
Mona keluar dari kediaman orangtua Rey dengan perasaan gusar. Ia menggeram dalam hatinya sendiri tapi tak tahu mau meluapkan amarahnya kepada siapa.
Saat Mona memasuki mobilnya, ia melihat mobil lain berhenti tepat didepan gerbang rumah Rey dan sesaat kemudian sesosok pria tinggi turun dari kursi pengemudi dengan ekspresi yang aneh. Awalnya Mona biasa saja dan ingin melanjutkan perjalanan. Ia menyalakan mesin mobil, tapi ucapan pria itu membuatnya menjadi penasaran akan siapa pria itu sebenarnya.
"Aku ingin bertemu Reyland dan Kinanty." Ucap pria itu dengan intonasi lugas pada satpam yang berdiri diambang gerbang. Mona memperhatikan dan mendengarkan dari balik kemudi mobilnya, ia menurunkan sedikit kaca mobil untuk mendengar apa yang diucapkan pria yang nampaknya datang dalam keadaan emosi itu, ia ingin mendengar lebih jelas.
"Bisa katakan nama anda dan tujuan anda, Tuan?" Tanya satpam yang berjaga.
"Ammar Sadin. Katakan pada Rey aku ingin membuat perhitungan padanya!" Jawabnya dengan tegas. Satpam itu sedikit tergesa untuk menekan interkom yang menempel di dinding pos nya, kemudian kembali menghampiri Ammar diambang gerbang yang belum berani ia bukakan.
"Bagaimana, apa dia takut?" Tanya Ammar sambil mendengus dan menantang pada Satpam itu.
"Tuan Rey akan menemui anda, silahkan tunggu disini dulu!" Ucap satpam itu seraya meninggalkan Ammar. Ammar mengetuk-ngetuk kakinya pada paving block, bersikap tak sabaran.
"Siapa dia? Ammar Sadin?" Mona menerka-nerka siapa pria itu.
"Tampangnya lumayan dan berkelas. Kemungkinan dia adalah rekan bisnis Rey atau mungkin malah saingan bisnis Rey." Pikir Mona. Ia terus berfikir yang tidak-tidak dan menerka-nerka, namun urung meninggalkan kediaman Rey. Mona ingin menyaksikan pertunjukan apa yang akan ia lihat beberapa menit lagi karena Ammar mengatakan ingin membuat perhitungan pada Rey.
Mona menoleh kebelakang saat ia melihat Ammar seperti terkesima pada saat menatap ke arah pintu rumah Rey. Disana terlihat Rey dan Kinan yang tengah berjalan menuju kearah gerbang. Awalnya mereka hanya berjalan beriringan tapi sedetik kemudian tangan Rey menggenggam jemari wanita bernama Kinan itu. Mona mendecih dalam hati melihat pemandangan itu.
"Buka gerbangnya, Pak!" Ucap Rey pada Satpam dan gerbang pun dibukakan. Ammar langsung bergerak cepat ke arah Rey dan tanpa aba-aba ia mendaratkan pukulan ke wajah pemuda itu.
Bugh!!
"Mas Rey!" Pekik Kinan. Kinan sendiri hampir terjungkang kebelakang karena posisi tangannya yang bertautan dengan tangan Rey. Pegangan itu terlepas dan Kinan terkejut melihat kejadian yang baru saja terjadi.
Mona pun demikian, ia refleks keluar dari mobilnya akibat pukulan Ammar yang mendarat di wajah Rey. Ia memekik dalam hati sambil membungkam mulutnya sendiri karena tak percaya apa yang baru saja ia lihat.
"Br*ngsek kau! Kau melarikan istriku sampai ke Luar Negeri dan setelah kami bercerai kalian ingin menikah?" Ammar tersenyum miring. "Kau pikir segampang itu?" Ucap Ammar lagi.
Kinan menggeleng pelan. "Aku ke Luar Negeri bukan karena Mas Rey! Dan perceraian kita bukan karena kami ingin menikah tapi memang itu yang harusnya terjadi, Mas!" Ucap Kinan sambil menatap Ammar. Ia menghalangi posisi Ammar dan Rey, berada ditengah-tengah mereka.
"Kau yakin ingin menikah dengannya? Kau melakukan kesalahan besar, Kinan! Kau tidak tau seperti apa dia sebenarnya." Ucap Ammar sambil membuang ludahnya ke arah samping. "Kau akan menyesal menikahi lelaki seperti dia!" Ucap Ammar lagi.
"Dasar pecundang!" Rey melewati tubuh Kinan dan membalas pukulan Ammar.
Bugh!
Ammar memegangi ujung bibirnya yang terkena pukulan Rey, ingin membalas tapi belum sempat ia menyeimbangkan tubuhnya, sedetik kemudian Rey kembali menghantamnya bertubi-tubi.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
"Kau tidak tahu apa-apa tentangku!" Ucap Rey. "Jangan banyak membual dan pulanglah kerumahmu!" Rey menatap tajam ke arah Ammar, ia menatap Kinan sekejap seolah mengatakan 'jangan bela dia'.
Kinan melepas tangannya di pundak Ammar karena tatapan tajam Rey dan Rey berbalik untuk kembali ke rumah, meninggalkan Kinan dan Ammar. Ia marah dan sangat marah sekarang karena merasa Kinan membela Ammar didepan matanya.
"Hahaha, kau takut aib-mu akan diketahui Kinanty?" Tanya Ammar sambil terkekeh. Ia menyeimbangkan badan untuk berdiri dan Rey menoleh ke arahnya.
"Apa maksudmu, huh?" Rasanya Rey ingin kembali membungkam mulut Ammar dengan tinjunya.
Ammar malah beralih menatap Kinan. "Kita bisa mengulang semuanya dari awal, kehilanganmu membuatku sadar bahwa aku memiliki perasaan lebih padamu, Kinan!" Ucap Ammar, suaranya berubah lembut dan ia mencoba meraih tangan Kinan. Rey melotot melihat sikap Ammar itu.
"Aku tidak bisa!" Jawab Kinan pelan seraya menepis tangan Ammar yang hampir menyentuhnya. Rey tersenyum sekilas.
"Kenapa?" Ammar berdiri dihadapan Kinan ingin menatap wajah wanita itu.
"Karena--" Ucapan Kinan terputus.
"Karena kami saling mencintai dan kami akan menikah." Jawab Rey pongah.
"Aku yakin kau tidak akan mencintai laki-laki seperti dia. Dia ini pemain wanita, Kinan! Kau tidak akan bahagia!"
"Kau sendiri apa bisa membahagiakan Kinan?" Tantang Rey. Rey mengambil lengan Kinan dan memaksanya untuk kembali masuk kerumah daripada meladeni Ammar.
"Tapi dia adalah orang yang sudah memperk*samu, Ki!" Ucap Ammar dengan refleks. Sebenarnya ia tak mau mengatakan hal ini karena takut Kinan akan mengingat traumanya. Tapi itu satu-satunya kartu as milik Rey yang sudah ia ketahui sekarang.
Kinan dan Rey refleks berhenti melangkah ketika mendengar ucapan Ammar itu. Mona yang berdiri disamping mobilnya pun ikut terkejut. Kehadirannya tak dihiraukan sedari tadi, tapi ia bisa mengetahui semuanya sekarang. Tidak sia-sia ia menyaksikan pertunjukan ini dari tadi. "Jadi Rey menikahi perempuan itu karena telah melakukan kesalahan." Batin Mona terkekeh miris.
"Dia menikahimu karena ingin bertanggung jawab, bukan karena cinta!" Ucap Ammar kemudian. Kinan terdiam dan Rey melihat keraguan kembali terpancar diwajah Kinan.
"Apa kau tetap mau menikah dengan orang yang menghancurkan hidupmu? Lebih baik kau kembali padaku, Kinan. Kita akan memulai semuanya dari awal!" Ucap Ammar. Rey memejamkan matanya sejenak karena takut ucapan Ammar dapat mempengaruhi Kinan saat ini. Kinan menatap Rey yang juga tengah menatapnya, menunggu jawaban apa yang akan Kinan berikan pada Ammar.
"Mas..." Ucap Kinan, ia melepaskan tangan Rey yang menggenggam tangannya. Rey menatap Kinan dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Jangan Kinan. Jangan percaya dia!" Ucap Rey hanya dalam hati, ia tak kuasa meluapkan isi hatinya itu dihadapan Kinan dan berharap Kinan bisa mendengar ucapan hatinya itu. Rey menggeleng kearah Kinan sebagai isyarat agar Kinan tak usah mendengar bualan Ammar.
.
.
.
.
Bersambung...