
Taxi yang membawa Kinan dari Villa sudah tiba disebuah gedung bertingkat yang menjulang tinggi. Ia tidak tahu berapa banyak lantai yang dimiliki gedung itu. Pandangannya mengadah keatas, penglihatannya tidak bisa menjangkau puncak gedung itu.
Kinan membuka pintu taxi dan turun setelah mengucapkan terima kasih. Ia lalu memutuskan mengeluarkan secarik kertas yang sempat diberikan oleh Rey kepadanya saat di Villa, ia membaca sekilas dan mengingat-ingat isi didalamnya. Lantai 23. Kinan pun masuk kedalam gedung itu.
Kinan menghela nafas sejenak, merasa tak asing dengan tempat ini. Dan seperti 'Dejavu yang tiba-tiba menghampiri, terlintas sekejap bayangan, ia merasa seperti pernah berada di lobby gedung apartment ini.
"Anda tidak apa-apa Nona?" Tanya seorang security yang tadi sempat membukakan pintu kaca untuk Kinan masuk.
"Ah, tidak apa-apa, Pak. Terima kasih!" Kinan memegang pelipis yang sempat pening. Lalu ia mengikuti naluri menuju lift yang sudah nampak diambang mata, menekan tombol lantai, tempat dimana Rey memberitahu sebelumnya. Rey sudah berjanji akan menjemput Kinan disini nanti dan Kinan pun akan menunggunya.
Setelah beberapa saat, lift pun berdenting dan terbuka. Wanita itu sampai pada lantai yang ia tuju. Melihat sekilas keadaan sekitar dan ia tiba pada satu pintu yang ia yakini adalah pintu masuk apartment milik Rey.
Kinan menekan passcode yang juga ditulis Rey pada kertas. Se-percaya itu Rey padanya, memberinya akses untuk masuk ke ruang pribadinya.
"Jadi, bagaimana mungkin aku harus ragu padanya setelah ini? Dia pasti akan menjemputku segera." Batin Kinan.
Walau ada banyak tanya dalam benak Kinan kenapa tiba-tiba Rey menyuruhnya kesini tanpa alasan yang jelas dan terkesan sangat terburu-buru.
Setelah bunyi 'Bip', pintu itu pun terbuka. Kinan melangkah masuk kedalam ruangan. Ruangan apartment langsung menyajikan pemandangan ruang tamu yang elegan. Cukup rapi untuk ukuran ditinggali oleh seorang lelaki. Mungkin disini ada petugas yang membersihkannya. Mungkin saja-pikir Kinan.
Kinan terlihat menghela nafasnya, ia meletakkan tas yang sempat dibawakan oleh Rey disudut ruangan, lalu ia meletakkan kotak makanan yang juga dibekalkan oleh Mbok Nah di meja jati ruang tamu. Kinan mendudukkan diri di sebuah sofa yang empuk berbahan kulit lembut berwarna putih gading.
"Aku akan makan sesuai pesan Mas Rey padaku, tapi aku akan melihat-lihat sekitar apartment ini dulu." Ucap Kinan pelan.
Kinan berjalan pelan ke arah dapur yang menyatu dengan ruang makan. Disana terdapat kitchen set yang minimalis didominasi warna abu-abu dan putih, ada sebuah kompor listrik dua tungku dan disebelahnya terdapat kitchen sink berukuran mini. Ia menghidupkan kran air di sink itu untuk mencuci tangan.
Kinan melirik ruangan diujung, ia menduga itu adalah kamar mandi. Setelah cukup mengenal tempat ini agar tak merasa asing lagi, ia kembali ke ruang tamu.
Sesampainya di ruang tamu, ia mengambil kotak makanan seraya membawanya ke ruang makan. Kinan membuka kotak itu, melihat isinya dan memaksakan untuk mengisi perut yang sedari pagi belum terisi.
Makanan belum sampai ke mulut, namun aromanya sudah membuat Kinan mual dan ingin muntah. Entah kenapa Kinan selalu begini beberapa bulan belakangan ini, mungkin ini adalah faktor kehamilannya. Namun, jika makanan yang sesuai dengan selera, Kinan bisa memakannya dengan lahap bahkan berulang-ulang.
Kinan mulai mual mencium aroma ayam goreng kalasan didepannya. Ia malah berpikiran ingin memakan bakso dengan kuah yang panas dan pedas. Kinan menelan saliva membayangkannya, seraya menutup kembali lauk dan nasi yang tak jadi ia santap. Ia membiarkan saja makanan itu diatas meja makan, mungkin nanti akan ia makan jika selera makannya kembali datang.
Kinan menunggu Rey tiba, namun sepertinya lelaki itu akan terlambat datang karena mungkin urusan yang ia katakan tadi belum selesai di Villa. Kinan harus lebih sabar, bukankah Rey juga begitu sabar menghadapinya?
Kinan hanya mondar-mandir, dan kini ia menyalakan televisi untuk mengusir rasa bosan. Namun, Kinan menyadari bahwa ia sudah beberapa kali menguap. Sepertinya Kinan merasa mengantuk dan lelah karena diperjalanan tadi ia tidak tidur. Kinan terlalu sibuk memikirkan kepergiannya yang tiba-tiba.
Kinan beranjak lagi, memutuskan untuk mencari kamar tidur. Kinan akan tidur dengan nyaman tanpa perlu takut sewaktu-waktu Rey akan pulang. Ini adalah Apartment Rey, Rey berhak masuk kesini meski tanpa permisi dan izin dari Kinan.
"Aku merasa sungkan, tapi bukankah beberapa hari ini kami juga sudah tinggal bersama di Villa? Bahkan satu kamar? Walaupun Mas Rey tetap tidur di sofa, tapi itu berarti Mas Rey menghargaiku dan tidak akan berbuat macam-macam padaku. Aku juga sedang mengandung, dia tidak mungkin melakukan apapun." Batin Kinan meyakinkan dirinya sendiri.
"Tenang, Aku harus tenang dan percaya dengannya. Bukankah dia juga percaya padaku?" Lanjutnya dalam pikirannya.
Terbukti, Rey selalu menjenguk dengan raut wajah yang lelah. Tapi, tidak sekalipun dia pernah kasar ataupun marah pada Kinan walau terkadang Kinan terlihat menjengkelkan didepan mata pemuda itu.
Sepertinya, Kinan tidak bisa menghindari perasaannya yang mulai tumbuh. Kinan jelas menyukai Rey. Dan Kinan tidak mau memungkiri itu didalam hatinya. Siapa yang tidak akan menyukai lelaki tampan dan baik seperti Rey? Walaupun dia belum pernah mengatakan hal yang sama pada Kinan, tapi sikapnya pada Kinan selama ini sudah lebih dari cukup.
Kinan bahkan tidak berniat mengingat masa lalunya lagi, yang terpenting buatnya adalah bisa bersama Rey saja. Masa lalunya lebih baik hilang saja, karena ia menyadari satu hal, Ammar yang mengaku suaminya itu pastilah tidak mencintainya, dan selama ia menikah dengan Ammar, pasti ia hidup tidak sebahagia saat ini. Sekarang Kinan merasa cukup bahagia dan itu sudah cukup. Cukup untuk ini semua dan ia tidak berharap lebih. Tapi ia juga tidak ingin kembali ke masa lalu jika itu akan membuatnya semakin sakit.
Kinan memang tidak mengingat masa lalu itu, tapi bukan berarti ia tidak bisa mengetahui dan merasakan siapa yang tulus menyayanginya. Ammar, dia menyayangi Kinan tapi entah kenapa pria itu tampak asing baginya, entah kenapa! Lalu, ia juga mengingat seorang wanita tua yang tinggal dirumah Ammar, ia yakin wanita itu amat membencinya dari tatapan matanya. Hal itu juga yang membuat Kinan yakin bahwa selama ini ia telah banyak menanggung kesedihan dirumah yang sama.
Kinan memutar knop pintu yang ia yakini adalah kamar milik Rey, karena apartment ini bukan apartment dengan ukuran yang terlalu besar walau penampakannya cukup mewah. Disini hanya terdapat satu kamar tidur saja.
Pintu terbuka, aroma kamar menyeruak ke indera penciuman wanita itu, aroma yang maskulin khas dari pemiliknya. Aroma ini mengingatkan Kinan pada lelaki tampan pemilik apartment ini.
"Ah, apa aku merindukannya? " Batin Kinan, kini ia tampak tersenyum dan merona. Kinan yakin pipinya kini berubah merah saat ia mengingat Rey tadi.
Kinan melangkah masuk semakin dalam ke sisi kamar. Ia duduk dipinggiran ranjang, namun seketika pikirannya buyar dan 'Dejavu itu lagi-lagi menghampirinya seketika.
"Aku merasa familiar didalam kamar ini." Ucap Kinan bersuara pelan.
Lagi-lagi Kinan seolah menghirup aroma ruangan ini dan menghembuskan nafas dengan kasar. Kinan mendengus, disaat yang sama ia seakan terkejut dan marah. Di detik berikutnya, ia seolah mengingat kejadian beberapa bulan lalu ditempat ini, dikamar yang sama. Kinan pernah mendapati tubuhnya disini, dalam keadaan tanpa sehelai benang-pun dan hanya ditutup oleh selimut.
Pening menjalar dan menggerogoti kepalanya, namun ia masih dalam keadaan sadar dan kini ia merasa jiwanya yang tertidur telah terbangun.
Lintasan peristiwa masa lalu berputar dan berpendar dikepala wanita itu. Bagai roll kamera yang berjalan slow motion, bagai roller cooster yang naik turun dan berkeliling diotaknya. Tiba-tiba, ia merasa mengingat sesuatu..
Memori ingatannya yang sempat hilang, sepertinya kini kembali bercokol dikepalanya. Kinan mulai berusaha mengingat semua yang terjadi padanya dengan sangat detail. Ia seperti membeku diruangan kamar itu.
Note:
*Dejavu \= Sebuah gambaran sensasi di mana Anda merasa pernah mengalami sesuatu. Bahkan ketika Anda tahu bahwa pengalaman tersebut tidak pernah dialami sebelumnya.
*Sink \= Bak cuci piring
.
.
.
.
Bersambung...