
Setelah mendapat info dari Rey mengenai tempat tinggal Joana, Ammar segera menaiki taxi untuk menuju gedung pencakar langit--tempat dimana Apartment Joana berada.
Rey sempat menanyakan kenapa Ammar ingin tahu alamat pribadi Joana, tapi Ammar berdalih hanya ingin berkonsultasi perihal kesehatan psikisnya. Rey yang awalnya menyarankan agar Ammar berobat pada Joana pun tak merasa heran, lalu dengan mudah memberitahu dimana Joana tinggal.
Ammar menuruni taxi secara tergesa-gesa saat taxi itu tiba di halaman salah satu Apartement mewah di pusat kota. Ammar memang tidak mengenal Joana secara pribadi, tapi ia meyakini jika Joana adalah orang yang baik dan Ammar tahu jika Joana yang menyembuhkan Kinan, wanita itu juga dekat dengan Kinan dan Ammar menghargai persahabatan keduanya. Ammar merasa jika Joana memang membutuhkan bantuan saat ini. Keterangan Asisten Joana yang bernama Sasa sedikit banyak membuat Ammar gamang dan nalurinya sangat ingin membantu.
Ammar merasa takut jika ia harus telat mengambil keputusan dan akan menyesalinya seperti saat hubungannya dengan Kinan yang harus berakhir sia-sia. Pria itu sekarang lebih banyak mengerti arti hidup dan tak mau mengulangi kesalahan yang sama.
"Ada baiknya aku mengecek dulu ke tempat tinggal Joana, jika memang tidak terjadi apa-apa itu lebih baik. Tapi jika dia butuh pertolongan dan aku tidak mengikuti naluriku, maka aku akan menyesal karena tak membantunya." Tekad Ammar didalam hati.
Ammar melangkah masuk, melewaati Lobby Apartment itu dengan langkah mantap, ia menekan tombol Lift sesuai dengan lantai tujuannya. Saat Lift berdenting dan terbuka, ia begitu terkejut melihat wanita yang ia cari tengah berdiri menunggu Lift terbuka. Mata mereka saling berpandangan aatu sama lain untuk sepersekian detik.
"Jo.."
"Ammar..tolong aku!" Joana menyerbu kearah Lift yang masih ada Ammar didalamnya.
Wanita itu segera menekan asal tombol Lift agar Lift itu segera tertutup rapat dan meninggalkan lantai yang baru saja ia tapaki.
"Ada apa?" Tanya Ammar keheranan. Ammar makin yakin sesuatu telah terjadi sehingga Joana terlihat acak-acakan seperti ini.
"Aku...akan..menceritakannya...nanti." Ucap Joana terengah-engah seperti habis lari marathon sepuluh putaran.
"Baiklah." Ucap Ammar tenang. Lelaki itu kembali menekan tombol Lift ke lantai 1, dimana lobby Apartemen berada.
"Kenapa tidak ke Basement?" Joana melirik ke arah Ammar yang menghela nafas panjang.
"Aku naik Taxi." Jawab Ammar datar.
"No! No! Kita naik mobilku. Ada di basement." Ucap Joana, wanita itu segera mencari kunci mobilnya sendiri tapi sepertinya ia melupakan sesuatu. "Oh God!!! My bag.." Joana menepuk dahinya sendiri.
"Dimana tas mu?" Tanya Ammar mengernyit heran.
"Tertinggal juga di Apartement Xander." Jawab Joana lemas, ia kemudian membungkuk, kedua telapak tangannya ia sandarkan di kedua lututnya seperti keadaan rukuk.
"Xander? Jadi benar karena lelaki itu yang membuat keadaanmu seperti ini?" Tanya Ammar, ia mende-sah lega ternyata keputusannya mengecek keadaan Joana ada benarnya.
"Humm.." Joana mengangguk-angguk dalam posisi yang sama.
Keduanya keluar dari Lift dan menuju pekarangan Apartment. Ammar mengedarkan pandangannya untuk mencari Taxi tapi matanya menyipit saat menyadari kejanggalan yang sedari tadi coba ia abaikan.
"Bajumu robek." Ucap Ammar dan Joana kembali mengangguk lemah.
"Pakai saja jas-ku." Ammar membuka Jas-nya dan menyampirkan ke bahu Joana yang separuhnya sudah terbuka akibat robekan di blouse yang ia kenakan.
"Te-terimakasih.." Jawab Joana ragu, ia menatap mata Ammae yang tulus saat menolongnya. Lelaki Indonesia yang ramah untuk seseorang seperti dirinya yang terlalu lama tinggal di lingkungan yang tidak bersahabat.
Mereka berdua menaiki Taxi yang lewat setelah beberapa kali gagal naik akibat Taxi yang sudah terisi oleh penumpang lain. Mereka duduk bersisian dikursi penumpang sambil menatap arah jalanan di sisi jendela masing-masing.
"Apa kau mau ku antarkan ke tempat praktekmu?" Tanya Ammar menoleh sedikit kearah Joana.
"Tidak usah, aku rasa hari ini sebaiknya aku libur kerja."
"Baguslah."
"Kenapa kau bisa ada di Apartemen ku? Apa kau ada keperluan dan aku malah merepotkanmu?" Tanya Joana.
"Aku memang datang untuk menemuimu." Jawab Ammar jujur.
Joana terkikik. "Untuk apa? Bukankah kau sudah bertemu denganku kemarin?"
"Untuk menolongmu." Ammar ikut terkekeh, ia juga tak menyangka pertemuannya hari ini dengan Joana berakhir seperti ini padahal ia berusaha positif thingking, beranggapan Joana tak kenapa-napa.
"Kau bisa tahu aku dalam bahaya? Kau cenanyang?" Joana kembali terkikik. Ia merasa Ammar sedang membuat lelucon. Begitulah Joana, selalu haus akan lelucon dan selalu mengira orang lain sedang membuat hal lucu agar dia tertawa.
"Aku bukan cenayang, tapi aku serius ingin menolongmu. Emm, sebaiknya kau hubungi asistenmu dan beritahukan perihal libur kerjamu." Saran Ammar.
"Ah iya, tapi ponselku berada di tas yang tertinggal di--" Joana menunduk.
"Jadi kau mengetahui keadaanku dari Sasa?" Tanya Joana seraya memutar bola matanya.
"Iya. Kenapa? Kau kecewa karena aku bukan Cenayang seperti dugaanmu?" Ammar menahan senyumnya.
"Hahaha.. Sedikit kecewa. Tapi itu berarti Sasa yang ada bakat jadi Cenayang." Jawab Joana tergelak.
"Sasa bukan ada bakat jadi Cenanyang, dia punya bakat yang lain." Jawab Ammar.
"Really? Apa itu?"
"Sasa bisa membuat masakan jadi lebih gurih." Ucap Ammar seraya tergelak sementara Joana mengerutkan dahinya karena tidak paham apa maksud Ammar.
"Why? Apa Sasa pandai memasak? Dari mana kau mengetahuinya? Apa kalian dekat?" Joana semakin bingung saat Ammar meledakkan tawa akibat kepolosan sikap Joana.
"Tidak, tidak. Bukan itu maksudnya. Aku bahkan baru mengetahui nama Sasa hari ini." Jawab Ammar tetap tergelak. Pembahasan mereka jadi melanglang-buana.
"Lalu? Ayo ceritakan!" Tuntut Joana yang penasaran.
"Hm...tidak penting!"
"Tapi aku penasaran."
"Hahah itu tidak perlu dibahas Jo. Aku hanya bercanda tadi.
"Are you kidding me?"
"Sorry.."
Hening tiba-tiba merayap diantara mereka berdua.
"Apa kau tidak berniat menceritakan apa yang terjadi?" Tanya Ammar mencoba memecah keheningan.
"Tidak. Sebelum kau menceritakan perihal Sasa yang bisa membuat masakan jadi lebih gurih." Ucap Joana sambil mencebikkan bibir dan bersedekap dada. Ammar spontan langsung tertawa saat itu juga, rasanya ia sudah lama sekali tidak tertawa seperti ini.
"Baiklah..baik..." Ammar mencoba mengatur nada suaranya. "Di Indonesia, ada sejenis mecin dengan merk dagang seperti nama Asistenmu itu." Ucap Ammar.
"Mecin?"
"Yah, Mecin.. penyedap masakan." Ammar membungkam mulutnya yang hampir meledakkan tawa kembali. Demi apapun, ini adalah pembahasan teraneh dan terkonyol yang harus ia jabarkan sedemikian rupa akibat kepolosan Joana yang tidak tahu merk dagang di Negara ini.
"Jadi kesimpulannya, Sasa itu Mecin alias penyedap masakan yang bisa membuat masakan menjadi gurih." Terang Ammar panjang lebar.
Joana yang mendengar itu segera paham dan mengerti, Lalu ia tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya.
"Oh My.. Perutku rasanya Kram akibat tertawa." Ucap Joana jujur.
"Lalu bagaimana dengan ceritamu?" Ammar menatap serius kearah Joana, untuk kesekian kalinya Joana seakan terpanah akan tatapan mata Ammar yang terhujam ke arahnya, gadis itu berusaha menetralkan detak jantungnya dan mulai bercerita akan apa yang telah terjadi padanya.
Taxi terus melaju menuju Mansion keluarga Doni karena Joana minta diantarkan kesana.
"Apa hari ini kau tidak bekerja?" Tanya Joana sesaat sebelum sampai di kediaman Doni. Joana melirik penampilan rapi Ammar yang sepertinya akan bekerja, untuk itulah dia bertanya.
"Aku harusnya bekerja, tapi tas kerjaku tertinggal di tempat praktekmu kemarin. Jadi aku menunda pertemuanku dengan klien." Jawab Ammar jujur.
"Dan karena menolongku kau juga jadi menunda pertemuan itu menjadi lebih lama." Ucap Joana sungkan.
"Tak apa, aku akan menyesal jika tidak menolongmu."
"Kenapa? Aku juga bukan bagian dari urusanmu?" Joana tertunduk.
"Walaupun aku begini, tapi aku masih punya naluri kemanusiaan. Dan lagi kau adalah sahabat Kinan."
"Oh jadi karena Kinan?" Joana manggut-manggut, ada perasaan kecewa dalam hatinya. Entah kenapa.
"Ya tentu saja juga karena kau adalah dokter yang menerapiku." Sambung Ammar lagi.
...Bersambung......