
Mansion utama kediaman keluarga Doni tampak senyap, hanya beberapa pelayan yang terlihat kesana-kemari melakukan pekerjaan mereka masing-masing. Doni yang memang pulang ke Indonesia khusus untuk hadir di acara pernikahan Rey beberapa minggu lalu pun, belum berniat kembali ke London lagi walaupun sebagian besar keluarganya masih berada disana.
"Kau yakin tidak mau ikut pulang ke London bersamaku?" Tanya Joana yang sedang mengemasi barang-barangnya.
"Aku malas. Biar saja Mami dan yang lainnya yang akan menyusulku pulang ke Indonesia." Ucap Doni tak acuh, ia masih sibuk dengan game di ponsel yang ia pegang.
"What ever." Ujar Joana cuek, ia memanyunkan bibirnya seraya mengangkat bahu.
Suara bel terdengar, Doni masih sibuk dengan kegiatannya. Joana bangkit berdiri ingin membukakan pintu. Tapi, Mansion keluarga Doni terlalu luas sehingga sebelum ia mencapai pintu, tampak seorang pelayan dari arah depan sudah menyapanya.
"Nona, diluar ada tamu ingin bertemu dengan Tuan Doni." Ucap Pelayan itu.
"Siapa?" Tanya Doni tanpa menoleh dan tetap fokus pada game-nya.
"Seorang wanita. Cantik." Jawab pelayan itu sambil menunduk.
Doni menghentikan sejenak aplikasi game yang sedang membuatnya sibuk itu. Ia berfikir siapa wanita yang mengunjungi mansion-nya. Ia tak pernah memberitahu wanita manapun tentang alamat aslinya. Semua selalu berakhir di apartment-nya.
"Siapa, Don?" Tanya Joana ketika melihat Doni berfikir.
"Entah." Doni kembali fokus pada ponselnya. "****! Kalah gue!" Umpatnya dan Joana memutar matanya malas.
Melihat reaksi Doni yang 'masa bodoh', akhirnya Joana melangkah ke ruang depan tanpa meminta persetujuan Doni, ia membuka pintu utama dimana ia harus menemui security penjaga mansion.
"Apa tamunya terlihat mencurigakan?" Tanya Joana pada security setengah baya itu.
Pria itu menggeleng. "Tidak, Nona. Wanita muda yang cantik.." Jawab Satpam itu setengah terkekeh dengan wajahnya yang sangar.
"Baiklah, izinkan dia masuk kesini." Pinta Joana.
Joana menunggu di beranda, ia penasaran tipe wanita seperti apa yang ingin menemui Doni. Bukankah sangat lucu mengolok-olok sepupunya itu jika sampai kepala Doni dipukul wanita dihadapan Joana. Joana sedang menginginkan melihat pertunjukan seru hari ini, sebelum ia memutuskan pulang ke London.
"Aku penasaran, wanita mana yang berani mendatangi mansion sepupuku yang tengil itu." Joana terkekeh seraya mengambil majalah diatas meja. Ia membukanya perlahan sampai suara wanita yang menghampirinya membuatnya menghentikan aktifitas membaca majalahnya.
"Good Morning.." Sapa wanita itu yang tak lain adalah Mona.
Joana berdiri untuk menyambut Mona, ia tersenyum ramah. "Kau rupanya, silahkan duduk! Aku kira wanita mana yang datang mencari Doni." Jawab Joana sambil menggeleng pelan.
Mona duduk dihadapan Joana dan memulai obrolannya. "Memangnya kau pikir wanita mana lagi yang akan mendatangi Doni ke Mansion-nya? Aku dengar, Doni tidak pernah membawa wanita kesini, tapi ternyata kau ada disini." Ucap Mona dengan nada sarkas dan Joana menyadari itu.
"Ya ya ya, tentu saja aku ada disini." Joana semakin terkekeh, karena ia tahu jika Mona belum mengetahui statusnya adalah sepupu Doni.
"Tentu saja aku bisa ada disini, aku ini sepupunya." Batin Joana.
"Kau mungkin adalah kekasih pertama yang dibawa Doni ke Mansion ini. Kau cukup beruntung, si baji-ngan itu berarti serius berhubungan denganmu."
"Kau benar-benar mengira aku adalah kekasihnya?" Joana meletakkan majalah yang ia pegang ke atas meja. "Dan kau mengira aku yang pertama kesini?" Lanjutnya sambil mengu-lum senyum.
Mona mengangguk yakin, sementara Joana mengangkat bahu tak acuh. Joana ingin mengatakan jika dia adalah sepupu Doni tapi belum sempat ia berujar, suara Doni memecahkan suasana diantara Joana dan Mona.
"Kau? Untuk apa kau kesini? Kau mengingat alamat Mansion-ku?" Tanya Doni menatap Mona.
"Tentu saja, kau lupa kita satu kampus dan hubunganku dan Rey dulu cukup dekat jadi aku tahu dimana saja tempat kalian berkumpul?" Jawab Mona seraya berdiri menantang Doni.
Doni bersedekap dada. "Apa maumu wanita bar-bar?" Tanyanya.
Joana mengambil keripik kentang yang memang tersedia di meja beranda. Ini pertunjukan seru seperti yang ia inginkan, ia seperti menonton film action di bioskop. Joana mulai mengunyah keripik itu seraya menyaksikan perang mulut antara Doni dan Mona.
"Kau berhutang penjelasan padaku!" Hardik Mona.
"Penjelasan apa? Tidak ada yang perlu dijelaskan."
"Apa yang terjadi disaat aku mabuk malam itu?"
"Tidak terjadi apapun!" Ucap Doni enteng.
"Tapi jelas-jelas kau yang mengatakan sudah terjadi sesuatu malam itu. Dan juga--" Mona mendadak terdiam saat ingin melanjutkan kalimatnya, ia terlalu malu untuk mengungkapkan apa yang akan ia ucapkan.
"Dan juga apa?"
"Pakaianku pagi itu sudah berganti. Pasti kau telah melakukan sesuatu padaku!" Lanjut Mona.
Doni mencebik, ia memasukkan jemarinya kedalam saku celana pendeknya. "Kau datang kesini pagi-pagi hanya untuk mengatakan itu? Kau membuang waktuku." Ucap Doni.
"Kau benar-benar pria kurang ajar!" Mona ingin melangkah maju ke hadapan Doni sebelum lelaki itu beranjak pergi dari sana.
"Ku pikir ada organ dalam tubuhmu yang hilang setelah kejadian malam itu, makanya kau sangat heboh seperti ini!" Ejek Doni pada Mona.
Wajah Mona memerah menahan amarah, ia ingin memukul kepala Doni, disambarnya majalah yang tergeletak diatas meja lalu ia pukulkan itu ke arah kepala Doni.
Doni memekik kuat akibat perbuatan Mona. "Apa yang kau lakukan? Kau gila?" Doni mencoba melindungi kepalanya dengan tangannya akibat serangan Mona yang bertubi-tubi.
"Breng-s*k kau! Kurang ajar! Apa yang kau lakukan pada tubuhku? Pakaianku sudah berganti pada pagi hari. Kau juga mengatakan sudah terjadi sesuatu. Kalau kau berniat bermain-main padaku kau benar-benar salah orang! Aku bukan wanita seperti itu. Bahkan dengan Rey, walau kami menjalin hubungan cukup lama tapi aku tak pernah melakukannya dengannya!" Mona terus menghujani Doni dengan pukulan majalahnya. Joana disudut sana hanya tertawa renyah sambil menikmati keripik kentang-nya, ia tak mau ikut campur urusan Doni dan Mona.
"Kau keterlaluan! Berani-beraninya kau! Bahkan kau sudah memiliki kekasih yang kau seriusi. Kau bahkan mengajaknya tinggal di Mansion ini. Tapi kau memeprlakukanku begitu, didepan kekasihmu? Kau pikir kau hebat?" Mona mulai terengah-engah karena perbuatannya sendiri.
Doni mengambil kesempatan itu untuk menghindar dan memberi jarak diantara mereka. "Kau sudah puas? Kau ingin aku berakhir di rumah sakit akibat kau pukuli?" Ucap Doni.
"Ya, jika itu bisa membuatmu bertanggung jawab!"
Doni terkekeh dan Joana tiba-tiba ikut melotot kebingungan akibat ucapan Mona soal tanggung jawab.
"Berterima kasih katamu? Kau tidak sadar jika akhirnya aku juga harus berakhir dikamar apartment-mu waktu itu?" Mona menarik nafas dalam. "Sekarang akui semuanya didepan kekasihmu!" Hardiknya dihadapan Doni dengan menunjuk Joana, yang ia yakini adalah kekasih Doni.
Doni refleks memukul dahinya sendiri dan tanpa mereka sadari kehadiran orang lain sedari tadi ikut menyaksikan pertengkaran mereka. Orang itu bertepuk tangan seraya mendekat ke beranda dimana ada Doni, Joana dan Mona disana.
"Pertunjukkan yang bagus." Goda Kevin yang datang sambil bertepuk tangan dihadapan ketiganya. Kevin tidak sendiri, tentu saja ia datang bersama asisten pribadinya, Desi.
Desi menahan tawanya yang sebentar lagi akan meledak, karena beberapa saat lalu ia dan Kevin menyaksikan Doni dan Mona yang bertengkar dan ditonton Joana dengan ekspresi seru.
Mona menyambut kedatangan Kevin dengan mencebikkan bibirnya. Ia berdecak lidah. Tentu saja ia juga mengenal Kevin, karena Mona, Kevin, Doni dan Rey dulu berada dalam satu kampus. Dan dulu Mona menjalin hubungan dengan Rey, secara otomatis Mona pasti mengenal kedua sahabat Rey itu.
"Kalian punya hubungan?" Tanya Kevin, ia duduk di kursi rotan yang ada diberanda.
"Tidak!"
"Nggak!"
Jawab Mona dan Doni kompak.
"Tapi yang gue lihat tadi---" Kevin sengaja menggantung kalimatnya.
"Lo jangan yang enggak-enggak lah, Nyet!" Celetuk Doni dan Kevin malah terkekeh.
"Sorry, gue udah terlanjur denger tadi, Dal!" Jawab Kevin sambil mengul-um senyumnya. Desi dan Joana ikut terkikik geli.
"Karena Kevin juga sudah mendengarnya, lebih baik kau buat pengakuan didepan mereka semua. Apa yang sudah kau lakukan padaku malam itu!" Pekik Mona tak mau kalah.
"Pengakuan apa?" Doni menaikkan alisnya, ia benar-benar tak suka dengan tuduhan Joana.
"Gak salah gue datang kesini pagi-pagi pas weekend, gue jadi bisa nonton bioskop gratis." Ejek Kevin seraya menerima toples keripik dari tangan Joana.
Doni berdecih mendengar ejekan Kevin. Mona bersedekap dada menunggu Doni mengucapkan pengakuan.
"Oh iya, Gue lupa kenalan sama sepupu lo waktu acara pernikahan Rey." Ucap Kevin seraya mengulurkan tangannya ke arah Joana.
Tapi ucapan Kevin barusan membuat Mona tak percaya.
"Se..pupu?" Ucap Mona pelan.
"Joana." Ucap Joana menyambut uluran tangan Kevin. Kemudian beralih menjabat tangan Desi untuk ikut memperkenalkan diri juga.
"Jadi dia sepupumu?" Kini Mona menatap Doni yang hanya diam.
"Ya.." Jawab Doni singkat.
"Aku pikir.."
"Kau pikir aku kekasihnya?" Tanya Joana yang tersenyum sambil mengedipkan matanya pada Mona. Mona pun mengangguk.
"Aku bukan kekasihnya. Justru, aku berfikir kau lah kekasih Doni karena kau lah wanita pertama yang mendatangi Mansion ini untuk mencarinya. Kau salah mengira, Darling!" Ujar Joana sambil tertawa. Desi dan Kevin ikut tertawa mendengar guyonan Joana yang mengatakan Mona adalah kekasih Doni.
Doni ikut mendudukkan dirinya dikursi rotan. Sekarang dia malah berdecak lidah dan tak tahu mau memulai pengakuannya dari mana kepada Mona.
"Baiklah, akan aku ceritakan semua yang terjadi pada malam itu." Ujarnya seolah akan membuka aib yang begitu besar.
Semua mata kini tertuju pada Doni. Terutama Mona, ia akan menuntut tanggung jawab lelaki ini jika sampai Doni melakukan tindakan yang merugikannya.
"Malam itu, aku menemukanmu di Club. Lalu membawamu ke Apartment-ku. Kau tahu, gara-gara kau aku meninggalkan kencanku bersama wanita cantik!" Ucap Doni.
"Jadi maksudmu aku kurang cantik?" Tanya Mona yang mulai naik emosinya.
"Wait! Biar Doni jelasin dulu." Joana menepuk pelan punggung tangan Mona.
"Kau mabuk berat sambil mengeluarkan isi hatimu yang patah hati itu. Kau memuntahi-ku. Bajuku habis begitu juga dengan bajumu. Lalu aku meminta Joana untuk datang membantuku mengganti pakaianmu dengan milik Joana. Makanya Joana juga ada disana pagi itu kan?" Lanjut Doni.
Mona terperangah mendengar penjelasan Doni. Sementara Joana mengangguk mengiyakan penjelasan Doni.
"Jadi yang kau maksud terjadi sesuatu diantara kita itu apa?"
"Ya itu, terjadi sesuatu. Kau muntah dibajuku. Kau harus mengganti biaya loundry-nya!" Cetus Doni di akhir penjelasannya.
Mona menatap Doni tak berkedip, padahal pikirannya sudah lari entah kemana.
"Kenapa? Kau benar-benar berharap terjadi sesuatu antara kita malam itu? Seperti One night stand, begitu?" Doni terkekeh diakhir pertanyaannya.
"Tentu saja tidak, Bod*h!" Umpat Mona. Wajanhya memerah menahan malu didepan ke-empat orang yang berada di Beranda itu.
Doni sendiri menggelengkan kepalanya berulang kali. Merasa lucu sekaligus malu. Awalnya, dia hanya ingin mengerjai Mona dengan mengatakan jika terjadi sesuatu antara mereka tapi dia lupa jika lawannya kali ini adalah Mona, wanita yang dia beri cap sebagai 'wanita bar-bar'.
.
.
.
Bersambung...
Like dan Hadiah jangan lupa yahh!!! Part ini hampir 2000 kata loh 🙏
Yang penasaran sama Ammar, nanti dulu yah.. nanti kita akan ketemu sama Ammar lagi deh 😂