
"Pa, biar mama saja yang menemui Rey!" Mama Rey mencoba membujuk suaminya yang sudah hendak beranjak menyusul Ammar yang sudah menunggu diluar rumah. Mereka sepakat untuk pergi bersama dan menemui Rey di Villa milik Harun Winata, ayah Kevin.
Papa Rey menatap istrinya. "Aku juga malas mengurus hal ini. Tapi kau sendiri yang mengatakan bahwa dia adalah anak kita. Untuk itulah aku harus menemuinya kali ini!" Ucap sang suami.
"Tapi Pa, aku tidak mau sampai ada kekerasan. Baik itu dari mu ataupun dari lelaki tadi!" Mama Rey menahan sesak membayangkan hal yang akan terjadi pada Rey.
"Aku mungkin tidak akan menyentuhnya, tapi lelaki bernama Ammar itu berhak memukul Rey. Ayolah, kau pasti paham tindakan Rey memang sudah kelewatan!"
"Tapi kita tidak tau alasan kenapa Rey melakukan hal nekat seperti ini, Pa!"
"Apapun alasannya, Ammar itu tetaplah suami dari wanita yang Rey bawa kabur! Aku juga akan memukul lelaki yang dengan beraninya membawa kabur istriku!" Papa Rey tersenyum sarkas.
Mama Rey berdecak kesal. Ia tahu perbuatan Rey memang salah. Tapi nalurinya sebagai seorang ibu tetap saja tidak terima jika ini harus diselesaikan dengan kekerasan.
"Kalau begitu, aku ikut untuk bertemu dengan Rey. Sekalian aku ingin melihat wanita itu!" Usul mama Rey sedetik kemudian.
Mama Rey berusaha mengejar langkah suaminya yang lebar. Ia memasuki mobil tanpa menunggu persetujuan dari sang suami
°
Selepas kepergian Taxi Kinan, orang yang sudah diduga Rey akan datang pun tiba. Rey menghembuskan nafas lega karena Taxi yang membawa Kinan sudah pergi dari Villa saat kedatangan mereka. Bahkan Rey pikir, Taxi itu pasti berselisih jalan dengan dua mobil yang kini berada dihadapannya. Rey tahu jelas siapa yang berada didalam mobil MPV itu, itu pasti Papanya. Dan dimobil yang satunya, Rey memastikan itu adalah mobil milik Ammar.
Rey menatap dan menunggu sang empunya masing-masing keluar dari mobil. Tentu saja yang pertama keluar dari balik kemudi adalah Ammar. Kemudian Papa Rey ikut keluar dari balik kursi penumpang, setelah pintu mobilnya dibukakan oleh supir pribadinya. Rey tersenyum miring, tapi senyumnya perlahan pudar karena ia tak menyangka bahwa mamanya juga ikut datang.
Rey dan Mamanya saling pandang seolah dapat berbicara melalui tatapan mata. Mama Rey seperti berkata 'Ada apa ini, nak?' Rey membalas tatapan tanya mamanya itu dengan gelengan samar. Sampai suara Ammar memecah keheningan yang sempat tercipta.
"Sebenarnya kau ada masalah apa denganku? Kenapa kau memancing amarahku?" Ammar langsung mencecar Rey dengan pertanyaan menohok.
Rey hanya tersenyum sarkas sambil mengangkat sebelah alisnya melihat raut emosi diwajah Ammar.
"Dimana Kinan, Hah?"
"Dia tidak ada disini!" Jawab Rey dingin.
"Kau jangan bercanda!" Suara Ammar terdengar semakin tinggi, tangannya mengepal siap meninju wajah Rey yang masih berada cukup jauh dari posisinya.
"Ada baiknya kita bicarakan ini didalam saja!" Saran Mama Rey, mencoba memotong keadaan yang mulai memanas. Papa Rey bersikap acuh dengan kejadian yang ada didepan matanya, ia melangkah masuk menuju kedalam Villa. Ia jelas tahu, ia tak bisa mengambil langkah gegabah dengan membiarkan amarah Ammar memuncak dihalaman Villa. Bisa saja itu akan menghancurkan reputasinya jika ada yang melihat bahkan merekam kejadian itu.
Rey mengikuti Papa dan mamanya yang sudah berjalan masuk, ia pun berjalan santai seperti tiada beban. Nampak jelas, sikapnya tak jauh berbeda dengan sang ayah. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, yah istilah itu memang cocok untuk ayah dan anak ini.
Ammar dengan berat hati pun ikut melangkah masuk.
°
"Saya harap kita bisa membicarakan ini dengan kepala dingin. Rey, panggil wanita itu Nak!" Suara wanita yang tak lain adalah Mama Rey itu terasa mendominasi ruangan.
Rey menggeleng. "Dia tidak ada disini, Ma!" Jawab Rey pelan.
Lagi-lagi Ammar murka mendengar pernyataan Rey. "Kau jangan menipuku! Aku sudah tahu istriku ada bersamamu!"
"Lo bilang dia Istri lo?" Rey balik bertanya pada Ammar.
"Istri yang lo buang di Rumah Sakit Jiwa?" Tanya Rey lagi.
"B*j*ngan kau! Aku tidak pernah membuang istriku!"
"Tapi kenyataannya dia ada disana!" Jawab Rey sedikit angkuh.
"Itu karena dia sakit!"
"Lo lupa, gue pernah menyarankan, agar membawa Kinan ke Psikiater? lo sendiri yang menjawab bahwa Kinan tidak gila. Kenapa kenyataannya lo malah menjebloskannya ke RSJ?"
Ammar bergeming. Ia terdiam seolah terbungkam oleh ucapan Rey.
"Atau sebenarnya lo yang Gila!" Sambung Rey lagi dengan nada mengejek.
"Diam kau! Sekarang dimana Kinan? Aku butuh jawaban soal itu!"
"Gue nggak akan mempertemukan lo dengan Kinan!"
"Br*ngsek kau!" Ammar bangkit hendak memberi tinjunya pada Rey. Namun, kepalan tangannya dengan sigap ditahan oleh tangan Papa Rey.
"Cukup!" Ucap lelaki setengah baya yang masih bugar diusianya itu.
"Rey, dari jawabanmu berarti wanita itu ada bersamamu kan?" Kali ini Papa Rey yang menanyai anaknya.
Rey mengangguk mantap.
"Untuk apa Rey? Papa sudah mewanti-wantimu soal ini! Dan kau malah memlilih melakukan hal gila ini daripada menuruti orangtuamu!"
"Aku punya alasan, Pa!"
"Apa? Apa alasanmu?"
"Kinan, dia--" disaat bersamaan, mulut Rey terasa kaku tak bisa menjelaskan tentang dosanya didepan orangtuanya dan Ammar.
"Apa Rey?" Kini suara mama Rey yang menuntut jawaban dari anaknya.
"Rey mencintai Kinan, ma!" Jawab Rey sungguh-sungguh, ia selalu tak bisa membohongi wanita yang melahirkannya itu.
Papa dan Mama Rey terperangah. Sementara Ammar dengan sigap bangkit dan
Bug!
Akhirnya satu pukulan keras dari tangan kanan Ammar mendarat diwajah Rey. Pukulan yang dari tadi sudah ditahannya. Rey pun refleks menyeka darah segar yang keluar diujung bibirnya setelah pukulan itu terjadi. Rey tersenyum miring menatap Ammar.
Mama Rey menenggelamkan wajah dipelukan suaminya, tak kuat melihat Rey yang dipukul Ammar.
"Lo pukul aja gue sampe lo puas! tapi setelah itu, lo harus lepasin Kinan buat gue!" Jawaban Rey yang menantang semakin menyulut emosi Ammar.
Bug! Bug!
Dua pukulan Ammar layangkan lagi kepada Rey. Satu dipipi dan satunya lagi di perut Rey. Rey mengaduh dalam hati seraya menahan bekas pukulan Ammar di perutnya. Namun, ia tetap memasang wajah dingin sambil tersenyum miring menatap rivalnya.
"Jangan mimpi kau! sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan istriku untukmu!" Ketus Ammar.
"Rey, berhentilah, Nak!" suara Papa Rey terdengar mengiba pada anaknya. Tak seperti biasanya. Rey paham Papanya kini sudah tak tahu harus berkata apa lagi.
Rey menggeleng. "Tidak, Pa! Aku tidak akan berhenti sebelum Kinan yang memintaku untuk berhenti!" Jawab Rey.
"Dimana Kinan? biar aku yang memintanya untuk ikut denganku!" Ammar mencoba mengabaikan ucapan Rey. Ia ingin fokus terhadap Kinan.
Rey berdecak. "Kau tidak mencintainya, jangan paksa dia untuk mencintaimu!" Jawab Rey dengan formal. Ammar menatap Rey dengan tajam.
"Kau tau, Kinan mencintaiku!" sambung Rey lagi dengan nada sombong.
"Oh ya? Tapi sayang sekali, dia sedang mengandung anakku!" Jawab Ammar langsung.
Deg!
Seketika itu juga, wajah Rey berubah pias. Jantungnya serasa melemah. Kenyataan memang Kinan tengah mengandung. Dan Rey belum bisa memastikan itu anaknya atau bukan. Kini, Ammar malah mengatakan bahwa Kinan mengandung anak Ammar. Rey terdiam seribu bahasa padahal awalnya dia sangat angkuh mempertahankan dan membanggakan cinta Kinan.
"Aku yakin kau juga tau istriku tengah mengandung anak kami!" Ucap Ammar lagi. Ia memandang remeh wajah Rey yang pucat pasi akibat ucapannya tadi.
Mama Rey sampai menitikkan air matanya, ia terduduk disamping suaminya yang juga mati kata. Padahal biasanya sang suami sangat mudah menjawab. Tapi kini, mereka bertiga terdiam mendengar ucapan Ammar.
"Kenapa kau harus mencintai istri orang lain, Nak? Kau membawanya bersamamu dalam keadaannya yang tengah hamil." Batin Mama Rey berkata-kata.
"Rey, setelah ini pulanglah! Papa dan mama menunggumu dirumah!" Papa Rey bangkit dari posisinya dan menuntun istrinya keluar, mereka tak sanggup lagi melihat Rey yang sudah salah melangkah dan salah mengambil keputusan. Terutama, Rey juga telah salah jatuh cinta.
Orangtua Rey memutuskan untuk pulang, karena mereka pun tak tahu harus menjawab apa pada Ammar. Posisi yang paling salah tetaplah anak lelaki mereka itu.
Ammar memandang Rey, sekarang ia mengeluarkan senyum miringnya yang bengis.
"Ayo tunjukkan dimana istriku?" Tuntut Ammar.
.
.
.
.
Bersambung...