
Suasana kediaman keluarga Denizer nampak tegang. Mama Rey berjalan mondar mandir sambil memangku sebelah tanggannya dan menggigit kuku. Bingung dan gelisah. Tentu saja perihal anak semata wayangnya yang entah kemana.
Lagi, wanita itu menatap suaminya yang tengah duduk dibalik meja kerjanya dengan ekspresi datar.
"Pa! mau sampai kapan Rey tidak pulang?" Tanya wanita itu pada suaminya, Papa Rey hanya menatapnya sekilas lalu mengangkat bahu.
"Pa....!" protes Mama Rey melihat sikap suaminya yang terkesan cuek itu.
"Mana aku tau mau sampai kapan anak itu tidak pulang!" terdengar nada suara Papa Rey dengan nada terendah, lalu Ia menyeruput kopi dari cangkirnya dengan santai.
"Bukan 'anak itu' Pa! Rey itu anak kita!" Suaranya mulai tinggi dan ia berkecak pinggang.
"Papa pasti tahu Rey kemana kan? tolong suruh dia pulang Pa! Nomor handphone-nya tidak bisa dihubungi!"
"Nah itu tau, bagaimana aku mau menyuruhnya pulang?" Pria dengan perawakan tampan diusianya yang tak lagi muda itu malah balik bertanya kepada istrinya.
"Tapi kan orang-orang suruhan Papa pasti tau, dan mengikuti kemana Rey pergi!"
"Itu dulu. Sekarang mereka punya pekerjaan yang lebih penting!"
"Jadi maksud papa Rey tidak penting? Dia anak kita, Pa!"
"Justru karena dia anak kita makanya biar dia belajar bagaimana kejamnya hidup! jangan seenaknya berbuat sesuka hati!"
"Pa, dari kecil Rey sudah belajar agar tak ketergantungan. Dia menabung dari uang saku-nya! Bahkan setelah dewasa, dia mendapat uang bukan dengan cuma-cuma, dia harus bekerja di perusahaan untuk mendapatkannya! Apa itu tidak cukup? Padahal semua yang kita punya adalah miliknya!"
"Dia juga baru bekerja beberapa bulan. Dan...bukan berarti dia bisa berbuat sesuka hatinya! Dia sudah kelewatan, Sayang!"
"Dari kemarin aku bertanya apa kesalahan yang Rey perbuat, tapi kau tidak mau memberitahu! Memang sulit membuka jalan pikiranmu itu!" Mama Rey berkata seraya keluar ruangan dengan sedikit membanting pintu.
Wanita itu tidak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya yang selalu saja membatasi Rey, bahkan jika itu hal-hal wajar dan sepele. Parahnya lagi, kali ini Pria itu bahkan tak memberitahunya apa sebab-musabab Rey bisa memutuskan keluar dari rumah orangtuanya sendiri.
Saat Mama Rey keluar dari ruang kerja, tampaklah asisten rumah tangganya sedang membukakan pintu masuk utama seperti menyambut kedatangan tamu. Mama Rey segera menuruni tangga untuk melihat siapa yang datang kerumahnya.
"Ehemm" Wanita itu berdehem untuk mengetahui maksud dan tujuan seorang lelaki yang datang kerumahnya ini.
"Maaf nyonya, Tuan ini mencari Mas Rey!" Ujar seorang asisten rumah tangganya.
Mama Rey menghampiri lelaki yang datang dengan tampang kusut, wajahnya ditekuk dan seolah menyimpan amarah. Walau begitu, tak bisa menyembunyikan wajahnya yang tampan dan penampilannya yang terbilang berkelas.
"Silahkan duduk!" Ucap Mama Rey berusaha seramah mungkin.
Lelaki tampan itu pun duduk seraya menghembuskan nafasnya untuk menenangkan diri.
"Ada perlu apa ya Anda dengan Rey?" Ucap Mama Rey lembut. Mama Rey mengulas senyum untuk bersikap sopan.
"Maaf Nyonya, saya Ammar. Saya mencari Rey karena ada suatu keperluan mendesak!" Ujar lelaki itu sambil ikut menyunggingkan senyum terpaksa.
"Sayang sekali, Rey tidak dirumah. Jika boleh tahu, hal mendesak apa? biar saya sampaikan pada anak saya jika dia pulang nanti!"
Ammar menggeleng. "Tak perlu, jika Rey memang benar tidak dirumah. Saya yang akan mencarinya sendiri!" Ammar bangkit dengan tergesa dan langsung permisi undur diri.
"Tunggu!"
Ammar menoleh sekilas.
Ammar berbalik dan mencoba menghirup oksigen sebanyak mungkin. Ia tidak berniat untuk memberitahukan persoalannya pada orangtua Rey. Bagaimana pun, biar ini menjadi urusannya sesama lelaki karena Rey sudah melarikan Kinan istrinya.
Tapi Ammar berfikir cepat, mungkin dengan ia memberitahu orangtua Rey, akan sedikit membantunya untuk tahu keberadaan Rey sekarang. Itu akan menuntunnya pada Kinan. Dan itulah yang Ammar butuhkan saat ini.
"Rey, dia...dia membawa kabur istri saya!" Ucap Ammar ragu pada awalnya.
Wanita yang berada didepan Ammar terperangah tidak percaya. Ia menutup mulutnya spontan, ekspresi keterkejutannya.
*Beberapa saat yang lalu..
Ammar berjalan gontai menuju ruangan staff Rumah Sakit, yang mengurus perihal hilangnya Kinan, dua hari yang lalu.
"Pak, setelah kami mengecek CCTV di bagian luar gerbang, kami menemukan ini!" Staff lelaki itu menggeser laptopnya sedikit agar Ammar dapat melihat yang terpampang didepan layar. Layar laptop itu memutar tayangan CCTV yang ia maksud.
"Dari yang kami lihat di jam yang sama, ibu Kinanty kabur sendirian Pak. Tapi coba Bapak perhatikan ini!" Staff itu menjeda tayangannya agar Ammar bisa melihat dengan jelas. Ammar memperhatikan dan melihat bahwa Kinan hampir tertabrak oleh sebuah Taxi, dan pingsan.
"Istri saya tertabrak? lalu kemana mereka membawanya?"
Staff itu menggeleng. "Saya tidak tahu kemana penumpang Taxi ini membawanya!" Staff itu menayangkan kembali rekaman CCTV itu, dan nampaklah Rey yang turun dari taxi untuk melihat keadaan Kinan, lalu menggendongnya masuk kedalam taxi seraya taxi itu pun berlalu pergi.
"Jika bapak tidak keberatan, hal ini akan saya proses ke pihak berwajib. Agar polisi bisa mendeteksi siapa supir taxi ini dan melacak keberadaannya!" Lelaki itu menunjuk plat nomor Taxi yang terlihat dan nampak cukup jelas dari rekaman itu.
Ammar terdiam, ia tak memikirkan tentang polisi sekarang. Ia seperti menimbang-nimbang seolah memikirkan sesuatu.
Ammar menggeser laptop semakin dekat kearahnya.
"Permisi.." Ucap Ammar untuk izin mengambil alih laptop itu, Ammar memainkan jarinya untuk mengulang dan menjeda tayangan yang ada didepan matanya.
"Dia..." Tangan Ammar mengepal menyadari lelaki yang membawa Kinan pergi adalah Rey.
Lantas, Ammar mencari keberadaan perawat yang tak lain adalah Sinta. Ia menginterogasi Sinta perihal Rey. Sinta menjawab ia tak tahu menahu jika hilangnya Kinan ada sangkut pautnya dengan Rey.
"Ketika dia datang, kau bilang dia temanmu, kan? lalu bagaimana bisa dia membawa istriku?" Ammar menatap Sinta dengan tajam, gadis itu hanya menunduk tak berani beradu mata dengan Ammar.
"Maaf Mas. Saya tidak tahu dan saya tidak menyangka ini akan terjadi!" Suara Sinta terdengar lirih.
Ammar berdecak. Ia merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya dan menelepon asisten sekaligus orang kepercayaannya untuk mencari tahu alamat Rey, dengan modal nama asli Rey yang ia ketahui dari Sinta.
Sinta mengetahui nama Asli Rey karena setiap pengunjung yang akan menjenguk pasien dirumah sakit ini, wajib meninggalkan data diri. Sinta sebenarnya juga menyimpan alamat Rey, namun ia memilih hanya memberitahu namanya saja pada Ammar. Sinta tak mau terlalu jauh ikut campur, karena ia sebenarnya ingin membantu Kinan. Namun, ia tak menyangka Rey senekat ini dengan membawa pergi Kinan dari rumah sakit secara diam-diam.
Setelah menunggu beberapa saat, Ammar dengan mudah sudah mengantongi alamat dimana tempat tinggal Rey. Awalnya ia sedikit terkejut menemukan rumah Rey yang menjulang megah bak kastil dinegeri dongeng. Ia seperti kurcaci kecil dan tengah berada diambang pagar yang tingginya tetap menampakkan bangunan megah didalam sana.
Ammar sedikit gugup untuk menekan bel namun rasa amarahnya terhadap Rey justru membakar semangatnya untuk memberi hadiah tinjuan untuk lelaki muda yang lancang membawa Kinan bersamanya.
.
.
.
Bersambung...