
Matahari berangsur-angsur naik dari ufuk timur, memancarkan kilauan keemasan yang mencerahkan bumi pagi ini. Tetes-tetes embun didedaunan mulai mengering seiring sengatan mentari yang mulai menyinari.
Seorang perempuan yang tengah tertidur dalam balutan selimutnya pun enggan untuk terjaga, entah karena ia terlalu lelah atau karena begitu nyaman dalam tidurnya. Ia semakin bergelung dalam selimut dan beberapa kali berguling-guling untuk mencari posisi tidur yang ternyaman.
...Brakkk!!!...
Perempuan itu terjatuh dari termpat tidur, seketika itu pula ia menyadarkan diri dari efek ngantuk yang belum sepenuhnya hilang.
"Oh My...." Ia mengusap wajahnya sendiri. Kesal, itulah yang ia rasakan saat ini. Merasa bo-doh atas kelakuannya sendiri tapi akhirnya ia terkikik juga saat menyadari apa yang baru saja terjadi padanya.
"Jo!!! Wake Up! Kalau kau terus bangun kesiangan dan melewatkan sarapan pagi bersama keluarga, bagaimana kau mau membina keluargamu sendiri!" Suara teriakan itu terdengar nyaring di indera pendengaran Joana.
"Iya iya! Ini aku sudah bangun!" jawab Joana sambil memekik. Ia mencebik mendengar suara Doni yang selalu saja cerewet seperti Mamanya. Inilah bedanya tinggal di Mansion keluarga, berbanding terbalik jika dia masih tinggal di Apartment.
Joana memutuskan mandi saat itu juga, setelah bersiap dan memandangi penampilannya yang sempurna dengan balutan blouse ringan dan celana denim, Joana melangkahkan kaki menuju Ruang makan keluarga.
"Good Morning..." Sapanya pada semua yang sudah menempati kursi makan masing-masing. Disana ada Paman dan Tantenya--orangtua Doni. Ada Doni berserta Sinta, juga tentunya ada seorang Baby Sitter yang sedang repot membantu Sinta menyuapi bayi laki-laki yang juga ikut bergabung bersama.
"Morning..." Jawab semua pada Joana dengan nyaris serentak.
"Kamu mau kemana, Jo? Ini kan hari libur." Tanya sang Tante yang adalah Ibu Doni. Wanita setengah baya itu memperhatikan Joana yang sudah rapi.
"Mau jalan-jalan, Aunty." Jawabnya singkat tanpa mendetail-kan. Membuat Doni dan Sinta berpandangan satu sama lain, karena Joana biasanya pergi bersama mereka tapi sepertinya hari minggu ini mereka tidak ada membuat janji untuk melakukan perjalanan.
Ibu Doni mengangguk-angguk, "Kau sudah punya pacar sekarang?" Tanyanya lembut.
"No.." Jawab Joana singkat seraya mengolesi rotinya dengan butter. Kembali, Sinta dan Doni saling bertatapan penuh tanya.
"Jo, selesaikan sarapanmu setelah itu kita perlu bicara sebelum kau pergi." Ucap Doni sambil menyesap kopinya. Joana mengangguk tanpa kata.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Joana menemui Doni di beranda Mansion yang letaknya disayap kiri luar bangunan besar itu.
"What's wrong?" (Ada apa?) Tanya Joana mengarah pada sepasang suami Istri yang tak lain adalah Doni dan Sinta.
"Kau mau kemana hari ini?" Doni memulai percakapannya.
"Aku ada janji, menepati janji." Jawaban absurd, membuat Doni berdecak lidah.
"You forget? If you're in danger, Right!" (Kau lupa? jika kau dalam bahaya kan?) Doni terlihat bersungut-sungut memandang Joana.
"Yeah, I don't.."(Ya, aku tidak lupa).. I just want to go--"(Aku hanya akan pergi--)
"Jo, keberadaanmu pasti diintai oleh Xander!" Selah Sinta, ia lebih dengan nada tenang dibandingkan Doni.
"I Know." (Aku tahu)
"Dirumah saja." Ucap Doni datar.
Joana menghela nafasnya, ia tahu sepupunya sedang mengkhawatirkannya tapi ia sudah terlanjur membuat janji hari ini dan tak mungkin mengingkarinya.
"Don, I need refresh--"(Don, aku butuh menyegarkan--)
"Tapi aku takut kau berada dalam bahaya lagi." Ucap Doni memotong kata-kata Joana. "Memangnya kau mau kemana dan bersama siapa?"
Joana diam sambil menunduk, haruskah ia terus-terang pada Doni?
"Jo, kau mau kemana, hmm? Kau tahu jika kami mengkhawatirkanmu." Kata Sinta dengan lemah lembut.
"A-aku telah membuat janji." Joana tampak ragu-ragu.
"Janji? Jangan katakan kau membuat janji temu dengan laki-laki gila itu!" Kata Doni.
Joana menggeleng cepat. "No! Bukan.."
"Lalu? Dengan siapa? Biasanya kau akan jalan-jalan dengan kami ataupun teman-teman wanitamu yang lain, tapi kata Sinta kalian tidak ada membuat janji temu hari ini, baik itu bersama Kinan dan yang lainnya!" Doni benar-benar cerewet jika menyangkut keselamatan orang terdekatnya.
"Apa kau ada janji dengan Kinan atau Desi?" Tanya Sinta kembali.
"Bu-bukan dengan mereka."
"Lalu?"
"Aku akan jalan-jalan bersama Lesya." Yah, akhirnya nama Lesya yang Joana sebut, daripada ia menyebutkan nama Ammar, dia tidak tahu apakah Doni mau memberi izin atau tidak mengingat pernah terjadi kejadian buruk dimasalalu antara Doni dan Ammar, bukan?
"Lesya?" Tanya Sinta dan Doni serentak. Joana mengangguk cepat.
"Seorang anak kecil berusia 11 tahun."
"Siapa dia? Apa hubungannya denganmu?" Kembali Doni menanyainya. Tapi Sinta manggut-manggut tanda sudah paham yang dimaksudkan oleh Joana.
"Dia, dia..."Joana semakin ragu.
"Lesya anaknya Ammar, sayang." Jawab Sinta menengahi pada Doni.
"Ammar?" Dahi Doni mengernyit, alisnya saling bertautan satu sama lain. "Maksudnya Ammar mantan suami Kinan? Dan Lesya itu anaknya?"
Joana mengangguk cepat.
"Untuk apa kau jalan-jalan dengan anaknya Ammar?"
"Karena aku sudah membuat janji dengannya."
"Ya kenapa kau membuat janji?"
Joana terdiam.
"Ya.. dia mengajakku jalan-jalan sebagai bentuk ucapan terima kasih." Jawab Joana pelan.
Doni manggut-manggut sambil ber-Oh ria.
"Tapi Ammar ikut juga kan? Jangan bilang kau hanya pergi berdua dengan anak umur 11 tahun!" Ucap Doni mewanti-wanti.
"Aku tidak tahu." Jawab Joana jujur.
"Apa kau punya nomor ponsel Ammar? Aku akan berbicara padanya." Pinta Doni dan Joana memberikannya.
Joana mendengarkan percakapan Doni dan Ammar melalui sambungan telepon, tampaknya hubungan keduanya tidak seburuk yang ia pikirkan. Syukurlah, Doni malah menitipkan Joana pada Ammar layaknya seorang anak kecil yang harus dijaga. Setelah drama tanya jawab yang mereka lakukan akhirnya Doni mengizinkan Joana pergi dan tetap dikawal oleh dua orang bodyguard-nya.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
"Maafkan aku terlambat menemui kalian disini." Ucap Joana pada Ammar, Lesya dan satu orang anak lelaki yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Tak apa, aku mengerti." Jawab Ammar kemudian dia melihat Joana yang memperhatikan anak laki-lakinya. "Ah, ya. Kenalkan ini Shaka, anak bungsuku, adiknya Lesya."
"Hi.." Sapa Joana sambil melambaikan tangannya didepan Shaka. Shaka yang ramah pun cepat bergaul dengan Joana yang punya sikap ceria.
Mereka berjanji untuk bertemu ditaman hari ini.
"Aku tidak bisa meninggalkan Shaka dirumah, sekarang jika hari libur aku berusaha untuk mengajak mereka jalan bersama." Ucap Ammar.
"That's good!"(Itu bagus)
Mereka saling melempar pandang dalam senyuman.
"Lalu apa kegiatan kita hari ini?" Tanya Joana pada Lesya dan Shaka.
"Bagaimana kalau kita ke pantai, Tant.." Usul Lesya dan Shaka mengangguki usul sang kakak.
"Bagus juga. Itu tidak buruk, Yeay.." Mereka bertiga bersorak gembira dan Ammar hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Joana yang melebihi tingkah anak-anaknya. Tampaknya Joana ingin mengimbangi anak-anak itu dengan bersikap konyol dan riang, atau memang sikap Joana seperti itu?
Perjalanan mereka pun dimulai, mereka melewati perjalanan dengan mendengarkan Lesya yang berceloteh tentang hobi dan kesukaannya. Mereka menggunakan mobil Joana karena Ammar tadinya datang dengan menggunakan Taxi.
Joana sangat tertarik dengan Lesya dan Shaka yang sangat nyambung saat dia ajak bercerita dan saat ia tanyai. Mereka bertiga sampai-sampai melupakan Ammar yang hanya diam mendengarkan ketiganya.
Lesya juga tertarik dengan cerita Joana mengenai tempat asalnya. Gadis kecil itu merengek manja pada sang Ayah.
"Papa.. Kapan-kapan kita ke London ya. Liburan kesana!" Ia menggoncang pelan pundak Ammar yang sedang menyetir.
"Iya, nanti ya tunggu usaha Papa jalan dan sukses kembali." Jawab Ammar serius sambil sesekali melirik kedua anaknya yang duduk dibelakang.
"Memangnya kau sedang membuka usaha ya?" Tanya Joana pada Ammar.
"Iya, usaha kecil-kecilan." Jawab Ammar sambil menyunggingkan senyum.
"Hahaha, kau ini terlalu merendah.."
"Bukan, itu memang kenyataannya.
Setelah melalui perjalanan kurang lebih 45 menit, mobil mereka pun sampai ke pantai dipinggiran kota.
Joana, Lesya dan Shaka berlarian meninggalkan Ammar dibelakang mereka karena mereka bertiga begitu antusias dengan pemandangan pantai yang terbentang.
"Papa, ayo kejar Lesya!" Lesya berlari-lari dan Ammar mengikuti permintaan gadis tanggung-nya.
Joana terkikik melihat mereka dan tiba-tiba Shaka mengajaknya untuk ikut bermain kejar-kejaran di bibir pantai.
Angin sepoi-sepoi serta deburan ombak menjadi teman setia mereka berempat, sampai-sampai keempatnya tidak menghiraukan hari yang mulai panas terik.
"Sudah, sudah... bagaimana kalau kita istirahat dulu!" ucap Ammar, lelaki itu tampak terengah-engah setelah mengimbangi putrinya.
"Setuju. Aku juga lapar." sahut Joana menimpali dengan deruan nafas tak kalah terengah, hampir sama dengan Ammar.
"Jo, apa kau memang begini? Atau ini hanya karena anak-anak?" tanya Ammar, menatap lurus kearah Joana yang baru saja terduduk di kursi restoran pinggir pantai.
"Maksudnya?" Joana mengernyit, ia tidak mengerti apa yang dimaksudkan Ammar.
"Kau bersikap konyol dan riang hari ini, apa hanya karena anak-anakku atau karena memang sikap aslimu seperti ini?" Ammar menatap lekat-lekat mata kehijauan milik Joana.
"Aslinya aku memang seperti ini. Tapi sudah lama sekali aku tidak seperti ini." jawab Joana.
Sekarang giliran Ammar yang bingung dengan ucapan Joana. Mata Ammar membutuhkan jawaban lebih jelas dan Joana mengerti hal itu, ia buru-buru menjabarkannya. "Aku memang periang, tapi tidak semua orang bisa melihat sikap asliku. Hanya bersama orang-orang tertentu aku akan bersikap apa adanya dan biasanya aku begitu karena merasa nyaman didekat orang itu."
Jawaban Joana membuat Ammar mengerti, sebenarnya Joana adalah orang yang tertutup. Lalu, kenapa dengan keluarganya Joana bisa bersikap demikian?
"Apa dengan anak-anakku kau merasa nyaman?" tanya Ammar.
Joana memperhatikan anak-anak yang juga tengah menunggu jawabannya. "Yah.." ucapnya sambil manggut-manggut. "Aku nyaman bersama mereka. Aku bisa menjadi diriku apa adanya." lanjutnya.
Ammar tersenyum. "Lalu, bagaimana jika denganku? Apa kau merasa nyaman juga?" gumam Ammar pelan, tapi Joana mendengarnya. Joana segera memalingkan wajah dari tatapan Ammar yang entah kenapa membuat ritme jantungnya jadi berdetak lebih cepat.
Ammar menggeleng seraya tersenyum lembut. "Kau mendengarnya?" tanya Ammar setelah melihat dua anak-anaknya sibuk dengan makanan masing-masing yang baru saja tersaji.
"Ah, emm tidak." Joana kembali menghindar dari tatapan mata Ammar.
Ammar terkekeh melihat Joana salah tingkah didepan matanya dna lebih parahnya lagi sekarang wanita itu memandang arah lain dengan wajah memerah karena malu. Apa dia gugup akibat tatapanku?--Batin Ammar.
"Tidak usah dipikirkan. Lupakan saja." Desis Ammar seraya menyendok makanannya. "Makanlah!" sambungnya. Joana mengangguk dengan rasa canggung yang tiba-tiba tertanam dihatinya.
...Bersambung......