
Setelah pernikahan dadakan antara Ammar dan Joana terlaksana. Semua orang yang ada disana seakan tersadar, jika sepasang insan yang baru saja resmi menjadi suami istri beberapa saat lalu itu sudah tidak berada didalam Mansion.
Kemana mereka? Sanking sibuknya semua orang dengan hal masing-masing, sampai tidak ada satupun yang menyadari saat mereka berdua diam-diam telah pergi entah kemana.
"Mana pengantinnya?" entah suara siapa yang lebih dulu bertanya hal demikian dan disaat itulah semua orang mencari-cari keberadaan Ammar dan Joana.
Kevin sampai menepuk jidatnya sendiri, menyadari jurus menghilang yang digunakan Ammar dan Joana untuk kabur dari acara pernikahannya sendiri.
"Sialan! Gak sabar banget nunggu malam." celetuk Kevin membuat Doni beserta yang lainnya mengulumm senyuman.
"Kayak lo enggak aja, bro!" cibir Rey.
"Yee ... emang sih, gue dulu juga gak sabaran, tapi gak ada cerita kabur-kaburan dan menghilang kayak gini. Udah kayak ninja aja." gerutu Kevin setengah tergelak.
Semua yang berada disatu meja yang sama dengan Kevin langsung meledakkan tawa mendengar gerutuan Kevin itu.
Saat mereka masih asyik saling cibir-mencibir satu sama lain. Tiba-tiba pengisi acara langsung mengambil alih keadaan.
"Sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih untuk semua yang turut hadir di acara yang berbahagia ini, semoga berkenan melanjutkan acara dan menikmati semua hidangan yang sudah disediakan."
"Soal pengantinnya--pengantinnya, mereka sedang beristirahat karena kita semua juga tahu kalau Ammar dan Joana baru saja pulang dari perjalanan jauh. Dan acara ini memang sangat mendadak. Jadi sekali lagi, terima kasih dan mohon maaf. Silahkan dinikmati dan dilanjutkan sampai acaranya selesai. Semoga pengantin kita juga menjadi pasangan yang berbahagia selamanya." itulah kata-kata yang diucapkan MC yang terlihat sekali jika dia mengharapkan semua orang untuk memaklumi keadaan 'pengantin yang kabur' ini. Padahal diapun pasti kebingungan dan gugup saat harus membuat alasan klise yang terdengar nyeleneh itu.
Semua tamu yang datang ada yang memaklumi karena benar-benar termakan ucapan MC, namun ada pula yang tidak percaya begitu saja. Karena menurut Rey, Kevin dan Doni yang sepemikiran--Ammar dan Joana memang sengaja meninggalkan acara ini dengan kabur diam-diam entah kemana.
"Asal jangan lupa pulang aja mereka." kata Doni tiba-tiba masih mengulumm senyuman.
Acara itu pun berlanjut walau tanpa adanya sepasang pengantin lagi. Sampai sejauh ini acara kembali berjalan normal seperti diawal.
Keadaan ditempat acara berbanding terbalik dengan orangtua Joana yang kebingungan mencari Sang Anak.
"Sudahlah, mereka juga sudah resmi menikah. Kita tidak perlu khawatir. Ammar pasti tahu apa yang harus dia perbuat." kata Nathan menenangkan istrinya yang masih heboh sendiri karena kedua mempelai itu telah menghilang.
"Iya, mereka pasti sudah bersenang-senang. Kita jangan terlalu merisaukan. Doakan saja yang terbaik dan mudah-mudahan besok mereka sudah kembali." timpal Erland (Ayah Doni) yang juga ikut menenangkan istrinya yang ikut heboh seperti Julia, karena mencari keberadaan Joana dan Ammar.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Dilain tempat, Ammar baru saja selesai mandi dan mengenakan kaosnya. Saat matanya menangkap Joana yang kesulitan membuka gaun yang dia kenakan, karena resleting gaun itu berada dibelakang tubuhnya.
"Sayang, apa mau ku bantu?" tanya Ammar seraya menggosok rambutnya yang basah dengan menggunakan secarik handuk.
"Iya, ini lumayan susah." aku Joana sambil melihat kearah belakang punggungnya sendiri.
Ammar mendekat dan membantu Joana membuka resleting gaunnya. Setelah selesai dengan itu, Ammar sedikt memalingkan wajahnya karena harus disuguhi pemandangan kulit punggung seputih susu itu.
"Sudah ..." kata Ammar, tapi tangannya masih berada di kepala resleting gaun, seperti terkunci disana dan enggan melepaskan.
"Terima kasih, Aku mandi dulu, ya." kata Joana seraya melirik Ammar sekilas yang dalam pandangannya sudah dengan wajah memerah, entah kenapa.
Ammar diam saja dan hanya mengangguk berulang. Dia melepaskan tangannya dari gaun Joana dengan rasa tidak rela.
Tapi dia mendadak menjadi kaku karena kini Joana hanya mengenakan underwear dihadapannya, gaun yang tadi sudah dibuka pun telah teronggok dilantai begitu saja.
Joana mengendikkan bahu cuek, dia pun mengambil handuk untuk menuju kamar mandi yang berada diujung kamar.
Ammar langsung terduduk dipinggiran ranjang. Pikirannya sudah berkelana entah kemana karena melihat pemandangan tubuh Joana yang baru sekali ini terekspos didepan matanya sendiri. Kepalanya mendadak pening dan dia menunggu Joana keluar dari kamar mandi dengan perasaan gelisah.
Lagi-lagi Ammar menelan salivanya berat. Ini adalah pernikahan ketiganya, tapi sikap dan tingkah Joana benar-benar berbeda dari dua wanita yang sebelumnya sempat menjadi istrinya.
Entah karena Joana yang sejak lahir tinggal di London dan budaya barat membuatnya terbiasa dan tidak canggung, tapi menurut Ammar kebiasaan Joana ini sangatlah mengusik jiwa kelelakiannya. Memang Joana perempuan yang polos, tapi kebiasaannya di tempat tinggalnya yang dahulu membuatnya terlihat cuek dan terkesan seperti tengah menggoda Ammar.
Kini dia malah melihat Joana yang dengan polosnya membungkuk seraya membongkar isi kopernya sendiri dengan sebelah tangan, tangan yang satunya sibuk memegangi handuk agar tidak terbuka. Rambutnya yang basah, dibiarkan tergerai dan meriap-riap indah dipandangan mata Ammar.
"Jo ..." Ammar memanggil Joana dengan suara bergetar, setelah sempat gelisah menunggu istrinya mandi, sekarang dia harus berani mengutarakan isi kepalanya, karena tingkah Joana semakin menjadi, seakan-akan tidak ada orang didalam kamar itu selain dirinya sendiri.
"Ya?" Joana menoleh ke arah Ammar dengan tatapan polosnya, membuat has rat pria itu melambung.
Tanpa berkata lagi, Ammar mendekat ke arah Joana dan menarik handuknya begitu saja, membuat mata Joana membola akibat terkejut dengan tindakan cepat yang Ammar lakikan.
"Ammar ...." serunya.
"Apa kau lelah?"
Gelengan dari kepala Joana adalah jawaban yang benar-benar dia harapkan.
Dan setelah itu mereka menghabiskan malam yang panjang dengan penuh kehangatan.
------
"Sayang, apa tidak apa-apa kita pergi meninggalkan acara begitu saja?" tanya Joana pada Ammar yang merengkuhnya dalam pelukan diatas ranjang. Joana masih kepikiran acara pernikahannya yang sempat mereka tinggalkan begitu saja.
Ini mungkin terlalu larut untuk memikirkan acara mereka siang tadi, tapi mau bagaimanapun dia tetap saja kepikiran dengan hal itu. Ammar dengan ide gilanya, tiba-tiba menarik tangannya dan menuntunnya menuju mobil. Mereka langsung bertolak menuju Hotel dan meninggalkan acara yang masih berlangsung. Barang-barang Joana, termasuk kopernya, memang masih ada didalam mobil Ammar karena sepulang dari Panti Asuhan dia memang menaiki mobil itu.
"Tidak apa-apa... mereka semua pasti paham dan mereka pasti sedang menertawakan kita." Ammar terkekeh diujung kalimatnya karena dia tahu pasti pemikiran tiga sekawan itu, siapa lagi jika bukan Rey, Kevin dan Doni.
Wajah Joana memerah mendengar kalimat Ammar. Dia pasti akan sangat malu menjadi bahan olok-olokan Rey and the genk.
Cup!
Ammar mengecup pucuk kepala Joana, lalu merapikan anak-anak rambut Joana yang berserakan dengan sentuhan lembut.
"Aku cinta kamu, Jo..." katanya kemudian dan Joana menyunggingkan senyumnya yang khas.
"Aku tidak mau berpisah denganmu lagi. Apapun alasannya jangan pernah menghindar dan pergi dariku. Kamu istriku sekarang." peringatnya pada perempuan yang kini sudah memeluk tubuh polosnya didalam selimut.
"Iya, terima kasih sudah menjadikanku istrimu." kata Joana mengelus rahang kokoh suaminya, menelusuri pipi Ammar yang mulai ditumbuhi rambut kasar dengan jari jemarinya yang lentik.
Ammar mengambil tangan Joana dan mengecupnya berulang. "Aku yang harusnya berterima kasih, kamu mau menerimaku dan semua masa laluku. Kamu juga sudah menjaga dirimu, sampai aku menjadi laki-laki pertama--"
"Dan yang terakhir." potong Joana.
Ammar tersenyum miring. "Ya, dan yang terakhir.." sahutnya senang.
Ammar kembali merapatkan diri pada perempuan yang sudah menjadi istrinya itu, menyatukan diri untuk yang entah keberapa kalinya dimalam ini. Hingga bias-bias kebahagiaan terpancar dari wajah keduanya, membuai dan melambungkan keduanya dalam perasaan yang menggebu. Rindu dan cinta yang terbalut menjadi satu. Saling ingin memiliki satu sama lain, mengingat perjuangan mereka yang terbungkus banyaknya airmata.
Kini saatnya membuka awal dan hidup yang baru, setelah semua proses yang mereka lalui dengan tidak mudah. Berjuta langkah dan detik waktu yang terbuang, akhirnya membuktikan bahwa indah pada waktunya benar-benar sudah mereka raih.
Biarlah pagi menyambut mereka berdua dengan senyuman yang tersungging, karena mereka sudah lelah menyambut pagi dengan airmata yang berlinang.
...The End......