
Happy Reading💞
Dukung karya ini dengan like dan vote serta hadiahnya.. Terima kasih🙏
_________
Ammar ikut turun dari mobilnya, ia memegang tangan Joana dan menghentikan aksi Joana yang hendak menghindar dari topik pembicaraan mereka.
"Jo, dengarkan aku dulu," pinta Ammar yang mencegat langkah Joana.
"Ammar, kita belum terlalu mengenal dan untuk ke jenjang serius yang kau tawarkan, aku belum siap." pungkas Joana.
Ammar tersenyum. "Aku tidak memaksamu, Jo. Aku mengerti." Ammar memandang wajah Joana seolah meyakinkan gadis itu. "Kita kembali ke mobil dan kita makan dulu, oke?" lanjutnya.
Joana menelisik ke mata Ammar, ia tahu penolakannya bertentangan dengan keinginan hatinya tapi dari mata Ammar ia juga tahu jika lelaki dihadapannya ini seakan mengerti ketakutannya. Beberapa detik kemudian Joana mengangguki Ammar dan mereka kembali ke mobil untuk menuju Restoran.
"Jo, maaf jika tawaranku terasa begitu tiba-tiba. Aku tahu kita baru mengenal selama 6 bulan belakangan ini. Aku mengerti keterkejutanmu dan aku paham situasinya." kata Ammar saat mereka saling berhadapan untuk melakukan makan malam bersama.
"Hmm.." Joana tak sanggup berkata-kata.
"Jika alasanmu karena kita belum saling mengenal terlalu jauh..apakah boleh aku mengenalmu lebih dalam lagi mulai dari sekarang?"
Joana membuang pandangannya karena ia tak sanggup menatap tatapan Ammar yang menghujam jantungnya. Ammar tersenyum simpul melihat gelagat Joana, ia mengulurkan tangan dan menepuk-nepuk pelan punggung tangan gadis itu.
"Penolakanmu hari ini bukan berarti aku akan menyerah, Jo." katanya kemudian.
"Ammar..." lirih Joana.
"Walau aku bukan psikiater sepertimu, tapi sebenarnya aku bisa menyimpulkan..."
"Menyimpulkan apa?" Joana segera bereaksi. Apa wajahnya memang gampang ditebak oleh lelaki dihadapannya ini? apa sebenanarnya Ammar bisa membaca semua penolakannya ini bertolak belakang dengan keinginan hatinya?-Batin Joana menerka-nerka.
Ammar mengangkat kedua bahunya sambil menahan gelak karena respon Joana yang mendengar ucapannya yang menggantung.
Melihat sikap Ammar, Joana semakin salah tingkah. Ia semakin gugup dan tak berani menatap Ammar. Sedangkan Ammar, ia membaca gelagat gadis dihadapannya dan ia mengulu-m senyum karena akhirnya ucapannya bagai umpan yang memancing Joana.
Mereka kemudian makan dalam keadaan hening, Ammar dengan pikirannya sendiri dan Joana dengan segala tebakannya tentang pemikiran Ammar. Sampai makanan dihadapan mereka habis, barulah Ammar mulai bersuara kembali.
"Sekarang, bisakah kau jelaskan hal apa lagi yang membuatmu ragu menerimaku?"
Joana kembali menatap Ammar dan matanya tertangkap oleh pandangan Ammar yang menuntut jawaban dari bibirnya.
"A-aku.."
"Ya? Apa yang kau ragukan?" tanya Ammar kembali melihat keraguan dimata Joana. "Apa kau takut aku melakukan kesalahan padamu? Seperti yang pernah ku lakukan dimasa lalu?" sambungnya.
"No! Aku hanya meragukan diriku sendiri."
Ammar mengangguk. "Hmm, Kau meragukan dirimu sendiri. Apakah itu karena kau merasa semua lelaki akan kasar seperti lelaki masa lalumu?" tanya Ammar tepat sasaran.
"I-itu salah satunya." Joana mere-mas jemarinya sendiri yang berada dalam pangkuannya. Kembali, gadis itu kembali tak berani melihat keseriusan dimata Ammar karena ucapan Ammar adalah kebenaran. Joana terlalu takut untuk memulai hubungan bukan karena masalalu Ammar tetapi karena masalalunya sendiri.
"Jo, kita sama-sama punya masalalu, bukan? Kau memaklumi masalaluku. Lantas, dari segi mana aku tidak bisa memahami masa lalumu?" kata Ammar.
Joana menaikkan kepalanya yang tadi sudah tertunduk, ia tidak percaya atas ucapan Ammar dan ingin memastikan sendiri bahwa ucapan tadi berasal dari lelaki dihadapannya.
"Maksudmu?"
"Sejujurnya aku takut, Xander akan menyakitimu jika dia tahu saat ini aku sedang dekat denganmu, Ammar." aku Joana dan itu membuat Ammar melotot atas ucapan pengakuan dari bibir gadis itu.
"Kau mengkhawatirkan aku?" Ammar tersenyum simpul. "Jadi alasan utama kau menolakku karena kau takut lelaki itu akan menyakitiku?"
"Begitulah, karena dia selalu begitu setiap aku dekat dengan lelaki manapun. Lelaki itu akan mundur sebelum benar-benar menjalin hubungan lebih jauh lagi denganku karena ancaman Xander. "
"Itu lelaki lain dan bukan aku." kata Ammar cuek. Sekarang ia jadi tahu kenapa Joana tak menikah sampai diusianya sekarang. Mungkin karena dia tak berhasil menemukan lelaki yang berani mendekatinya untuk melawan kekejaman ancaman Xander. Sebagai lelaki sejati, Ammar jadi penasaran seberapa kejam lelaki psikopat bernama Xander itu.
"Jo, aku lelaki dewasa dan aku bisa menjaga diriku jika dia berniat buruk padaku. Jangan menghawatirkan aku." Hati Ammar dilingkupi rasa hangat mengetahui Joana mengkhawatirkannya, tapi dia tak mau ini jadi alasan Joana untuk menolaknya.
"Kau tidak tahu betapa jahatnya dia. Dia mempunyai rasa cemburu yang melebihi kapasitas. Aku saja disakitinya apalagi orang yang sama sekali tak dikenalnya. Bahkan dengan hewan peliharaanku pun dia bisa sangat kejam." Mata Joana seakan menerawang saat-saat kelam dimasa lalunya.
"Memangnya apa yang dia perbuat dengan hewan peliharaanmu?" Ammar bersedekap untuk mendengar lebih lanjut cerita Joana. Ia menyandarkan badan dengan nyaman di sandaran kursinya.
"Anjingku, Bello. Bello itu sangat penurut. Aku menyayangi dan banyak menghabiskan waktu bersama Bello. Tapi kebersamaan kami hanya sementara. Kau tahu kenapa?"
Ammar mengernyit lalu menggeleng cepat. Tapi ia yakin ini ada kaitannya dengan kekejaman Xander.
"Karena hanya dalam waktu tiga bulan sejak aku mengadopsi Bello, Bello mati. Aku menemukannya mati bersimbah darah." Joana menggendikkan bahunya lalu matanya seakan menahan tangis. "Xander membunuhnya dan dia.." Entah kenapa Joana tak kuasa melanjutkan kalimatnya.
"Kenapa? Apa yang dilakukan lelaki itu terhadap Anjingmu?" kata Ammar penasaran.
Joana terkekeh samar untuk menutupi sakit hatinya atas ulah Xander. "Dia memutilasi Bello. Tubuh Anjing kecil itu sudah terpotong-potong dan sangat menyedihkan. Itu semua karena Xander cemburu aku memiliki sesuatu yang bisa menghiburku selain dia. Jadi kau mengerti kan apa yang ku takutkan jika dia menyakitimu?" lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.
Ammar terdiam dengan pikirannya. Xander benar-benar psikopat gila dan dia terobsesi berat pada Joana. "Aku mengerti ketakutanmu, tapi aku pasti bisa melindungi diriku sendiri."
"I Know, tapi Xander akan datang tanpa pernah kau duga-duga. Kau bukan hanya perlu menjaga diri tapi kau harus waspada mulai dari sekarang." Joana terkekeh miris.
"Terima kasih mau memperingatkanku. Tapi kembali lagi dengan hubungan kita, apa kau mau memulainya?"
"Kau siap dengan resikonya jika dekat denganku?"
Ammar mengangguk mantap.
"Aku belum bisa menjawab soal pernikahan tapi bisakah kita menjalani saja seperti ini dulu?"
"Baiklah, aku memang menunggu solusi yang terbaik. Ku rasa kita akan seperti ini dulu dan saling mengenal. Hmm?"
Joana mengangguk, mungkin itu memang keputusan yang terbaik. "Apa itu artinya sekarang kita berpacaran?" tanya Joana.
Ammar terkekeh.
"Kenapa malah tertawa?" Joana mengernyit, apa ada yang salah dengan pertanyaannya tadi atau sekarang malah dia yang terlihat menggebu-gebu? Ah, Joana merutuki dirinya sendiri.
"Aku pikir, diumur dan statusku sekarang ini, aku tidak layak untuk berpacaran." Ammar mengul-um senyumnya melihat Joana mencebik. "Tapi jika kau mau mengartikan pendekatan sebelum pernikahan ini adalah sebuah hubungan pacaran, aku akan menamainya begitu." sambungnya.
Pada akhirnya, Joana tersenyum juga dan Ammar senang karena Joana mau mempertimbangkan ini dan mulai mendekatkan diri satu sama lain diantara mereka.
Tanpa mereka sadari, dari ujung tempat yang lain, Xander menatap kedekatan mereka berdua dengan mata berkilat-kilat marah. Wajahnya memerah dan dia membuat perhitungan pada Joana dan lelaki yang ia lihat amat akrab dengan gadisnya itu. "Kita lihat saja, sampai dimana kau mau bermain-main, Sayang.." gumam Xander sambil menyalakan api rokoknya dengan santai.
...Bersambung......