How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Takut Kehilangan



Happy ReadingπŸ€—


__________________


Pintu kedatangan Bandara pada hari ini terasa sangat padat. Rey dan Kinan yang baru saja menginjakkan kaki di Indonesia pun turut ada dalam kepadatan itu. Keduanya saling menggenggam jemari satu sama lain, seolah-olah jika genggaman itu terlepas, keduanya akan terpisahkan dan menghilang dibalik kerumunan.


Sesudah memasuki mobil yang menjemput kedatangan mereka, Rey baru bisa menghela nafasnya dengan panjang, seolah baru saja melewati beban yang sangat berat. Lelaki itu melirik kesampingnya, tampaklah Kinan yang sama lelahnya seperti dirinya. Terbersit perasaan bersalah dalam diri Rey, melihat kondisi istrinya yang tengah berbadan dua itu harus merasakan hal seperti ini.


"Maaf..." Suara Rey terdengar lirih, ia menyentuh pelipis Kinan dan mengelusnya pelan.


"Maaf? Maaf untuk apa, Mas?"


"Kamu pasti lelah sehabis perjalanan jauh."


"Semua orang pasti akan merasa lelah karena itu." Ucap Kinan merasa biasa saja. Ia mengambil tangan Rey yang masih setia membelai wajahnya, lalu ia menggenggam jemari itu dipangkuannya.


Mobil mulai terasa bergerak menjauh dari Basement Bandara. Perlahan-lahan berjalan menuju jalan utama dan kecepatannya mulai meningkat untuk menuju kediaman Rey.


"Tidurlah, aku akan menjagamu." Rey menarik kepala Sang Istri agar bersandar di bahunya.


Kinan menurut dan mulai memejamkan matanya, ia mulai terlelap diperjalanan menuju Rumah.


Sesampainya dirumah, kedatangan mereka disambut oleh Nyonya Zehra yang sudah tidak sabar mendengar bagaimana bulan madu mereka di Bora Bora.


"Nanti saja ya, Ma. Kinan dan aku masih capek." Ucap Rey menolak permintaan ibunya itu.


Rey menarik pelan tangan Kinan untuk menaiki anak tangga menuju kamar mereka. Kinan melihat mertuanya dengan tatapan segan akibat ulah Rey tapi Nyonya Zehra paham akan hal itu. Ia mengangguk kecil sebagai ungkapan 'tidak apa-apa' pada Kinan.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Sehabis mandi sore, Kinan keluar rumah tanpa membangunkan Rey yang masih tidur. Ia berjalan menuju kebun belakang, dimana mertuanya sedang menanam beberapa tanaman hias.


Kinan dan Nyonya Zehra mengobrol dengan begitu akrab. Bercerita tentang bulan madunya dan mendengarkan mertuanya yang memperkenalkan jenis-jenis tanaman hias itu dengan berbagai nama.


Di lain tempat, Rey yang baru tersadar dari tidurnya mulai mencari keberadaan istrinya. "Sayang, kamu dimana?" Rey mencari ke kamar mandi dan ruang ganti namun ia tak mendapati wanita itu.


Rey berjalan keluar kamar, mencari ke ruang keluarga, ruang tamu dan ke kamar lama Kinan. Tapi ia tidak menemukan siapa-siapa disana. Rey menuju dapur dan melihat beberapa pelayan yang mulai sibuk menyiapkan makan malam.


"Dimana istriku?" Tanyanya pada salah satu pelayan.


"Ka-kami ti-tidak melihatnya, Tuan Rey." Jawab pelayan itu terbata-bata sambil menunduk.


"Bagaimana bisa kalian tidak melihatnya?" Suara Rey naik satu oktaf. Ia mengusap wajahnya dengan kasar dan mulai merasa gelisah.


"Bantu aku menemukannya!" Pekik Rey, tiba-tiba ia merasa ketakutan. Ia takut Kinan meninggalkannya. Semua pelayan disana mulai mencari ke seluruh ruangan. Rey menuju kamar Mamanya, dan ia juga tak menemukan wanita yang telah melahirkannya itu.


"Apa Kinan pergi bersama Mama?" Tanya Rey lagi pada seorang pelayan. Tapi pelayan itu hanya menggelengkan kepalanya dengan ekspresi takut.


Rey mulai frustasi, ia kesana-kemari. Mengulangi mencari Kinan lagi diberbagai ruangan yang sebelumnya sudah ia masuki. Lalu ia ke teras rumah, berharap menemukan istrinya disana. Rey sudah tidak bisa berfikir jernih ketika ia tak menemukan Kinan juga disana. Tiba-tiba ia teringat ponselnya, dengan segera ia berlari ke kamar untuk mencari ponsel dan langsung menghubungi nomor Kinan, tapi suara ponsel Kinan terdengar diruangan yang sama. Ponsel itu tergeletak di atas nakas di kamar mereka.


"Kamu kemana, Sayang?" Ucap Rey lirih. Rey menggaruk kepalanya dengan frustasi. Ia menyambar kunci mobil yang berada di meja. Dengan tergesa-gesa ia menuju pintu luar. Ia mungkin akan menemukan Kinan disekitar rumahnya, atau dimana saja. Yang penting ia menemukan wanita itu, Ia tidak memperhatikan lagi penampilannya yang berantakan sehabis bangun tidur tadi.


"Tuan, tukang kebun bilang Nyonya besar sedang berada di kebun belakang." Ucap salah seorang pelayan yang juga ikut mencari kedua wanita itu.


Rey menghela nafasnya sejenak, kenapa ia tak kepikiran mencari ke kebun belakang padahal memang biasanya Mamanya sering menghabiskan waktu disana. Rey menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mengatur irama nafasnya yang sedari tadi sudah tak karuan.


"Jadi ini tempat persembunyianmu?" Tanya Rey langsung menatap Kinan yang keheranan mendengar perkataan Rey.


"Kamu sudah bangun, Mas?" Tanya Kinan polos.


Rey langsung memeluk istrinya dengan erat dan posesif. "Jangan tinggalkan aku lagi." Ucapnya lirih. Kinan benar-benar terkejut dengan ulah Rey. Ia menatap mertuanya dari pelukan Rey. Seolah-olah bertanya apa yang terjadi pada Rey, tapi Nyonya Zehra hanya tersenyum dan mengangkat bahu.


"Kamu kenapa, Mas? Kamu bermimpi?" Kinan melepaskan pelukan Rey dan merangkum kedua pipi lelaki itu, menyelami mata Rey yang tampak memerah. Rey menggeleng pelan. "Jangan pernah berpikir pergi dariku. Aku tidak bisa tanpa kamu!" Ucap Rey, suaranya terdengar bergetar. Rey menarik nafas lega karena ketakutannya tidak terjadi.


"Aku tidak pergi, aku disini dari tadi bersama Mama."


"Hemm." Rey malu sendiri dengan kelakuannya, ia sudah berfikir yang tidak-tidak.


"Mungkin Rey pikir kamu pergi meninggalkannya." Celetuk Nyonya Zehra sambil tetap sibuk dengan kegiatannya sendiri menata bunga hiasnya didalam pot. Rey mengangguk untuk mengiyakan ucapan Mamanya.


"Jadi kamu pikir aku pergi, Mas?" Tanya Kinan sambil tak kuasa menahan gelaknya.


"Aku bangun dan mencarimu kemana-mana. Aku pikir kamu pergi meninggalkan aku. Aku..aku sudah seperti orang bo-doh tadi." Rey mengakui kebod*hannya.


"Setakut itu ditinggal Kinan, Rey?" Tanya Nyonya Zehra sambil terkikik geli.


"Tentu saja, Ma! Jangan menertawaiku!"


Nyonya Zehra mengangkat tangannya sebagai bentuk permohonan maaf tapi malah Kinan yang tertawa melihat tingkah absurd Rey.


"Sayang, jangan menertawaiku!" Ucap Rey dengan nada manja. Kinan mengangguk tapi tetap saja ia tertawa.


Tak berapa lama, seorang pelayan datang kearah mereka.


"Tuan, Kami semua sudah mencari Nona Kinan keseluruh--" Suara pelayan itu tercekat ketika melihat sosok Kinan yang ternyata juga ada disana. Ia berdiri tak jauh dari Rey dan terlihat cekikikan.


"Pergilah!" Ucap Rey sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke arah pelayan yang baru saja datang. Lelaki itu terlihat kesal pada pelayan yang baru saja menyadari keberadaan Kinan di kebun belakang.


"Kau telah merepotkan seluruh pelayan untuk mencari istrimu!" Sindir Nyonya Zehra. Rey hanya nyengir kuda menunjukkan sederan giginya.


"Mas... lain kali jangan begitu!" Kinan menatapi Rey dengan tatapan lucu.


"Aku spontan meminta bantuan mereka Sayang, karena aku tak menemukanmu dimanapun." Jawab Rey jujur.


"Kau terlalu berlebihan." Gumam Kinan tapi Rey mendengar itu.


Tak berapa lama, suara ponsel Rey terdengar. Ia menerima panggilan itu dan mendengar seseorang berbicara dari seberang sana. Wajah itu berubah terkejut dan pias seketika.


"Kenapa Mas?" Tanya Kinan.


Rey terdiam dan tak menjawab pertanyaan Kinan.


.


Bersambung...


Maaf ya gak up beberapa hari. Kurang enak badan dan banyak keperluan di dunia nyata πŸ˜‚πŸ™πŸ™πŸ™