How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
SEASON II - Kau benar-benar mencintaiku



"Bagaimana kabarmu?" Ammar memulai pertanyaannya pada perempuan yang sudah berdiri disampingnya. Walaupun rasanya sangat canggung karena mereka baru bertemu lagi setelah tiga bulan berpisah, tapi Ammar mencoba bersikap sewajarnya.


"Aku...baik." ucapan wanita itu memenuhi indera pendengaran Ammar.


"Kenapa kau ada disini, Jo?"


"Ini panti asuhan milik pamanku. Seharusnya Doni sudah memberitahumu 'kan?"


Ammar menggeleng. "Dia sama sekali tidak memberitahuku soal itu." Jawab Ammar jujur.


Joana menoleh menatap lelaki itu. "Benarkah? Itu tidak mungkin." Jawab Joana dengan nada mencibir.


Ammar terkekeh kecil. "Ya, aku ingin membawa anak-anak liburan ke panti asuhan. Doni menyarankan tempat ini. Tampaknya dia memang sengaja." Kata Ammar sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini Ammar tahu maksud dibalik ucapan Doni ditelepon tadi. Inilah yang dimaksud Doni, apakah Ammar menemukannya? Bukan hanya sekedar menemukan pantinya, tapi salah seorang yang tinggal didalam panti ini. Dan Ammar baru menyadari juga bahwa ini adalah keberuntungannya yang disinggung Doni.


Joana tersenyum tipis tapi Ammar tidak melihat itu. "Lalu, bagaimana kabarmu?" Tanyanya.


"Tentu saja aku baik," kilah Ammar sambil tersenyum yang amat dipaksakan.


"Ya, kelihatannya kau memang baik-baik saja." Joana menunjukkan sebatang rokok yang masih dipegangnya pada Ammar, seolah-olah mengatakan 'kalau kau baik, kenapa kau merokok?'--dia menatap Ammar dengan tajam.


Ammar terkekeh kecil. "Kau memang paling tahu, Jo. Bahkan tanpa rokok itupun kau bisa membaca gelagatku. Kau memang orang yang profesional dalam bidangmu." Puji Ammar mengingatkan profesi Joana sebagai psikiater.


Joana tertunduk akibat sindiran Ammar, dia bahkan menutup tempat prakteknya hanya untuk menghindari Ammar. Bagaimana bisa Ammar mengatakannya 'profesional?'


"Aku juga tahu kau ahli dalam menyembunyikan perasaanmu, Jo! Tapi sayangnya aku sudah tahu semuanya." Ammar tertawa sumbang.


"Tahu semuanya? Soal apa?" Tanya Joana serius.


"Soal perasaanmu, kalau kau benar-benar mencintaiku." Kata Ammar penuh percaya diri. Dia mengucapkannya dengan mantap.


Joana terkekeh mendengarnya. "Pembahasan macam apa ini? Kau konyol sekali. Aku tidak mau membahasnya. Kau terlalu percaya diri. Darimana kau menebak hal seperti itu--kita bahkan sudah berpisah." Kilah Joana sambil menatap pemandangan bukit barisan didepannya yang terhalang kabut.


Ammar menggelengkan kepalanya samar melihat Joana mengelak dari umpannya. Perempuan ini tidak tahu bahwa Ammar memegang kartu As-nya, siapapun yang melihat itu akan menilai Joana dengan hal yang sama--bahwa perempuan itu sangat mencintai lelaki yang kini ada disebelahnya.


"Mau sampai kapan kau begini, Jo? Kau menahan perasaanmu!" Tegas Ammar.


"Stop Ammar. Seharusnya aku memang tidak usah menemuimu. Apa kau tidak bisa bersikap biasa, selayaknya kita adalah seorang teman?" Tanya Joana mengalihkan pembicaraan.


Ammar menggeleng. "Aku tidak pernah bisa menganggap orang yang ku cintai dan juga mencintaiku sebagai seorang teman apalagi sebelumnya aku ingin menikahinya." Jawab Ammar lugas.


Joana tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia benar-benar tidak bisa menyangkal perkataan Ammar. Daripada dia luluh dan menyerah, dia lebih memilih pergi dari sana.


"Menyerahlah, Jo. Aku sudah tahu semuanya. Mana cincinku?" Tanya Ammar yang membuat langkah Joana terhenti. Joana terhenyak akan pertanyaan itu.


"Aku kesini bukan untuk mencarimu, Jo. Aku akan mencarimu lagi setelah hari ini dan aku tidak akan menyerah apalagi setelah aku tahu kau mengambil cincin itu dari kolam renang." Kata Ammar seraya menghampiri Joana yang sudah agak berjarak darinya.


Joana terpaku, bagaimana Ammar bisa tahu jika cincin itu diambil olehnya?


"Tapi Tuhan mempertemukan kita disini. Mungkin ini yang dimaksud Doni sebagai keberuntunganku, Jo. Bahkan kau sendiri yang menghampiri aku." Ammar memegang pundak Joana, menatapi perempuan yang masih diam dan tertunduk dengan pikiran yang pasti berkecamuk.


"Lihat aku, Jo!" Kata Ammar. Joana menggeleng, dia merasa lemah karena Ammar baru saja membuka kartu As-nya. Sebuah kesalahan yang Joana lakukan tiga bulan lalu dan sekarang Ammar malah membuka hal itu didepannya sendiri, seolah-olah menemukan dan mengetahui perasaan terdalam dari seorang Joana, karena cincin itu memang diambilnya dari kolam renang.


"Jo, lihat aku. Tanyakan apapun yang ada dipikiranmu!" Ucap Ammar tegas.


Secara perlahan-lahan perempuan itu mengadahkan kepala untuk menatap lelaki yang menjulang dihadapannya. "Darimana kau dapat menyimpulkan jika cincin itu ada padaku?" Tanya Joana, ekspresinya tidak terbaca.


"Kau lupa jika Hotel itu milik keluarga Kevin?" Ammar tersenyum tipis. "Aku melihat rekaman CCTV yang menunjukkan kejadian setelah aku pulang dari hotel itu." Kata Ammar.


Joana terperangah. Bagaimana bisa dia melupakan itu, dia bertindak dengan ceroboh karena perasaannya yang hancur-lebur setelah memutuskan berpisah dari Ammar.


Melihat Joana terdiam dengan wajah terkejut, Ammar mengambil kedua tangan Joana dari sisi tubuhnya, memperhatikan jari-jari Joana satu demi satu, mencari cincinnya yang diambil Joana dari kolam renang pada malam itu.


Ammar sudah melihat semuanya dari flashdisk yang diserahkan tiga sekawan itu beberapa waktu lalu. Ammar juga tahu Joana masuk ke kolam renang hingga gaun yang dikenakannya pada malam itu menjadi basah. Ammar pun melihat Joana kedinginan setelah mencari-cari keberadaan cincinnya dikedalaman air kolam.


Itulah kenapa Ammar sangat percaya diri saat mengatakan jika Joana sangat mencintainya, karena dia sudah tahu jelas bagaimana perasaan Joana terhadapnya semenjak melihat isi flashdisk itu.


"Mana cincinnya, Jo? Kenapa tidak kau kenakan?" Tanya Ammar pada Joana yang masih membeku, dia bertanya karena dia tak menemukan cincinnya dijari Joana.


Joana menggeleng. "Jangan dimulai lagi sesuatu yang sudah kita akhiri." Kata Joana lirih.


Mendengar itu tersulutlah emosi Ammar. "Kita akhiri?" Ammar menghela nafasnya agar emosinya tidak meledak. "Jo, bukan kita yang mengakhiri ini, tapi kaulah yang mengakhirinya sebelah pihak. Aku tidak." Tegas Ammar dengan wajah memerah.


"Oke, sekarang beritahu aku kenapa kau mengakhiri ini padahal kau mencintaiku?" Ammar menangkup kedua pipi Joana yang ternyata sudah dibanjiri airmata.


Joana menggeleng. Dia tidak mau mengucapkan alasannya.


"Baik, aku tebak. Kau takut jika orangtuamu akan meminta kita berpisah?"


Joana diam. Tidak membantah namun tidak pula mengiyakan.


"Karena kau diam, maka ku anggap itu iya." Ammar membelai pipi Joana, menghapus airmatanya yang semakin membanjiri sisi wajahnya. "Setidaknya kita mencoba Jo, kita belum mencobanya dan kau sudah menyerah lebih dulu." Kata Ammar bijak.


Tangis Joana pecah, Ammar pun merengkuh tubuh Joana dalam pelukannya. "Sstt..jangan menangis lagi." Kata Ammar menenangkan perempuan itu.


"Aku takut, Ammar. Aku takut." Kata Joana dalam pelukan Ammar. Entah kenapa dia merasa sangat nyaman dalam posisi ini dan tidak mau keluar dari dekapannya. Joana mengakui dalam hati jika ini adalah salah satu yang dia butuhkan.


"Apa yang membuatmu takut, hmm?" Ammar mengelus-elus kepala Joana yang rambutnya dikuncir kuda. "Katakan padaku, berterus teranglah." Pinta Ammar lirih. Dia tahu jika selama ini ada yang Joana sembunyikan darinya. Mungkin setelah tiga bulan mengasingkan diri, Joana sudah mau membuka diri dan berterus terang padanya.


"Aku takut Daddy sakit jika mengetahui aku menjalin hubungan denganmu." Isak Joana.


"Kenapa Daddy harus sakit? Memangnya aku seburuk itu?" Ammar menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, "Aku tahu dan aku ingat kesalahanku dimasa lalu memang sangat fatal. Tapi aku sudah menyesalinya dan itu menjadi pelajaran berharga yang tidak mau aku ulangi lagi, Sayang. Bukankah semua orang layak mendapat kesempatan jika dia bersungguh-sungguh?" Kata Ammar lembut sambil terus mendekap tubuh perempuan itu.


Joana mengangguk, "Tapi aku ragu Daddy akan menerima. Meng--mengingat statusmu juga-- membuatku ti-tidak yakin." Kata Joana dengan gugup takut menyinggung Ammar.


Ammar mengurai pelukannya, membuat Joana sedikit kecewa tapi Ammar menatap intens wajah perempuan itu, "Jadi itu yang kau takutkan selama ini? Kau tidak bilang padaku karena kau takut aku tersinggung kan?" Ammar tersenyum tipis.


Joana memberengut. "Aku pikir aku bisa melupakanmu." Ucap Joana sambil memukul pelan dada Ammar.


Ammar meringis tapi tertawa. "Kenyataannya?" Tanya Ammar.


Joana menggeleng lemah dan Ammar tersenyum semringah.


"Siapkan barang-barangmu, ikut aku pulang hari ini. Lusa atau kalau bisa besok saja kita datang ke rumah orangtuamu di London." Kata Ammar enteng seraya melangkah menjauh meninggalkan Joana yang terperangah mendengar penuturannya.


"Ammar.." panggil Joana.


"Apalagi? Aku tidak bisa membiarkanmu menikah dengan orang lain." Kata Ammar.


Joana berdecak. Dia mau Ammar juga mengerti kondisi kesehatan orangtuanya jika sudah mengetahui status Ammar yang sebenarnya.


"Aku tidak bi--"


"Sudahlah Jo, cukup tiga bulan ini saja aku dan kamu seperti ini. Selanjutnya kita serahkan pada orangtuamu. Aku yakin mereka akan mendukung untuk kebahagiaanmu." Kata Ammar mantap.


"Kenapa kau yakin sekali? Aku memikirkan kondisi kesehatan mereka. Apa kau tidak mau memikirkan nasib orangtuaku juga?" Joana mendesis sebal akan sikap Ammar yang dia kira hanya mementingkan perasaannya saja.


"Jangan dipikirkan, aku sudah menyelesaikan itu jauh-jauh hari sebelum hari ini." Kata Ammar.


"Maksudmu?" Joana menatap Ammar dengan mata bulatnya membuat Ammar gemas.


Cup!


Ammar mengecup pipi Joana sekilas. "Diamlah, jangan bertindak bodoh lagi dengan pergi dariku. Jika hanya masalah itu seharusnya kau tidak perlu menjauh dariku seperti ini."


"Ammar.." Joana memegangi pipinya yang baru saja dicium Ammar. Selama mereka dekat, Ammar tidak pernah mencium pipinya seperti ini. Ammar benar-benar sangat menghargainya dengan tidak adanya kontak fisik berlebih diantara mereka. Wajah Joana memanas dan semburat warna merah mulai menjalari permukaan pipinya.


"Jo, aku belum makan siang. Aku lapar." Kata Ammar sambil melangkah, menyadarkan Joana dari keterkejutannya.


Joana berlari-lari kecil dibelakang Ammar setelah rasa syok nya hilang. "Mau makan apa? Aku masakkan untukmu." Gumam Joana yang didengar oleh Ammar.


Tidak bisa diutarakan dengan kata-kata kebahagiaan Ammar saat ini, sudut bibirnya melengkung. "Jadi kau koki baru disini yang dikatakan oleh Pak Mirza?" Goda Ammar.


"Masakanku biasa saja, tidak seperti koki handal. Paman saja yang berlebihan." Kata Joana malu.


Ammar tersenyum simpul. "Apapun yang kau masak aku akan memakannya."


Joana terkekeh. "Pandainya..." Cibirnya pada lelaki itu dan Ammar ikut tertawa. Tawa pertamanya setelah tiga bulan berlalu dengan keterpurukan.


Mereka berbincang hangat sampai menuju ruang makan yang sebelumnya sempat Ammar kunjungi karena tak sengaja mendengar suara seseorang yang dianggapnya mirip suara Joana. Dan sekarang dia sudah yakin jika pendengarannya tidak salah menduga karena itu benar-benar Joana yang dirindukannya.


...Bersambung......