
Rey memandangi keindahan kota London dari balik jendela kamar hotelnya di lantai dua puluh satu. Pandangannya lurus ke depan, nampak sekali bahwa pemuda itu tengah memikirkan sesuatu.
Baru siang tadi ia meninggalkan kediaman Kinan, berbekal keberanian dan nekat ia berhasil melompat dari atas balkon kamar Kinan. Beruntung rumah dua lantai itu adalah rumah di pinggiran kota yang tidak memiliki pagar tinggi dan rumah itu hanya di jaga dua orang yang kebanyakan selalu berdiri di pintu depan.
Rey berhasil meninggalkan rumah itu dan disinilah ia sekarang, kembali ke hotel pencakar langit, tempatnya menginap. Ia sibuk memikirkan apa yang harus dia lakukan selanjutnya untuk membawa Kinan lepas dari jerat ayahnya dan Ardi. Pekerjaan apa yang akan mereka tawarkan untuk Kinan lakukan seumur hidup? Rey pusing memikirkannya.
"Kau tidak tahu saja ini semua ulah Papaku, Kinan!" Ucapnya pada dirinya sendiri.
"Ah, bagaimana kabarnya? apa dia sudah tau jika aku berada di London?" Sudut bibir Rey terangkat, ia mendadak mengingat sang ayah dan langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Siska terlebih dahulu. Pasti Siska kewalahan jika harus berbohong terus menerus, tapi Rey tidak peduli karena mereka sudah sepakat membuat sebuah konspirasi alias persekongkolan kemarin.
"Kak, ini aku.." Ucap Rey diawal kalimatnya ketika panggilannya pada Siska tersambung.
Siska menanyakan kabar dan tentu saja mengomeli pemuda itu, Rey hanya terkekeh mendengarkan alasan-alasan yang dibuat Siska untuk mengelabui sang Ayah.
"Aku tidak bisa berbohong lebih lama lagi. Kau tau kan Papamu seperti bisa membaca kebohongan. Dan juga dikepalamu ada radar yang bisa dia lacak!" Ejek Siska di akhir kalimatnya. Rey terkekeh lagi mendengar ucapan Siska yang ia anggap sebagai lelucon tetapi ucapan itu ada benarnya. Jika Rey tak bergerak cepat, keberadaannya pasti akan segera diketahui pria tua itu. Panggilan itu terputus.
Rey ingin memasukkan ponselnya kedalam saku celana, tapi ponsel itu kembali berdering menandakan ada satu panggilan video masuk. 'Doni'
Rey menerima panggilan video itu, ia melihat disana juga ada wajah Kevin yang disambungkan menjadi satu panggilan virtual bagi ketiganya.
"Apa?" Tanya Rey pada keduanya yang terlihat tersenyum mengejek.
"Gue pikir lo lupa jalan pulang ke hotel, Nyuk!" Sindir Doni.
"Gue berani taruhan pasti si Kunyuk belom mau balik, dia balik pasti karena diusir Kinan." Timpal Kevin dengan tergelak.
"Berisik lo pada!" Ketus Rey. Dia sedang pusing memikirkan jalan keluar, sementara kedua kawan tengilnya malah menggodanya.
"Gimana kabar Indonesia, Nyet?" Tanya Rey pada Kevin.
"Nah itu dia gue mau kasi tau lo, cewek bernama Shirly itu kemarin masuk hot news, bro!"
Rey terperangah dan tak mengerti. Bukankah sebelum berangkat ia sudah mewanti-wanti sang ayah untuk melepaskan wanita itu. Sekarang apa lagi yang terjadi?-pikir Rey.
"Kenapa dia masuk hot news?" Kening Rey berkerut seolah ingin tahu.
"Nanti gue share link tentang berita itu ke nomor lo!" Ucap Kevin dengan raut wajah yang susah dijelaskan.
"Oke."
Doni yang diam mendengarkan pun mulai membuka mulutnya, satu tangannya terlihat seperti tengah memainkan laptopnya.
"Gila bro!" Celetuk Doni tiba-tiba.
"Apa?" Tanya Kevin dan Rey serentak.
"Coba lo pada buka sosmed. Lo udah tau belum postingan si Mona dua hari lalu!" Ucap Doni sambil terkekeh.
"Gue belum sempat buka sosmed." Ucap Kevin.
"Gue gak follow si Mona." Jawab Rey cuek dan seolah tak mau tahu.
Kevin ikut mengotak-atik gadgetnya yang lain, ia membuka sosmed dan menemukan yang dimaksudkan Doni. Sementara Rey menunggu apalagi yang bakal diucapkan oleh dua kawannya ini.
Kevin terdengar tertawa sangat kuat, sementara Doni menyusul tawa itu tak mau kalah. Rey terdiam dan bingung dengan tingkah keduanya.
"Napa sih lo bedua? Kalo mau ketawa gak usah didepan gue, gue lagi banyak pikiran!" Ucap Rey.
"Ini si Mona posting foto lo di sosmed. Lo ketemu dia?" Tanya Doni sambil terkekeh.
"Apa?" Rey terkejut dan keduanya menunjukkan postingan itu lewat panggilan video itu.
"Gue gak nyangka lo tidur di samping dia, Nyuk!" Ejek Doni dan ucapannya itu disambung oleh suara kekehan Kevin.
Rey membaca caption foto itu.
'Tidur yang nyenyak disampingku, Rey.'
Rey memutar bola matanya. Ia memutuskan panggilan video itu tanpa berniat menjelaskan pada Kevin dan Doni.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Joana menjemput Kinan dirumahnya, ia ingin mengajak Kinan berkeliling dan tentu saja itu semua tidak semata-mata keinginannya sendiri. Sudah ada Rey dan Doni yang ikut serta membujuk Joana agar mau menjemput Kinan hari ini. Meski awalnya Joana menolak, karena ia takut dibodohi lagi oleh Rey dan Doni. Tapi, mendengar bahwa Rey adalah kekasih Kinan membuat Joana luluh juga. Joana yakin Rey bisa membantu kesembuhan Kinan walau sebenarnya Joana tak sepenuhnya tahu jika Rey juga yang menyebabkan Kinan trauma.
"Apa kau benar-benar tahu kondisi Kinan?" Tanya Joana pada Rey. Ia ingin memastikan apa Rey hanya bermain-main saja terhadap Kinan atau bukan.
"Aku tahu lebih banyak tentangnya dibandingkan kau!" Jawab Rey tak mau kalah. Joana memutar bola matanya melihat sikap percaya diri pemuda itu.
"Apa kau mau menerima semua kekurangan Kinan itu?" Tanya Joana sebelum turun dari mobil Doni.
"Tentu saja, beserta semua yang ada padanya." Jawab Rey santai dan Joana mengangguk. Perlahan ia keluar dari mobil dan mengetuk pintu rumah itu.
Setelah menjelaskan pada pengawal bahwa ia dan Kinan akan berjalan-jalan hari ini, dua pengawal itu pun mengiyakan. Mengingat ini bukan yang pertama kalinya mereka keluar untuk jalan-jalan.
Kinan sedikit terkejut melihat Joana yang menjemputnya, karena mereka belum membuat janji sebelumnya untuk berjalan-jalan.
"Ayo Kinan, hari ini kita ke London Eye. Kau pernah kesana sebelumnya?" Tanya Joana dan Kinan menggeleng pelan.
Kinan mengikuti Joana untuk keluar rumah setelah mengganti pakaiannya dengan turtleneck dan jaket agar bisa membalut tubuhnya di musim gugur yang sejuk. Tak lupa ia memakai sepatu kets yang simple.
"Apakah para bodyguard itu akan mengikuti kita seperti kemarin?" Tanya Joana saat mereka melangkahkan kaki keluar pintu.
"Tanyakan saja pada mereka." Jawab Kinan sambil terkikik.
Joana melihat dua orang itu, ia ingin meyakinkan dulu dua orang itu agar tak mengikuti kemana mereka pergi, karena Rey memintanya untuk melakukan itu. Tapi Joana tak melakukan itu semat-mata atas permintaan Rey, Joana memang tak nyaman harus diikuti pengawal seperti itu.
Seperti yang sudah Joana tebak, usahanya hanya sia-sia. Pengawal itu sudah lebih dulu menyiapkan mobil untuk mengikuti kepergian mereka.
"It's oke. Tapi Kinan akan ikut mobilku! Kalian bisa mengikuti dibelakang!" Ucap Joana sambil menarik tangan Kinan menuju mobil yang didalamnya sudah ada Doni dan Rey.
Joana duduk disamping kemudi, tepatnya disamping Doni. Sementara Kinan ia arahkan untuk duduk di kursi belakang bersama Rey. Kinan seketika membeku ketika baru memasuki mobil itu. Ia menoleh untuk melihat siapa yang berada disampingnya, pemuda itu tersenyum hangat melihat kedatangannya.
"Rencana apa lagi yang kalian buat?" Tanya Kinan pada ketiganya.
"Kami tidak membuat rencana apapun." Ucap Doni membela diri. Joana membuang pandangan ke arah jalan, lebih memilih diam.
"Kita hanya akan jalan-jalan di London." Ucap Rey menjelaskan.
"Kita mau kemana?" Alis Kinan bertautan satu sama lain. Mobil mulai terasa berjalan dengan kecepatan sedang.
"Kita akan naik bianglala di London Eye." Bisik Rey tepat di telinga Kinan.
"Selama disini apa kau pernah jalan-jalan?" Tanya Rey lagi dan Kinan menggeleng.
"Apa itu bisa di naiki wanita hamil?" Bisik Kinan pada Rey.
"Tentu saja. Itu akan berputar perlahan dan tidak akan menyakiti anak kita." Rey mengedipkan sebelah matanya dan Kinan membuang muka ke arah samping sangking malunya.
"Ternyata aku menjadi supir untuk pasangan bucin." Ucap Doni disela-sela kegiatan menyetirnya.
"Dan aku akan menjadi penonton yang budiman." Sambung Joana.
Rey terbahak mendengar lelucon dua orang yang duduk di depan. Sementara Kinan mengulumm senyumnya, sesekali Rey mengelus perut Kinan dan dibalas Kinan dengan mencubit lelaki itu.
"Kenapa kau mencubitku? ini sakit!" Protes Rey sambil meringis memegangi perutnya. Kinan hanya tertawa dan tak mau memberikan alasan.
"Kau melakukan itu karena kau tahu aku tidak bisa marah padamu kan?" Rey menaik-naikkan alisnya pada Kinan seraya tangannya merangkul pundak wanitanya. Sebenarnya ia ingin menetralkan pikiran karena saat ini kepalanya berkecamuk memikirkan bagaimana ia bisa menikahi Kinan tanpa digagalkan oleh sang ayah.
.
.
.
Bersambung...