How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Bonus Chapter-2



Rey


Aku merengkuh tubuh gadis yang belum ku ketahui namanya saat itu, dia terasa ringan dalam gendonganku. Tubuhnya mungil dan wajahnya tak membosankan untuk dilihat. Dia tidak sadar dan sangat terlihat tidak berdaya, membuatku dengan sangat hati-hati saat membaringkannya dalam pangkuanku disepanjang perjalanan.


Mobil yang dikendarai oleh Kevin pun kini menuju ke Apartment-ku, setelah sebelumnya kami sempat berdebat kecil perihal hendak kemana gadis ini kami bawa.


Ketika sampai, Aku kembali menggendongnya keluar dari Mobil, diiringi oleh Doni dan Kevin sampai ke ruang Apartment-ku. Mataku tetap terfokus pada gadis dalam gendonganku. Entah kenapa dalam kondisinya yang tidak bergerak-pun, mampu mengeluarkan daya tarik dalam pandanganku waktu itu.


Saat itu aku memang mabuk, tapi bukan mabuk berat. Aku bisa menghafal wajah gadis ini dalam beberapa menit pertemuan saja. Aku membaringkannya di atas satu-satunya ranjang yang ada disana. Niatku ingin beranjak dari sisinya dan mencuci muka di wastafel kamar mandi. Sayangnya, lagi-lagi aku terhipnotis daya tarik gadis yang sebenarnya sangat ingin ku tolong ini.


Gadis yang malang, wajahmu begitu polos....


Aroma rambutnya menguar di indera penciumanku. Membuat tanganku terulur untuk menyelipkan helaian itu ke selah telinganya. Sentuhanku malah membuat kulitnya memerah. Aku tak kuasa mengendus lagi aromanya yang semakin memabukkan. Lalu tanpa bisa ku kendalikan, aku sudah mendaratkan ciuman dan gigitan kecil di cuping telinganya.


Astaga... aku tidak bisa begini, seharusnya aku menolongnya. Namun setan seolah mengejek aksiku yang hanya sampai disitu. Tiba-tiba Gai-rah, Naf-su dan naluriku berperang. Tapi tentu saja naluri kebaikanku yang telah lama terkubur dalam-dalam sejak beberapa tahun belakangan akan kalah oleh naf-su dan gai-rah yang telah mendominasiku semenjak aku menjadi Reyland yang sekarang.


Setan yang selalu mengikutiku pun akhirnya tertawa bahagia, tatkala aku tidak bisa lagi menambal perasaan yang sudah menjadi-jadi. Aku mulai mengge-rayangi tubuh mungil itu, aroma tubuhnya lagi-lagi seolah mendukung perbuatanku, mendorong untuk berbuat lebih. Beberapa kali aku tersenyum miring akan aksiku yang dibaluri rasa mabuk yang samar-samar.


Saat aku menghentak dan itu terasa sulit. Aku memaki diriku sendiri yang baru menyadari jika gadis yang ku tin-dih adalah gadis yang masih suci. Tapi has-ratku sudah diubun-ubun, aku menerobosnya dengan perasaan yang berkecamuk. Antara gai-rah dan rasa bersalah. Aku berjanji tidak akan mengulangi pele-pasan lagi. Ini yang pertama dan terakhir, inipun karena aku tak bisa meng-elak-kan lagi.


Setelah pe-lepas-anku yang pertama. Aku merasa puas sekaligus marah pada diriku sendiri. Cepat-cepat ku selimuti tubuh polos gadis itu lalu aku menatap wajahnya dalam cahaya kamar yang temaram karena penerangan lampu tidur di atas nakas. Tanpa terasa, akupu. amhirnya ikut terlelap disampingnya.


Aku terbangun dan mulai pulih dari rasa mabukku. Ku lihat jam yang sudah lewat tengah malam. Ku perkirakan aku hanya tertidur satu jam disampingnya dan aku menyadari gadis ini masih terlelap juga disampingku. Ku pandangi nafasnya yang teratur dan ada perasaan lega, bahwa dia masih hidup.


Walau aku berjanji tak mau melakukannya lagi, tapi tubuhku tidak bisa berbohong karena tiba-tiba gai-rahku naik lagi. Aku ketagihan. Astaga!! Cepat-cepat aku bergerak untuk menjauh dan memunguti semua pakaianku sendiri.


Rasanya, aku ingin meninju wajahku sendiri, perasaan bersalah kembali merayap dikepalaku. Ku pandangi lagi wajah polos itu, ia lemah dan tak seharusnya aku memperlakukannya begini. Betapa bia-dap nya aku. Bahkan aku sanggup melakukannya dengan gadis yang tidak sadarkan diri. Terbersit dalam benakku entah apa yang gadis ini konsumsi, ia kehilangan kesadaran sepenuhnya dan tak tahu apa yang sudah ku lakukan terhadap tubuhnya yang membuatku candu.


Aku melihat dibawah sana, ada sedikit noda merah di sprei akibat ulahku. Aku kembali merasa bersalah. Aku memakai asal pakaianku. Aku menuju kamar mandi, setidaknya mandi air dingin akan membantu meredam has-ratku yang sudah kembali naik.


Aku kembali ke kamar dengan pakaian lengkap. Ku lihat lagi gadis itu, ku pandangi lagi wajahnya untuk kesekian kalinya. Aku tiba-tiba merasa marah, siapa yang membuatnya terbuang di belakang club dan apa yang sebenarnya terjadi padanya?


Beberapa kali aku mondar-mandir didalam kamar, apa yang harus ku lakukan sekarang? Apa aku harus membuatnya keluar dari Apartmentku agar ia tak tahu apa yang sudah terjadi? Tapi, jika aku melakukan itu. Hendak kemana aku meletakkan tubuhnya? Jika aku sembarangan maka akan semakin berbahaya untuknya. Aku tidak habis pikir jika nanti yang menemukannya adalah pemuda sepertiku juga. Atau bahkan orang lain yang lebih parah. Pikiranku menjadi kacau dan aku akhirnya meninggalkannya begitu saja di Apartmen. Aku akan kembali nanti dan berniat bernegosiasi pada gadis ini. Ya, aku akan kembali lagi nanti ketika dia sudah sadar.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Walau aku tidak mau bertanggung jawab jika nanti dia memintaku menikahinya. Ya, tidak ada hubungan spesial diantara kami, mana mungkin aku mau menikahinya hanya karena hubungan satu malam. Aku saja tidak mengenalnya, bukan begitu? Dia akan berakhir sama seperti gadis-gadis lain yang menghabiskan satu malam denganku. Tapi buat dia ku berikan pengecualian yang khusus, berhubung dia adalah gadis perawan yang tak ada kesepakatan denganku untuk melakukan 'One night', aku akan memberinya kompensasi yang cukup fantastis. Aku mempunyai tabungan sendiri yang ku tabung berkat usulan Mama sedari aku sekolah dulu. Aku akan memberikannya pada gadis itu sebagai bentuk permintaan maafku. Ya begitu lebih baik-pikirku.


Tapi, semua hanya bisa ku atur dalam otakku saja. Karena, saat aku masuk dan mencarinya dikamar, gadis itu sudah tidak ada lagi. Tidak meninggalkan pesan atau apapun. Satu-satunya hal yang ia tinggalkan adalah bercak darah di sprei tempat tidurku. Ah, Sial! Dia telah pergi. Bagaimana bisa dia pergi begitu saja? Kenapa dia tidak menungguku? Paling tidak, apa dia tidak ingin tahu apa yang terjadi padanya semalam hingga dia berakhir di Apartment-ku?


Aku mendadak pening seketika. Bagaimana kalau dia melaporkan kejadian ini ke polisi? Aku sudah biasa berurusan dengan polisi. Tapi tersangkut kasus soal perempuan rasa-rasanya tidak pernah. Ya ini tidak boleh terjadi.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Malam tiba dan aku kembali ke Club menemui Kevin dan Doni yang sudah lebih dulu berada disana. Sedikit bercerita dan mereka malah meledekku. Bahkan mereka mengatakan aku seperti 'anak kemarin sore' yang baru sekali menghadapi seorang gadis.


Ck..mereka tidak tahu saja jika gadis yang ini berbeda!


Saat ku katakan bahwa gadis semalam adalah seorang perawan. Wajah Doni dan Kevin mendadak pias. Mereka tahu jika yang kulakukan adalah tindak pele-cehan bahkan pemer-kosaan. Mereka kembaki menghakimiku tanpa memberikan solusi. Membuat kepalaku semakin mau pecah. Bahkan mereka tiba-tiba menakutiku. Ah, aku yang salah tidak pakai 'pengaman'. Kalau ternyata gadis itu hamil seperti kata mereka, bagaimana?


Kini ketakutanku bukan lagi tentang tuntutan hukum, melainkan tentang gadis itu yang mengandung anakku. Apa mungkin dia bisa mengandung walau hanya sekali ku lakukan? Aku meninggalkan Doni dan Kevin yang tak henti-hentinya memberi penghakiman padaku malam ini.


Ku sandarkan kepalaku di kursi mobil. Aku duduk dibelakang kemudi, dengan keadaan tanpa mabuk sedikitpun. Aku benar-benar tak berselera apapun saat ini. Ku ambil ponsel dari saku celana jeans yang ku kenakan, dan aku mulai mencari tahu apakah seorang wanita bisa hamil jika aku hanya melakukannya sekali?


Dan jawaban itu benar-benar membuatku tertawa miris. Wanita yang subur atau dalam masa subur, akan tetap hamil jika dibuahi meski hanya sekali saja. Dan pastinya itu akan terjadi jika yang membuahi adalah lelaki yang sehat. Dan lelaki itu adalah aku. Dan aku tentu saja sehat!


Hah! Apakah gadis itu subur? Dalam masa subur? Hahaha aku tidak tahu.


Ku pukuli kemudi mobil sebagai bentuk rasa frustasiku. Bagaimanapun juga aku harus menemukan gadis itu. Jika dia hamil, otomatis itu adalah anakku, bukan? Aku lelaki pertama yang menja-mahnya.


.


.


.


Jadi begitu, Rey? Author gak habis pikir sama kamu yah. Kamu cari-cari Kinan ya ternyata. Kenapa gak cari Author aja biar aku jelasin semuanya.....kalau Kinan memang hamil setelah kejadian itu. hehehe...


Vote dongπŸ™ dan hadiah yang buanyakkk.. hehehe sekali-kali malak gak apa-apa yakπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚