How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Memeriksakan kandungan



.Rey terperanjat dari tidurnya, ia menelisik sekitar sekilas dan melihat Kinan juga ikut tertidur di sofa lain yang bersisian dengan sofa tempatnya tertidur. Rey menjadi merasa bersalah akan hal itu.


"Kenapa aku bisa ketiduran disini?" Ucapnya pelan.


Rey meraih pundak sang istri, lalu dengan perlahan ia mulai mengangkat tubuh Kinan dan memindahkannya ke atas tempat tidur dengan hati-hati. Sangat pelan bahkan ia nyaris menahan nafas agar tidak membangunkan istrinya yang sedang terlelap.


Setelah Kinan sudah ia baringkan diatas kasur itu, ia langsung menyampirkan selimut sampai batas dada Kinan. Kemudian, Rey mulai menyentuh pipi mulus itu dengan lembut. Rey menatap Kinan sebentar, entah apa yang sedang dia pikirkan lalu Rey mengecup pucuk kepala Kinan beberapa saat.


Rey memutari tempat tidur, mulai membaringkan diri disamping sang istri. Rasanya ia benar-benar lega dan tenang berada didekat Kinan saat ini. Rey berbaring menyamping, agar ia bisa melihat kembali wajah Kinan yang terlelap. Tangannya terulur, ia menyentuh perut sang istri yang didalamnya tengah ada darah dagingnya. Rey pun mengelus perlahan perut Kinan itu sambil mengulas senyum.


"Sehat-sehat ya, Baby Boo!" Ucap Rey nyaris berbisik, kemudian ia melingkarkan tangannya diatas perut Kinan, memeluknya sambil berusaha kembali memejamkan mata untuk bisa terlelap lagi.


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


Matahari bersinar dengan terangnya, sepasang suami-istri yang baru saja meresmikan pernikahan mereka itu tampak masih terlelap dibawah selimut. Tampaknya keduanya tidak sadar jika hari sudah beranjak siang.


Kinan mengerjapkan matanya, berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke kornea matanya. Tidak salah lagi, ia terbangun karena bias-bias cahaya mentari yang mulai menelisik masuk dari pentilasi udara dan itu menyilaukan matanya yang tadi masih tertutup akibat tidur nyenyak.


"Astaga." Ucap Kinan seraya terlonjak kaget. Ia benar-benar kesiangan, biasanya ia tak pernah seperti ini. Ini kebiasaan buruk yang Kinan hindari.


"Ada apa?" Tanya Rey yang mengucek matanya sendiri. Ia terbangun akibat suara Kinan.


"Ya Tuhan..." Kinan memekik kuat, karena lagi-lagi ia terkejut. Kali ini ia terkejut karena Rey terbangun disisinya. Ia menatap Rey heran sekaligus penuh tanya.


"Kinan, ada apa?" Tanya Rey lagi yang mulai sadar dan menguasai keadaan.


Kinan menggeleng. Awalnya ia terkejut karena kesiangan, tapi sekarang ia nyaris berteriak karena keberadaan Rey yang berada satu ranjang dengannya.


"Jangan bilang, kamu lupa kita sudah menikah?" Pertanyaan Rey itu seolah menyadarkan Kinan akan keadaan yang sesungguhnya.


"Kita....Menikah?" Tanya Kinan ragu-ragu.


"Kamu beneran lupa?"


Kinan mengangguk, kemudian menggeleng.


Rey tersenyum sekilas. "Ya sudah, sekarang mandi setelah itu kita sarapan bersama." Usul Rey lembut.


Kinan masih terdiam di posisinya, ia mengingat sejenak peristiwa kemarin saat resepsi pernikahannya dengan pemuda itu. Tapi ia mengira itu hanya mimpi belaka. Kinan mendadak menghembuskan nafas panjang.


"Aku pikir semuanya cuma mimpi." Celetuk Kinan.


"Aku juga berpikir begitu, tapi semuanya memang nyata, Sayang." Suara Rey benar-benar lembut dan menghanyutkan. Kinan refleks menoleh kepadanya dan menatap lelaki itu dengan binar pengharapan.


"Bisa mandi sendiri kan?" Goda Rey sambil mengerlingkan sebelah matanya.


"Bi-bisa." Jawab Kinan gugup dan singkat. Rey terkikik sambil menggeleng pelan.


"Padahal aku mau tawarin jasa--"


"Aku bisa sendiri." Potong Kinan seraya berlalu menuju kamar mandi dengan berjalan cepat. Rey terkekeh melihat tingkah Kinan yang masih saja malu-malu.


°


Rey dan Kinan tengah sarapan berdua di meja makan. Tentu saja, karena pasti semuanya sudah selesai sarapan pagi-pagi sekali.


"Papa dan Mama kemana, Bi?" Tanya Rey pada salah satu Asisten rumah tangga yang bekerja dirumahnya.


"Tuan sudah berangkat ke kantor. Nyonya Zehra sedang berada dikebun belakang." Jawab wanita paruh baya itu sopan. Rey mengangguk, Ayahnya memang gila kerja sementara sang ibu selalu suka menghabiskan waktu luang dengan bercocok tanam di kebun yang berada di belakang rumah.


"Hari ini aku masih cuti, kita ke dokter ya cek kandungan kamu." Ucap Rey disela-sela sarapannya.


Kinan mengangguk. Mereka menyelesaikan sarapan dengan sesekali bersenda gurau ringan.


Selepas itu, Rey dan Kinan langsung beranjak menuju Dokter kandungan yang biasa menangani kehamilan Kinan beberapa bulan ini.


"Kenapa mengajak kesini, Mas? Aku baru kontrol seminggu yang lalu." Tanya Kinan ketika mereka memasuki pintu kedatangan diruang praktek dokter tersebut.


"Aku mau memastikan anak kita baik-baik saja." Jawab Rey jujur.


Dokter mulai memeriksa kandungan Kinan, mereka pun akan melakukan USG. Setelah perut Kinan diberikan semacam gel, mulailah alat dokter itu diletakkan disana. Alat itu seakan menyambungkan apa yang berada dalam perut Kinan ke dalam sebuah layar persegi yang dapat dilihat oleh mata.


"Lihat sayang, anak kita bergerak." Ucap Rey antusias, padahal ia tak bisa mengartikan gambar yang ia lihat. Yang ia tahu, gambar di layar itu menampilkan sesuatu yang ia yakini adalah janin alias anaknya dan Kinan. Dan janin itu tampak bergerak-gerak.


"Iya, dia bergerak. Aku merasakannya." Jawab Kinan tak kalah antusias. Ia senang melihat reaksi Rey saat ini. Selama ini Rey memang tak pernah ikut melihat langsung saat Kinan USG. Suaminya itu dulu terlalu sibuk dengan pekerjaan. Kadang Kinan ditemani Mama Rey untuk kontrol ke dokter dan dulu dia sempat kontrol saat berada di London. Itupun sebelum Rey kesana menjemputnya.


Dokter menatap pasangan serasi itu dengan semringah. Lalu dokter itu mulai menjelaskan detail dari apa yang mereka lihat di layar itu.


"Lihat, ini matanya. Ini jari tangan dan jari kakinya. Dan ini, hidungnya mancung seperti kedua orangtuanya." Ucap Dokter itu sambil tersenyum lembut.


Kinan dan Rey berpandangan satu sama lain. Mereka bahagia karena bayi itu tumbuh dengan sehat didalam sana.


"Apa kalian ingin tahu jenis kelaminnya?" Dokter itu bertanya kembali.


Rey mengangguk, sementara Kinan menggeleng.


"Ya.."


"Tidak!"


Ucap mereka bersamaan, dan dokter itu terkekeh pelan. "Bagaimana?" Tanyanya lagi.


"Kami akan mengetahuinya setelah dia lahir, dokter." Ucap Kinan penuh ketegasan. Rey pun dengan pasrah mengangguk untuk ikut menyetujui keputusan sang Istri.


Dokter dam asistennya mulai mengemasi alat-alat USG tadi karena semuanya sudah selesai.


"Em, dokter apa saya boleh bertanya?"


"Ya, tentu."


Kinan menatap Rey, apa yang kira-kira ingin Rey tanyakan pada dokter itu?


"Begini, jika bayi dalam kandungan istri saya baik-baik saja. Apa---" Rey menatap Kinan sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. "Apa tidak masalah jika kami melakukan, emm..hubungan?" Lanjut Rey lagi secara ragu-ragu. Ia menyandingkan kedua telunjuknya dihadapan dokter itu sebagai isyarat agar dokter wanita itu mengerti dengan maksudnya.


Dokter itu tertawa kecil. "Sure, kalian bisa melakukannya dengan perlahan. Usia kandungan Nyonya Kinan juga sudah memasuki trimester akhir, itu aman. Dan beberapa bulan lagi malah sangat dianjurkan." Jawab dokter itu yang mengerti arah pembicaraan Rey tadi.


Sudut bibir Rey tertarik, ia menyunggingkan senyum. Sejujurnya ia takut menyentuh Kinan dan takut membahayakan bayi mereka. Untuk itulah ia menjaga diri dan tidak berani menyentuh istrinya terlalu jauh. Ia punya alasan, terutama ia takut Kinan mengingat traumanya dimasa lalu.


Kini, Rey tahu fakta bahwa hal itu tak masalah dilakukan saat keadaan Kinan yang mengandung diusia trimester akhir. Sekarang Rey tinggal memikirkan masalah utamanya, trauma Kinan. Apakah istrinya itu akan histeris jika nanti Rey menyentuhnya? Rey masih memikirkannya.


"Ada pertanyaan lain?" Dokter itu menatap Rey yang tersenyum. Rey menggeleng dan Kinan malah menggosok tengkuknya sendiri karena merasa malu pada dokter itu akibat pertanyaan suaminya tadi.


"Ah ya, satu lagi.. Lebih baik perhatikan juga posisi saat kalian berhubungan." Tambah dokter itu lagi seraya tersenyum penuh maksud. Mata Kinan membola mendengarnya.


"Ada baiknya istri anda berada diatas." Saran dokter itu sambil terkikik menggoda. Kinan menatap Rey dengan tatapan entah. Sementara suaminya itu terus mengullum senyumnya sendiri saat mendengar penjelasan dan usul dari dokter itu.


.


.


.


.


Bersambung...


hayy genkss..Makasih ya udah baca sampai episode ini 🙏🙏🙏


Besok aku kayaknya gak up yah🙏 Supaya gak bosen bolak-balik, boleh dong mampir ke karya terbaru aku. Judulnya "Terjebak Rasa"


Klik Foto profil aku, dan temuin novelnya disana. Ceritanya bedaaaaa!!! Aku cuma minta like-nya yah buat novel itu...kalo vote ke novel ini aja. Makasih..❤️❤️❤️


Oh iya jangan lupa hadiah ya. Biar semangat update lagi 😁


Mau tau kan gimana malam pertama Kinan dan Rey? hihihi...next part ya. Apakah Kinan akan histeris? Atau dia sebenarnya malah nungguin malam pertamanya dengan Rey nih? Hayooooo tebakkk! 😂😂 Sehat semua yah kita❤️❤️