
Sebelum benar-benar beranjak pergi, Rey menitipkan buket bunga itu pada Sinta agar Sinta memberikannya pada Kinan.
Rey mengurungkan niatnya untuk menemui Kinan karena hari mulai beranjak gelap dan Sinta pun mempersilahkan Rey untuk pulang.
Rey melewati ruangan tempat Kinan beristirahat. Rey melihat sudah tak ada Ammar disana. Namun, Rey memutuskan untuk pulang. Biarlah Kinan beristirahat, pikirnya.
Seperginya Rey, Sinta memasuki ruangan itu. Kinan tampak sedang meringkuk ketika Sinta menghampirinya.
"Kinan.." Sinta memanggil nama itu dengan pelan sembari duduk dipinggiran ranjang Kinan.
Kinan menoleh melihat Sinta namun ia tetap diam.
Sinta tersenyum simpul sambil menyerahkan sebuket mawar putih titipan Rey.
"Buat kamu" Katanya.
Kinan menerima buket itu sambil tersenyum dan sesekali mencium aroma wangi bunga yang semerbak.
"Terimakasih, Sinta!"
Sinta mengangguk-angguk.
"Tadi lelaki itu menitipkannya padaku agar diberikan untuk kamu!" Jelas Sinta.
"Siapa?"
"Lelaki yang sering mengunjungi kamu. Ah, aku lupa bertanya namanya."
Sebuah senyuman terbit dari bibir tipis milik Kinan, tanpa berpikir lama ia sudah tau siapa yang dimaksud oleh Sinta.
"Sekarang dia dimana?" Kinan menoleh kearah pintu, mencari-cari sesuatu.
"Sudah pulang. Tadi dia melihat suamimu disini!"
Kinan cemberut seperti anak kecil yang gagal dibelikan ice cream.
"Tapi dia bilang besok akan kesini lagi menemuimu!" Sambung Sinta sambil mengelus pelan pundak Kinan.
"Benarkah?" Mood Kinan kini berubah, matanya berbinar-binar penuh harap.
"Huum" Sinta mengangguk-angguk.
"Bagaimana dengan suamimu?" Tanya Sinta lagi pada Kinan.
Sinta melihat Kinan kembali murung dengan pertanyaan yang ia ajukan. Sepertinya mood Kinan mudah berubah-ubah sekarang.
"Aku tidak tau kenapa dia baru mengunjungiku sekarang. Itupun seperti terpaksa!" Jelas Kinan pada Sinta.
"Maksudnya?"
"Iya, dia seperti setengah hati datang menjengukku. Lebih baik dia tidak usah datang saja! Aku jadi berpikir, apa kami dulu menikah karna terpaksa dan tanpa ada perasaan satu sama lain." Kinan mengetuk-ngetuk jari telunjuk didagunya sendiri, seolah sedang berpikir.
"Mungkin saja. Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Obatmu sudah kau minum?" Tanya Sinta.
"Sudah"
"Baiklah, sekarang istirahatlah. Sudah ada hari esok yang menantimu!"
"Oke" Kinan mulai membaringkan tubuhnya diatas ranjang.
Sinta keluar dari ruangan Kinan karena jam kerjanya pun sebenarnya sudah habis dari tadi, ia hanya ingin mengecek keadaan Kinan dan memberikan titipan lelaki itu.
******
"Kinan, apakah--apakah aku bisa meminta hak ku sebagai suamimu sekarang?"
Perlahan-lahan wajah Ammar semakin mendekat dan tiba-tiba Ammar mendaratkan bibirnya sekilas di bibir tipis Kinan.
"Aku sedang berusaha untuk mencintaimu!"
"Berusahalah untuk menerima dan mencintai aku juga!"
Kinan terperanjat dari tidurnya ketika potongan-potongan kisah hidupnya menghampiri lewat mimpinya. Kinan menarik nafas panjang sebelum akhirnya menghembuskannya perlahan. Mengatur suasana jantung yang berpacu akibat mimpi barusan. Ia dengan jelas mengingat kalimat-kalimat Ammar itu sekarang.
Kinan menarik gelas berisi air putih yang tersedia diatas nakas. Meneguk beberapa kali air itu hingga menyisakan setengahnya didalam gelas.
"Apa memang diantara kami belum saling mencintai?" Kinan terus berpikir keras tentang mimpi yang ia alami. Kata-kata Ammar dalam mimpinya itu seolah memang pernah terjadi.
Mendadak kepala Kinan terasa sangat pening. Ia memutuskan diam menunggu kantuknya datang dan melanjutkan tidur karena suasana masih malam buta.
💠💠💠💠💠ðŸ’
Kinan menggeliatkan tubuhnya diatas ranjang, ia mengerjapkan matanya. Kinan terkejut menyadari seseorang sudah duduk dikursi samping ranjangnya, memperhatikan wajahnya dengan seksama sambil tersenyum simpul.
"Ka-kamu?" Kinan menutup wajahnya malu, mendapati Rey sudah berada sepagi ini diruangannya.
"Kenapa ditutupin?" Ucap Rey menahan gelak.
"Sejak kapan kamu disini?"
"Sekitar setengah jam." ucap Rey cuek masih mengulumm senyum melihat tingkah Kinan.
"Aku baru bangun, belum mandi. Kenapa kamu datang sepagi ini!" Protes Kinan.
Rey sudah tak tahan meledakkan tawanya melihat ulah Kinan. Mendadak ia gemas dengan tingkah gadis didepannya ini.
"Memangnya kenapa kalau baru bangun dan belum mandi? gue libur kerja, ini weekend jadi nggak ada salahnya gue kesini sebelum keduluan orang lain!"
"Tapi kan--" Kinan tak bisa meneruskan ucapannya karena Rey sudah menggelengkan kepala tanda tak mau mendengar protes dari Kinan.
"Ya udah, sekarang lo mandi. Abis itu temani gue sarapan ditaman belakang!" Rey menunjukkan paperbag berisi makanan yang ia bawa.
°
°
°
"Rey, kamu nggak bosan baik sama aku?" Kinan memulai pembicaraan sambil satu tangannya memegang sendok untuk memulai sarapan pagi bersama Rey.
Rey menoleh menatap Kinan.
"Memangnya kalo berbuat baik harus ada rasa bosan?" Rey meneguk air mineral dari botolnya.
"Entahlah, selama sebulan ini rasanya kamu rutin mengunjungiku. Aku cuma--"
"Cuma apa?"
Kinan menggeleng, urung meneruskan ucapannya.
"Katakan!" Pinta Rey.
"A-aku cuma nggak mau berharap lebih sama kamu!" Jawab Kinan jujur pada akhirnya.
Rey diam menata kata apa yang akan ia keluarkan selanjutnya.
Hening.
Mereka melanjutkan sarapan itu sampai selesai dalam keheningan.
Tiba-tiba Rey mengambil tangan Kinan untuk ia genggam.
deg....
Kinan berdegup dengan perlakuan Rey yang sangat manis menurutnya, entah kenapa.
"Kamu jangan takut berharap padaku! Berharaplah! bahkan jika itu harapan yang besar dan sangat berlebihan!"
Rey menatap mata Kinan dengan serius. Tapi dia tersenyum miring menyadari panggilan dan ucapannya pada Kinan kini berubah menjadi 'Aku-Kamu'.
Kinan menatap Rey dengan tatapan entah. Setetes air matanya jatuh, entah kenapa ia merasa terharu dengan ucapan Rey. Entah karena bawaannya yang sedang mengandung, atau karena ucapan Rey itu mengandung arti yang lebih untuk Kinan artikan.
"Hey....jangan menangis!" Rey menghapus air mata Kinan. Ia tak sanggup lagi untuk menahan, akhirnya ia merengkuh tubuh Kinan.
Sekarang Kinan berada dalam pelukannya. Rey beberapa kali mengelus rambut Kinan. Aroma rambut yang ia rindukan dan pernah menariknya untuk berbuat lebih waktu itu. Aroma yang bukan berasal dari shampo tapi lebih karena pemilik rambut ini memiliki harum khas tersendiri.
Rey rasanya tak mau melepaskan pelukannya pada Kinan, Kinan sedikit memberi jarak agar ia bisa melihat lelaki yang selalu memberinya kenyamanan ini. Kinan mendongak melihat wajah Rey, namun tangannya tetap melingkar indah dipinggang Rey.
"Kalau aku memang boleh berharap lebih padamu. Bisakah kamu berjanji tidak akan pergi?" Tanya Kinan kemudian.
Rey mengangguk mengiyakan.
"Terimakasih." Ucap Kinan pelan.
"Apa kamu mau keluar dari sini? Aku rasa kamu sudah cukup sehat!" Mendadak Rey tak rela jika Kinan harus lebih lama dirumah sakit jiwa. Ia akan menggunakan kekuasaan papa-nya saja, jika memang itu bisa mengeluarkan Kinan dari sini.
Kinan melepas pelukannya, ia berdiri dan melangkah. Berhenti tak jauh didepan Rey yang masih terduduk.
"Kenapa? Kamu malu harus terus mengunjungiku disini?" Kinan mulai pesimis.
Rey bangkit dan mendekati Kinan. Ia memegang pundak gadis itu dari belakang.
"Bukan, aku cuma nggak mau kamu berada disini lebih lama. Aku mau kamu bebas kemana-mana."
"Memangnya mau kemana?" Ucap Kinan tak mengerti.
Rey mengusap tengkuknya, ia tersenyum menatap Kinan.
"Aku mau ajak kamu jalan-jalan. Kalo disini terus, kita mentok jalan-jalannya ditaman ini! Apa kamu nggak bosan?" Ucap Rey sambil menunjuk keadaan sekitar taman yang terbilang tidak cukup asri sebenarnya.
Kinan tersenyum, ia melihat ketulusan Rey sekarang. Entah tulus sebagai apa, Kinan tak mengerti. Ia ingin menanyakan pada Rey namun urung.
.
.
.
.
Bersambung...