How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Meminta bantuan



Rey meregangkan otot-otot yang terasa kaku. Ia menggeliatkan badannya, memutar sedikit tubuh ke kiri lalu ke kanan. Lelah, itulah yang ia rasakan sore ini setelah bergelut dengan pekerjaan di perusahaan bidang properti milik papa-nya.


Rey melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Masih ada waktu beberapa saat untuk mengunjungi Kinan di rumah sakit sebelum malam menjelang.


Rey ingin beranjak tetapi pintu ruangannya dibuka tanpa peemisi dari luar.


"What's up bro!!" Kevin dengan semangatnya yang menggebu menghampiri Rey yang masih duduk dikursi kebesarannya.


"Lama lo!" Ucap Rey memutar bola matanya melihat kehadiran Kevin.


"Sorry...Sorry! tadi ada kerjaan. Betewe, Kenapa lo nyuruh gue kesini?"


"Menurut lo?"


"Gue rasa lo butuh bantuan gue, atau lo mau ngajak dugem?"


"Otak lo dugem mulu, Nyet! itu yang pertama udah bener!"


"Mana ada! Kayaknya udah lama kita nggak dugem, nggak main cewek!" Kevin nyengir seperti memikirkan sesuatu.


"Atau lo udah nggak doyan cewek sekarang?" Lanjut Kevin. Ia memasang ekspresi takut sambil tangannya menyilang di dadanya sendiri. Menutupi bagian tubuhnya.


"Bangs*t lo, Nyet!"


Kevin terkekeh mendengar umpatan Rey. Hal itu sudah biasa diantara mereka.


Rey berteman dengan Kevin sejak kecil, mereka tumbuh bersama-sama, karena rumah mereka berada dalam satu kawasan Elite yang sama. Bersebelahan. Mama mereka satu geng sosialita yang terkadang membawa anaknya untuk ikut. Sejak itulah mereka akrab seperti saudara.


Ketika SMP mereka bertemu dengan Doni yang juga satu aliran dengan mereka di sekolah yang sama. Mereka bertiga menjadi kawan akrab dan se-pendosa-an.


Aliran mereka selalu huru-hara tak jelas menghabiskan banyak uang orangtua. Karena ketiganya memang anak pengusaha yang sukses dan terkenal.


Selepas dari perguruan tinggi, mereka bertiga yang rajin membuat onar malah semakin menjadi-jadi. Mereka pernah terlibat masalah sampai ke kantor polisi. Tapi itu karena perkelahian dan berakhir damai karena uang dan kekuasaan.


Kadang, lawan mereka sengaja mengambil kesempatan, semata-mata untuk memanfaatkan keadaan. Mencari masalah dengan mereka. Ada yang karena ingin uang dan ada yang menginginkan untuk bekerja sama dengan perusahaan yang dimiliki oleh orangtua mereka.


Tapi terlepas dari perkelahian, mereka tak pernah berurusan dengan hal lain misalnya karena obat-obatan terlarang. Mereka sering mabuk-mabukan tapi mereka bukan pemakai nark*ba.


"Terus lo butuh bantuan gue, soal apa?"


Rey tersenyum miring seraya mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia memainkan ponselnya, tak berapa lama ponsel Kevin berbunyi tanda sebuah pesan masuk.


Kevin membuka pesan yang tak lain tak bukan adalah dari orang didepannya ini.


Kevin mengerutkan kening.


"Apa nih?" Katanya sambil membaca pesan yang dikirim Rey.


"Lo bantu gue cari tau itu orang! identitas lengkapnya, pekerjaannya atau apapun tentang dia!" Titah Rey pada Kevin.


"Lo cuma ngirimin gue nama sama alamatnya doang? Fotonya nggak ada?" Kevin berdecak kesal karena informasi dari Rey yang setengah-setengah.


"Ya lo cari tau sendiri orangnya yang mana tanpa ada foto dari gue. Gue nggak sempat nyari fotonya, makanya gue butuh lo!"


"Ck! dia saingan bisnis bokap lo?" Kevin tak habis pikir dengan permintaan Rey yang tak seperti biasanya. Rey tak pernah serius dalam bekerja, tapi tahu-tahu sekarang malah mau menyelidiki saingan bisnis. Pikirnya.


"Bukan. Ini nggak ada kaitannya dengan kerjaan! tolongin gue, Nyet!" Rey memasang wajah memelas.


Kevin mengangguk setuju.


"Oke deal. nanti gue cari info secepatnya. Tapi, lo harus kasi tau gue alasannya!"


"Iya, tapi nggak sekarang. Gue mau cabut dulu, ada urusan penting!" Mendadak Rey mengingat akan ke rumah sakit untuk mengunjungi Kinan.


Rey tersenyum simpul seolah menerawang wajah gadis itu. Kevin melihatnya dengan tatapan aneh.


"Lo kayak orang jatuh cinta aja! nape lu?"


"udah lo urusin aja itu!" Tunjuk Rey pada ponsel Kevin yang maksudnya adalah untuk mengurus permintaannya tadi.


"Oh iya, selidiki se-detail mungkin. Terutama soal rumah tangganya!" Tambah Rey lagi.


Kevin memicingkan matanya, aneh dengan kelakuan lelaki didepannya ini.


"Jangan bilang lo naksir bini orang ya, kunyuk!" Sergah Kevin.


Rey mengangkat bahu seraya pergi berlalu meninggalkan Kevin diruangannya sendirian.


Kevin berdecak dan beberapa kali menggelengkan kepala melihat tingkah Rey. Ia seolah berpikir dengan pikirannya sendiri sebelum ikut meninggalkan ruang kerja itu.


°°°°


Rey memasuki mobilnya seraya memasang seatbelt, entah kenapa perasaannya amat senang karena mau mengunjungi Kinan. Sesekali siulan keluar dari bibirnya.


Rey mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali melihat waktu yang berjalan di jam tangannya.


Ketika hampir sampai di Rumah Sakit, Rey sengaja mengunjungi toko bunga untuk membeli satu buket bunga khusus untuk Kinan. Ia tak tahu Kinan menyukai bunga apa. Ia memilih Bunga Mawar putih untuk dirangkai.


Setelah menunggu beberapa saat, bunga itu siap untuk ia bawa dan berikan pada Kinan.



Langkahnya terhenti, ia melihat Ammar sedang menyuapi Kinan makan didalam ruangan itu. Senyum Rey perlahan-lahan memudar. Ia menunduk lemas.


"Mas?" suara wanita masuk ke indera pendengaran Rey.


Rey menoleh kebelakangnya, mendapatkan seorang perawat wanita yang biasa menjaga Kinan.


"Ya?" Rey menjawab perawat itu.


"Saya Sinta, Mas. Saya perawat Kinan."


"Ya saya tau, ada apa?" Ucap Rey.


"Apa kita bisa bicara sebentar?" ucap Sinta ragu-ragu.


Rey mengangguk. Mereka berdua meninggalkan ambang pintu ruangan Kinan menuju taman Rumah Sakit.


"Maaf ya mas, saya dan Kinan bukan hanya sebatas perawat dan pasien, kami memutuskan untuk berteman. Boleh saya tanyakan sesuatu pada Mas sebagai teman Kinan?" Ucap wanita bernama Sinta itu.


"Silahkan!" Jawab Rey santai.


"Sekali lagi maaf ya mas. Bukan maksud ingin ikut campur, tapi apa hubungan Mas dengan Kinan?"


Rey tertunduk menatap buket bunga yang masih berada digenggamannya.


"Saya hanya ingin memastikan mas, karena saya tau yang diruangan Kinan itu adalah suaminya, dan Mas--" Sinta ragu-ragu untuk melanjutkan ucapannya.


"Mbak mau memastikan soal apa?" Tanya Rey. Rey tak mau menatap perawat ini. Ia memandang ke langit yang sudah memunculkan semburat warna jingga khas disore hari.


"Kinan, mas tau kan Kinan hamil? dan sepertinya dia dekat dengan kamu. Sedangkan suaminya, seolah tak menyukai kehamilannya. itu menurut ucapan Kinan sendiri pada saya!"


Rey sedikit memijat pelipisnya mendengar pernyataan Sinta.


"Bisa tolong to the point saja!" pinta Rey kemudian. Rey mulai mengerti arah pembicaraan Sinta tapi ia mau Sinta lebih jelas mengatakannya.


"Apa Mas berselingkuh dengan Kinan dan menyebabkannya hamil?" Tanya Sinta lagi dengan jelas sesuai permintaan Rey.


Pertanyaan Sinta jelas-jelas menohok untuk Rey. Benar Kinan hamil. Tapi Rey juga tidak tahu apakah memang dialah yang menyebabkan Kinan hamil? Apakah anak yang dikandung Kinan benar adalah anaknya atau bukan? Ia tak mau sebuah asumsi. Ia mau ada fakta yang membuktikan.


Sementara, ucapan Sinta seolah menuduhnya ada main api dengan Kinan dibelakang Ammar, seolah menuduh Rey adalah selingkuhan Kinan karena dekat dengan Kinan melebihi suami Kinan sendiri.


"Saya tidak ada hubungan apapun dengan Kinan. Dan kami baru dekat semenjak saya menemukannya di Rel kereta api waktu itu!" ucap Rey jujur. Ia ingin berkata jujur saja tapi tak mungkin ia buka semua hal kotor yang ia lakukan didepan Sinta.


"Dan soal kehamilannya, saya juga belum tau pasti.." Ucapan jujur yang sengaja Rey gantung kalimatnya. Sebenarnya, Ia ingin menyambung kalimat itu dengan "saya juga belum tau pasti apa dia hamil karena saya dan apakah anak itu adalah darah daging saya?"


"Baiklah, saya mengerti. Berarti Mas merasa kasihan terhadap teman saya, Kinan. Makanya Mas sering mengunjunginya?" Pertanyaan Sinta mengandung sindiran untuk Rey, ia menekankan kalimat 'Kasihan'.


"Lebih tepatnya saya merasa nyaman dengannya dan sepertinya dia juga merasakan yang sama terhadap kehadiran saya!" Lagi-lagi Rey berusaha jujur akan yang ia rasakan.


"Tapi Mas tau kan dia sudah bersuami? saya banyak bertanya bukan semata-mata ingin tau saja Mas. Ini menyangkut kesehatan Kinan juga. Masalah yang ia alami adalah masalah pribadi yang mau tak mau saya menjadi tau dan ingin membantunya!"


Rey mengangguk paham.


"Saya hanya tidak mau Kinan berharap begitu banyak pada kamu! Sementara hubungan kalian adalah salah!". Sinta memperingati Rey dengan kata-katanya.


"Tapi suaminya seperti lepas tanggung jawab, saya pikir biarlah saya yang akan menanggung apapun perihal Kinan. Jika perlu, saya akan menanggung biaya nya jika itu memungkinkan!" Jawab Rey tegas.


Sinta tersenyum miris.


"Jangan bermain-main dengan hati, terlebih orang yang kamu permainkan adalah seorang yang sangat rentan!" Ucap Sinta mengingatkan tapi seolah meremehkan dipendengaran Rey.


"Maksud anda saya main-main?" Rey mulai tak terima dengan ucapan Sinta.


"Maaf bukan maksud saya begitu, saya hanya tak habis pikir lelaki seperti anda menaruh harapan pada istri orang apalagi wanita itu sedang sakit seperti yang kini Kinan alami. Sepertinya tampang anda bisa mencari yang lain!"


Rey bangkit dari duduknya, ia mulai malas melanjutkan percakapan ini.


"Tapi jika kamu memang tulus terhadap Kinan, saya sangat berterima-kasih. saya hanya tak mau Kinan terluka, itu akan berpengaruh lagi buat psikis nya!" Sambung Sinta.


"Jika perlu, Saya akan merebutnya dari suaminya itu!" Tegas Rey sebelum beranjak meninggalkan Sinta. Ia ingin Sinta tahu bahwa ia sama sekali bukan berniat mempermainkan Kinan. Dan sesuai dengan niatnya, ia akan mempertanggung jawabkan apapun menyangkut Kinan. Meskipun jika yang dikandung Kinan itu bukan anak biologis nya.


.


.


.


.


Bersambung...


Hai.... dukung karya aku ya! dengan cara Like, Coment dan Vote.


Kritik dan Sarannya ditunggu ya!! terimakasih sudah memilih Novel ini jadi bacaan favorit kalian. Jangan lupa tekan Love dan berikan rating bintang 5 yaaaaa😘😘😘😘


Thanks..


Follow my Ig : @cintiarizky