How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
SEASON II - Menjenguk



Suasana malam itu cukup mendung, semilir angin sepoi-sepoi mulai menggelitik ke permukaan kulit. Joana yang tengah bersandar di sofa Beranda pun seakan terhanyut dalam lamunannya, matanya fokus menatap ke langit yang memerah, menakung banyak air dan mungkin sebentar lagi air itu akan luruh dan membasahi bumi.


Namun, pikiran perempuan itu bukanlah sekedar tentang mendung dan hujan. Pikirannya berkelana entah kemana, setelah beberapa saat lalu ia baru saja menyelesaikan sebuah panggilan telepon ke ponsel Ammar untuk menanyakan keadaan kekasihnya itu.


Semakin hari, Joana semakin merasa takut kehilangan, sikap Ammar yang dewasa dan hangat membuatnya enggan jika harus mengakhiri hubungan itu dalam waktu dekat. Tapi, Joana juga tak boleh egois, hidupnya bukanlah tentang dirinya saja melainkan ada keluarga yang juga sudah menopangnya sampai seberhasil sekarang dengan profesinya.


Joana tak menampik kemungkinan keluarganya akan menolak keputusannya memilih Ammar yang berstatus duda. Ia pun sadar bahwa Ammar pun memiliki dua orang anak yang entah kenapa juga Joana kasihi. Shaka dan Lesya sudah terlanjur dekat dengannya bahkan sebelum dia dan Ammar menjalin hubungan seperti sekarang.


"What do you think, Joana?" (Apa yang sedang kamu pikirkan, Joana?). Suara bariton milik sang Ayah membuyarkan pikiran-pikiran Joana yang sudah larut dalam kekalutannya.


Joana menoleh kebelakang dimana sang Ayah mulai mendekat kearahnya lalu mendaratkan bokoongnya di sofa yang berada dihadapan Joana.


Tak berselang lama, hujan pun turun dengan amat deras, membuat keduanya terdiam beberapa saat.


(Anggap mereka bicara menggunakan Bahasa Inggris.)


"Apa yang mengganjal hatimu, Nak?" lagi-lagi suara pria setengah baya itu, membuat Joana gugup sekaligus resah.


"Tidak ada, Dad."


"Oh, ayolah! Daddy mengenalmu bukan sehari-duahari."


Joana menghela nafasnya, ia tahu bahwa sang Ayah lebih mengenalnya daripada dirinya sendiri.


"Aku--aku.." Joana ragu-ragu.


"Apa ini ada kaitannya dengan Xander?" tebak Nathan.


"No! Aku bahkan tidak mau memikirkannya lagi. Dia terlalu memuakkan." ucap Joana pelan.


Nathan terkekeh melihat ekspresi sang Anak yang mendengus kesal. Ia menggelengkan pelan kepalanya. Ia pun sudah muak mengurus lelaki psikopat mantan pacar Joana itu. Emosinya selalu naik-turun bak roller coaster jika membicarakan Xander.


"Jangan ingat dia, Dad," ucap Joana. "Aku tahu, Daddy akan naik darah jika mengingatnya." sambung perempuan itu dan Nathan kembali terkekeh kecil.


Sebagai seorang Ayah, dia selalu mengkhawatirkan anak perempuannya, ia merelakan Joana menetap di Indonesia juga semata-mata agar membuat Joana jauh dari Xander. Tak ada yang menyangka, obsesi Xander terhadap Joana malah membawanya terbang jauh menyusul Joana ke Indonesia.


Nathan pun terlalu khawatir saat mengetahui kali ini Joana harus tersangkut-paut lagi dengan kegilaan Xander, makanya dia dan Julia-istrinya, memilih untuk menyusul Joana ke Indonesia sekaligus mengunjungi saudaranya yaitu orangtua Doni.


"Jujur saja, Jo. Daddy sangat mengkhawatirkanmu. Apalagi saat nama Xander yang lagi-lagi disebut sebagai dalang dari masalah yang menimpamu."


Joana mengangguk-angguk. "Aku tahu Daddy menyayangiku dan sangat khawatir. Maafkan aku, Dad..aku sudah membuat Daddy kepikiran."


Nathan tersenyum sekilas. Melihat kondisi Joana baik-baik saja didepan matanya adalah suatu anugerah tersendiri untuknya. "Daddy harap, kau tidak menjalin hubungan dengan lelaki seperti Xander lagi." ucapnya seraya menepuk-nepuk punggung tangan Joana.


Tak berselang lama, seorang wanita setengah baya yang tak lain adalah Julia-Mama Joana, pun sampai di beranda dan ikut bergabung bersama mereka.


"Wah hujannya cukup deras." ucap Julia ketika tiba di Beranda yang sama, ia duduk dan menatap bergantian antara Joana dan Nathan-suaminya.


"Kenapa kamu menyusul kesini, nanti kamu bisa flu." kata Nathan seraya merangkul mesra pundak sang istri.


Joana tersenyum melihat kedua orangtuanya yang tetap mesra diusia yang tak muda lagi.


"Tidak akan, aku kesini juga untuk berbicara pada putriku," jawab Julia lembut. Wanita itu menatap anak perempuannya. "Mama ingin membahas soal yang tadi Daddy singgung di meja makan," sambungnya sambil menyunggingkan senyum hangat.


"Soal apa?" Joana mengalihkan pandangannya kearah lain, ia jelas-jelas tahu maksud sang Mama.


"Soal kekasihmu." Julia tersenyum kearah Nathan dan suaminya mengangguk menyakinkan. "Mama dengar dia terluka karena menolongmu," sambung Julia.


"Hem.." Joana bergumam saja.


"Apa dia masih dirumah sakit? Bagaimana keadaanya, Jo?" Julia menatap Joana. "Apa kita menjenguknya saja?" Kini wanita itu beralih menatap sang suami yang duduk disampingnya.


"Good idea!" (ide bagus!) jawab Nathan cepat.


Joana terdiam, suaranya seakan lambat keluar untuk mengutarakan isi hatinya.


"Kita akan menjenguknya besok." ucap Julia dan Nathan mengangguk setuju.


"Mama dengar dia dirawat di Rumah Sakit milik Erlan. Kita bisa kesana bersama-sama." ucap Julia antusias. Erlan adalah Ayah Doni, beliau adalah pemilik Rumah Sakit yang sekarang sedang merawat Ammar sekaligus tempat Sinta-istri Doni-bertugas sebagai Dokter bedah.


Joana hanya bisa mengangguk tanpa berkata-kata, mungkin setelah orangtuanya bertemu dengan Ammar secara langsung barulah dia menjelaskan semuanya.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Keesokan harinya, seperti janji yang sudah dibuat sebelumnya, Julia, Nathan dan Joana bersiap untuk menuju Rumah Sakit, mereka berniat untuk menjenguk Ammar. Kedua orangtua Doni pun turut ikut bersama mereka dan mereka menggunakan satu mobil dengan disupiri seorang supir keluarga.


"Papa, Mommy.." Sinta menyalami kedua mertuanya lalu melakukan hal yang sama pada kedua orangtua Joana.


"Kalian pasti mau menjenguk Ammar, 'kan? Ayo aku antar ke ruangannya." Ucap Sinta ramah. Mereka berlima pun mengikuti langkah Sinta melewati koridor-Rumah Sakit lalu menaiki Lift.


"Kamu tidak sibuk, Sin?" tanya Julia pada Sinta.


Sinta menyunggingkan senyum. "No, Aunty. Aku baru saja keluar dari ruang operasi." kata Sinta.


"Kau pasti lelah, manfaatkan waktumu untuk beristirahat saja, Sayang." ucap Maria--mertuanya.


"Jarang sekali keluargaku datang ke sini, jadi tidak ada salahnya sesekali aku menyambut kedatangan kalian." jawab Sinta seraya terkekeh. Mereka semua pun tersenyum mendengarnya.


Kini, mereka berbelok menuju koridor yang menghubungkan langsung ke ruangan VVIP yang merawat Ammar.


"Ini ruangannya." kata Sinta dan ia melirik Joana yang tampak diam sedari tadi. Sinta membaca kegugupan dimata Joana dan mereka saling memberi isyarat lewat sorot mata. Seolah Sinta sedang menyemangati Joana.


"Silahkan masuk, Mommy, Papa, Uncle dan Aunty Julia." ucap Sinta. "Tapi demi kenyamanan pasien, bergantian saja, itu akan lebih baik." kelakarnya seraya menunjukkan sederetan gigi putihnya.


Mereka mengangguk dan sepakat. Akhirnya yang lebih dulu masuk adalah Joana dan kedua orangtuanya. Sedangkan kedua orangtua Doni masih menunggu diluar seraya berbincang dengan Sinta sang menantu.


...______...


Ammar sedang menelepon saat Joana dan kedua orangtuanya memasuki ruangan Ammar. Disana hanya ada Ammar sendiri tanpa siapapun yang menemaninya.


Joana berdehem dan Ammar pun menyadari kedatangan mereka.


"Saya percayakan pada kamu semuanya, urus dulu yang mendesak. Nanti akan saya hubungi kembali." Suara Ammar samar-samar terdengar oleh Joana dan kedua orangtuanya, kemudian Ammar pun mengakhiri panggilan itu.


"Ammar.." suara Joana terdengar lirih.


kenapa dia?-batin Ammar. Ammar merasa Joana menyimpan kesedihan sendiri. Entah apa.


Ammar melirik dua orang yang ikut memasuki ruang rawatnya. Seorang pria berumur dengan perawakan luar-garis wajahnya mengingatkan Ammar dengan seseorang, entah siapa. Dan yang staunya adalah seorang wanita cantik tapi tak muda lagi, wanita itu menyunggingkan senyum ke arah Ammar. Melihat senyumnya, Ammar langsung menyadari senyuman itu mirip milik seseorang.


"Selamat siang.." sapa wanita setengah baya itu. Senyumnya tidak surut sedikitpun dan Ammar membalas senyumnya dengan ramah.


"Selamat siang," jawab Ammar lalu ia menoleh kearah Joana. "Apa ini orangtuamu, Jo?" tebak Ammar tepat sasaran. Ia sudah mengetahui siapa pemilik raut wajah dan senyum yang mirip dengan kedua orang dihadapannya, yaitu Joana.


Joana mengangguk. "Ini adalah Mama dan Daddy-ku." Joana menatap ketiganya bergantian dan Ammar ingin merubah posisinya untuk sedikit duduk.


"Jangan dipaksakan jika masih sakit. Berbaring saja." Kata Julia mencegah Ammar.


"Terima kasih, emm.." Ammar bingung ingin memanggil orangtua Joana dengan sebutan apa.


"Panggil saja seperti Joana memanggil kami." potong Nathan ramah. Pria itu ternyata sangat ramah sesuai dengan raut wajahnya yang terus mengurai senyuman.


"Maaf karena posisinya menjadi terbalik," kata Ammar menatap kedua orangtua Joana.


Joana mengerutkan dahinya, ia tak paham apa maksud Ammar.


Ammar membaca raut ketiganya yang tak paham akan ucapannya. "Maksudnya, seharusnya saya yang lebih dulu menemui kalian, bukan malah sebaliknya." jelas Ammar dengan dewasa.


Kedua orangtua Joana mengangguk-angguk.


"Cepatlah sembuh dan temui lagi kami dalam keadaan sehat." sahut Nathan.


Ammar tersenyum. "Itu pasti akan saya lakukan," jawabnya.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Julia seraya memandang Ammar dan Joana bergantian. Julia merasa ada yang aneh dengan sikap Joana yang mendadak jadi pendiam sejak tadi, itu jugalah yang dirasakan Nathan dan Ammar.


"Saya sudah mulai membaik." jawab Ammar.


"Bagus. Kami sebagai orangtua Joana mengucapkan maaf padamu karena--"


"Tidak perlu, justru saya yang ingin meminta maaf karena sudah lalai menjaga Joana." ucap Ammar menatap Julia dan Nathan.


Kedua orangtua Joana itupun serentak menatap sang putri.


"Ada yang ingin kau katakan, Jo?" tanya Julia, sontak Joana yang melamun sedari tadi pun terkejut.


...Bersambung......