
Rey tersadar dari lamunan yang panjang. Lamunan tentang masa-masa pertama kalinya dia bertemu dengan Kinan. Dalam hatinya menyadari bahwa dia sangat bersalah saat itu dan dia selalu menyesalinya. Kini, Rey mulai menguap karena rasa mengantuk, dipeluknya erat tubuh istrinya yang tertidur disampingnya, semakin mendekatkan tubuh mereka. Perlahan-lahan, dia pun mulai tertidur karena rasa nyaman.
...๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ...
Kirey berlari kesana-kemari, membongkar mainannya dalam kamar khusus yang sudah Rey sediakan untuk tempat balita itu bermain. Dia mencari sesuatu yang paling pas untuk ia mainkan hari itu, wajahnya penuh keseriusan dengan kegiatan yang sedang ia lakukan.
"Sedang apa, Sayang?" Kinan duduk disebelah anaknya yang sibuk sendiri.
"Leon.." Ucap Kirey dengan suaranya yang lucu sambil tetap mencari-cari mainan yang ia maksud.
"Oh, boneka Singa ya? Sepertinya tidak ada disitu. Ayo kita cari di kamar! Mungkin tadi malam Kirey ajak bobok." Ucap Kinan lembut seraya mengelus pipi Kirey yang gembul dengan rona merah.
"Ote, Unda.." Kirey pun meraih tangan Kinan untuk ia gandeng dan gadis kecil itu berjalan sambil menarik tangan Kinan, membawa Kinan menuju kamar mereka.
Kirey langsung menuju tempat tidurnya yang berada di pojok kamar. Benar saja, bahwa boneka Singa miliknya memang berada disana.
Kirey memang tidur di tempat tidur yang terpisah dari Rey dan Kinan, karena mereka ingin Kirey mandiri sejak dini. Tapi Kinan juga urung jika harus membiarkan Kirey tidur di kamar yang lain, jadilah mereka masih dalam lingkup kamar yang sama. Mungkin jika Kirey sudah berusia lima tahun, barulah mereka akan membuatkan kamar khusus untuk Kirey tempati.
Kinan tersenyum semringah melihat Kirey yang kegirangan saat menemukan boneka yang ia cari. Kini, ia melirik pintu ruang kerja suaminya yang tertutup rapat. Ia belum bertemu Rey pagi ini, biasanya jika Rey tidak ikut sarapan bersama mereka, suaminya itu pasti sedang sibuk mempersiapkan meeting penting atau apapun yang berkaitan dengan pekerjaan dan itu pasti sangat Urgent.
Ruang kerja Rey juga berada dalam lingkup kamar mereka. Jika Rey ingin menuju Ruang kerjanya, ia harus masuk kedalam kamar dulu. Itu sengaja ia rancang agar memudahkannya memantau anak dan istrinya ketika mereka sudah lelap sementara Rey masih sibuk dengan pekerjaan.
"Sayang, Bunda ke Ruang Kerja Ayah dulu ya. Kirey disini dulu ya sama Leon(Boneka Singa) dan Bibi Asna." Kinan membelai rambut Kirey yang mulai memanjang, gadis kecil itu pun tersenyum seraya mengangguk patuh.
Kinan menuju Ruang kerja suaminya setelah ia menitipkan Kirey pada Mbak Asna-Asisten Rumah tangganya.
Klek!!
Kinan membuka pintu dan mengintip ke dalam Ruang Kerja Rey, bersamaan dengan Rey yang juga tengah melihat ke arah pintu yang baru saja dibuka. Disana, Rey bisa melihat istrinya yang hanya memunculkan kepala diambang pintu Ruang Kerjanya, ia tersenyum melihat Kinan yang mengintipnya. Rey pun segera memutuskan panggilan telepon yang masih tersambung padanya, tampaknya Rey memang sangat sibuk pagi ini.
"Apa aku mengganggu?"
"Kamu tidak pernah menggangguku, Sayang. Kemarilah!" Rey melambaikan tangannya ke arah Kinan seolah mengajak Kinan mendekat ke arahnya.
Kinan bergerak patuh, ia mendekat dan berdiri dihadapan sang Suami.
"Duduk, sini!" Rey menepuk-nepuk pahanya sendiri, agar Kinan duduk dipangkuannya.
Kinan mengulas senyum seraya menggeleng pelan.
Rey tersenyum miring, ia berdecak lidah bersamaan dengan menarik istrinya agar duduk dipangkuan sesuai kemauannya.
"Mas!" Kinan memukuli dada Rey karena kini ia sudah berada sangat dekat dengan Rey, bahkan berada dipangkuan lelaki itu.
"Apa?" Tantang Rey menatap Kinan yang hendak protes. "Kirey mana?" Lanjutnya.
"Ada di kamar, sama Mbak Asna."
"Hmm, kalau begitu boleh dong?" Rey menaik-naikkan kedua alisnya.
"Boleh apa?" Kinan mengernyit.
"Morning kiss." Rey memajukan bibirnya beberapa centi ke arah Kinan, tapi Kinan malah membuang pandangan ke arah lain. "Kamu ini lagi kerja tapi bisa-bisanya minta ciuman!" Protes Kinan.
"Itu salah satu sumber energi dan semangatku, Sayang."
"Kenapa pandai sekali menggombal? Huh?" Kinan mencubit kedua pipi Rey dengan gemasnya.
"Sayang jangan dicubit, aku bukan Kirey!"
"Tapi Ayahnya kan?"
"Ya, tapi pipiku tidak gembul dan menggemaskan, jadi jangan dicubit!"
"Terus?"
"Di cium saja." Rey tersenyum lebar.
"Itu sih maunya kamu!" Kinan memanyunkan bibirnya dan Rey langsung ambil kesempatan untuk mencium istrinya saat itu juga. Walau terkejut dengan perlakuan Rey yang tiba-tiba, tapi akhirnya Kinan membalas ciuman itu. Tidak berhenti disitu, posisi Kinan yang masih dalam pangkuannya membuat Rey terbuai, ia memeluk pinggang ramping istrinya, semakin mendekatkan posisi tubuh mereka. Tangan Kinan melingkar di leher sang suami. Mereka saling menikmati ciuman panas yang mereka lakukan di pagi hari yang gerimis hari ini.
Suara ponsel Rey tiba-tiba terdengar berdering kembali, seolah ingin membubarkan aktifitas panas diantara dua insan tersebut. Rey mengangkat wajahnya yang sudah berada di perpotongan leher istrinya, menoleh ke arah meja untuk melihat siapa nama pemanggil yang menelepon ke ponselnya.
Rey tetap melanjutkan kegiatannya, ia menciumi ceruk leher Kinan, seolah ucapan Kinan barusan hanya angin lalu.
"Mas!" Kinan mendorong pelan pundak Rey agar suaminya itu berhenti. Rey menatap Kinan, ia ingin protes tentu saja.
"Jawab panggilannya, siapa tahu itu penting." Lanjut Kinan lagi.
Rey menggeleng. "Gak penting. Nanti bisa aku telepon balik!" Ujar Rey, ia kembali menarik Kinan untuk mendekat, tak membiarkan Kinan bangkit dari posisi dipangkuannya.
"Mas, kamu harus kerja.." Kinan mengingatkan lagi.
"Aku tahu, itu hanya telepon dari cabang. Nanti aku akan telepon balik. Lagi pula aku butuh asupan vitamin supaya pekerjaanku berjalan lancar hari ini." Rey menatap Kinan dengan tatapan lapar.
"Vitamin? Vitamin kamu habis? Nanti biar ak--"
"Shshhh" Rey menghentikan ucapan Kinan, telunjuknya kini berada tepat didepan bibir sang istri. "Bukan vitamin yang itu maksudku. Maksudku.. vitaminnya itu, kamu!"
"Aku?"
"Iya, aku butuh kamu. You'r my vitamin." Rey mendekap Kinan tanpa memikirkan sekarang jam berapa dan sedang berada di ruang apa.
Ciuman yang kembali Rey daratkan dibibir ranum istrinya, kini mulai menjadi ciuman yang menuntut untuk perlakuan lebih. Hingga akhirnya mereka melupakan situasi dan saling mengejar pele-pasan satu sama lain di ruangan itu.
*
Kinan terengah-engah seraya kembali memakai semua pakaiannya yang berserakan di lantai. Setelah siap, Kinan menatap Rey yang dengan santainya mengancing kemejanya sendiri setelah kegiatan panas yang mereka lakukan beberapa saat yang lalu.
"Aku tadi kesini mau nanya kamu mau sarapan apa? kok malah jadi begini.." Kinan protes sambil menyisiri rambutnya yang sudah berantakan dengan jarinya sendiri.
Rey tersenyum. "Kan udah sarapan kamu. Aku kenyang kalau udah makan kamu." Rey mengedipkan sebelah matanya ke arah Kinan.
"Hish.." Kinan mendelik melihat tingkah nakal suaminya. "Aku gak enak sama Mbak Asna, Mas. Kan aku jadi lama nitipin Kirey sama dia."
"Ya gak apa-apa, sekali-kali ini, Sayang." Rey sudah mulai kembali fokus ke layar tabletnya. "Jarang-jarang loh kita bisa begitu pagi-pagi. Apalagi diruang kerja aku. Besok di ruang mana lagi ya enaknya?" Rey tampak berpikir serius seraya mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari.
"Dasar kamu, Mas!" Kinan pun beranjak untuk mencapai pintu keluar.
"Tapi kamu suka kan?" Ucap Rey setengah berteriak ketika ia melihat Kinan melangkah keluar.
Tak terdengar sahutan Kinan untuk menjawabnya, tapi Rey tertawa melihat tingkah istrinya yang manyun mendengar ucapannya.
Rey kembali merapikan dasi yang ia kenakan, ia melihat detik waktu yang bergerak di pergelangan tangannya. Sebentar lagi Rey akan melakukan meeting melalui panggilan Video. Ia sudah kembali bersemangat sekarang, padahal tadi sebelum Kinan datang ia sedang menelepon dengan kesal, ia tengah memberi ultimatum pada para direksi dan pimpinan cabang yang melakukan kesalahan dan tak becus dalam mengurus permasalahan pekerjaan. Tapi Kinan berhasil mengembalikan Mood-nya.
Sekarang Rey siap dan kembali fokus bekerja. Kinan benar-benar sumber energi, vitamin sekaligus sarapan yang membuatnya kembali mengukir senyuman cerah pagi ini.
...๐ธ...
Kinan sedang berbelanja bulanan di sebuah supermarket. Biasanya ia bersama Rey dan Kirey. Mereka biasa melakukan hal itu agar memper-erat hubungan diantara mereka, semacam family time. Selain itu, Mbak Asna memang hanya bekerja untuk membersihkan rumah dan memasak sesekali, karena Kinan membiasakan Rey untuk memakan masakannya. Jadi ART itu jarang diminta Kinan untuk berbelanja.
Tapi kali ini Kinan hanya sendiri. Rey sedang ada pertemuan penting di Kantor. Sementara Kirey sudah dijemput Oma Zehra pagi-pagi sekali.
Saat sedang berbelanja, Kinan tak sengaja bertemu dengan bocah laki-laki yang tengah menangis tersedu-sedu. Melihat itu, Kinan menunduk untuk mensejajarkan tinggi badannya dengan anak laki-laki yang sedang menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Kamu kenapa menangis? Dimana keluargamu?" Tanya Kinan. Ia menelisik kiri dan kanan tapi sepertinya bocah ini sedang sendirian.
Mendengar suara Kinan, anak laki-laki itu pun membuka telapak tangan yang menutupi wajahnya, lalu ia menatap Kinan yang membungkuk ke arahnya. Kinan dan anak laki-laki itu sontak saling melotot karena terkejut satu sama lain.
"Tante Kinan?"
"Shaka?"
Mereka serentak menyebut nama satu sama lain.
.
.
.
Yakkk mereka bertemu juga yah akhirnya!
Next enggak? hujanin hadiah dong.......bunga atau kopi secangkir-duacangkir๐๐