How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Pilihan yang sulit



Hai..


Terima kasih yang masih stay sampai episode ini ya. Semoga kita semua sehat selalu dan dimudahkan Rezekinya. Selamat hari Senin, guys !! jangan lupa vote nya yah 😁 ❤️❤️❤️❤️❤️


__________________________________________


Pagi ini Kinan harus terbangun dalam kondisi badan yang tak mengenakkan. Bagaimana tidak, selain tubuhnya yang lemas bagai tak bertulang, pikirannya pun bercampur aduk penuh kekacauan.


Setelah pergi begitu saja meninggalkan ruang rawat Rey kemarin, Kinan membawa sisa perasaannya untuk kembali kerumah Desi. Belum lagi ia memikirkan tentang Ammar serta solusi yang sempat Ammar berikan.


Sejujurnya, Kinan tidak mau ambil pusing tentang solusi dari Ammar itu karena ia akan tetap menolak walau Ammar akan memaksanya. Tapi, tetap saja semua kata-kata Ammar kemarin membuat Kinan berfikir keras tentang nurani lelaki itu.


"Aku tidak mungkin memilih hidup bersama seseorang yang tak memiliki hati nurani seperti dia." Gumam Kinan.


"Tapi aku juga tidak bisa bersama Mas Rey!"


Kinan seolah terlalu takut untuk hidup dengan kedua orang itu. Masing-masing mempunyai sifat keras yang berbeda. Ammar yang tak menerima penolakan dan selalu mengintimidasi. Sedangkan Rey yang keras kepala dan tidak bisa terkendali.


Ammar keseringan tak meminta pendapatnya, lelaki itu selalu bersikap seolah-olah dialah yang harus Kinan patuhi. Kinan mulai mengingatnya sekarang.


"Rumah barumu sudah siap. Ayo kita kesana!"


Kata-katanya seharusnya tidak begitu, Ammar harusnya menanyakan pendapat dari Kinan dulu, mau atau tidak Kinan tinggal dirumah baru yang sudah dia siapkan. Bukan tiba-tiba meminta Kinan datang kesana dan tinggal disana tanpa menghargai keputusan Kinan.


Kinan juga belum pernah mengatakan memaafkan Ammar, atas semua yang Ammar lakukan hingga Kinan harus menjadi alumni RSJ. Atau memang Ammar tidak pernah meminta maaf pada Kinan? Tunggu, Kinan terlihat mengingat-ingatnya lagi. Yah, setelah ia sadari Ammar memang tak pernah mengucapkan kata maaf. Ammar langsung memintanya menempati rumah baru jika memang ia tak betah harus tinggal seatap dengan Latifa. Ammar berkata akan melupakan segala yang terjadi, menutup mata dan mencoba memulai semuanya dari awal. Seolah disini memang tetap Kinan-lah yang memiliki banyak kesalahan terhadap Ammar.


Ah, kalimat-kalimat kecil Ammar yang terkesan ramah namun sebenarnya terlalu mengatur Kinan.


"Duduklah!" Ucap Ammar.


Terdengar simpel. Tapi disitulah letak intimidasinya terhadap Kinan. Padahal seharusnya Kinan yang mempersilahkannya duduk. Bahkan Ammar masuk ke rumah Desi sebelum Kinan mempersilahkannya. Sejatinya, Ammar tak pernah menghargai Kinan walau dari hal-hal kecil. Senyuman Ammar yang terkesan penyayang, sebenarnya bagai danau yang tenang yang tak bisa diukur kedalamannya. Entah ada apa didalam sana, Kinan pun tidak bisa menerkanya.


Kini Kinan juga mengingat kejadian yang sangat menguras perasaannya waktu itu.


"Tidak perlu, apa yang ku lihat sudah menjadi penjelasan yang akurat!" ucapan Ammar yang tak mau mendengarkan penjelasan Kinan saat itu, selalu terngiang-ngiang walau dalam kondisi saat Kinan sedang tak mengingat apapun, karena kata-kata itu sering terdengar di pikiran Kinan dan seering melintas di mimpinya.


Entah kenapa Ammar bersikap begitu, mungkin karena ia terbiasa melihat Kinan sebagai orang yang ia suruh-suruh ketika dirumahnya. Ammar tak melihat Kinan sebagai sosok istri, ia sudah melihat Kinan sebagai pesuruh sejak awal Kinan tinggal dirumah besar itu. Itulah sebabnya, walau sejatinya Ammar tak pernah mengatakan Kinan sebagai pembantu, tapi kodrat Kinan dimata lelaki itu memang sampai sebatas itu.


Kinan ingin memilih, tentu saja Kinan ingin hidup dengan orang yang ia cintai yaitu Reyland.


Sikap Rey pun berbanding terbalik dengan Ammar. Rey yang lembut dan selalu menghargai keputusan Kinan. Saat Kinan belum memaafkan Rey, pemuda itu terus meminta maaf tanpa mengintimidasinya. Dia menghargai Kinan yang telah membencinya, bahkan dia menawarkan pertemanan sebagai jalan tengah diantara mereka. Walaupun Kinan tentu belum bisa menerima itu karena mengingat kesalahan yang Rey perbuat. Sepertinya, untuk saat ini hati Kinan memang belum bisa memaafkan. Entahlah, mungkin hanya waktu yang bisa menjawab.


Sekalipun Rey mengatakan segala sikapnya selama ini adalah bentuk perasaannya yang sesungguhnya, tapi tetap saja Kinan tidak bisa meyakinkan dirinya sendiri yang pernah Rey sakiti. Wanita itu terlanjur kecewa yang teramat parah. Mungkin benar, hanya waktu yang bisa mengambil alih dan membuktikan benar atau tidaknya perasaan yang sudah muncul ke permukaan.


Karena tak bisa memutuskan lagi dan pening mulai merayapi kepala, Kinan pun memilih mengambil tindakan. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan. Mencari bantuan. Bantuan untuk menghindari Ammar dan Rey. Ia tak ingin bertemu keduanya dulu untuk saat ini. Ia harus terpisah dari Ammar secepatnya, itulah keputusannya.


Kinan mengusap wajahnya. Gusar, itulah yang ia rasakan. Ia melirik Desi disampingnya yang masih terlelap. Ini memang terlalu dini untuk bangun pagi. Maka pantas saja jika Desi belum bangun dan tak menyadari jika Kinan sudah bangun dan sedari tadi tengah melamun.


Kinan memindai kamar yang tengah ia tempati ini, mencari-cari sesuatu. Kinan melihat tas milik Desi yang sempat ia pinjam. Tas yang sempat ia gunakan waktu ia menemui Rey di Apartment-nya waktu itu. Ia mengambil tas itu yang berada di gantungan belakang pintu kamar, setelah itu ia menarik sesuatu dari dalamnya. Sebuah namecard milik pria yang tanpa sengaja ia temui di taman pada hari yang sama.


"Ardi Wicaksana" Kinan membaca nama yang tertera disana. Beserta nomor pribadinya yang bisa ia hubungi. Entah kenapa perasaannya menuntun untuk menghubungi Ardi suatu saat. Dan mungkin saat itu adalah hari ini. Ardi yang akan membantunya keluar dari semua ini. Apa Kinan akan percaya begitu saja pada pria ini? tentu saja tidak. Kinan pun mulai memikirkannya berulang-ulang, ia sempat terkejut bahwa Ardi adalah orang yang mengulurkan tangan untuk membantunya.


Beberapa hari lalu, saat Kinan bertemu dengannya ditaman. Dia menawari bantuan dan entah kenapa dia mengatakan bahwa dia mengetahui permasalahan Kinan.


Kinan sempat bertanya-tanya kenapa lelaki itu mau membantunya. Jawabannya hanya satu, karena Ardi mau Kinan mendapatkan yang terbaik. Tentu saja Kinan semakin bingung.


"Kenapa kau mau membantuku? aku tidak mengenalmu!" Tanya Kinan pada saat itu.


"Saya mau yang terbaik untuk anda, Nona. Bahkan apabila anda memiliki dendam, saya akan turut membantu!" Ujarnya kala itu.


Pada saat itu, Kinan memang merasa sangat marah pada Rey sepulang dari apartmentnya dan mengetahui semua kebenaran.


"Jika anda memiliki dendam dengan orang ini, saya akan membantu anda untuk membalaskannya!" Ujar Ardi lagi ketika melihat Kinan tengah memikirkan sesuatu. Wajahnya menyeringai seraya dia memperlihatkan layar ponselnya yang ternyata ada foto Rey.


Tentu saja Kinan terkejut. Kinan memang marah pada Rey, tapi tentu saja ia tidak menaruh dendam hingga harus membalas seperti kata-kata Ardi. Apa iya Kinan harus membalas dendam atas perbuatan Rey padanya? Kinan juga tak tahu.


"Pikirkanlah Nona, dan jika anda membutuhkan bantuan untuk itu, segera hubungi saya!" Ucap Ardi diakhir pertemuan mereka hari itu.


Kinan berfikir, jika pria bernama Ardi Wicaksana ini juga memiliki dendam terhadap Rey, hingga dia ingin bekerjasama dengan Kinan untuk membalaskan dendam itu. Terlepas dari semuanya, Ardi berpenampilan baik dan bukan seperti penjahat. Kinan bisa menilainya dari penglihatan pertama. Maka Kinan memutuskan mau mempercayainya, tapi kata-kata Ardi seolah lelaki itu juga sama seperti Kinan, Ardi juga korban dari perbuatan Rey di masa lalu. Itulah yang Kinan duga.


"Aku harus meminta bantuannya." Satu-satunya pilihan yang Kinan punya. Kinan tak mungkin lari lagi. Pertama, ia tak memiliki cukup uang untuk pergi jauh. Kedua, kondisi tubuhnya pun tidak memungkinkan. Ketiga, jikapun ia memiliki uang dan dalam kondisi sehat, ia tidak bisa lolos dari jangkauan Ammar lagi. Ammar pernah mengatakan akan melakukan hal yang dia yakini, maka Kinan bisa memastikan jika seorang ambisius seperti Ammar akan terus mencarinya ke ujung dunia.


Kinan harus mencari perlindungan. Berada dirumah Desi adalah keputusan salah, Ammar akan terus menemui dan memaksanya ikut dengannnya, sedangkan Kinan tak mau lagi. Kinan harus terpisah darinya. Secepatnya.


Biarlah Kinan memanfaatkan Ardi yang menawarinya bantuan, jika memang pria setengah baya itu memiliki dendam pada Rey, Kinan akan mencoba membantunya.


Kinan akan berusaha menyingkirkan perasaan sial*n ini dari hatinya. Tapi sebelumnya, tentu saja ia akan membujuk Ardi terlebih dahulu agar tidak melakukan balas dendam yang kelewat batas jika saja itu bisa. Entahlah, Kinan seakan pasrah, pikirannya sangat kalut saat ini dan Kinan akan memikirkan itu lagi nanti. Yang sekarang ia pikirkan adalah ia harus menemui Ardi dan bernegosiasi dulu apa yang telah Ardi rencanakan. Jika itu memungkinkan, maka Kinan pun akan mengambil kesempatan ini. Ini adalah pilihan yang sulit untuknya, ia harus mengesampingkan perasaannya dulu untuk menyelamatkan anak yang ia kandung dari Ammar sekaligus menghindari Rey entah untuk sampai kapan.


.


.


.


.


Bersambung...