How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Kata maaf



Happy Reading..πŸ’•


________________


"Lalu kapan kita menikah?" Doni menatap mata bening Sinta yang juga tengah menatapnya.


"A-aku tidak mau membahas itu. Y-yah..menurutku itu tidak penting." Seulas senyum simpul coba ditampilkan oleh gadis itu, seolah bersikap baik-baik saja.


"Ck..tidak penting katamu? Jadi waktuku yang terbuang selama ini untuk mencarimu kemana-mana juga tidak penting?" Doni menggelengkan kepalanya, merasa tidak habis pikir dengan jawaban Sinta.


Sinta terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa lagi. Ia kehabisan kata-kata dan ia benar-benar belum menyiapkan jawaban untuk pertanyaan Doni. Ditambah lagi sebenarnya ia tidak siap harus bertemu Doni hari ini dan sedekat ini.


"Ayolah, Sin. Apa kamu memang berpikir jika aku tak sepenting itu? Kamu mau kabur sampai kapan? Mau sampai kapan kamu menganggapku bersalah?"


"Aku sudah jelaskan waktu itu bukan? Aku sama sekali tak bersalah disini. Sikapku memang seperti itu tapi itu bukan berarti aku adalah laki-laki yang tak baik." Doni memukul-mukul pelan setir yang berada dihadapannya sebagai bentuk kekecewaannya.


"Laki-laki yang baik bukan yang suka mempermainkan wanita." Jawab Sinta dengan nada datar.


"What? Aku mempermainkan wanita katamu?" Doni tersenyum miring. "Coba katakan wanita mana yang ku permainkan? Selama ini aku hanya berteman dengan mereka dan jika ada yang berakhir di tempat tidurku itu hanya hubungan satu malam yang akan berakhir di pagi harinya. Itupun karena wanita itu juga sudah setuju dan bukan karena paksaan. Salahnya dimana?" Doni bergumam namun tetap ucapan itu didengar Sinta.


"Wanita yang kamu permainkan bukan wanita-wanita yang tidur denganmu! Aku juga tahu itu terjadi karena kemauan bersama. Tapi, jika kamu menganggapku tunanganmu, lalu kenapa kamu sanggup melakukan hal itu padahal status kita sudah bertunangan? Wanita yang kamu permainkan itu sudah jelas adalah aku." Sinta menatap tajam ke arah Doni.


"Ku pikir dengan aku pergi.. kamu bisa sadar, tapi ternyata kamu semakin parah!" Lanjutnya seraya ingin keluar dari mobil yang belum juga bergerak sedari tadi.


"Tunggu, Sin!" Doni menahan tangan Sinta yang menekan tuas untuk membuka pintu mobil.


"Apa? Kamu ingin memperlakukanku sama seperti teman-teman wanitamu? Apa kamu pikir aku mau berakhir ditempat tidurmu seperti mereka? Lalu bangun di esok hari dengan status dsn keadaan yang sudah berbeda?"


Doni tertunduk, ia menghela nafasnya pendek-pendek. Bagaimana pun, bicara dengan Sinta harus dengan akal sehat. Jika ia juga emosi maka semuanya akan semakin runyam.


"Dengar, walaupun status kita bertunangan. Jangan samakan aku dengan teman-teman wanitamu!" Tambah Sinta.


"Ya aku mengerti. Aku juga tidak pernah memaksamu, bukan?"


Sinta menaikkan kedua bahunya tak acuh. Sekali lagi ia ingin keluar dari mobil itu. Ia sedikit kecewa karena sampai detik ini Doni belum juga mengucapkan kata maaf, padahal hanya kata maaf yang ingin ia dengar dari lelaki itu dari dulu. Tapi kenapa sangat sulit untuk Doni mengakui kesalahan dan hanya berucap maaf? Seberapa tinggi sebenarnya harga diri dari seorang Doni-sang penakluk wanita-yang ia kenal ini.


"Aku minta maaf. Bisakah kita memulai semuanya dari awal?" Seolah mendengar jeritan hati gadis itu, ucapan Doni berhasil menghentikan gerakan kaki Sinta yang ingin menuruni mobil. Sinta menatap Doni yang fokus menatap lurus kedepan.


"Apa aku tidak salah dengar?" Sinta menutup mulutnya seraya menutup kembali pintu mobil.


"Maaf...aku tahu kelakuanku kadang keterlaluan." Suara Doni terdengar lirih. Sebaiknya kali ini ia memang menurunkan tingkat harga dirinya didepan gadis yang sudah kabur darinya ini.


Mungkin hari ini adalah jawaban yang selama ini Sinta tunggu. Hampir satu tahun ia pergi meninggalkan Doni karena ia tak sanggup melihat kelakuan tunangannya itu. Mereka tidak pernah berpacaran sebelumnya, tapi Sinta cukup sakit hati memergoki Doni yang berstatus sebagai tunangannya pergi bersama teman-teman wanitanya dan saat disalahkan Doni tak mau mengakui kesalahan malah ia menganggap itu hal sepele dan wajar. Sinta hanya menuntut kata maaf dari Doni tapi ia tak pernah mendapatkannya dari dulu.


Kepergian Sinta-lah yang membuat Doni tersadar, bahwa ia telah memiliki rasa lebih terhadap gadis itu dan kali ini ia rela mengucapkan kata maaf. Mungkin ia memang bersalah, mungkin memang kelakuannya tak bisa diterima oleh Sinta dan mungkin saat inilah awal mula ia harus merubah kebiasaan itu.


"Aku mau kita menjalin hubungan yang baik. Kata maafku mungkin bisa mengawali hubungan baik itu?" Ucap Doni serius.


"Kenapa?"


"Apanya yang kenapa?"


"Kenapa baru sekarang kamu mengucapkan maaf? Seandainya kamu mengucapkannya lebih cepat, mungkin aku tidak perlu pergi terlalu jauh dan terlalu lama." Tiba-tiba Sinta terisak, ia menghabiskan banyak waktu, uang dan perasaan untuk menunggu ucapan maaf dari Doni.


"Benarkah kamu hanya menunggu aku mengucap kata maaf?" Alis tebal lelaki itu tertaut satu sama lain. Ia keheranan.


Sinta mengangguk seraya menghapus airmatanya sendiri.


"Shhh.. Sudah jangan menangis. Aku minta maaf jika membuatmu lama menunggu kata maafku. Aku minta maaf. Maaf.... Aku pikir selama ini aku tidak berarti untukmu." Doni merangkul Sinta dan mencoba menenangkan gadis itu. Sekarang barulah kata maaf berulang kali terlontar dari mulutnya.


"Aku sudah menurunkan harga diriku. Aku rela mendapat barang bekas sepertimu. Padahal aku seorang Dokter yang seharusnya menjaga diri baik-baik supaya tidak terkena penyakit *******. Tapi demi kamu, aku harus menunggu dengan tersiksa dan itu sangat lama. Bisa-bisanya kamu berfikir bahwa selama ini kamu tidak berarti dimataku." Sinta mengoceh sambil memukuli dada Doni.


Doni terkekeh. Apalagi mendengar ucapan Sinta soal barang bekas yang menyindir Doni. Doni begitu bodoh membuat Sinta pergi selama ini, padahal jika saja sedari awal dia langsung mengucapkan kata maaf, mungkin gadis itu akan memaafkannya dan mereka tak perlu berpisah begitu lama.


"Baiklah setelah ini aku akan meminta keluarga kita untuk pulang kesini dan kita akan menikah secepatnya. Bagaimana?"


Sinta tidak menjawab dengan kata-kata tapi Doni merasakan gadis itu mengangguk dalam pelukannya. Ia mengembangkan senyum, tak menyangka Sinta sebenarnya cepat luluh dan yang paling tak disangkanya adalah gadis itu juga menunggunya selama ini. Apakah ini berarti perasaannya tak bertepuk sebelah tangan?


"Apa kamu benar-benar mau menikah denganku?" Doni mengambil wajah Sinta dan menangkupnya dengan kedua tangan.


"Apa itu masih perlu ku jawab? Justru aku tidak yakin kalau kamu mau menikah. Apa kamu bisa hidup dengan satu wanita saja?" Ucap Sinta dengan nada meremehkan.


"Untukmu, aku akan berusaha melakukannya."


...Tok tok tok!...


Suara ketukan di kaca mobil membuyarkan semuanya. Doni menggeram dalam hati. Siapa gerangan yang mengganggu kesenangannya malam ini.


"Tuan apa mobilnya bisa digeser sedikit? Mobil yang di belakang mau lewat!" Ucapan lelaki itu membuat mata Doni terbelalak. Bukan karena permintaannya, tapi karena yang Doni hadapi sekarang adalah seorang Kevin yang tengah menggodanya.


"Bangkeee!" Doni menunjukkan kepalan tangannya kearah Kevin dan disambut dengan kekehan pemuda itu.


"Sorry, bro! Serius ini mobil gue mau keluar. Gak pulang lo pada?" Celetuk Kevin santai seraya menaiki kursi pengemudi di mobilnya sendiri.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Beberapa bulan kemudian, Rey dengan telaten mengemasi barang-barang milik Kinan kedalam sebuah tas. Kinan sudah berulang kali mencegahnya tetapi lelaki itu tetap kekeh agar bisa menyiapkan semua keperluan melahirkan istrinya nanti dengan tangannya sendiri.


"Mas, itu semua biar Mbak Isna yang menyiapkannya." Pinta Kinan pada Rey yang tengah duduk bersila sambil melipati pakaian-pakaian bayi mereka. Mbak Isna adalah Asisten Rumah Tangga yang beberapa bulan belakangan dipekerjakan untuk bersih-bersih dan ikut menemani Kinan dirumah baru mereka.


"Aku mau menyiapkannya sendiri." Selalu jawaban itu yang Kinan terima dari mulut suaminya. Rey selalu antusias jika menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan bayi dikandungan Kinan.


"Sayang, kamu rasa anak kita perempuan atau laki-laki?" Tanya Rey.


"Aku tidak tahu, Mas. Kita akan melihatnya nanti jika dia sudah lahir." Kinan mengelus-elus perutnya yang membuncit. "Memangnya kamu mau anak laki-laki atau perempuan?" Tanya Kinan kemudian.


"Apa saja. Yang penting anakku nanti ada segini...." Rey berujar dengan menunjukkan sepuluh jarinya kehadapan Kinan.


Kinan menelan ludah dengan susah payah. "Serius kamu? Yang bener aja deh, Mas!" Kinan memutar bola matanya.


"Serius lah! Aku gak mau anak aku nanti seperti aku. Kesepian. Gak punya saudara. Hanya semata wayang itu gak enak, Sayang."


"Ya tapi gak sampe sepuluh juga, Sayang." Jawab Kinan lembut. Ia ikut duduk disamping Rey, dilantai yang hanya beralas karpet.


"Aku mau sepuluh. Aku akan usaha dan giat untuk membuatnya." Rey menatap ke arah istrinya dengan tatapan lapar.


"Dih!" Kinan langsung memukul lengan Rey karena mengetahui pikiran nakal suaminya.


"Hahahaa.." Rey terkekeh, tiba-tiba matanya melihat kaki istrinya yang mulai membengkak.


"Sayang, coba lurusin kakinya. Sini biar aku pijitin!" Rey ikut membantu memposisikan duduk Kinan agar istrinya itu merasa nyaman. Kemudian ia memijit betis dan kaki Kinan.


"Sayang, maaf ya. Gara-gara mengandung anakku kaki kamu jadi bengkak. Pasti kamu capek dan ini pasti sakit." Gumam Rey seraya memijat pelan. Sesungguhnya ia prihatin melihat kaki istrinya itu dan tak mau menunjukkan raut sedih, karena Kinan akan marah. Tapi tetap saja ia tak bisa.


"Sayang, ini gak apa-apa. Gak sakit juga. Malah kaki aku jadi lucu gitu." Ucap Kinan seraya tersenyum cerah. Ia menikmati masa-masa kehamilannya. "Oh iya sayang, besok kita kan harus datang ke pernikahan Kevin dan Desi." Kinan langsung mengalihkan perhatian suaminya agar tak terlihat sedih lagi.


"Hmm..Besok kita diantar supir saja, ya! Biar aku bisa fokus jagain kamu." Jawab Rey.


"Oke baiklah." Jawab Kinan cepat.


Mereka larut dalam pembahasan mengenai pernikahan Kevin dan Desi yang akan dilaksanakan besok disalah satu hotel ternama di kota mereka.


"Aku udah siapin hadiah special untuk mereka." Ucap Rey dengan senyuman penuh maksud.


"Apa itu?" Kinan menangkap raut wajah Rey yang aneh.


"Ada lah."


"Jangan yang aneh-aneh ya, Mas!" Tebak Kinan.


Rey terkekeh karena rencananya yang belum berjalan sudah terbaca oleh sang Istri.


.


.


.


.


Bersambung...


Minta vote di hari Senin, dong.....πŸ™πŸ™