How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Marah



Rey menginjakkan kaki dirumah ketika hari sudah menjelang subuh. Ia memasuki kamar dan melihat Kinan yang masih tertidur dengan nyenyak. Rey berjalan perlahan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah bersih dan menggunakan pakaian yang nyaman, Rey menuju tempat tidur dengan perlahan. Ia takut membangunkan sang istri yang terlelap, dipandanginya wajah damai itu, wajah wanita yang belakangan hari selalu mengisi hari-harinya.


Rey menyibakkan rambut Kinan yang sedikit menutupi wajah, menyelipkan rambut itu ke balik telinga kesayangannya. Kemudian ia mengelus pelan pipi Kinan, memberikan kecupan-kecupan kecil dipipi dan dahi wanitanya. Demi apapun juga, Rey benar-benar tidak rela jika harus kehilangan Kinan. Bagaimana mungkin Ammar meminta kesepakatan yang tidak masuk akal seperti itu?


Rey menurunkan selimut Kinan dan mendapati perut istrinya yang mulai membuncit, dielusnya pelan perut itu dan ia pun mulai berbicara seolah sedang berbicara dengan bayi yang ada dalam kandungan istrinya itu.


"Hai..Baby Boo, Papa sudah kembali. Kamu tidak rewel kan karena Papa tinggal beberapa jam?" Ucap Rey dengan suara yang pelan seraya terus mengelus perut Kinan dengan lembutnya. Tanpa ia sangka, ada gerakan halus dari perut Kinan, pertanda sang jabang bayi merespon ucapannya. Rey tersenyum senang.


"Baiklah, Papa tahu kamu pasti tidak rewel. Anak baik... Cup. Cup. Cup." Rey menciumi perut Kinan seolah sedang mencium bayi itu secara langsung.


"Oke sekarang kita tidur, jangan bangunkan Mama, ya." Ucap Rey dengan berbisik.


Setelah puas memandangi wajah istrinya, dan puas mengajak bayi dalam kandungan itu berbicara, Rey pun mulai memejamkan mata untuk ikut menyusul Kinan ke dunia mimpi. Tubuhnya memeluk Kinan secara posesif.


Setelah beberapa menit, hembusan nafas teratur Rey terdengar di indera pendengaran Kinan yang sebenarnya tidak tertidur. Ia sengaja berpura-pura terlelap, padahal semalaman ia tak bisa tidur karena memikirkan Rey yang belum kunjung pulang.



Kinan menggeser tubuhnya perlahan dari dekapan Rey, ia sebenarnya sangat mengantuk tapi ia terlalu khawatir memikirkan suaminya itu.


"Apa masalahnya sudah selesai sekarang?" Pikir Kinan dalam batinnya. Kinan menatap wajah damai suaminya, ia bersumpah bahwa hanya lelaki ini yang mampu membuat perasaannya menghangat sekaligus khawatir teramat sangat. Kinan mendekatkan wajahnya ke wajah Rey, kemudian ia mendaratkan kecupan di kening Rey. Kecupan yang dalam dan cukup lama, sebagai luapan perasaannya yang begitu menyayangi lelaki itu.


"Semoga bahumu selalu kuat untuk menopang semua masalah yang datang silih berganti, Mas." Gumam Kinan.


Kinan kembali ke posisinya, posisi ternyaman yang ia ketahui setelah menikah dengan Rey, yaitu terlelap di dada bidang suaminya. Akhirnya ia ikut nyenyak dengan perasaan tenang dan tidak khawatir lagi karena kini Rey telah berada bersamanya.


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


Kevin masih sibuk mengurus Doni di kantor polisi, ia bahkan tidak datang ke kantor hari ini. Setelah memberikan pesan dan ultimatum kepada orang kepercayaannya di perusahaan, Kevin bisa bernafas lega. Setidaknya, sekarang ia hanya fokus ke Doni dan masalah pekerjaan sudah ia titipkan pada tangan kanannya itu.


Desi yang biasanya selalu mendampingi Kevin, tak terlihat batang hidungnya. Sebenarnya bisa saja Kevin meminta Desi untuk menyusulnya kesini, tapi dia sendiri merasa tak nyaman jika Desi harus ikut ke kantor polisi. Apalagi ini tidak ada kaitannya dengan hal pekerjaan, dan Kini lelaki itu malah merindukan kekasihnya itu, yang biasanya selalu mengikuti kemanapun ia pergi.


"Dal, gue harap lo bisa cepat keluar dari sini. Gue udah gak betah." Ujar Kevin pada Doni yang masih menunggu proses peneyelidikan. Mereka berada diruang yang berada di kantor polisi. Sebelum proses penyelidikan lengkap, untuk sementara Doni di tahan diruang ini. Ia belum bisa keluar sebelum Ammar mencabut tuntutan.


Kevin sudah mencoba bernegosiasi dengan cara memberi uang damai atau uang jaminan, tapi keputusan kembali pada korban, yaitu Ammar. Jika Ammar ingin tetap melanjutkan kasus ini maka Doni akan segera disidang dan langsung mendapat vonis masa hukumannya. Jadi harapan Kevin dan Doni satu-satunya adalah Rey. Karena Rey yang mengurus perihal Ammar. Bisakah Rey membujuk Ammar mencabut perkara ini? (Yang tahu jawabannya cuma Author๐Ÿ˜)


"Kalo lo mau pulang ya pulang aja, Nyet! Lagian lo banyak urusan kantor kan?" Jawab Doni acuh tak acuh.


"Bukan gitu, soal kantor sih gak masalah. Yang jadi masalah itu Desi."


"Kenapa Desi? Jangan bilang lo udah kangen sama dia makanya lo males kan nungguin gue disini. Baru juga pacaran lo udah bucin aja." Omel Doni.


"Yee... Gue sama Desi lagi ada masalah dan belum kelar, makanya gue jadi kepikiran. Mana gara-gara itu hape gue mati karena dilempar Desi ke jalan. Ya..kalo soal kangen sebenernya iya juga sih!" Jawab Kevin sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lelaki itu tampak senyum-senyum sendiri seolah melamunkan wajah kekasihnya.


"Napa lo? Mikir me-sum lo?" Tanya Doni ketika melihat perubahan ekspresi di wajah Kevin.


"Gue? Me-sum? Tau aja lo!" Kekehan mereka menggema diruangan itu.


Setelah berbincang ringan dan belum juga mendapat kabar dari Rey. Kevin berinisiatif menghubungi Rey dengan ponsel Doni. Rey menerima panggilan itu dengan nada baru bangun tidur.


"Jadi lo gak bisa bujuk Ammar?" Tanya Kevin.


"Hmm"


"Cari mati lo!" Hardik Rey memotong ucapan Kevin. Ia benar-benar tak suka jika masalah ini harus membuat Kinan terseret-seret juga.


"Bu-bukan gitu maksud gu-gue, Nyuk! Lo dengerin dulu maksud gu--"


"Udahlah, lo sama Doni sabar dulu disana. Ini gue ke Rumah Sakit lagi buat ngomong sama si bang-s*t itu!" Jawab Rey dengan nada marah kemudian memutus sambungan teleponnya. Rey pun menghela nafas panjang. Obrolannya dengan Ammar kemarin berakhir dengan keributan. Bagaimana ia harus bicara pada Amamr hari ini?


"Kenapa Mas?" Suara Kinan menyadarkan lelaki itu dari lamunan yang sempat terjadi beberapa saat.


"Ng-nggak!" Kilah Rey.


"Aku dengar kamu marah-marah tadi. Kamu beneran gak mau cerita sama aku?" Kinan mendekat ke arah suaminya yang masih terduduk diujung ranjang.


Rey menatap Kinan yang baru selesai mandi pagi itu, tubuhnya terbalut jubah mandi dan rambutnya baru saja ia buka dari gulungan handuk yang sempat bertengger dikepalanya.


"Sini aku bantu keringkan rambutmu!" Ucap Rey seraya mengambil handuk dari tangan Kinan. Kinan diam dan tak menolak perlakuan suaminya, ia mengerti jika Rey mencoba mengalihkan perhatian dari pertanyaan Kinan tadi. Keduanya terdiam beberapa saat sampai pada akhirnya Kinan mulai buka suara kembali.


"Apa korban yang ditabrak Doni parah? Bagaimana keadaannya?" Tanya Kinan pelan tapi itu berhasil menyulut amarah dalam hati suaminya. Rey mengartikan Kinan sedang perhatian terhadap Ammar, sementara Kinan sendiri tidak tahu jika korban yang ditabrak Doni adalah Ammar.


"Jangan menanyakan tentangnya!" Jawab Rey dengan nada ketus dan terkesan tidak suka.


"Apa salah?" Kinan dengan bingungnya pun kembali bertanya.


"Tentu saja salah! Jangan membuang waktumu untuk perhatian pada orang lain. Perhatianmu itu hanya untuk suamimu dan itu adalah aku!"


"Apa lagi ini?" Tanya Kinan dalam hatinya sendiri ketika mencerna ucapan suaminya yang terdengar dengan nada ketus.


"Sebenarnya ada apa, Mas? Kenapa kamu marah-marah? Tadi ditelpon marah-marah. Sekarang denganku pun marah-marah?" Ucap Kinan tak kalah sewot. Matanya sudah berkaca-kaca, ia ingin menangis karena biasanya Rey tak pernah seketus itu padanya. Dalam batinnya yang belakangan hari semakin sensitif karena kehamilannya, Kinan merasa Rey begitu karena sudah tidak mencintainya.


"Kau sudah tidak sayang padaku! Kau tidak mencintaiku lagi!" Ucap Kinan. Ia merajuk dengam bibir cemberut, ia bangkit dan meninggalkan Rey. Kini giliran Rey yang terlihat bingung melihat sikap istrinya.


"Sayang, maafkan aku. Aku tidak bermaksud begitu. Aku minta maaf. Aku sangat menyanyangimu. Aku sangat mencintaimu. Maafkan aku!" Rey lagi-lagi mendekati Kinan yang sudah berdiri membelakanginya.


"Tidak mau! Kamu memarahiku tadi!" Kinan hampir menangis.


"Cup cup cup, maafkan aku. Aku terbawa suasana. Kevin yang menyebabkan aku marah. Aku tidak bermaksud memarahimu sayang. Maaf. Maafkan aku!" Rey dengan kebucinan-nya mulai merangkai kata maaf.


"Ya sudah marahi saja Kevin jangan marahi aku." Kinan mengelus perutnya. "Sayang, lihat Papa memarahi Mama!" Kinan berucap pada perutnya, seolah sedang mengadukan tingkah Rey pada calon anak mereka yang masih berada dalam perut.


"Haisssss" Rey menggerutu. Ini memang salahnya, akibat cemburunya pada Ammar, padahal Kinan sendiri tidak tahu jika korban itu adalah Ammar.


"Aku harus apa agar kamu mau memaafkan aku?" Rey mencoba membujuk Kinan dengan jalan tengah yakni bernegosiasi dengan istrinya.


"Ceritakan semua yang terjadi padaku!"


.


.


.


Bersambung...


Udah up 1 part lagi ya hari ini..Maaf kemalaman up nya tapi aku tepati janji ye kan? Hihihi๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™