How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Nyuk, Nyet, Dal..



"Mas Rey, tolong aku..." Kinan berlari-lari sambil menjerit ketakutan. Ia tersauk-sauk diantara semak belukar, kakinya yang tanpa alas beberapa kali tertusuk duri dan ia meringis menahan perih.


Kinan berlari semakin tak tau arah, berkali-kali menjerit memanggil Rey.


"Mas, tolong aku mereka akan mencelakai bayiku!" Kinan menangis karena ia tak sanggup lagi berlari. Ia merangkak mencari jalan keluar dari tempat itu. Kinan memegangi perutnya yang sudah mulai nampak membesar.


"Aku tidak akan menyerah!" Ucap Kinan sambil mencoba berdiri, kini ia diantara ranting-ranting yang patah, tanpa ia sadari ddidepan ranting-ranting itu sudah tak terdapat jalan setapak lagi. Kakinya mencari-cari pijakan, namun ia yang tak seimbang terjatuh dan terperosok masuk kedalam jurang yang dibawahnya terdapat banyak ular yang haus darah.


"Kinan!!!!!!!!" Rey terperanjak dari tidurnya, keringat membasahi pelipisnya. Ia terengah-engah menyadari yang baru saja ia alami adalah sebuah mimpi buruk. Rey menenggak segelas air putih yang ada diatas nakas. Jantungnya masih berdetak kencang dan tak bisa dikendalikan. Secepat kilat, Rey bangun dari tempatnya dan menuju kamar mandi diujung kamar. Ia mencuci wajahnya di wastafel.


"Kenapa aku selalu bermimpi buruk tentangmu? Apa kau baik-baik saja?" Rey menggeleng pelan. "Tidak, ini hanya karena aku terlalu khawatir padamu. Kau pasti baik-baik saja." Rey meyakinkan dirinya sendiri didepan cermin yang memantulkan bayangan dirinya diatas wastafel itu.


Rey mengatur nafas dan keluar dari kamar mandi. Melirik jam di dinding dan memutuskan mengganti bajunya yang telah basah oleh keringat akibat mimpi buruk sialaan. Bukan sekali dua kali ia bermimpi hal buruk mengenai Kinan. Setelah beberapa bulan berlalu, ia masih saja memimpikan wanita itu. Bagaimana mungkin Papanya meremehkan perasaannya ini. Ia bahkan sulit melupakan Kinan walau dalam tidurnya.


Setelah mengganti kaos yang ia kenakan dengan kaos lainnya, Rey kembali mencoba untuk memejamkan mata, tapi tetap tak bisa. Apalagi setelah mengalami mimpi buruk seperti tadi, ia selalu sulit untuk tertidur lagi.


Rey bangkit dari posisinya, ia duduk sambil meletakkan kedua lengan di pangkuannya. Ia menghela nafasnya sejenak sembari menghembuskannya perlahan seperti tengah memikul beban yang sangat berat. Mencengkram kepala yang terasa berat akibat permasalahan yang ia alami.


"Arkkkhh!" Rey menyugar rambutnya dengan kasar.


"Kinan, aku merindukanmu. Ini sudah terlalu lama!" Rey bersuara, berucap pada dirinya sendiri. Hampir tiga bulan ia tak bertemu Kinan tapi ia sudah merasa ini sangat lama. Bagaimana mungkin ia harus menurut pada sang Ayah yang menunda pertemuan mereka tanpa kepastian yang jelas kapan dan berapa lama lagi. Jika itu sampai bertahun-tahun bagaimana? Rey tak mau menjadi bodohh seperti itu. Hanya menunggu? Rey berdecih mengingat hal konyol itu. Sudah cukup dia menurut beberapa bulan belakangan ini.


Rey melirik jam di dinding kamar lagi, ini sudah cukup larut dan ia belum juga bisa tertidur kembali. Rey mengambil ponsel dan mengecek jadwal keberangkatan menuju kota London, ia akan mengatur jadwal agar bisa segera kesana. Perjalanan dari Seoul ke London sangat lama, setengah hari atau 12 jam lebih. Rey harus pandai mengatur waktu agar ia tiba di ibukota Inggris itu dengan tak menimbulkan kecurigaan dari Papanya.


Setelah mensurvei Pabrik tadi siang, Rey sudah mengantongi beberapa hasil atas tinjauannya di lokasi Pabrik. Semua itu cukup untuk sebuah laporan. Dan sebenarnya semua telah selesai Rey urus bersama Siska. Hanya hal kecil yang ia lebih-lebihkan di hadapan Papanya agar ia bisa pergi meninggalkan Indonesia.


Rey tengah berfikir, apakah ia berangkat besok saja ke London? Tapi, waktu tadi Rey menceritakan pada Siska tentang keinginannya itu, Siska malah menyarankan agar Rey menunda dulu keberangkatannya hingga lusa. Papa Rey pasti akan mengecek keberadaan Rey esok hari padanya.


Rey menggeleng. "Gak, gue gak bisa nunda lagi. Gue harus sampai disana secepatnya." Batin Rey.


"Bukankah kak Siska sudah bersekongkol denganku? Inilah saatnya dia harus membantuku di hadapan Papa." Rey tersenyum miring membayangkan sang kakak yang akan gelagapan ketika ditanyai Papanya nanti.


___


Joana tersenyum pada pasiennya hari ini. Bukan senyuman seperti biasanya, tapi ini lebih kepada senyuman yang terlihat sungkan dan terkesan dipaksakan.


Mereka baru saja selesai terapi dan Joana menyelesaikan sesi pengobatannya itu dengan berbicara hal ringan pada Kinan. Kinan pun dengan ragu mulai bercerita tentang ke-tidak-nyaman-an-nya atas kedatangan Doni tempo hari ke kediamannya. Itulah penyebab awal Joana tersenyum sungkan menatap Kinan sekarang.


"I'm so sorry, aku tidak menyangka jika Doni sampai datang kesini kemarin." Ucap Joana pada Kinan. Sesekali ia menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang tengah menahan malu akibat ulah sepupunya itu.


"Tak apa, Jo. Doni mungkin butuh teman untuk menemaninya. Dia juga bukan orang asli London, kan? Pasti dia tidak memiliki banyak teman disini, makanya dia mengajakku jalan-jalan." Ucap Kinan.


Joana meremass jemarinya sendiri yang sedari tadi ia letakkan dipangkuannya. Bagaimana mungkin Doni bisa datang kerumah Kinan bahkan mengajak Kinan jalan-jalan?


"Oh my... Doni bukan tidak punya teman disini, temannya cukup banyak dan sangat banyak apalagi untuk kalangan wanita." Pekik Joana hanya dalam hatinya saja. Ia menjadi serba salah dihadapan Kinan.


"Sudahlah, Jo. Jangan terlalu dipikirkan. Aku mengatakan padamu tentang kedatangan Doni kesini hanya agar kau memberitahunya untuk jangan mengulangi hal itu lagi." Kinan menepuk pelan punggung tangan Joana. "Kau kan yang paling tau trauma-ku terhadap lelaki." Kinan tersenyum tipis.


Joana mengangguk. "Aku akan berpesan padanya. Dan dia memang harus jaga jarak padamu!" Ucap Joana. Jauh dalam lubuk hatinya, ia sangat murka karena Doni menjadikan Kinan sebagai target bermainnya. Joana amat malu pada Kinan atas tingkah Doni.


"Awas saja kau, Don!" Batin Joana.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


"Nyuk, lo dimana?" Tanya Kevin melalui sambungan Video Call.


"Gue di Seoul. Kerja, Nyet!" Jawab Rey tak mau kalah.


"Pantesan. Tega lo ya pergi gak bilang-bilang gue!" Kevin terlihat merengut dari layar ponsel.


"Elahh... Lo siapa? emak gue? pacar gue? bukan kan? kenapa juga gue harus bilang-bilang sama lo!" Jawab Rey dengan kekehan diujung kalimatnya.


Kevin yang melihat Rey terkekeh ikut tertawa, karena memang itu tujuannya. Ia sudah lama tak melihat Rey tertawa seperti ini.


"Eh, bentar Nyet! Gue telpon juga si Kadal ya." Rey mulai menekan-nekan gadget yang tengah ia pegang. Lalu menyambungkan panggilan ke nomor Doni.


Kini, terpampanglah wajah tiga sekawan itu dalam satu layar datar.


"Apa?" Suara Doni dari seberang sana. Ia tampak mengucek mata, sepertinya sedang tidur ketika Rey dan Kevin melakukan panggilan video.


"Ganggu aja lo pada, gue lagi enak-enak mimpi juga!" Omel Doni.


Sontak saja Rey dan Kevin terkekeh. Ketiganya sedang berada di Negara yang berbeda-beda, pasti perbedaan waktu membuat ketiganya tidak berada di keadaan yang sama.


"Ngapain lo ke London?" Tanya Kevin dan Doni kompak.


"Gue? Ya mau ketemu Kinan lah." Jawab Rey percaya diri.


"Gue pikir lo udah gak peduli sama Kinan." Ucap Kevin.


"Gue cuma mau nunjukin sama bokap kalo gue serius kerja, tapi nyatanya gue gak bisa lupain dia gitu aja, Nyet!" Rey menatao wajah Kevin yang tengah mengangguk, sedangkan Doni terdiam.


"Lo kenapa diem, Dal? Gak tidur lagi kan lo? Lo jemput gue nanti di Bandara ya!" Lagi-lagi Rey menatap layar yang menampilkan sosok Doni tengah terdiam.


"Lo kalo ke London mau ketemu Kinan doang, bagusan gak usah deh, Nyuk!" Suara Doni akhirnya terdengar setelah diam beberapa saat tadi.


"Kenapa?" Kini giliran Kevin dan Rey yang serentak bertanya.


"Hum.. Dia udah punya suami di London." Ungkap Doni dengan wajah prihatinnya.


"Tau dari mana lo?" Suara Rey meninggi.


"Dia sendiri yang bilang waktu gue ajakin jalan-jalan..Upss!" terlihat Doni membungkam mulutnya sendiri yang keceplosan.


"Lo ngajakin dia jalan-jalan?" Kali ini suara Rey makin naik satu oktaf. Ia melotot ke arah ponselnya, agar Doni melihat wajah marahnya itu. Terlihat Doni menggaruk kepalanya sendiri dan Kevin tengah menahan tawa melihat Rey dan Doni.


"Lo tunggu gue disana! Jangan berani main belakang lo!" Ucap Rey seraya memutus panggilan Video mereka bertiga.


.


.


.


Bersambung...


INI AKU KASI VISUAL MEREKA SEMUA YAH... YUK TINGGALKAN KOMENTAR KALIAN...HIHIHI LIKE, KOMEN, VOTE DAN HADIAH...SEMUA SANGAT BERARTI BUAT KARYA INI... ❤️❤️❤️❤️


Kinanty Andari.



Reyland Denizer.



Ammar Sadin.



Shirly Irawan.



Kevin Winata.



Desi Santika.



Doni Geraldo.



Mona Aiko.



Joana Veron.