How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Mencari Kinanty



Ammar tiba di Rumah Sakit Jiwa tempat Kinan dirawat. Sebelumnya, ia sudah mendapat panggilan telepon dari RSJ itu, mengenai keberadaan Kinan yang menghilang. Ammar menemui pihak yang terkait, yang bisa ia tanyakan perihal hal itu.


"Bagaimana? Apa sudah ada kabar tentang keberadaan istri saya?"


"Maaf Pak, sampai saat ini belum ada tanda-tanda Ibu Kinanty ada disini. Saya sudah menyuruh para staff untuk mencarinya diseluruh ruangan tapi--"


"Tapi apa?" suara Ammar mulai tinggi.


"Kami baru saja mengecek CCTV, Pak! Sepertinya Ibu Kinanty memang melarikan diri dan itu berarti dia sudah tidak dalam kawasan rumah sakit ini Pak. Posisi terakhir yang nampak di CCTV, Ibu Kinan keluar gerbang sekitar pukul setengah 12 malam"


"Bagaimana bisa istri saya melakukan itu? Apa disini tidak ada pengawasan atau satpam huh?" Wajah Ammar memerah menahan amarah.


Staff yang terkait pun menundukkan kepala melihat kemarahan lelaki didepannya.


"I-itu, memang kesalahan kami Pak! Saya minta maaf atas hal itu. Kami akan mengusahakan untuk mencari keberadaan Ibu Kinanty!"


Ammar keluar dari ruangan itu dengan rasa amarah dan bingung yang bercampur menjadi satu. Ia berpikir kemana kiranya Kinan akan pergi. Karena Kinan tak punya tempat tujuan di kota ini. Apakah kerumah sahabatnya, Desi? Mungkin saja. Ada baiknya Ammar datang kesana.


Β°


"Apa maksud Mas kalau Kinan kabur?" Pertanyaan Desi malah membuat Ammar semakin pusing, karena itu berarti Kinan tak berada bersamanya.


"Kinan sedang dirawat, tapi dia malah kabur dari rumah sakit!" Ammar tak tahu akan memjelaskan hal seperti apa pada Desi.


Kening Desi berkerut, tanda memikirkan sesuatu.


"Kinan sakit? Ah, apa suaminya tidak menjaganya dirumah sakit hingga dia kabur? Tapi kenapa juga dia harus kabur?" Desi mengetuk-ngetuk dagunya sendiri seraya berpikir.


Ammar hanya tertunduk lesu.


"Mas, dimana suaminya? Aku ingin bertanya Kinan sakit apa dan ada masalah apa sehingga Kinan kabur. Aku juga akan membantu mencari Kinan!"


Ammar menggeleng lemah, seraya melangkah pergi tanpa kata apapun lagi didepan Desi.


"Mas? Aku akan bantu mencari Kinan, jika sudah bertemu, aku akan mengabari!"


Akhirnya Ammar dan Desi saling bertukar nomor ponsel untuk memberi kabar selanjutnya.


Β°


Kinan sedang duduk dikursi rotan yang terdapat di beranda Villa. Ia menyandarkan punggungnya dengan nyaman. Suasana disini sangat tenang, jauh dari keramaian dan hiruk pikuk suara kendaraan. Udara yang Kinan hirup pun sangat segar walau hari beranjak siang namun tetap sejuk yang menerpa kulit tubuh Kinan.


Suara mobil berhenti tepat dihadapan Kinan, menampilkan sesosok lelaki tampan yang turun dengan santai dari balik kemudi. Mengenakan kaos putih dan celan jeans berwarna Navi.


"Hai?" Sapanya pada Kinan. Tentu saja Kinan menatapnya dengan bingung sekaligus penuh tanya.


Lelaki itu membuka kacamata yang melekat dipangkal hidungnya sehingga wajahnya terpampang dihadapan Kinan. Lalu, ia mengulurkan tangan.


"Gue Kevin, sohibnya Reyland!" Katanya memperkenalkan diri.


Kinan yang sudah bangkit dari posisinya pun menyambut uluran tangan Kevin.


"Kinan" ucap Kinan dengan suara lembut. Kevin tak melepaskan tautan tangannya, seolah terhipnotis oleh wanita cantik didepannya.


Kevin tersadar ketika ia mendengar deheman dari arah dalam pintu Villa yang terbuka.


Kevin cengengesan melihat Rey yang menatapnya dengan tatapan tajam.


"Gu-gue cuma kenalan doang!" Kata Kevin menjelaskan, sambil menggaruk kepalanya yang Rey yakin pasti tidak gatal.


"Nggak usah sok kecakepan lo!" sergah Rey.


"Emang gue cakep!"


Rey berdecih mendengar ucapan percaya diri dari mulut Kevin. Ia memutar bola matanya malas. Sementara Kinan, hanya mengulumm senyumnya melihat kelakuan absurd dua lelaki didepannya.


"Ya elah, Nyuk! Gue cuma kenalan doang, segini nya lo sama gue!" Kevin menggosok tengkuknya sendiri seraya berjalan menghampiri Rey dan merangkul akrab sahabatnya itu. Mereka pun berjalan masuk kedalam meninggalkan Kinan yang sudah kembali asyik dengan lamunannya dikursi rotan.


-


Kevin dan Rey sudah berada di ruang Tv. Rey mengikuti Kevin yang sudah lebih dulu duduk di sofa.


"Itu cewek, waktu pingsan dibelakang club kayaknya enggak secantik itu deh, Nyuk!" Ucap Kevin memulai percakapan sambil senyum-senyum nakal.


"Diem lo! kalo dia denger gimana?" Rey mendelik mendengar ucapan Kevin yang tanpa basa basi langsung membahas hal itu.


Kevin terkekeh sambil menggeleng pelan.


"Pantes aja lo kepincut! polos-polos gimana gitu ya, Nyuk! selera lo gue pikir kayak si Mona!" Kini, Kevin sedikit berbisik pada Rey. Tentu saja ucapannya itu mendapat tempelengan dari Rey.


"Berisik banget lo, Nyet!" Rey nyolot namun ia tersenyum juga menyadari ucapan Kevin.


"Emang sohib enggak ada Aqhlaq! coba aja kalo lo berani!" Ancam Rey sambil mengepalkan tangan didepan wajah Kevin.


"Hehehe... canda, Nyuk! terus gimana rencana lo selanjutnya?"


"Gue butuh kerjaan, Nyet! Lo tau sendiri bokap enggak bakalan biarin gue dapet kerja dengan gampangnya walau gue punya ijazah setinggi langit!"


"iya juga, gue juga enggak bisa ngasih lo kerjaan kalo gitu! Bokap gue kan relasi bokap lo juga!" Kevin lesu dengan jawabannya sendiri.


"Gue ada rencana mau buka usaha. Tapi belum tau mau usaha apa!"


"Nah kalo itu gue bisa bantuin, Nyuk! Lo butuh berapa?"


"Nggak usah! Gue punya tabungan. Enggak sia-sia nyokap selalu cerewet nyuruh gue nabung dari dulu ternyata emang ada gunanya!" Rey tersenyum kecut menatap Kevin yang melakukan hal sama.


"Lo pikirin aja dulu mau usaha apa. Gue dukung lo apapun asal jangan jual diri aja lo!"


"Bangs*t lo, Nyet!"


Keduanya tertawa dan mereka memikirkan ide untuk usaha apa yang akan Rey buat. Sementara itu, Kinan sudah bangkit dari posisinya. Ia ingin sekali berkeliling disekitar Villa. Sebelumnya, ia akan kekamar dulu mengambil cardigan, agar tidak terlalu sejuk.


Kinan melewati ruangan yang ada Rey dan Kevin didalamnya, ruangan itu adalah ruangan terbuka yang pasti akan dilewati jika Kinan akan menuju kamar.


"Jadi lo malam tadi tidur di sofa?" Suara Kevin terdengar dan mengusik Kinan yang sudah mendekat untuk lewat.


"Yoi. Salah gue sendiri bilang sama Mbok Nah kalo Kinan istri gue, ya disuruh sekamar jadinya!"


Kevin terkikik mendengar kebodohan Rey. Kinan terpaku ditempatnya, seolah menunggu apa lagi yang akan Rey utarakan.


"Lo kan bisa tidur di kamar gue, noh yang paling pojok!" Ucap Kevin selanjutnya.


Rey menggeleng. "Ada baiknya gue memang sekamar sama Kinan, gue takut dia butuh apa-apa ditengah malam!"


"Segitunya lo! emang bisa lo jaga iman kalo sekamar sama dia? eh gue lupa, sejak kapan lo punya iman ya?" Kevin tertawa-tawa dengan ucapannya. Dan berhasil mendapat timpukan bantal sofa dari Rey.


"Ya tapi itu terserah lo aja! palingan lo harus meringkuk terus kalo disofa!"Ucap Kevin lagi. Ia masih tertawa membayangkan Rey yang tidur di sofa.


Kinan berdehem menyadarkan kedua lelaki itu akan kehadirannya disana. Keduanya menjadi salah tingkah dan gelagapan karena Kinan sudah ada diantara mereka.


"Kinan? gabung aja disini. Siapa tau bisa dapat inspirasi!" Kevin dengan sikap tanpa segannya mulai sok kenal sok dekat.


"Inspirasi pala lu!" Celetuk Rey pelan yang masih didengar oleh Kevin dan Kinan.


"emm.. terima kasih ya, kamu sudah memberi izin aku dan mas Rey tinggal disini!" Ucap Kinan sambil sedikit membungkukkan badan secara sopan.


Kevin mengangguk tapi ia menggaruk kepalanya mengingat ucapan Kinan. Apa tadi katanya, Kinan memanggil Rey apa?


"Lo manggil si kunyuk apaan?" Tanya Kevin bingung.


"Ku-kunyuk?" Kinan menatap Kevin lebih bingung.


"Iya, ini Kunyuk!" Kevin menunjuk Rey yang sudah memelototinya.


"Lo manggil Rey apaan?" Ucap Kevin lagi.


Kinan tertunduk malu. "Saya permisi ya" Kinan undur diri dan meninggalkan Rey dan Kevin.


Seperginya Kinan, Rey tak bisa lagi menahan gelak yang ia tahan karena melihat Kevin yang masih bingung tanpa mendapat jawaban dari Kinan. Rey tertawa sampai memegangi perutnya. Lucu melihat wajah Kevin yang 'dikacangi'.


.


.


.


.


Bersambung...


Hai... terimakasih ya yang sudah baca sampai part ini πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


Semoga kita semua sehat-sehat ya.


jangan lupa hadiah❀️❀️❀️❀️


tinggalkan komentar dan Like nya.


Oh iya, mumpung senin pagi nih...tolong berikan Vote nya dong!!!! biar author semangat lagi nulisnya. Minimal biar tulisan ini bisa dikontrak. Terimakasih ya sekali lagi.


Kalau Vote nya banyak, aku janji up satu part lagi hari iniπŸ˜¬πŸ˜¬πŸ˜¬πŸ™πŸ™πŸ™