
Ammar menatap Kinan penuh harap, menantikan jawaban Kinan atas tawarannya.
"Kinan, kamu mau kan melihat rumah barunya?" Tanya Ammar lagi.
Dengan ragu akhirnya Kinan menganggukkan kepalanya.
"Bersiaplah! aku akan menunggumu disini!"
Kinan beranjak untuk mengganti pakaiannya didalam kamar dan meninggalkan Ammar sendiri di ruang tamu.
Desi yang baru sampai dirumah pun menatap Ammar dengan tatapan heran.
"Mas Ammar? Sudah lama disini?" Tanya Desi kepada Ammar.
"Belum lama, sekitar 10 menit. Kenapa?"
Desi menggeleng-gelengkan kepalanya dengan segera. Entah apa yang sekarang ada dalam pikirannya, yang jelas ia menaruh banyak pertanyaan untuk Kinan nantinya.
Tak berapa lama, Kinan keluar dan menyapa Desi.
"Aku keluar dulu dengan Mas Ammar ya Des!" Mata Kinan mengisyaratkan agar Desi tak banyak bertanya lagi, apalagi bertanya mengenai kedatangan Rey tadi didepan Ammar.
"I-iya Ki." Ujar Desi dengan gugup. Entah kenapa sekarang malah ia yang merasa gugup mengetahui jika ada seorang lelaki lain diantara hubungan Kinan dan Ammar, walau sebenarnya Desi tak mengetahui siapa Rey sebenarnya, namun ia meyakini jika Rey dan Kinan saling tertarik satu sama lain dari pandangan mata mereka tadi.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
"Kau tampak tegang dari awal kedatanganku, semua baik-baik saja kan?" Tanya Ammar sambil melirik Kinan yang duduk disampingnya dan tetap fokus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Apa aku boleh bertanya, Mas?" Kinan mengabaikan pertanyaan Ammar dan malah balik menanyai lelaki itu.
"Tanyakanlah!" Ujar Ammar dengan nada enteng.
"Emm, apakah Mas Ammar yakin mau menerimaku kembali?" Tanya Kinan dengan nada yang sulit diartikan.
Ammar menganguk. "Tentu saja. Aku tidak akan melakukan hal yang tidak aku yakini." Ucapnya.
Kinan mendesah pelan, membuang pandangan ke samping jendela mobil, menatap lamat-lamat pemandangan jalanan yang cukup padat di pagi menjelang siang ini.
"Kenapa? Apa kau yang meragukanku?" Ammar balik bertanya.
"Bukan begitu Mas, aku--"
"Hmm?"
"Aku tau kau mau menerimaku kembali, tapi apakah kau juga yakin mau menerima semuanya, termasuk....anak dalam kandunganku?" Kinan mengelus perutnya yang masih rata.
Ammar tersenyum miring. Seperti memikirkan sesuatu.
"Kau tidak perlu cemas lagi memikirkan itu Kinan, aku sudah punya solusi untuk itu."
"Solusi?" Kinan menoleh menatap Ammar disampingnya. Keningnya berkerut menandakan ia tengah memikirkan kata-kata Ammar.
"Huum.. Begini, aku sudah mempunyai sepasang anak dan itu sudah lebih dari cukup untukku. Tapi, aku mengerti jika kau mungkin ingin memiliki anak yang kau lahirkan sendiri, maka--" Ammar melirik Kinan sekilas yang tengah mendengarkan ucapannya dengan seksama.
"Maka, kau bisa punya anak dariku di lain waktu. Anak kita berdua!" Sambung Ammar lagi.
Kinan sedikit tak mengerti arah pembicaraan Ammar.
"Lalu, bagaimana dengan anak yang ku kandung sekarang?" Tanya Kinan sembari mengelus perutnya lagi dan lagi.
"Begini Kinan, Kita sama-sama tidak menginginkan kehadiran anak itu..." Ammar mengendikkan dagunya ke arah Kinan, seolah menunjuk ke arah perut Kinan.
"Kehamilanmu masih terbilang baru, jadi kau bisa meminum sesuatu untuk menggug*rkan janin itu, ayolah! atau jika itu tidak berhasil kita bisa--" ujarnya dengan nada remeh.
"Mas?" Kinan menatap Ammar dengan tatapan terkejut ketika ia menyadari maksud dari kata-kata Ammar.
"Tolong berhenti, Mas..!" Kinan meminta Ammar berhenti bicara sekaligus juga menghentikan perjalanan mereka.
"Kinan..."
"Aku bilang berhenti dan turunkan aku disini!" Pekik Kinan sambil menatap tajam ke arah Ammar. Jelas-jelas ia tak setuju dengan niat Ammar itu.
Dengan berat hati, akhirnya Ammar menghentikan mobilnya di tepi jalan dan dengan gerak cepat Kinan langsung keluar dari mobil saat itu juga.
"Sudahlah Mas, aku sudah mengerti semua yang kau bilang soal solusi itu!"
Kinan ingin pergi dari hadapan Ammar sesegera mungkin. Tapi Ammar mencegah langkahnya. Ammar berdiri didepan Kinan untuk menghalanginya melangkah.
"Kita bisa punya anak lagi nantinya, Ki! Anak yang sama-sama kita harapkan!"
"Keegoisanmu menutupi hati nuranimu, Mas!"
"Kau pasti tau maksudku tidak begitu! Anak itu bukan anakku!"
"Tapi ini adalah anakku! Kau berharap aku menganggap anakmu sebagai anakku juga, tapi kau tak mau menganggap anak yang sedang ku kandung sebagai anakmu. Apa itu yang kau maksud sebagai solusi?"
Ammar terdiam. Rahangnya mengeras seolah ingin meluapkan kemarahan. Entahlah.
Sekali lagi Kinan menatap Ammar dengan tatapan tajamnya, ia geram melihat lelaki dihadapannya ini. Kinan menarik nafas perlahan dan mencoba mengabaikan Ammar yang terus menahan kepergiannya. Dengan gerak cepat, Kinan menyebrangi jalan raya dihadapannya. Ammar ingin mengejar Kinan, tapi ia tersadar mesin mobilnya belum mati. Akhirnya ia mengurungkan niat untuk ikut berlari menyusul kepergian Kinan.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
"Bisa-bisanya kau memintaku untuk melakukan hal keji itu, Mas!" Kinan bergumam sendiri ditengah jalannya yang pontang-panting tak tahu arah.
Kinan mengelus perutnya sejenak.
"Walau bagaimanapun, anak ini adalah anakku. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya!" Batin Kinan.
Kinan terus berjalan menyusuri trotoar jalanan, ia tak tahu hendak kemana lagi. Kembali kerumah Desi tentunya adalah pilihan terakhir. Tapi, jika Ammar akan datang kesana bagaimana? Kinan belum mau melihat wajah lelaki itu. Kinan menggeram dalam hati mengingat ucapan Ammar tadi.
"Kenapa jalanan ini ramai dan mendadak macet?" Kinan tercekat melihat pemandangan didepannya. Ia menghampiri orang-orang yang terlihat berkerumun.
"Ada apa ya, Mbak?" Tanya Kinan pada seorang wanita yang baru saja beranjak dari tempat itu.
"Kecelakaan tunggal, Mbak! Mobil mewah, korbannya masih terjepit didalam mobil!" Ungkap wanita itu menjawab pertanyaan Kinan seraya pergi meninggalkan kerumunan.
Kinan ingin melihat korban, tapi rasanya dia tidak akan sanggup melihat korban kecelakaan. Kinan ingin meninggalkan tempat kejadian itu saja, ia lalu berdiri dipinggir jalan untuk menunggu Taxi lewat. Tapi sudut matanya menangkap pemandangan mobil yang sudah ditepikan itu.
Kinan terkejut dan terperangah mengenali mobil yang ia yakini mirip kepunyaan seseorang, tapi ia belum yakin.
Kinan tergesa-gesa menuju ke arah dimana mobil itu berada, menyeruak barisan orang-orang yang masih dalam kerumunan untuk menuntaskan rasa ingin tahunya. Ia mendengar suara orang-orang yang riuh dan sayup-sayup mendengarkan pembicaraan diantaranya.
"Korbannya masih didalam, terjepit!" Pekik seorang bapak setengah baya.
"Tolong dibantu keluarkan ya!" Perintah seorang pria yang Kinan tahu adalah aparat setempat, karena ia menggunakan seragamnya.
Kinan mematung ditempatnya berdiri ketika korban yang terjepit tadi perlahan-lahan dibantu keluar oleh warga dan aparat setempat itu. Beberapa Ambulans sudah tiba ditempat dan siap untuk membawa korban yang baru saja diangkat dari mobil yang lumayan 'ringsek' tersebut.
Kinan berlari menuju ambulans, sesekali badannya menyenggol tubuh orang lain namun ia tak mempedulikan itu.
"Mas, boleh saya ikut mengantarnya ke rumah sakit?" Pinta Kinan pada seorang petugas di Ambulans.
"Maaf, mbak mengenal orang ini?"
Kinan mengangguk dan sesegera mungkin mencari posisi untuk duduk didalam ambulans itu juga.
Kinan menatap wajah lelaki yang terbaring diatas brankar ambulans itu. Lelaki itu tampak tak berdaya, nadinya segera disambungkan ke cairan inpus oleh seorang petugas ambulans. Kinan tidak melihat adanya darah, namun lelaki ini tak sadarkan diri dihadapannya. Kemungkinan ia mengalami luka bagian dalam tubuhnya.
Kinan menggenggam jemari lelaki itu, berharap bisa menguatkannya. Sesekali pandangannya mendongak ke atas, untuk menahan air matanya agar tidak menetes.
"Ku mohon bertahanlah!" Ucap Kinan pelan pada lelaki itu. Perasaan menyesal menyeruak didalam relungnya. Kenapa tadi mereka harus berdebat. Kenapa Kinan tak mau mendengarkannya. Kinan menjadi gamang dan tak tahu lagi harus bagaimana. Sampai beberapa saat, Ambulans itu terasa berhenti dan semua petugas didalamnya bergerak untuk menurunkan korban kecelakaan ini.
Kinan ikut turun dan mengikuti kemana lelaki itu akan dibawa. Kinan ingin memastikan keselamatannya, Kinan ingin tahu apa yang terjadi padanya dan seperti apa vonis dokter terhadap lelaki itu.
.
.
.
.
Bersambung...