevin kesakitan. Begitulah mereka berdua bersikap, membuat semua yang menyaksikan tingkah mereka selalu diliputi tawa.


"Tapi aku paling tahu Doni itu seriusnya cuma sama Sinta." Ujar Joana lagi.


"Kalo itu setuju gue!" Timpal Kevin dan Rey juga ikut mengangguk pertanda setuju.


"Kalau serius kenapa masih main bareng cewek lain?" Tanya Kinan.


"Ki, London itu Negara bebas. Disana kami berteman dengan lawan jenis yang kadang kala bersikap agresif, itu sudah biasa. Aku paham Doni hanya berteman dengan para wanita itu." Jawab Joana.


"Ya tapi kan dia udah tunangan." Sahut Desi pula.


"Ya itulah salahnya Doni. Dia terlalu larut dalam dunia pertemanannya dengan gadis-gadis disana. Itu yang aku maksud jika Doni sudah menyia-nyiakan Sinta. Menyia-nyiakan kepercayaannya."


"Hem, sekarang aku mengerti. Jadi sebenarnya ada salah paham disini kan?" Tanya Kinan.


"Yups!" Joana manggut-manggut.


"Ya udah sih tinggal kita rujukin aja mereka berdua." Ucap Kevin. "Gampang, itu urusan gue!" Lanjutnya.


Pletak!


Kini giliran Rey yang menyentil kening Kevin dengan jarinya. "Semua aja lo anggap gampang! Gak semudah itu, Nyet! Kita gak tau yang dirasain si Sinta akibat ulah Doni. Lo kira aja, Nyet! Dia sampe milih kabur ke Indo gara-gara sakit hati sama si Kadal." Ujar Rey.


"Iya deh iya. Yang pengalaman soal ditinggal kabur-kaburan!" Ejek Kevin merujuk pada sikap Kinan dulu pada Rey.


"Ban-gs*t emang lo, Mo-nyet!" Rey mengumpat karena godaan Kevin yang ia tahu arahnya kemana.


"Mas, jangan gitu!" Kinan merengek mendengar ucapan Rey. Beberapa minggu terakhir istrinya itu memang lebih manja daripada biasanya.


"Maaf, Sayang. Kebiasaan kalo ketemu si Mo-nyet suka kelepasan. Ditambah lagi sama ucapannya tadi, buat aku emosi aja." Tutur Rey seraya membelai pipi Kinan dengan penuh kelembutan.


"Terus gimana?" Joana malah bertanya pada keempat orang dihadapannya.


"Kalo gue rasa sih biar aja dulu Doni yang selesaikan urusannya dengan Sinta. Tapi kalo gak kelar juga baru kita ikut bantu mereka." Jawab Rey yang diangguki oleh semua yang ada disana.


.


.


.


Bersambung...