
Hari ini Rey sudah mengosongkan waktu agar bisa menemani Kinan untuk ikut kelas kehamilan. Mereka pun menjalani kelas itu dengan gembira. Banyak hal yang dipelajari, mulai dari apa yang harus dilakukan ketika menuju hari perkiraan lahir atau HPL, sampai pada cara menenangkan bayi ketika menangis.
Dikelas itu terdapat banyak pasangan yang mendengarkan dengan seksama. Begitu juga dengan Rey dan Kinan, mereka tak kalah antusias dengan pasangan lain.
Setelah kelas selesai, Rey menggandeng tangan istrinya untuk menuju mobil dan Kinan mengikuti dengan keheningan. Tapi, tanpa sengaja Kinan melihat seseorang yang tampak tidak asing di lahan parkir itu.
"Sinta?" Kinan menyapa gadis itu, yang ia yakini adalah Sinta. Jika kalian lupa, Sinta adalah perawat yang dulu sempat merawat Kinan di Rumah Sakit Jiwa.
Gadis itu menoleh seraya mengerjapkan matanya pelan. Ia mencoba mengenali sosok yang menyapanya. "Kinan? Kinanty?" Alisnya tertaut satu sama lain menunjukkan sikap terkejutnya.
Kinan mengangguk sebagai jawaban. "Kamu ngapain disini?" Tanya Kinan.
"Emm, aku..." Sinta ragu untuk menjawab, ia melirik lelaki disamping Kinan yang menggandeng lengan Kinan dengan posesif.
"Eh, ini suamiku, Mas Rey. Kamu ingat kan?" Kinan mencoba mengenalkan Rey pada Sinta tapi ia yakin jika mereka berdua pernah bertemu sebelumnya di Rumah Sakit Jiwa waktu itu.
"Su..ami?" Sinta menelan ludahnya dengan susah. Ia tak menyangka jika lelaki bernama Rey itu akan menjadi suami Kinan, ia hanya tahu jika Ammar-lah suami dari wanita itu.
"Iya, kami sudah menikah dan sedang menunggu kelahiran bayi kami." Jawab Rey mencoba bersikap ramah karena ia menyadari siapa Sinta sekarang.
Mata Sinta langsung terfokus pada perut Kinan yang sudah nampak membuncit, awalnya ia tak begitu memperhatikan tapi ucapan Rey membuatnya menyusuri tubuh Kinan dan mendapati perutnya yang membesar.
Kinan tersenyum ramah dan Sinta ikut tertular memberikan senyum yang ramah juga, tapi kali ini dia punya urusan lain yang sangat mendesak sehingga ia harus buru-buru undur diri.
"Ah, selamat atas pernikahan kalian." Ucapnya walau masih dilanda rasa bingung yang akut. "Sehat-sehat ya untuk kandunganmu, Ki. Kebetulan aku sangat buru-buru. Apakah lain kali kita bisa bertemu lagi?" Sinta menatap serius, wajahnya juga bercampur rasa tidak enak hati pada Kinan.
"Tentu, berikan nomor ponselmu?" Kinan menyerahkan ponselnya pada Sinta, agar Sinta bisa mengetikkan nomor ponsel pribadinya disana.
"Ini.." Sinta menyerahkan kembali ponsel Kinan setelah selesai dengan tujuannya. Maaf ya aku buru-buru." Sinta membungkukkan badan sebelum memutuskan pergi dari hadapan Kinan, gadis itu sedikit berlarian. Entah kenapa.
Rey mengangkat bahu menatap Kinan, ia langsung membukakan pintu mobil untuk istrinya. Kinan masuk kedalam kursi penumpang dan Rey memutari mobil untuk menduduki kursi pengemudi. Tapi bahunya terasa ditepuk dari belakang. Rey segera menoleh dan ia mendapati Doni berada disana.
"Lo ngapain disini?" Sapa Doni.
"Gue abis ikut kelas kehamilan bareng Kinan di gedung itu." Rey menunjuk sebuah gedung yang tadi ia kunjungi. "Lo sendiri ngapain?"
"Gue nyari seseorang." Doni menjawab lesu.
"Siapa? Jangan bilang lo buat masalah lagi, Dal?" Tebak Rey.
Tapi Doni menggelengkan kepalanya lemah, ia nampak rapuh dengan kening berkerut dan nafas yang terengah seperti habis lari marathon.
"Ada apa?" Suara Kinan memecah keheningan yang terjadi beberapa detik lalu. Tapi tak ada yang menjawab pertanyaannya, Rey sendiri masih menelaah sikap Doni yang lain dari biasanya. Biasanya, Doni akan bersikap begini hanya karena orang-orang terdekat dan ia sudah lama tak menunjukkan sikap serapuh ini.
"Don, Ada masalah?" Tanya Kinan ketika mendapati Doni berdiri bersama Rey di luar mobil. Doni kembali menggeleng lemah untuk menjawab Kinan. Kinan dengan otomatis membuka seatbelt yang tadi sudah sempat ia gunakan, lalu keluar untuk ikut bergabung bersama Rey dan Doni.
"Aku... tadi aku melihat tunanganku disini." Jawab Doni sambil mengusap wajahnya.
"Tunangan?" Rey dan Kinan serentak bertanya dengan ekspresi terkejut.
"Jadi lo udah ketemu sama dia?" Tanya Rey yang sepertinya sudah tahu jika Doni pernah bertunangan sebelumnya, itu berbanding terbalik dengan Kinan yang bingung karena tak tahu apa-apa.
"Kamu sudah bertunangan, Don?" Tanya Kinan. Doni mengangguk-angguk, pandangannya masih mencari, seolah menyapu ke semua arah.
"Doni udah bertunangan, Sayang. Tapi itu karena perjodohan." Rey terkekeh miris.
"Doni dan tunangannya dijodohkan waktu mereka sama-sama berada di London. Dalam dunia bisnis, menikahkan anak laki-laki dan perempuan mereka untuk memperkuat saham dan meningkatkan keuntungan itu biasa. Kamu paham kan?"
"Jadi kamu dan wanita itu terpaksa bertunangan demi bisnis keluarga?" Tebak Kinan tepat sasaran.
"Hmm" Doni hanya mampu bergumam.
"Gue udah coba untuk nerima perjodohan ini. Tapi dari awal, Cewek itu memang kelihatan gak tertarik sama gue." Doni menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil nyengir ke arah Kinan. "Padahal apa kurangnya gue coba? Sampe dia nolak gue, kabur dari London untuk pulang ke Indonesia. Buat gue ngejar dia kesini, balik lagi ke London, itu semua semata-mata supaya gue bisa ngomong sama dia, kalau gue gak seburuk yang dia pikirkan!!" Doni nyerocos sampai lupa situasi dan kondisi, padahal mereka sekarang berada di parkiran mobil.
"Kenapa dia bisa segitunya sama kamu?" Kinan mencoba memahami posisi Doni
"Ya karena si Kadal ini gak sengaja ketemu tunangannya pas dia lagi sama cewek lain, Sayang." Celetuk Rey. "Makanya tunangannya itu ilfeel. Hahaha" Lanjut Rey sambil menepuk-nepuk pundak Doni.
"Terus keluarganya gimana?" Tanya Kinan.
"Sebenarnya karena dia sering kabur-kaburan ngehindari gue, keluarganya juga jadi nyerah untuk melanjutkan pertunangan ini."
"Gue pikir malah udah bubaran lo!" Celetuk Rey. "Ya udah lo cari aja cewek lain. Susah amat!" Rey menimpali.
"Gak semudah itu, Nyuk! Kalo gue mau udah dari dulu gue serius sama cewek-cewek yang deket sama gue. Tapi nyatanya apa? Gak ada kan."
"Itu berarti kamu nungguin dia?" Tanya Kinan dengan mata membulat.
"Iyalah, apalagi coba?" Doni tampak melamunkan sesuatu, tapi tak lama dia bersuara kembali. "Entah kenapa, ada sesuatu dalam diri dia yang buat gue gak bisa lepas." Tuturnya.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Kinan dan Rey menyambut tamu-tamu yang berdatangan ke rumah baru mereka. Ini semua terjadi karena mereka tengah mengadakan pesta syukuran untuk rumah yang sudah mulai mereka tempati sekaligus syukuran atas kehamilan Kinan yang berkembang dengan sehat.
Mereka mengundang keluarga dan tak lupa juga semua sahabat mereka ikut hadir disana. Kevin dan Desi datang lebih dulu, dengan penampilan yang tampak serasi satu sama lain, membuat Kinan menunjukkan kedua jempolnya untuk menggoda Desi.
"Ya udah sih, nunggu apalagi? Udah cocok bener!" Goda Kinan memepet tubuh Desi, godaan Kinan itu pun membuat wajah Desi memerah.
Kevin tampak bergabung dengan Rey dan para keluarga Rey yang lain. Sesekali matanya memandang Desi dengan senyuman yang sulit untuk dijelaskan.
"Ki, kamu tahu enggak sebenarnya aku malu disini." Desi berbisik-bisik pada Kinan.
"Kenapa?"
"Aku kemarin udah dikenalin Kevin sama keluarganya, dan sekarang keluarganya juga ada disini. Kamu tahu kan, Kevin dan Rey itu tetanggaan dan udah kayak keluarga juga?" Ungkap Desi.
"Ya bagus dong. Itu kemajuan namanya. Jadi kapan lagi?" Tanya Kinan seraya matanya menatap kedatangan seorang tamu yang ia undang melalui sambungan telepon.
"Kamu doain aja ya." Ucap Desi dan Kinan menganggukkan kepalanya.
"Sebentar ya, ada teman aku datang." Ucap Kinan.
Desi ingin bertanya siapa teman yang Kinan maksud, tapi sebelum ia bisa bertanya, Kinan sudah lebih dulu bergerak menuju pintu utama dan Desi melihat seorang gadis yang baru saja datang sudah disambut hangat oleh Kinan.
"Des, kenalin ini Sinta. Dia perawat aku dulu."
Sinta dan Desi saling berjabat tangan dan menyebutkan nama satu sama lain. Mereka mengobrol dengan akrab disudut ruangan, membicarakan pernikahan Kinan serta membicarakan soal Kinan yang akhirnya menikah dengan Rey. Kinan mengatakan dan terbuka pada Desi dan Sinta.
Pada akhirnya Desi dan Sinta mengetahui juga pertemuan pertama Kinan dan Rey pada malam itu. Kinan mengatakan itu semata-mata hanya ingin mereka tahu jika yang dikandung Kinan benar-benar anak biologis dari Rey. Dan itu cukup mengejutkan Desi yang notabene-nya baru tahu hal itu sekarang. Tapi Desi lebih memfokuskan kebahagiaan Kinan sekarang dan tak mau ambil pusing dengan masa lalu walau sebenarnya ia pun tak menyutujui perbuatan Rey dimasa lalu itu.
Sinta juga terkejut tapi ia mencoba mengerti diposisi Kinan, bagaimanapun semua orang punya masalahnya sendiri-sendiri.
"Jadi kamu bekerja di Rumah Sakit itu sekarang?" Tanya Kinan pada Sinta.
"Ya, sebenarnya aku punya latar belakang kesehatan yang kalau aku bilang pasti membuat kamu bingung kenapa aku dulu malah berakhir jadi suster di RSJ." Sinta tersenyum penuh ironi. "Aku lulusan Universitas kesehatan di London. Orangtuaku dan aku tinggal disana dalam jangka waktu yang lama. Sampai pada akhirnya..."
Kinan mengerutkan kening karena bingung dan ia mencoba mencerna serta mencocokkan sesuatu dengan yang terlintas dibenaknya tapi ia urung mengungkapkan dalam bentuk suara, akhirnya ia memilih untuk diam dan mendengarkan. Begitu juga dengan Desi, sepertinya kata 'London' sering kali ia dengan akhir-akhir ini dari mulut Kevin dan yang lainnya.
"Ada suatu problem yang membuat aku melarikan diri dari sana. Aku tidak sempat membawa sertifikat pendidikanku ke sini jadi aku mencari pekerjaan yang masih berhubungan dengan bidangku, dan malah menemukan situs pencarian perawat RSJ itu di media sosial." Lanjut Sinta.
Percakapan mereka sangat seru, membuat ketiganya lupa akan keadaan sekitar. Ketiganya saling mendengarkan satu sama lain dan saling bersikap terbuka. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata memperhatikan ketiganya dan dengan langkah cepat mendekati.
SRET!!!
Sinta menoleh untuk melihat seseorang yang mengambil lengannya dengan sangat cepat dam seketika itu juga matanya bertemu dengan sosok orang yang ia hindari selama ini.
.
.
.
Bersambung ...