
Rey membanting pintu kamarnya, frustasi. Rey mengacak rambutnya sendiri. Entah apa yang ada dalam benaknya saat ini. Hanya saja sepertinya ia ingin meluapkan segala sesak dalam dadanya.
Mama Rey yang sedari kepulangan anaknya terus memperhatikan, mulai merasa khawatir. Wanita itu menaiki tangga dan benar saja, sesaat kemudian ia mendengar sesuatu dari balik pintu kamar anaknya.
"Arkkkkkkhh" teriakan Rey menggema dalam kamar itu, membuat sang Mama semakin khawatir bercampur prihatin.
"Rey..boleh mama masuk, nak?" Suara wanita setengah baya itu memanggil anaknya dari balik pintu disertai beberapa kali ketukan.
"Masuklah, Ma.." Pekik Rey dari dalam kamar.
Mama Rey masuk kedalam kamar anaknya setelah memutar knop pintu.
"Ada apa Rey?" Wanita itu tampak cemas melihat keadaan anaknya yang tampak kacau. Baru beberapa jam lalu Rey pulang kerumah dan ingin menepati kesepakatan yang telah ia buat dengan Papanya semalam. Rey mengatakan akan menemui Kinan hari ini, tadinya ia pergi dengan semangat yang membara. Tapi entah kenapa ketika kembali kerumah wajah tampannya tampak kusut dan menahan emosi.
"Rey, ada apa Nak?" Wanita itu mencoba bertanya untuk kedua kalinya. Ia memegang pundak Rey yang sedang terduduk di pinggiran ranjang.
"Ma, sepertinya aku harus mengikhlaskan Kinan, Ma!" Rey menengadah melihat wajah wanita yang berdiri dihadapannya. Menatap teduh wajah wanita yang melahirkannya itu.
"Kenapa Rey? Bukankah Kinan mau menerimamu? selama ini dia tidak pernah menyalahkanmu kan?"
"Ma, ada satu fakta yang mama belum tau. Kinan bukan hanya depresi! Tapi, dia mengalami histeria sehingga memori di ingatannya hilang."
Wanita itu menatap sang anak dengan tatapan bingung.
"Efek syok yang berlebihan. Dia melupakan apa yang pernah terjadi dihidupnya, Ma. Aku tidak tau mau memulai darimana untuk mengakui semua kesalahanku pada Kinan!" Sang mama nampak terperangah atas penjelasan anaknya. Jelas ia memang belum mengetahui ini. Pantas saja suaminya mengatakan jika Kinan mengetahui semuanya, pastilah Rey harus bersiap kehilangan gadis itu.
"Jadi, apa kau rela dan melepaskannya begitu saja, Rey?"
"Aku tidak rela, Ma!" Rey menggeleng lemah. Pandangannya menatap lantai granit yang ia pijak.
"Tapi aku akan melepaskannya jika bersamaku dia merasa tidak bahagia!" Sambung Rey lagi.
"Jangan pesimis, Nak! Kalian bahkan belum memulainya. Jika kamu benar mencintainya tidak ada salahnya kamu berjuang dulu!"
"Ma, Kinan masih memiliki suami!" Jawab Rey dengan nada terendah. Ucapan itu terdengar sangat memilukan dan seolah menyadarkan sang mama yang seakan lupa keadaan jika gadis yang dicintai anaknya adalah seorang istri dari lelaki lain.
Mama Rey mengangguk lemah. "Tapi, bukankah kau mengatakan jika Kinan sedang mengandung anakmu? itu adalah satu-satunya jalan untuk kalian bisa bersama!"
"Tidak semudah itu, Ma. Bagaimanapun kondisi itu adalah bagian dari kesalahanku dan menyisakan trauma untuk Kinan. Jangankan untuk bersamanya, Ma. Mendapat maaf darinya saja akan sangat berarti untukku!"
DUAR!!! Bagai tersambar petir, sang ibunda seketika itu juga tersadar, bahwa kesalahan Rey disini sangat fatal. Bukan hanya sekedar bertanggung jawab lalu semua masalah akan selesai. Ini perihal cara Rey yang salah. Ia melakukan itu kepada Kinan atas dasar apa pada saat itu? ***** atau cinta? Katakanlah itu ***** atau keadaan tak sadar karena mabuk. Tapi bagi Kinan? Bagi Kinan itu adalah p*l*cehan dan p*merk*saan. Bisakah Kinan menerima tanggung jawab Rey begitu saja dan bersikap tak terjadi apapun, sementara Rey telah menghancurkan hidupnya?
"Kinan, waktu itu sudah bersuami, Ma. Aku sudah menyelidikinya beberapa bulan terakhir. Tapi saat kejadian itu juga aku adalah lelaki pertama yang mengambil kesuciannya. Bisa mama bayangkan bagaimana dia akan membenciku? bukan suaminya yang pertama menjam*hnya, Ma! tapi aku si br*ngsek ini! " Rey terisak dalam dekapan sang mama. Tak kuat membayangkan sorot kebencian Kinan terhadapnya.
"Akui semua, Nak! Bukankan anak mama seorang gentleman!" Suara mama Rey terdengar bergetar tapi berusaha menguatkan disaat bersamaan.
"Aku sudah bertekat untuk itu, Ma. Aku akan menerima Kinan membenciku, Ma. Tapi entah kenapa aku tidak terima jika dia bersama lelaki lain, Ma!"
"Maksudmu?"
"Aku melihat Ammar lebih dulu menemui Kinan, menjemputnya dan menjanjikan akan membahagiakannya. Aku terlambat, Ma!"
Mama Rey mengelus lembut pucuk kepala anaknya. Lagi-lagi berusaha menguatkan. Ia merasakan badan Rey yang bergetar ketika mengungkapkan semua kesalahannya.
"Ma, aku ikhlas jika Kinan harus membenciku. Itu adalah hukuman yang pantas atas dosaku. Tapi entah kenapa aku tidak rela ma, a-aku tidak rela Ki-kinan disentuh oleh lelaki lain walau itu suaminya sendiri!" Rey terisak.
"Rey, tabahkan hatimu, Nak!"
Rey menggeleng. "Aku tidak bisa, Ma. Jika aku harus menikah, aku hanya menginginkan Kinan, Ma!"
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Kinan mengaduk bakso yang dibawakan Desi sepulang kerja. Ia nampak tak fokus makan dan pandangannya terlihat kosong.
"Dimakan Ki, katanya dari kemarin mau makan bakso!"
Kinan tersentak, ia buru-buru menyuap bakso kedalam mulutnya. Sesekali menyeruput kuah bakso itu. Ia merasa antusias dengan bakso itu tapi sekaligus juga murung, dikarenakan memikirkan kedatangan Ammar siang tadi.
"Mas Ammar tau kalau sekarang kamu sudah ingat semuanya?" Desi menatap Kinan serius.
"Belum!" Jawab Kinan datar.
"Kenapa?"
"Apanya yang kenapa, Des?"
"Kenapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya?"
"Biar dulu seperti ini. Aku mau melihat kesungguhannya."
Desi mengangguk tak ingin mendebat sahabatnya itu.
"Des, jangan ada yang tau jika aku sudah mengingat semuanya. Ini rahasia kita berdua, oke?"
"Baiklah. Tapi apa ada rahasia lagi yang aku tak tau? Selain masalah pel*cehanmu dan depresimu?" Desi menatap Kinan yang sudah selesai dengan baksonya dan kini tengah meneguk es jeruk yang sempat ia buatkan.
"Huum, semua sudah kau ketahui, Des!"
"Kecuali siapa orang yang mengambil kesucianku! karena akupun sedang mencaritahunya dan memastikan sesuatu." Batin Kinan.
"Dari ceritamu, aku yakin pasti wanita bernama Shirly dan Nyonya Latifa adalah dalang dibalik semua ini!" Desi menggeram diakhir kalimatnya.
"Hush! jangan salah menduga. Bisa saja ini semua terjadi karena ke-teledor-an dan ke-cerobohan-ku sendiri!"
"Kau ini, sudah di dzolimi masih juga berprasangka baik terhadap mereka!"
Kinan tersenyum simpul. Mencoba membuang segala prasangka buruk, ia mengelus perutnya yang kini terasa penuh setelah dipuaskan dengan memakan dua porsi bakso dengan kuah pedas.
"Bagaimanapun, aku sedang mengandung! Sekarang aku harus menerimanya dan melupakan segala prasangka buruk!" Kinan memegang lama perutnya itu.
"Kau harus bahagia, Ki! Ingat itu!" Desi tersenyum dengan kalimatnya yang terdengar seperti ancaman terhadap Kinan.
Kinan mengangguk. "Aku harus bahagia dan mengesampingkan rasa sakit hatiku, Des! Anak dalam kandunganku tidak boleh mempunyai dendam terhadap siapapun. Dia tidak bersalah, dia juga tidak pernah meminta untuk hadir." Kinan mengelus perutnya lagi. Senyumnya terbit, ia terlihat bahagia dalam pandangan mata orang yang melihatnya. Wajahnya berseri dan dari kata-katanya, sepertinya ia mulai menerima kenyataan dan apa yang terjadi.
"Lalu, apa kau akan kembali dengan Mas Ammar dan memberinya kesempatan?"
Desi menunggu jawaban Kinan. Ia benar-benar penasaran karena siang tadi Kinan dan Ammar sempat bertemu. Sejujurnya, Desi lebih menginginkan Kinan berpisah saja dari lelaki itu. Soal kehamilan Kinan, biarlah itu akan dipikirkan lagi nantinya. Mengambil keuntungan dengan menjadikan seoalah-olah Ammar adalah ayah biologis anak itu juga boleh. Itu akan membersihkan nama baik Kinan dan tidak akan ada yang tahu bahwa Kinan pernah diperk*sa, itu juga akan membantu perihal berkas-berkas negara yang diperlukan jika anak itu nanti dilahirkan dan bersekolah-pikiran Desi sudah jauh keawang-awang.
.
.
.
.
Bersambung...