How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
SEASON II - Telepon



"Bagaimana?" Rey menghampiri Doni yang terduduk diruang tunggu sebuah kantor polisi di pusat kota.


Doni menggeleng. "Kita tidak bisa melaporkannya, tidak ada bukti yang akurat untuk menjebloskannya ke penjara." Jawab Doni lesu sembari menghela nafasnya dengan berat.


"CCTV Apartment?" Tanya Rey lagi.


"Tidak terekam di CCTV, dia begitu licik, sepertinya dia sudah mengatur semuanya agar tak terlihat di CCTV lorong apartment yang dilewati Joana." Doni menyugar rambutnya dengan asal. "CCTV yang ada didalam kamar yang disewanya juga mati. Dia sengaja, dia pasti sengaja." Umpat Doni dengan kesalnya.


"Lo bilang dulu dia pernah di penjara, kan? pasti dia memang mengatur semuanya dan lebih berhati-hati lagi sekarang." Jawab Rey, Doni pun menganggukinya.


"Ya, bahkan kesaksian Joana pun tidak ada artinya, kalau kami tidak memiliki bukti yang kuat. Minimal seorang saksi mata yang melihat kejadian itu. Nothing!" Lanjut Doni.


"Lalu Joana bagaimana?" Tanya Rey lagi.


"Gue minta dia buat pindah tempat praktek tapi dia gak mau."


"Kenapa?"


"Sewa bangunannya baru saja diperpanjang." Doni berdecak lidah. "Padahal gue udah bilang, semua gue yang tanggung. Termasuk biaya yang udah dia keluarkan untuk menyewa tempat itu bakal gue ganti."


"Sabar, Bro! Mungkin Joana memikirkan efek jangka panjangnya. Dia sudah memiliki pasien tetap disana dan selama ini orang-orang sudah banyak mengetahui alamat itu sebagai tempat prakteknya." Rey menepuk-nepuk pundak Doni, berusaha menenangkannya.


"Gue cuma takut dia kenapa-napa. Uncle Nath bakal marah besar kalau tau semua ini. Tapi kalau mau terus terang gue juga belum bisa, gue takut ini bakal jadi pikiran orangtua Joana di London." Ungkap Doni.


"Udahlah, Dal. Joana pasti lebih tau yang terbaik untuknya. Masalah keamanannya, Lo sewa aja bodyguard." Usul Rey.


"Nanti lah gue bicarain itu lagi sama dia. Gue rasa sih, dia bakal nolak. Resek emang." Gerutu Doni.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Ponsel Joana berdering, ia menatap nanar layar ponsel itu karena mendapati nomor tak dikenal sedang meneleponnya.


"Siapa?" Batin Joana. Ia malas menerima panggilan telepon itu, karena Joana berpikir itu pasti adalah Xander yang terus menerornya. Joana sudah tahu kalau perbuatan Xander tempo hari tidak bisa dilaporkan ke polisi karena kurangnya bukti. Menurut pengurus Apartemennya, Barang-barang Joana yang tertinggal di Apartement sewaan Xander pun sudah kembali ke Apartment miliknya, entah siapa yang mengirimkannya karena juga tak nampak melalui rekaman CCTV Apartement.


Joana mengabaikan panggilan teleponnya, ia bergegas untuk mandi. Sudah dua hari dia menutup tempat prakteknya, hari ini dia harus bekerja kembali.


Lima belas menit kemudian, Joana yang telah selesai mandi pun segera memilih baju untuk ia kenakan. Pilihan Joana jatuh pada setelan celana bahan yang dipadukan dengan atasan model blazer yang memiliki warna senada.



Setelah mengeringkan rambutnya dengan hairdryer, Joana pun mengenakan setelan pilihannya. Warna itu begitu selaras dengan kulitnya yang putih, menambah kesan elegan dan berkelas pada tubuhnya yang tinggi semampai.


Joana mengambil handbag-nya, lalu mengambil ponsel yang sempat ia abaikan sedari tadi, bersamaan dengan itu ponselnya kembali berdering, Joana kembali mengabaikan telepon itu karena ia malas berdebat dengan Xander.


Joana keluar dari kamarnya yang berada di Mansion keluarga Doni--karena sekarang Joana sudah kembali tinggal disana. Keadaan sekitar sepi, mungkin Sinta telah berangkat ke Rumah Sakit tempatnya bekerja dan Doni juga sudah berada dikantornya. Joana memang berangkat lebih siang karena tempat prakteknya buka pukul 10 pagi. Dia melewatkan sarapannya pagi tadi bersama keluarga Doni.


Joana melihat sekilas aktifitas di Mansion besar ini, Baby Sitter sedang sibuk mengurus bayi Doni dan Sinta. Pelayan yang lain juga tengah sibuk melakukan tugasnya masing-masing. Orangtua Doni sedang bersantai ditaman belakang, Joana pun menghampiri lalu berpamitan singkat. Orangtua Doni tentunya tidak mengetahui perihal kejadian yang menimpa Joana, karena baik Joana maupun Doni dan Sinta sengaja merahasiakannya, mereka takut mengganggu pikiran dan kesehatan Orangtua Doni yang sudah mulai menua. Mereka merasa bisa mengatasi masalahnya sendiri, karena mereka sudah dewasa.


Saat Joana hendak keluar pintu, tanpa disangkanya dua orang pria berbadan tegap mengikuti langkahnya. Joana menatap tidak suka pada kedua pria itu.


"Apa kalian disuruh Doni mengikutiku?" Tebak Joana, ia menatap kedua pria itu. Salah satu dari mereka mengangguk. Joana memutar matanya malas.


"Doni!! sudah ku bilang aku tidak mau di jaga seperti ini." Joana menggerutu seraya menaiki mobilnya yang sudah terparkir di basement Mansion besar itu.


Mobil Joana pun berlalu meninggalkan kediamannya, diikuti oleh satu mobil bodyguard tadi, yang ikut mengiringi kepergiannya.


"Hah, ada-ada saja. Sudah seperti putri kerajaan saja harus di kawal ketat seperti ini." Joana kesal tapi ia juga terkikik geli melihat ulah sepupunya yang protective terhadapnya.


"Doni pasti sangat menghawatirkan aku." Gumam Joana seraya terus mengemudikan mobilnya.


Sesampainya ditempat praktek, Joana langsung disambut oleh Asistennya. Sasa melihat Joana dengan pandangan menyelidik dan ada semburat kekhawatiran di wajahnya.


"Aku tidak apa-apa, Sa. All is well." Ucap Joana menenangkan Sasa.


Sasa mende-sah lega, ia kembali duduk dikursinya.


Sebelum Joana memasuki ruangannya, ia kembali berpesan pada Sasa.


"Sa, itu didepan ada dua orang bodyguard-ku. Kau tidak perlu takut pada mereka." Ucap Joana mengingatkan Sasa, gadis itu mengangguk mengerti. "Dan lagi, kau ingat Xander kan? Laki-laki yang kemarin emmm..." Joana tampak ragu-ragu menuntaskan kalimatnya.


"Yang kemarin mencium Anda, Dokter?" Celetuk Sasa dengan polosnya.


"Hemm, iya lelaki yang itu. Jangan biarkan dia masuk keruanganku, ya! Jika dia datang, kau langsung teriak saja agar dua orang bodyguard itu membantumu!" Ucap Joana.


"Ba-baik Dokter." Sasa mengangguk-anggukkan kepalanya dengan patuh.


Joana pun masuk dan duduk dikursi kebesarannya, ia mengambil jurnal tugas hari ini. Mengecek semua data pasien yang akan berkunjung. Berkat tutupnya tempat prakteknya selama dua hari, membuat jadwal kedatangan pasien diundur menjadi hari ini dan besok, otomatis pekerjaan Joana juga semakin bertambah.


"Baiklah...semangat Jo!" Ucap Joana menyemangati dirinya sendiri, ia meregangkan otot-otot tubuhnya sejenak. Lalu memulai semua pekerjaannya.


...*...


Dering tunggu telepon diruangan Joana mengganggu pendengarannya, ia menerima panggilan masuk yang tertuju ke telepon kantor itu.


"Dokter, ada panggilan untuk anda di line dua." Ucap Sasa lalu menyambungkan panggilan telepon ke telepon yang ada diruangan Joana.


Joana menerima panggilan yang dimaksudkan oleh Sasa.


"Hallo.."


"Hallo, Jo. Maaf menelepon ke nomor kantormu, karena beberapa kali aku menelepon ke nomor pribadimu tapi tidak kunjung kau jawab." Ucap sesorang dari seberang sana.


"Ammar?" Tanya Joana saat menyadari suara siapa yang sedang meneleponnya.


"Iya ini aku, maaf jika mengganggu waktumu."


"Huum, tidak apa. Aku sedang istirahat makan siang diruanganku." Jawab Joana. "Ada apa? Apa kau membutuhkan obat? Atau kau bingung karena jadwal terapimu yang diundur?" Tanya Joana.


"Bukan, ini bukan tentangku. Ada yang ingin berbicara padamu." Jawab Ammar.


"Siapa?" Joana mengernyitkan dahinya.


"Lesya, kau ingat?"


"Ah, Lesya anakmu? Apa dia sudah sehat? Oh my...Maafkan aku mengabaikan teleponmu. Aku tidak bermaksud, aku hanya berfikir itu panggilan dari oranglain." Jawab Joana sungkan.


"Tidak apa, aku tahu. Tapi sebelumnya bolehkah aku yang lebih dulu menanyakanmu?"


Joana mendadak gugup karena pertanyaan Ammar. "Menanyakan aku?"


"Ya, kau baik-baik saja bukan? Aku dengar laporan kalian tidak bisa di proses di kantor polisi?"


Joana menghela nafasnya. "Aku baik-baik saja. Soal itu tidak usah dibahas. I'ts Complicated." Ujar Joana lesu.


"Baiklah, maafkan aku jika itu menjadi pikiranmu lagi. Ini ada yang tidak sabar ingin berbicara padamu. Bicaralah padanya, oke?" Ucap Ammar dan dalam hitungan detik suara Ammar tergantikan dengan suara yang lain.


"Hallo Tante..." Terdengar suara lembut seorang anak perempuan dari seberang sana.


"Hai..Hallo.." Joana semringah menjawab panggilan gadis kecil itu.


"Tante, Lesya mau mengucapkan terima kasih sama Tante, Berkat bantuan Tante yang mendonorkan darah untuk Lesya, Lesya sekarang sudah pulih lagi."


"Iya, Sayang. Tante senang bisa membantu kamu. Kamu sehat-sehat ya. Eumm.. Be Carefull, Be Healthy!"


"Terima kasih Tant, oh, iya, apa boleh kalau Lesya mau ketemu Tante?"


"Wah.. kamu mau mengajak tante bertemu? Tentu saja boleh, Sayang." Jawab Joana.


"Asyik...Lesya bilang ke Papa dulu ya. Nanti kita jalan-jalan bareng. Mau kan Tante?"


"Iya, pasti tante mau." Joana tersenyum senang. Tidak biasanya ada yang mengajaknya jalan-jalan selain geng wanitanya. Pacar juga tidak punya-pikir Joana.


"Iya Tante, Lesya senang sekali bisa jalan-jalan lagi sekarang. Lesya sudah tidak sabar."


Mereka pun berbicara panjang lebar, tidak disangka Joana bisa cepat memahami Lesya dan Lesya malah mengakrabkan diri pada Joana karena Joana pernah mendonorkan darahnya untuk anak perempuan itu. Setelah berbicara santai dan menyepakati waktu jalan-jalan mereka, panggilan itu pun diakhiri. Joana sangat senang, karena sekarang dia punya teman baru walaupun itu seorang anak kecil berusia 11 tahun tapi dia antusias sekali.


Dilain sisi, Ammar juga merasa bahagia karena keceriaan anaknya yang sempat hilang akibat menderita sakit kini mulai muncul kembali, ia menyanggupi permintaan Lesya untuk jalan-jalan bersama Joana. Ammar tidak mau menyia-nyiakan waktu dan mengabaikan anak-anaknya lagi seperti dulu.


...Bersambung......