How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
SEASON II - Kecemburuan



Ammar benar-benar menjemput Joana sore itu, Joana yang melihatnya pun tersenyum cerah. Tapi Joana masih kesal mengingat Ammar mempekerjakan seorang asisten baru dan itu adalah seorang wanita.


Sebenarnya Joana tidak ingin memusingkan hal itu, tapi entah kenapa dia merasa tak suka. Terlebih jika asisten Ammar akan mengikuti kemanapun Ammar pergi. Joana merasa risih dengan keadaan itu. Belum sehari ia melihat Ammar dengan asistennya tapi hatinya sudah terbakar. Entahlah, apa ini terlalu berlebihan?


Joana menaiki mobil Ammar dan Ammar membantunya memasang seatbelt.


"Kau masih marah?" Tanya Ammar.


"Sudahlah jangan dibahas lagi."


"Baiklah, kau mau kita kemana?" Tanya Ammar seraya memasang seatbelt untuk dirinya sendiri.


"Terserah," jawab Joana singkat.


Ammar mengangguk, dia cukup mengerti suasana hati Joana sore ini. Joana pasti masih merajuk soal asisten Ammar yang baru bekerja beberapa hari.


Ammar mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, diliriknya lagi Joana yang memasang wajah cemberut. Ammar berpikir hendak mengajak Joana kemana untuk menyenangkan hati wanitanya. Ammar memiliki sebuah ide yang mungkin saja akan membuat Joana bahagia.


"Kemana kita?" Tanya Joana seraya memperhatikan arah jalan yang menurutnya tidak asing.


"Kau akan tahu setelah kita sampai." Kata Ammar semringah.


Joana mengangguk dan Ammar melanjutkan untuk fokus mengemudi. Perjalanan mereka tidak begitu mulus karena beberapa kali harus berhenti di area rawan kemacetan.


Tidak ada pembicaraan karena Ammar sibuk dengan rencananya dan Joana masih larut dalam kesuraman dihatinya.


"Tidak bisakah kau mengganti asistenmu dengan seorang pria saja?" Tanya Joana tiba-tiba. Ia mulai mengajukan protes untuk menyuarakan isi hatinya. Joana paling tidak suka memendam sesuatu hal yang tidak ia sukai, ia akan bersuara jika itu terasa mengganjal.


Ammar menoleh sekilas ke Joana lalu dia tersenyum simpul. "Bisa saja, tapi Karin baru bekerja beberapa hari, bahkan dia baru bertemu denganku hari ini. Aku belum bisa menilai kinerjanya seperti apa dan aku tidak punya alasan untuk memecatnya." Kata Ammar.


Joana berdecak seraya membuang pandangan ke arah kaca jendela mobil.


"Jadi namanya Karin?" Selahnya.


"Jo, aku tahu kau tidak suka. Tapi bisakah mengesampingkan itu?" Tanya Ammar dengan nada lembut.


Joana tetap terdiam. Ia merasa punya alasan sendiri melakukan hal itu. Dia tak suka, dia cemburu dan Ammar tidak mau mengerti.


Melihat Joana hanya diam, akhirnya Ammar kembali bersuara.


"Jo, aku tidak bisa memutus rezeki seseorang begitu saja. Mungkin ini adalah caranya mendapatkan penghasilan. Haruskah aku memecatnya karena ketidaksukaanmu?" Ammar meraih dan menggenggam tangan Joana yang tengah berada dipangkuan perempuan itu.


Joana menoleh, akhirnya dia tersenyum. Walau senyuman itu nampak dipaksakan tapi dia memahami pemikiran Ammar yang lebih dewasa daripada dirinya.


"Apa aku terlalu kekanak-kanakan?" Tanya Joana seraya membalas genggaman tangan Ammar dengan tangannya yang lain.


Ammar mengangkat bahu. "Sepertinya begitu. Tapi aku menyukainya." Jawab Ammar, bibirnya melengkung sempurna.


Joana tertawa kecil, dan masalah mereka pun selesai.


"Tapi berjanjilah untuk tidak tergoda oleh pesona wanita lain, apalagi itu asistenmu sendiri." Kata Joana memperingati.


Ammar terkekeh mendengarnya, tapi dia mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku tidak pernah terlibat affair dengan siapapun." Jawabnya.


"Yah, siapa tahu kali ini.."


"Tidak akan, aku terlalu fokus padamu." Ucap Ammar dengan nada menggoda.


Joana memutar bola matanya, tapi wajahnya bersemu merah mendengar ucapan Ammar. Mereka terkekeh bersamaan.


Tak berapa lama, mobil yang dikendarai Ammar pun tiba disebuah tempat yang sangat tidak asing bagi Joana.


"Ammar, kau langsung mengantarku pulang?" Joana melihat kesekitar dan ternyata Ammar benar-benar mengantarnya ke Mansion.


"Ya, aku mengantarmu sekaligus ingin menemui kedua orangtuamu. Apa mereka ada?"


Joana terperangah atas ucapan Ammar. Sedangkan Ammar, dia berdebar-debar untuk menanti jawaban Joana. Idenya untuk menemui kedua orangtua Joana mungkin akan membuat Joana senang karena itu membuktikan keseriusannya pada perempuan itu. Tapi bagi Joana tidak begitu.


Wajah Joana berubah seketika, padahal tadi dia sudah tertawa dan merasa masalahnya telah selesai. Tapi Ammar mengatakan ingin menemui orangtuanya sekarang. Apa yang harus dia lakukan?


Joana menggeleng. "Pulanglah, temui mereka kapan-kapan. Masih banyak waktu." Kata Joana menghindar.


"Aku pernah berjanji akan menemui mereka jika kondisiku sudah pulih." Kata Ammar. Ammar pikir Joana akan senang mendengar idenya tapi siapa sangka Joana malah terlihat menghindar.


Joana menggeleng cepat. "No.. no.. pulanglah." Joana melepas seatbelt nya dengan tergesa-gesa.


"Jo, kau baik-baik saja? Apa ada yang salah?" Wajah Ammar menyelidik ke mata Joana.


"Jo, katakan apa yang kau pikirkan?" Tuntut Ammar. Joana membuang muka, Ammar terlalu pintar membaca suasana hatinya hingga dia sulit untuk berkelit lagi.


"Tidak ada.."


"Apa kau tidak suka jika aku menemui orangtuamu?" Ammar tersenyum hambar seraya menghela nafas kasar.


"Bukan begitu.."


"Aku merasa ada yang kau sembunyikan, kau selalu mendadak jadi pendiam jika melihatku bertemu dengan orangtuamu."


"Apa?"


"Ya, seperti saat mereka menjengukku dirumah sakit. Aku memperhatikanmu, Jo." Ucap Ammar seraya menunjuk matanya sendiri dengan dua jari lalu membalikkan arah jarinya ke mata Joana sebagai isyarat bahwa dia memang menyoroti kelakuan Joana saat itu.


"Ehm... Ehmm.." Joana meremass jemarinya gelisah.


"Apa ini terkait masa laluku?" Terka Ammar. "Kau takut orangtuamu mengetahuinya?" Ammar tertawa sumbang.


"Ammar, pulanglah .. Temui mereka lain kali. Kita masih punya banyak waktu, bukan?"


Ammar berdehem-dehem kemudian dia mengangguk. "Baiklah," ucapnya. "Masuklah, aku akan pergi setelah memastikanmu masuk kedalam." Sambungnya.


"Yah.. hati-hati dijalan. Maafkan aku." Lirih Joana seraya membuka pintu mobil dan berjalan masuk ke dalam gerbang Mansion.


Ammar memperhatikan langkah Joana sampai punggungnya tidak nampak lagi. Ammar menghela nafasnya sejenak lalu melajukan mobilnya menuju rumah.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸


"Karin, apa jadwalku hari ini?"


"Pagi ini Anda harus meeting dengan Bapak Benedict dari perusahaan Medelin.inc, setelah itu, Anda akan makan siang bersama pemimpin Front Capital untuk membahas kerja sama, mungkin itu akan memakan waktu hingga menjelang sore karena kabarnya pemimpinnya sangat detail untuk menyetujui sebuah kontrak." Jawab Karin seraya membaca jadwal Ammar.


"Baiklah. Akan aku selesaikan hari ini. Bagaimana setelah itu?"


"Setelah itu anda harus menandatangani berkas yang sudah disetujui oleh Tuan Reyland. Itu menyangkut saham dan sebagainya."


"Oke.." jawab Ammar singkat. Ia kembali pada profit pekerjaannya di laptop.


"Oh iya, Pak. Malamnya Anda ada undangan makan malam dengan salah satu relasi Anda."


Ammar tidak menghentikan kegiatannya, dia tetap fokus pada layar laptopnya. "Siapa itu?" Kata Ammar.


"Direktur Winstar.corp, Bapak Kevin Winata mengundang Anda untuk acara makan malam disebuah Hotel."


"Apa itu makan malam yang formal?"


"Tidak Pak, ini lebih kekeluargaan. Undangannya sudah saya letakkan dalam laci Anda, Pak." Jelas Karin.


Ammar mengangguk, "Baiklah, aku akan menyelesaikan pekerjaanku hari ini. Kau akan ikut dan siapkan semua berkasnya." Kata Ammar.


"Ba-baik, Pak." Jawab Karin.


"Ada lagi?" Ammar melirik Karin yang masih berdiri didepan mejanya.


"Apa Bapak akan menghadiri makan malam itu? Saya akan mengonfirmasi kehadiran Anda."


Ammar berpikir cepat, Kevin adalah sahabat Rey dan Doni. Istrinya adalah Desi yang juga sahabat dekat Joana. Pasti Joana juga akan datang kesana.


"Ya, aku akan datang." Jawabnya.


Karin mengangguk dan dia melanjutkan kegiatannya.


Mereka melakukan kegiatan sesuai dengan jadwal yang sudah Karin beritahukan sebelumnya. Menjelang sore, Ammar dan Karin kembali ke kantor.


"Pak, apa saya juga akan ikut ke jamuan makan malam itu?" Tanya Karin memastikan, jika Ammar mengatakan iya, maka dia sebagai wanita harus mempersiapkan penampilannya untuk malam ini. Tapi ternyata jawaban Ammar tidak sesuai dengan isi kepalanya.


"Tidak usah, aku akan kesana sendiri." Kata Ammar. "Kau pulanglah setelah jam kantor berakhir. Terima kasih sudah membantuku sepanjang hari."


Karin mengangguk, ida tidak ambil pusing karena dia juga tidak begitu berharap. Pertanyaannya tadi semata-mata sebagai tugas karena pekerjaannya adalah seorang Asisten Ammar, ia takut salah mengambil sikap jadi lebih baik bertanya-pikirnya.


Seperginya Karin, Ammar pun menelepon Joana untuk menanyakan perihal makan malam itu. Joana mengatakan akan kesnaa karena Desi mengundangnya. Ternyata, itu adalah undangan makan malam sekaligus pesta ulang tahun Desi.


"Baiklah kita akan pergi bersama-sama." Kata Ammar. Ammar memiliki rencana lain untuk malam ini. Dia tersenyum membayangkannya.


...Bersambung ......