How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Keputusan Kinan



"Pa! beri aku waktu lagi untuk mendapatkan maaf dari Kinan!" Rey baru saja membuka pintu ruang kerja Papanya dan langsung mengutarakan keinginannya, pria setengah baya itu mendongak untuk melihat sang anak yang menjulang di hadapannya. Sedikit berdecak karena anaknya yang menyambangi kantor di pagi hari hanya untuk membahas permasalahan yang sudah ia anggap tuntas kemarin sore.


"Kau masih belum menyerah?" tanya sang ayah acuh tak acuh.


"Aku akan mencobanya lagi Pa, walau harus berulang-ulang aku tid-"


Pria itu menaikkan sebelah tangannya sebagai kode untuk Rey berhenti berbicara lagi dan ucapan Rey pun terhenti. Rey mendengus kesal.


"Baik, Papa akan memberimu waktu lagi sebelum kau kembali ke perusahaan ini. Tapi ingat, jika kali ini pun kau tidak mendapatkan maaf dari gadis itu, kau harus menyetujui keputusan papa!"


Rey mengangguk.


"Asalkan tidak memaksa soal perasaan, aku setuju saja!" Rey berujar begitu untuk mewanti-wanti jika saja Papanya ada niat untuk menyuruhnya menikah dengan orang lain suatu saat nanti.


Rey mempunyai pendirian. Begitu pun sekarang, ia tak mungkin membiarkan Kinan pergi begitu saja dari hidupnya. Tapi, ia juga tak punya semangat lagi jika maaf dari Kinan tak ia dapatkan, ia pasrah jika harus menjadi kacung di perusahaan ayahnya sendiri. Namun sebelum itu semua, ia harus mendengar keputusan dan pilihan hidup Kinan selanjutnya.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Selepas kepergiannya dari kantor Papanya, Rey menuju alamat rumah Desi. Ia yakin Kinan masih berada disana, jika Kinan sudah tak disana, Rey terpaksa harus mendatangi rumah Ammar juga walau keputusannya itu akan membuat Ammar murka, apalagi jika ternyata Kinan sudah memberitahu Ammar tentang perbuatan apa yang telah Rey lakukan pada Kinan dimasa lalu. Rey tak peduli, baginya kini yang terpenting adalah Kinan. Tak masalah jika Kinan membencinya, tapi Rey ingin meyakinkan Kinan berkali-kali lagi agar bisa memberinya maaf, terutama meyakinkan Kinan agar tak kembali pada Ammar. Lelaki itu, selalu membuat Rey kesal. Entah kenapa.


Rey memukul setir dihadapannya beberapa kali saat ia belum juga menuruni mobil untuk masuk kedalam kediaman Desi.


"Kau mau jadi pengecut berapa kali, Rey?" Tanyanya pada diri sendiri.


Setelah menetralkan perasaan dan jantungnya yang kembali bergenderang, Rey memutuskan bangkit dan menuju pintu utama rumah itu.


Pintu rumah itu terbuka setelah Rey mengetuknya beberapa kali.


"Siapa?" Tanya seorang gadis yang Rey yakini bernama Desi seperti yang diinfokan Kevin tempo hari. Desi menatap Rey dengan tatapan tertegun penuh kekaguman, tapi aura juteknya tetap terpancar. Tampaknya gadis ini tak bekerja hari ini, padahal Rey berharap Kinan yang akan membukakan pintu untuknya.


"Bisa gue ketemu sama Kinan?"


"Kinan?" Desi menatap Rey heran, seperti menilai penampilan pemuda didepannya dari ujung kepala hingga kaki, lalu kembali terfokus pada wajah pemuda itu lagi.


"Sebentar!" Katanya setelah melihat Rey mengangguk. Desi pun masuk kedalam rumahnya.


Tak berapa lama, Desi kembali lagi kehadapan Rey.


"Kinan gak mau ketemu lo! lo disuruh pulang aja!"


"Gue butuh ketemu Kinan, gue mohon lo tolongin gue!" Rey menyatukan jemarinya sebagai bentuk permohonan. Seumur hidupnya bahkan baru kali ini dia melakukan itu dihadapan seorang gadis yang baru sekali ditemuinya. Menurunkan harga dirinya yang biasanya gadis-gadislah yang memohon padanya bahkan hanya untuk ia lirik.


"Hmm sebenernya lo siapa sih? Gue gak pernah tau Kinan punya kenalan orang macam lo?" Tanya Desi, masih dengan tatapan menyelidiknya. Desi mengetuk-ngetuk telunjuknya di dagunya sendiri.


"Gu-gue...., hmm, gini aja deh, kalo lo bisa bujuk Kinan buat ketemu gue sekarang, gue bakal--"


"Bakal apa? Kau mau menyogoknya?" Suara itu menghentikan ucapan Rey. Rey tertegun beberapa detik dan menjadi terfokus pada sosok yang baru saja bersuara padanya.


"Kinan?" Rey menatap Kinan dengan berbinar-binar, tatapannya penuh dengan rasa rindu bercampur rasa bersalah.


Kinan awalnya tak mau menemui Rey, tapi nuraninya selalu saja mengalahkan logika. Bagaimanapun, Kinan tak mau Desi menjadi tahu ada permasalahan apa antara ia dan Rey. Kinan masih merahasiakannya dari semua orang. Biarlah itu menjadi aib Rey dan aibnya yang hanya mereka berdua yang mengetahuinya.


Kinan juga tak berniat melaporkan Rey ke polisi, karena Kinan tak mau dikaitkan lagi dengan masa tersuram itu, tak mau masa-masa itu harus diungkit kembali dan ia jadi mengingatnya, Kinan harus menjaga warasnya saat ini.


Berusaha melupakan walau sebenarnya tak akan pernah bisa. Benci? tentu ia sangat benci lelaki didepannya ini. Tapi Ia juga sangat mengingat kebaikan Rey, bukan hanya perbuatan kotornya saja. Terlepas dari Rey melakukan kebaikan itu atas dasar apa, Kinan tak mau memikirkannya.


"Apa yang kau inginkan?" Tanya Kinan tak acuh.


"Aku ingin kita bicara berdua saja!" Rey melirik Desi yang masih terdiam ditempatnya.


"Bisa?" Tanya Rey lagi, menekankan kata itu dihadapan Desi ketika Desi tetap tak berpindah.


Desi berdecak dan akhirnya menyingkir dari hadapan kedua orang itu.


"Aku ke warung dulu beli gula, Ki!" Ucap Desi sebelum meninggalkan teras dengan tatapan juteknya menatap Rey. Rey yang cuek, menanggapinya dengan ekspresi datar.


Seperginya Desi, tinggallah mereka berdua yang duduk bersisi-an di kursi teras yang sejuk itu, hanya terhalang oleh meja petak diantara posisi mereka berdua.


"Ki, aku kesini untuk--"


"Jika kamu tidak mau memaafkanku, itu sepenuhnya adalah hak-mu, Ki! Aku juga sadar kesalahanku memang fatal dan terlalu besar!"


"Ya sudah, jika sudah selesai silahkan pulang!" Usir Kinan, ia ingin beranjak dari posisi duduknya.


"Tunggu, Ki!" Cegah Rey.


"Bolehkah aku tau, apa rencana kamu selanjutnya setelah ini?"


"Maksudnya?" Kinan menatap Rey bingung.


"Apakah, apakah kamu akan kembali dengan suamimu setelah semua yang terjadi?" tatapan Rey penuh harapan. Mata mereka bertemu untuk beberapa saat sebelum akhirnya Kinan yang lebih dulu tersadar.


"Itu bukan urusanmu! Tapi jika kau ingin tau, aku akan memberitahunya!"


Rey sedikit terpukul dengan suara ketus Kinan yang tak pernah ia dapatkan selama ini, tapi kembali lagi itu semua karena kesalahannya juga.


"Aku dan Mas Ammar, yah... tentu saja kami akan kembali bersama!" Jelas Kinan sambil menyunggingkan senyuman yang tampak dipaksakan.


"Kinan.." Rey terperangah mendengar keputusan Kinan. Suaranya terdengar kecewa, hatinya seperti tercabik-cabik.


"Kenapa? Aku istrinya dan dia suamiku, kami belum bercerai dan ku rasa itu sesuatu yang wajar jika kami kembali membina rumah tangga dan memulai semuanya dengan cara yang lebih baik lagi dari pada sebelumnya!" Tegas Kinan. Kini ia berdiri membelakangi Rey yang masih terduduk. Kinan sebenarnya berat mengatakan sesuatu yang tak sesuai dengan isi hatinya.


"Aku menghargai keputusanmu jika kau masih membenciku dan tak bisa memaafkanku. Tapi, jika kau kembali padanya--" Rey tertunduk dan tak bisa melanjutkan kalimatnya, ia larut dalam perasaannya sejenak. Memijat pelipisnya, menahan amarah dan sedih yang bercampur menjadi satu.


Kinan melipat kedua tangannya di depan dada. Pandangannya lurus kedepan. Mencoba untuk menahan perasaan yang ia punya. Ingin sekali ia berlindung di pelukan lelaki yang kini duduk dibelakangnya, tapi logikanya mengatakan bahwa lelaki itu bukan tempat berlindung melainkan jurang yang dalam, yang bisa menenggelamkannya.


Kinan menghembuskan nafas perlahan, menyadari Rey yang terdiam dan tak melanjutkan kata-katanya. Mereka larut dalam perasaan masing-masing, berperang antara logika dan hati.


"Aku ingin memohon agar kau jangan sampai kembali padanya, Tapi ku rasa aku tak cukup berharga bagimu, maka permohonanku pasti hanya akan kau anggap angin lalu!" Rey bangkit dan berdiri dibelakang Kinan. Ia ingin menyentuh pundak Kinan, namun ia urungkan.


"Baiklah, semua keputusan sepenuhnya adalah milikmu. Aku mendoakan yang terbaik untukmu. Semoga kamu bahagia!"


"Hmm" Hanya itu yang bisa Kinan ucapkan, ia menahan isak yang hampir meledak.


"Boleh aku bertanya satu hal?"


Kinan mengangguk.


"Apakah bayi yang kau kandung adalah darah dagingku?"


Kinan tak kuasa ingin mengatakan iya, tapi lagi-lagi batinnya berperang untuk menjawab pertanyaan Rey itu. Akhirnya ia hanya menggeleng tanpa menatap Rey sedikitpun.


Rey mengangguk, walaupun Kinan tak melihatnya.


"Ku harap kau bahagia dengan keputusanmu, Kinan!"


Kinan mengangguk lagi. Suaranya tercekat, jika ia bersuara sedikit saja, maka dapat dipastikan airmatanya yang menganak sungai akan segera turun beruntun saat ini juga.


"Satu lagi, apa yang selama ini ku lakukan untukmu adalah perasaanku yang sesungguhnya, terserah jika kau menganggap itu adalah bentuk tanggung jawab atau apapun. Aku pamit, Kinan.." Rey beranjak untuk meninggalkan kediaman Desi tanpa menoleh lagi untuk melihat Kinan. Karena ia tak mau Kinan melihatnya menitikkan air mata.


Kinan menatap kepergian Rey dengan berkaca-kaca. Airmatanya yang sedari tadi ditahannya pun runtuh membanjiri pipinya saat mobil Rey baru saja menghilang dari pandangannya. Ia terisak sendirian, ada perasaan menyesal dan kerinduan yang membelunggunya.


"Jika saja bisa, aku ingin memaafkanmu. Karena terlepas dari kesalahanmu, sesungguhnya kau adalah orang yang aku cintai" Batin Kinan berkata lirih.


Rey meninggalkan kediaman Desi dengan perasaan yang entah. Rey ingin marah pada Kinan karena keputusannya menerima Ammar kembali. Rey menyesali semua perbuatannya pada Kinan, tapi kenapa Kinan tak bisa menerimanya seperti Ammar. Walau Rey akui kesalahannya memang sangat berbekas dihati Kinan, tapi tak bisakah wanita itu melihat ketulusannya selama ini? Amarah, penyesalan dan cintanya seperti tertinggal pada satu orang yang sama, Kinanty.


.


.


.


.


Bersambung...