
Ammar terbangun dari tidurnya, karena efek obat yang beberapa waktu lalu diberikan Dokter padanya, membuat Ammar tertidur cukup lama.
"Kau sudah bangun?" tanya seorang lelaki yang bersedekap dada didekat sofa, disampingnya ada seorang wanita muda yang tersenyum ke arah Ammar.
"Bagaimana keadaanmu, Mas?" tanya wanita muda itu, ia bergerak mendekat kearah ranjang yang Ammar tempati.
"Aku sudah merasa lebih baik. Terima kasih atas bantuan kalian, terutama untukmu Rey." Ammar menatap lelaki yang masih berdiri ditempatnya, lelaki itu adalah Rey yang datang bersama wanita muda yang tak lain adalah Kinan, mereka datang kembali untuk melihat keadaan Ammar yang sudah melewati masa kritisnya.
"Hem.."
"Bagaimana dengan Xander?" tanya Ammar.
Kinan menoleh ke arah Rey agar Rey menjawab pertanyaan dari Ammar, karena ia pun ingin mendengar hukuman apa yang akan Xander terima.
Rey menghela nafas sejenak, ia melangkah pelan dan ikut menghampiri posisi Ammar. Setelah berdiri di sisi Ammar, barulah ia mulai buka suara. "Xander dituntut atas tindakan penculikan, penganiayaan dan kepemilikan senjata illegal." kata Rey.
"Apa itu berarti dia akan lama mendekam di penjara?" tanya Ammar lagi.
Rey berdecak. "Tentu saja, kalaupun dia bisa keluar dari sana ku pastikan itu tidak dalam jangka waktu singkat," geram Rey. Kinan mengelus lengan Rey untuk meredakan emosi suaminya itu. Bagaimana tidak emosi, Rey mendengar sendiri percakapan Xander dan Ammar tempo hari di Apartemen, yang mengatakan jika Xander ingin Shaka menjadi saksi kematian Ayahnya sendiri.
Ya, saat Shaka menerima ponsel dari Ammar dan bersembunyi dibalik sofa waktu di Apartemen, ternyata anak itu segera menekan panggilan ke nomor ponsel Rey. Rey yang awalnya tidak mengerti dan tak mendengar sapaan Ammar saat nomor Ammar meneleponnya, malah tercengang saat mendengar ucapan seseorang dari seberang panggilan.
Kinan memahami jika Rey emosi karena masalah ini harua melibatkan Shaka bahkan Shaka sempat ikut terculik.
"Si breng-sek itu benar-benar tidak waras!" umpat Rey tertahan, rasanya ia tak henti-hentinya mengumpat Xander saat tahu apa yang telah Xander perbuat.
Ammar menghela nafasnya, ia pun sama kesalnya terhadap Xander. Terlebih, Shaka adalah anak kandungnya. Seperti apa emosi Rey saat ini tak sebanding dengan emosinya sendiri.
"Aku tidak menyangka dia harus melibatkan anak kecil. Dasar pecundang!" Lagi-lagi Rey mengumpat Xander untuk meluapkan kekesalannya.
"Mas.." Kinan kembali mengelus lengan Rey agar suaminya itu bisa meredam kemarahannya.
"Sayang, aku tidak habis pikir orang seperti itu berkeliaran di sekitar kita. Aku ingin membuat perhitungan padanya tapi polisi mencegahku." ucap Rey dengan nada sesal.
"Seandainya aku tidak terluka, akupun mau membunuhnya." timpal Ammar.
"Syukurlah ada yang mencegahmu, Mas." celetuk Kinan. "Kalau tidak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu." lanjutnya mendongak menatap Rey yang berdiri disampingnya.
Rey tersenyum mendengar ucapan Kinan. Ia pun menyadari jika kelakuannya tak dicegah, bisa-bisa ia juga akan masuk kedalam sel menyusul Xander.
"Dan kau Mas, jangan membalasnya dengan tindakan keji, karena kalau kau melakukannya, kau lah yang jadi temannya di sel." ucap Kinan seraya menatap Ammar.
"Mana mungkin aku jadi temannya di sel, kan dia sudah lebih dulu mati." kata Ammar menggoda Kinan yang memberikan ultimatum kepadanya dan Rey.
Rey terkekeh. "Berarti menjadi temannya di Neraka." ejek Rey dan Ammar menatapnya malas.
"Sudahlah, biarkan lelaki itu diurus oleh polisi, jangan mengotori tangan kalian dan membuang energi untuk meladeninya. Jika kalian juga menggunakan kekerasan, apa bedanya kalian dengannya?" ucap Kinan dan perdebatan tentang Xander diantara mereka bertiga pun berakhir.
"Jadi kau datang ke Apartemen waktu itu karena Shaka meneleponmu?" tanya Ammar pada Rey.
"Ya, dan aku segera melacak keberadaanmu. Tapi aku menyesal datang terlambat." Kata Rey.
"Hemm.."
"Apa kau lapar, Mas?" tanya Kinan dan Ammar menggeleng.
"Kau tidur terlalu lama, kau belum makan makananmu. Makanlah.." Kinan mengambil nampan makanan yang sebelumnya sudah tersedia diatas nakas. Ia membuka penutup plastiknya dan mulai mengambil makanan itu dalam satu sendokan lalu meminta Ammar membuka mulutnya.
"Buka mulutmu, Mas." pinta Kinan seraya menyodorkan sesendok makanan ke arah Ammar. Ammar mengernyit dan menatap Rey yang juga tengah memperhatikan interaksinya dengan Kinan. Sedetik kemudian Ammar berdehem karena merasa canggung.
"Makanlah," kata Rey mempersilahkan. Ammar yang ragu pada awalnya karena merasa sungkan atas perlakuan Kinan, mulai membuka mulutnya lalu makan dari suapan yang Kinan berikan.
"Aku makan sendiri saja," kata Ammar tak enak hati. Ia ingin melanjutkan makan dengan tangannya sendiri daripada disuapi Kinan dan ditatapi Rey seperti saat ini.
"Jangan Mas, kau masih sakit! Jangan sungkan, disini tidak ada siapapun yang menjagamu kecuali aku dan Mas Rey. Aku sudah terbiasa melakukan ini dulu pada Almarhum Mbak Wina, kecuali jika Mas Rey yang mau menyuapimu," Kinan menatap Rey sekilas dan Rey menggeleng cepat sebagai jawaban.
"Tapi--" Ammar ragu.
"Makanlah selagi aku masih berbaik hati." ucap Rey. "Dan jangan anggap kepedulian istriku sebagai bentuk perhatian pada lawan jenis." Rey terkekeh mendengar ucapannya sendiri terlebih ketika melihat Kinan memelototinya.
"Apa kau tidak cemburu?" Ammar bertanya lagi seraya mengunyah makanannya.
"Heh, tentu saja aku cemburu." gerutu Rey dan Kinan hanya terkekeh pelan mendengarnya.
"Dia selalu cemburu pada apapun, Mas." kata Kinan menimpali.
"Lalu?" Ammar tak berani lagi membuka mulutnya untuk makan, padahal Kinan sudah menyodorkan sesendok makanan lagi didepan mulutnya. Ia benar-benar ingin tahu perasaan Rey dulu saat ini, barulah ia memutuskan akan lanjut makan disuapi Kinan atau tidak.
"Aku cemburu pada tempatnya," ucap Rey. "Aku tahu Kinan menganggapmu sebagai Kakak lelakinya dan tidak lebih. Aku percaya istriku dan ya..dia sangat mencintaiku." ucap Rey percaya diri seraya mengerlingkan matanya pada Kinan. Lagi-lagi Kinan terkekeh mendengarnya seraya bergeleng kecil.
Ammar memutar bola matanya mendengar penuturan dari mulut Rey. Tapi baguslah jika sekarang Rey tak cemburu padanya, Ammar pun merasa jika Kinan sudah selayaknya adik untuknya sejak ia mengenal Joana sebagai kekasih. Rasanya Joana sudah memenuhi hatinya sekarang, apalagi mengingat apa yang sudah ia lewati bersama Joana sampai saat ini yang berakhir di Rumah Sakit.
Ammar pun memutuskan melanjutkan makan dengan disuapi Kinan, ia memasang ekspresi cuek hingga makanan itu pun tandas.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Joana menoleh kearah pintu masuk di Mansion keluarga Doni. Senyumnya merekah saat mendapati dua orang sosok yang sangat ia kenal dan juga mengenalnya sedari ia baru dilahirkan. Ya, itu adalah Mama dan Daddy nya--Julia dan Nathan.
Julia dan Nathan masuk lebih dulu, setelahnya Doni dan Sinta menyusul masuk diringi beberapa pelayan yang turut membawakan barang-barang orangtua Joana.
"Mama, Daddy..." Joana menghambur kearah tubuh kedua orangtuanya lalu memeluk dan menciumnya bergantian. Joana tak bisa ikut menjemput mereka ke Bandara karena Doni masih khawatir dengan kondisi Joana yang baru saja keluar dari Rumah Sakit, padahal Joana tak merasa sakit apapun hanya luka-luka yang diakibatkan oleh Xander beberapa hari lalu.
"Don, Sin.. Terima kasih sudah menjemput Mama dan Daddy di Bandara." Joana menatap sekilas sepasang suami istri itu, kemudian melanjutkan berbincang dengan kedua orangtuanya yang baru tiba di Indonesia.
Tentu saja Joana belum mau membahas soal ulah Xander walau pasti orangtuanya pun sudah tahu apa yang terjadi dan menyebabkan mereka terbang ke Indonesia. Mereka pun larut dalam perjamuan makan malam dengan keluarga Doni yang juga sudah ikut bergabung.
"Joana, setelah ini Mama dan Daddy mau bicara denganmu." Kata Julia-Mama Joana dan Joana mengangguk mengerti dan tahu akan kemana arah pembicaraan mereka hari ini. Pasti mengenai Xander-pikir Joana.
"Say something about your lover," (Katakan sesuatu tentang kekasihmu), timpal Nathan-sang Ayah, seraya mengedipkan sebelah matanya menggoda Joana, Joana menjadi gugup seketika. Apalagi saat semua yang berada dimeja makan terdengar ikut tertawa menggodanya. Joana pikir keluarganya akan lebih dulu menanyakan tentang Xander, ternyata malah menanyakan tentang Ammar. Ah, Joana harus memulainya dari mana?
...Bersambung......