
3 Bulan kemudian.
Tidak ada pertemuan lagi diantara Ammar dan Joana sejak malam itu. Joana seperti hilang entah kemana. Beberapa kali Ammar mencarinya ke tempat praktek, namun ternyata tempat itu telah berubah haluan dan digantikan oleh Dokter specialist Obgyn.
Ammar mendatangi Mansion keluarga Doni, dan Joana tidak ada disana. Bahkan Ammar mendengar kabar jika orangtua Joana telah kembali ke London sehari sebelum dia datang.
Ammar merasa bahwa Joana benar-benar menghindarinya dan memang menginginkan perpisahan ini.
Ammar tidak putus arang, dia mencari keberadaan perempuan itu di gedung Apartemen yang pernah Joana tinggali. Tapi ternyata Joana sudah lama tidak disana. Itulah yang Ammar tahu dari petugas kebersihan yang setiap hari membersihkan unit Apartemen itu.
Mungkin Joana telah kembali ke London ikut bersama kedua orangtuanya?
Ammar menjalani hari-harinya seperti biasa, tidak ada yang berubah, hanya hatinya lah yang sangat sakit. Dia mencoba kuat dan tidak mau hancur seperti saat kepergian Kinan dari hidupnya.
Mungkin nasibnya memang sebagai lelaki yang ditinggalkan?
Ammar tidak bersedih, tidak meratap tapi setiap malam dia merenung untuk memikirkan letak kesalahannya.
Setiap pagi, bahkan sebelum matahari naik ke permukaan, Ammar telah tiba dimakam Wina, mendiang istri pertamanya. Dia mendatangi makam itu, bercerita disana seolah-olah Wina mendengarkannya dari dalam tanah.
Siapapun yang melihatnya disana, barulah orang akan tahu bahwa dia sedang tidak baik-baik saja. Tapi, saat dia kembali pada rutinitasnya, dia akan bersikap biasa. Seolah-olah tidak mempunyai beban dan pikiran.
"Karin, setelah ini kau kemana?" tanya Ammar pada Asisten pribadinya itu.
Karin mengernyit heran, dia tidak pernah mendengar Ammar menanyakan hal semacam itu. Apalagi menyangkut tentang Karin sendiri.
"Sa-say akan kembali ke Apartemen saya, Pak." jawab Karin.
Ammar mengangguk.
"Naik apa?" tanyanya lagi, ekspresinya tidak terbaca, hanya datar seperti biasanya.
"Naik- taxi." kata Karin singkat.
"Baiklah, bereskan barangmu! Aku akan mengantarmu pulang." Ammar berdiri dan keluar dari ruangannya.
Karin terdiam, dia memikirkan sikap aneh Ammar. Sesungguhnya, Karin mengagumi Ammar karena jiwa kepemimpinannya. Selama dua bulan ini, diam-diam Karin memperhatikannya. Tapi, Karin tidak pernah mengetahui kehidupan pribadi Ammar. Walaupun dia adalah Asisten Ammar, tapi Ammar selalu mengaitkan Karin hanya dalam masalah pekerjaan dan tidak lebih.
Tawaran Ammar yang ingin mengantarkannya pulang, semacam angin sejuk yang menerpa dirinya, membuat ujung bibirnya tertarik keatas, Karin segera merapikan barang-barang bawaannya, lalu menyampirkan tas di bahu. Mengingat ucapan Ammar yang bagaikan titah dan tak mau dibantah.
"Masuklah." kata Ammar saat Karin sudah berdiri diambang pintu mobilnya. Entah apa yang ada dipikiran pria itu, tapi Karin merasa kali ini Ammar sudah mengistimewakannya.
Karin masuk dan memasang seatbelt, dia melirik Ammar yang juga sudah duduk dibalik kemudi.
"Dimana Apartementmu?" tanya Ammar, Karin pun memberikan sebuah alamat tujuan. Mobil Ammar segera bergerak dan melesat membelah jalanan.
Sesampainya di depan gedung Apartement itu, Karin mulai berusra, dia tidak tahan harus diam dalam keheningan selama perjalanan tadi.
"Terima kasih, Pak. Sampai disini saja." kata Karin sungkan.
Ammar mengangguk. "Apa boleh aku minum kopi di apartemennu?" tanya Ammar tanpa basa-basi. Karin melongo dengan mulut terbuka, dia sebenarnya ingin menawari hal serupa tapi tentu saja dia merasa tak enak hati untuk memulainya.
"Si-silahkan, Pak." kata Karin.
Mobil Ammar pun memasuki basement, mereka menaiki Lift sampai berhenti pada satu lantai yang merupakan letak unit Apartemen Karin berada.
Karin menekan passwordnya dan mempersilahkan Ammar masuk.
"Maaf jika keadaan disini tidak nyaman untuk Bapak." kata Karin sungkan.
Ammar hanya mengangguk sekilas dan Karin mempersilahkannya duduk.
"Saya akan buatkan kopi untuk Baoak." katanya.
Ammar mengiyakan dan mulai memeperhatikan dekorasi Apartemen sederhana milik Karin saat wanita itu pergi menuju dapur.
Apartemen Karin cukup luas walaupun tidak mewah, perlengkapannya rapi dan nampaknya dia memang wanita yang bersih.
"Ini, Pak. Silahkan diminum." kata Karin seraya meletakkan secangkir kopi diatas meja.
"Terima kasih." jawab Ammar, diapun meminum kopinya secara perlahan-lahan karena kopi itu masih panas.
Karin merasa keadaan menjadi akward. Dia bingung mau memulai pembicaraan dan dia heran mengapa Ammar mau bertandang ke Apartemennya.
Ammar nampak diam seraya sesekali menyesap kopinya, sepertinya dia amat menikmati kopi buatan Karin.
"Emm, Pak?" Karin mulai berkata-kata.
"Ada apa?" tanya Ammar.
"Kenapa Bapak mau berkunjung kesini?" tanya Karin ragu.
"Bu-bukan begitu, Pak. Tentu saja, tentu saja boleh." jawab Karin cepat.
"Lalu?"
"Ini tidak seperti Bapak yang biasanya." jelas Karin.
Ammar mengangkat bahu cuek. "Aku tidak tahu harus apa untuk mengalihkan pikiranku." jawabnya.
"Memangnya apa yang Bapak pikirkan?" tanya Karin penasaran.
Ammar menatapnya sambil terkekeh kecil. "Kau serius ingin tahu apa yang ku pikirkan?"
Karin mengangguk-angguk, dia termakan pesona Ammar yang baru saja tertawa dihadapannnya. Baru sekali ini dia melihat Ammar berekspresi demikian, selama ini Ammar terlalu serius dan datar, sehingga Karin sulit melihat wajahnya yang terkekeh.
Ammar tersenyum kecut. "Kau akan pusing jika mengetahui isi pikiranku." Ammar menunjuk kepalanya sendiri. "Disini, terlalu banyak isinya membuatku ingin meledak." kata Ammar.
Karin tersenyum mendengarnya. Dia tidak menyangka Ammar akan bersikap begini didepannya. Apalagi ini bukan percakapan mengenai pekerjaan. Membuat Karin bertanya-tanya dan penasaran siapa sosok Ammar yang sebenarnya.
"Boleh aku tanya padamu tentang sesuatu diluar pekerjaan?" tanya Amamr serius.
"Ya, Pak. Silahkan." jawab Karin mengizinkan.
"Aku penasaran kenapa kau berhenti dari pekerjaan lamamu, waktu aku tanyakan pada Heni, dia bilang itu masalah personalmu jadi dia tidak menjelaskan lebih lengkap. Ada apa?"
"I-itu karena saya mendapat pelecehan dari atasan saya." kata Karin seraya tertunduk.
"Oh.. maaf jika harus mengingatkanmu soal itu."
"it's oke, itu sudah berlalu." kata Karin singkat.
Ammar berdehem-dehem. "Apa kau tinggal sendiri disini?" tanya Ammar.
"Iya, Pak."
Ammar mengangguk. "Baiklah, kopinya sudah habis. Aku akan kembali. Terima kasih." kata Ammar seraya berdiri dari duduknya.
Karin mengangguk, dia pun berjalan mendahului Ammar, membukakan pintu keluar untuk sang Atasan.
"Pak.." panggil Karin saat Ammar baru saja melangkahkan kaki keluar dari pintu.
Ammar menoleh. "Ya?"
"Jika Bapak memiliki banyak pikiran dan tidak tahu mau kemana, Bapak bisa mampir kesini untuk sekedar minum kopi." tawar Karin dengan tatapan tertunduk.
"Aku akan memikirkannya." jawab Amamr. Ammar menepuk pelan pundak Karin dan berlalu dari sana.
Karin masih bergeming didepan pintu, tidak menyangka hal apa yang baru saja dia alami bersama Ammar. Ini semua diluar bayangannya. Dia memang pernah membayangkan dekat dengan Ammar, tapi rasanya tidak akan mungkin se-intens ini.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
"Apa kau sudah tahu keberadaannya?" tanya seseorang melalui sambungan telepon.
Ammar menghela nafas, "Aku tidak tahu. Aku benar-benar kehilangannya." jawab Ammar.
Lawan bicaranya segera menyahuti. "Apa yang akan kau lakukan selanjutnya jika dia tidak juga kau temukan?"
"Entahlah, Rey.. tapi aku selalu mengingat pesannya. Dia mau aku jadi lebih baik, tidak mengulangi kesalahan yang sama dan tetap menjaga anak-anakku." jawab Ammar.
"Aku mendukung hal itu, Kawan." kata Rey dari seberang sana.
"Aku harus bagaimana? Apa aku harus melenyapkan dia dari hati dan pikiranku? Rasanya tidak bisa." jawab Ammar gusar.
"Sebaiknya kau istirahat dari rutinitasmu. Ajak anak-anak berlibur, mungkin itu akan membantumu agar tidak stress." saran Rey.
"Aku akan memikirkannya. Apa Kinan benar-benar tidak tahu keberadaan Joana?"
"Kinan dan yang lain seperti terkena imbas karena ulahmu, mereka juga tidak tahu keberadaan Joana dan tidak mendapat kabarnya lagi." ejek Rey.
"Ya, sampaikan maafku pada mereka semua." jawab Ammar. "Tapi mustahil jika Sinta dan Doni tidak mengetahui dimana Joana. Mereka pasti sengaja menyembunyikannya dariku." tambah Ammar.
"Maybe, sudahlah. Tapi, apa kau tidak bisa berpindah ke perempuan lain saja?" saran Rey, lebih tepatnya menggoda Ammar.
"Sialann!" umpatnya. "Kau pikir semudah itu! Aku menjalin hubungan dengan Joana bukan main-main!!! Aku serius dengannya dan tiba-tiba dia menghilang. Kau pikir aku remaja yang hanya menganggap itu sebuah selingan?" Ammar merutuki Rey habis-habisan.
Rey terkekeh diseberang sana. "Ya, ya, ya. Nampaknya kau memang butuh liburan." jawabnya dan Ammar hanya membalas dengan kekehan sumbang.
...Bersambung ......