
Kinan benar-benar terkejut menemukan Shaka disini. Ia dan Rey sempat datang kerumah Ammar untuk berkunjung sekaligus melihat keadaan Alesya dan Arshaka, bagaimanapun mereka masih keponakan Kinan juga.
Tapi saat itu, Rumah yang dulunya Ammar tempati sudah tersegel akibat disita oleh Bank. Kinan tidak tahu apa yang terjadi dan tak tahu mau mencari keberadaan mereka kemana. Ingin meminta bantuan Rey agar melacak keberadaan mereka tapi ia merasa sungkan, mengingat Rey sangat cemburu terhadap Ammar. Walau bagaimanapun Kinan juga harus memikirkan perasaan suaminya, bukan? Diizinkan datang kerumah Ammar saja Kinan sudah takjub dengan kebesaran hati suaminya itu. Bagaimana mungkin ia meminta Rey melacak keberadaan Ammar? Kinan tak mau Rey berfikir yang bukan-bukan, walau alasan sebenarnya ia hanya ingin tahu kabar Lesya dan Shaka.
Memang sedari awal Kinan tak langsung mendatangi kediaman Ammar setelah permasalahan Ammar dan Doni selesai waktu itu. Karena, saat itu Kinan sibuk dengan kelas kehamilan dan fokus menuju proses persalinannya. Belum lagi ia harus repot menyiapkan segala kebutuhan pasca persalinan dan kebutuhan bayinya. Jadilah Kinan dan Rey berkunjung setelah Kinan selesai melahirkan, saat Kirey sudah berusia tiga bulan waktu itu.
Tapi siapa yang menyangka pemilik Rumah itu sudah tak tinggal disana? Ammar pindah dan membawa serta seluruh keluarganya. Kinan menjadi bingung, ia hanya berharap suatu saat nanti ia bisa bertemu dengan para keponakannya.
Kinan kembali menatap Shaka yang kini mulai menghapus airmatanya. Tubuh bocah laki-laki itu tampak semakin tinggi beberapa senti. Tentu saja, umurnya juga sudah bertambah sekarang.
"Kamu ngapain? Kenapa menangis? Kesini nya sama siapa tadi?" Kinan menghujani Shaka dengan banyak pertanyaan.
"Tadi sama Nenek. Tapi sekarang gak tau Nenek perginya kemana. Shaka kehilangan jejak." Ujarnya.
"Ya sudah, sekarang Tante bantu cari Nenek ya." Kinan mengelus pundak Shaka kemudian menepuk-nepuknya pelan. "Kita ke pusat informasi aja, yuk!" Kinan menggandeng tangan Shaka dan anak itu menurut saja.
"Tante Kinan..." Panggilnya.
"Ya?"
"Tante tinggal dimana sekarang? Kenapa gak pulang dan ikut pindah bersama kami?"
Kinan menghentikan langkahnya. Ia menatap Shaka yang memandangnya lekat. Kinan menarik nafas perlahan-lahan. Ia harus menjelaskan pada Shaka secara hati-hati, mereka dulu pernah dekat dan hanya Shaka yang menerima Kinan dengan baik saat Kinan pernah menjadi istri Ammar dulu.
"Kita kesana dulu, yuk!" Ucap Kinan. Ia menunjuk pusat informasi yang berada tak jauh lagi dari jangkauan mereka. Supermarket yang Kinan dan Shaka kunjungi termasuk supermarket yang besar. Supermarket yang berada didalam Mal. Jadi, Kinan memutuskan membawa Shaka ke pusat informasi agar Latifa yang tadinya membawa Shaka ke Mal ini bisa tahu posisi Shaka sekarang.
"Nanti Tante jelasin disana." Lanjut Kinan lagi dan Shaka pun mengangguk patuh.
Setelah mereka menyampaikan berita pada orang yang ada di pusat informasi, pihak terkait pun langsung memberikan pengumuman melalui sebuah microfon, agar didengar semua pengunjung dan Latifa bisa datang menemui Shaka di pusat informasi tersebut.
"Sekarang Tante udah bisa cerita?" Tuntut Shaka pada Kinan. Ia terlihat tidak sabaran. Kakinya digoyang-goyangkan sambil menanti penjelasan yang akan Kinan utarakan.
"Shaka, Tante gak bisa ikut pulang dan pindah bersama dengan kalian semua."
"Kenapa, Tan?" Shaka menatap Kinan dengan mata jernihnya. Anak delapan tahun itu kini mulai bersikap dewasa tak kekanak-kanakan lagi seperti saat Kinan masih tinggal bersama mereka dulu. "Apa karena Shaka nakal?" Lanjutnya.
"Shaka gak pernah nakal kok. Cuma memang gak bisa, Sayang." Tutur Kinan dengan lembut.
"Kalau gitu, apa karena Kak Lesya yang judes? Kan Tante tahu sendiri kalau Kak Lesya memang gitu. Shaka juga sering di judes-in."
Kinan tersenyum mendengar ucapan Shaka. Kemudian Kinan mulai angkat bicara. "Kalau Kak Lesya marah pasti untuk kebaikan Shaka. Kamu dan Kak Lesya harus akur ya. Kalian kan bersaudara, kelak yang menolong kita pasti saudara kita juga. Buktinya Tante, yang menolong Tante adalah Mama kalian. Mama Wina. Walaupun Tante dan Mama Wina bukan saudar kandung tapi beliau yang menolong Tante, kan?" Kinan mengacak rambut Shaka dengan gemas.
"Iya, Tan. Shaka tahu.. Shaka jadi kangen sama Mama Wina. Tapi Shaka juga kangen sama Tante Kinan. Sangat kangen." Tiba-tiba Shaka memeluk Kinan. Kinan merasa terharu, ia ingin menangis. Bagaimanapun, Shaka tumbuh selama bertahun-tahun atas asuhannya. Mereka sangat dekat dulu. Wina yang sakit-sakitan tak bisa menjaga Shaka. Kedatangan Kinan bagai angin segar untuk Shaka yang butuh kasih sayang seorang ibu saat usianya masih terlalu kecil. Jauh sebelum Kinan menjadi Ibu tirinya dan menikah dengan Ammar, Shaka sudah lebih dulu menganggap Kinan sebagai pengganti Mamanya yang sakit dan tidak ada waktu untuk bermain dengannya.
"Apa Tante mau pulang sama Shaka? Shaka janji gak akan nakal. Shaka akan nurut sama Tante dan sama semua orang dewasa yang ada dirumah. Ayo Tan, kita pulang! Tapi Rumah kami sudah pindah. Ayo Tan..." Shaka menarik-narik lengan Kinan.
Kinan menggeleng pelan. "Tante gak bisa ikut Shaka. Karena..." Kinan ragu menyampaikan yang sebenarnya, bahwa ia telah memiliki keluarga baru. Kinan takut menyakiti hati Shaka yang berharap besar padanya.
"Kenapa Tan? Apa karena Rumah kami yang sekarang kecil?"
"Hah? Bukan..." Kinan masih mencerna ucapan Shaka. Kenapa sekarang mereka tinggal dirumah yang kecil?
"Lalu kenapa, Tan? Apa karena Nenek ya? Ya, Shaka tahu.. Pasti karena Nenek jahat sama Tante kan, makanya Tante Kinan gak mau ikut tinggal sama kita lagi. Begitu kan, Tan?" Lanjutnya.
"Shaka..Sayang, dengar Tante, ya. Tante tidak bisa tinggal bersama kalian lagi karena tante sudah punya tempat tinggal sendiri. Dan soal Nenek, Shaka gak boleh bilang Nenek seperti itu. Bagaimanapun itu tetap Nenek Shaka dan Kak Lesya. Nenek Latifa tetaplah orangtuanya Papa. Jadi, Shaka harus tetap menghormatinya. Oke?" Kinan menyatukan jari telunjuk dan jempolnya menjadi bentuk lingkaran.
"Nenek cuma terlalu sayang sama kalian. Jadi beliau bersikap sangat peduli, karena takut kalau kalian akan ada yang menyakiti." Jawab Kinan bijak.
"Tapi apa Tante gak bisa pindah saja dari Rumah Tante, lalu tinggal lagi bersama kami?" Tanya Shaka kekeuh.
Kinan ingin menjawab, tapi seseorang sudah lebih dulu menjawab pertanyaan Shaka.
"Tante Kinan tidak bisa lagi tinggal bersama kita, karena Tante Kinan sudah punya keluarga sendiri, Shaka." Suara Latifa mengejutkan Kinan dan Shaka. Mereka berdua langsung terfokus pada sosok wanita tua tersebut.
Latifa menatap Kinan dengan tatapan sendu, ia mendengar semua penuturan dan nasehat Kinan pada Shaka tadi mengenai dirinya. Ia terharu sekaligus merasa sangat bersalah pada Kinan. Kinan yang dia sakiti selama ini ternyata mampu mengajarkan Shaka arti dari menghormati seorang Nenek dan mau memberi pengertian pada Shaka bahwa dia bukan nenek yang jahat. Padahal, ia menyadari bahwa dirinya memang jahat. Latifa amat tertampar dengan ucapan Kinan. Eanita tua itu merutuki dirinya sendiri yang selama ini sangat salah menilai Kinan.
"Terima Kasih, Ki. Kamu sudah membantu Shaka ke pusat informasi. Tadi saya sudah mencarinya kemana-mana tapi tidak ketemu. Saya sudah panik sendiri. Sekali lagi terima kasih ya." Ujar Latifa sambil menahan sungkan. Ia terlalu malu berhadapan dengan Kinan seperti ini.
"Iya, tidak apa-apa. Aku juga senang bisa bertemu dengan Shaka dan membantunya. Tapi lebih baik jika berbelanja, Shaka tidak usah ikut saja, takut terjadi hal seperti ini lagi." Jawab Kinan tulus.
"Iya, dirumah tidak ada orang. Shaka tidak ada yang menemani. Lesya masih disekolah jam segini."
"Kenapa tidak dititipkan sama bi Minah atau bi Irah saja?"
"Mereka sudah tak bekerja dengan kami. Kami tidak memakai jasa ART lagi." Mata Latifa tampak berkaca-kaca. "Shaka, kamu kenapa diam saja? Ayo pamit sama Tante Kinan, kita pulang ya sekarang."
Shaka tetap diam diposisinya. Ia menatap Kinan dengan tatapan yang menyedihkan.
"Ayo Shaka.." Ucap Latifa seraya menarik tangan Shaka agar berdiri dari duduknya dan ikut bersamanya.
Tiba-tiba Shaka menatap Kinan dengan serius. "Apa benar tante sudah punya keluarga yang baru? Apa itu sebabnya Tante lupa sama kami? Apa keluarga tante baik? Apa ada anak kecil seperti Shaka juga disana? Dan apa rumah baru Tante sangat besar?" Shaka meneteskan airmatanya. Ia merasa terlupakan dan ia merasa sangat sedih sekarang, lebih sedih daripada tadi saat ia kehilangan jejak neneknya.
Kinan berjongkok dihadapan Shaka, ia juga merindukan anak laki-laki ini. Tapi ia juga tak bisa dan tak punya hak untuk meminta Shaka tinggal bersamanya, andai saja Kinan bisa pasti ia akan membawa Shaka ikut tinggal bersamanya sekarang juga.
"Shaka, tante memang sudah punya keluarga. Keluarga yang sangat baik. Keluarga tante akan jadi keluarga Shaka juga. Ada anak kecil juga lho, tapi dia tidak seperti Shaka. Anaknya lebih kecil dan lucu, namanya Kirey. Shaka bisa menganggapnya adik kalau Shaka mau."
"Benarkah, Tan?"
"Huum.. Nanti kapan-kapan kalau Shaka libur sekolah kita ketemu deh sama adek Kirey. Gimana? Mau? Kirey baik dan pasti Shaka gemas sama dia." Kinan mencubit hidung Shaka dengan gemas. Seketika itu juga wajah Shaka berubah ceria.
"Beneran boleh Tante?"
Kinan mengangguk. "Iya."
Tak berapa lama Latifa tampak menerima panggilan telepon. Ia begitu terkejut dan langsung bergegas undur diri dari hadapan Kinan.
"Ada apa?" Tanya Kinan ingin tahu, ia takut terjadi sesuatu karena wajah Latifa pucat seketika saat menerima panggilan telepon tadi.
"Ammar barusan menelpon, katanya Lesya masuk Rumah Sakit."
.
.
.
1 Chapter lagi deh kayaknya ya........