
Setelah pertemuan Kinan dan Latifa beberapa hari lalu, Kinan nampak lebih pendiam dari biasanya. Beberapa kali Rey menenangkan Kinan agar ia tak berlarut-larut dalam pemikirannya tentang Latifa, namun sepertinya Kinan memiliki pemikiran sendiri yang sulit untuk Rey jabarkan.
Rey sering mengundang Joana untuk berkunjung, begitupun jika ada waktu Rey akan mengantar Kinan ke Mansion Doni untuk bertemu dengan Joana dan Desi. Mereka bertiga tampak akrab sekarang. Rey melakukan semua itu semata-mata untuk menyemangati Kinan, bahwa hidupnya yang dulu telah berlalu dan sekarang ia tidak sendiri, waktunya dia membuka lembaran baru bersama orang-orang yang menyayanginya.
Beberapa kali juga Rey mencoba membujuk Kinan untuk melupakan masa-masa menyakitkan itu tapi Rey pun tak mau memaksakan, karena bagaimanapun Rey tak berada di posisi Kinan dan yang paling mengetahui segalanya adalah Kinan sendiri, termasuk tentang perasaannya.
Rey hanya ingin Kinan menyadari jika sekarang semua telah berlalu dan ia berharap Kinan memaafkan masa lalu agar wanitanya itu bisa berdamai dengan keadaan lalu hidup dengan tenang.
Rey sudah mulai disibukkan dengan pekerjaan karena ia ingin cuti lebih lama jika nanti Kinan melahirkan. Doni juga sudah lepas dari tuntutan Ammar, ia keluar dari kantor polisi setelah pertemuan Kinan dengan Ammar waktu itu. Ammar benar-benar membuktikan ucapannya pada Kinan. Dan kini baik Kinan ataupun Rey tidak mengetahui lagi keadaan Ammar, karena Ammar sendiri yang menolak perhatian mereka sebagai keluarga. Yah, Kinan menganggap seperti itu tapi itikad baik itu tidak disambut Ammar. Ia merasa ingin jauh dari mereka dan menyendiri.
Dilain sisi, Kevin dan Desi semakin sering bertengkar, tidak hanya perkara sifat playboy Kevin yang kadang sering kumat, tapi terkadang mereka akan ribut walau menyangkut hal remeh-temeh. Tapi semuanya sungguh berjalan baik, mereka sama-sama tahu dan sudah dewasa mengartikan perasaan masing-masing. Desi tahu jika Kevin berusaha membuatnya cemburu, karena Desi yang terlalu cuek. Sementara Kevin sering bertingkah konyol agar menarik perhatian Desi. Begitulah mereka berdua menghabiskan hari-hari dalam hubungan mereka. Kadang Doni, Joana, Rey dan Kinan sampai jengah melihat perselisihan keduanya. Tapi tak urung, Desi dan Kevin menjadi bulan-bulanan mereka dan berakhir menjadi lelucon untuk bahan tertawaan.
...******...
Saat ini Rey dan Kinan tengah berada di Rumah, tak biasanya Rey pulang secepat ini membuat kening Kinan sedikit berkerut akibat keheranan.
"Kamu sudah pulang, Mas?" Kinan menyambut kepulangan suaminya dengan penuh tanda tanya. Di liriknya jam di dinding dan baru menunjukkan pukul dua siang.
"Humm." Rey menjawab seraya membuka dasi yang tersimpul di kerah bajunya.
"Kamu sakit? Ini baru jam 2." Kinan mendadak cemas.
Rey menggelengkan kepala pelan. "Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat, jadi aku pulang cepat."
"Kemana?"
Rey mengulurkan kedua tangannya ke arah istrinya, dan uluran itu langsung disambut Kinan masih dengan wajah keheranan.
"Ke Apartment."
Kinan terdiam. Ia masih mencerna maksud suaminya yang hendak mengajaknya ke Apartment.
"Rencananya aku mau jual Apartment itu, tapi..."
"Kenapa dijual?"
Rey menghela nafas panjang. "Karena disana menyimpan kenangan buruk buat kamu kan?" Tandasnya.
Kinan mematung, ia mengerti maksud dari perkataan suaminya. Sedangkan Rey menunggu respon Kinan selanjutnya, Rey punya maksud tersendiri mengajak Kinan kesana. Karena jika dilihat dari ketidakberdayaan Kinan untuk memberi maaf pada Latifa, mungkin saja Kinan juga belum sepenuhnya memaafkan Rey. Rey ingin memastikan sampai sejauh mana Kinan masih menyimpan trauma-nya. Dia sudah berkonsultasi pada Joana, dan Joana mengatakan lebih baik membuktikannya sendiri. Jadi Rey berinisiatif untuk mengajak Kinan kesana, paling tidak untuk terakhir kali sebelum Apartment itu benar-benar ia jual.
"Mas, jika kamu menjual Apartment itu karena aku... lebih baik jangan."
Rey menipiskan bibir, mengelus buku-buku jari istrinya yang berada di genggamannya. "Kenapa?"
"Aku hanya tidak mau menjadi penyebab kau harus menjual asetmu." Rey tersenyum mendengar alasan klise yang dibuat-buat oleh Kinan. Jelas-jelas Rey bisa membaca raut dan getar tubuh Kinan saat Rey membahas soal Apartment itu.
"Sayang, kau tahu bukan itu maksudku kan?" Rey mengelus pipi Kinan dengan lembut, kemudian berjalan menuju kamar mandi. "Bersiaplah." Ujarnya pada Kinan yang masih mematung.
"Sudah saatnya Kinan, kau harus menghadapi semuanya." Batin Rey
Kinan merem-as jemarinya sendiri, tiba-tiba ia gugup jika harus kembali ke Apartment itu. Kinan membenci ide Rey, yah Kinan bisa menangkap maksud Rey, suaminya itu akan membawa Kinan kesana dengan alasan akan menjual Apartment itu, semata-mata untuk perpisahan terakhir kali dan mereka harus berkunjung kesana. Sementara Kinan juga mengerti maksud lain yang terselubung dibalik semua itu walau mungkin Rey memang berniat menjualnya.
Sekarang yang menjadi pikiran Kinan, apakah memang harus Kinan berada disana? Bukankah itu hanya akan menguak luka lama. Jika itu maksud Rey, Kinan tidak habis pikir. Tapi tak urung ia mengikuti saja keinginan suaminya, ia gegas bersiap untuk pergi bersama Rey. Kinan akan menanyakan langsung apa sebenarnya maksud dan tujuan Rey mengajaknya kesana.
Tak butuh waktu lama, setelah mereka sama-sama siap dengan setelan santai dan casual, keduanya berangkat menuju Apartment pencakar langit itu.
Setelah menempuh waktu kurang dari 40 menit, akhirnya mobil Rey sampai di basement bawah tanah yang dimiliki oleh gedung Apartment. Rey menatap Kinan yang duduk disampingnya, ia menatap Kinan dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Ayo!" Ajak Rey.
Kinan masih bergeming, ia memi-lin ujung blouse yang ia kenakan. Seakan sedang menimbang-nimbang apakah ia harus turun dari mobil untuk naik ke lantai Apartment atau tidak?
"Kinan..."
"eh..y-ya?" Seolah tersadar dari pikirannya, Kinan sudah mendapati Rey yang membukakan pintu mobil untuknya. "Turunlah!" Ajak Rey halus.
Kinan mengikuti langkah Rey dalam diam, menuju Lift yang terbuka dan masuk kedalamnya. Tidak banyak orang berada didalam Lift, hanya beberapa. Kinan mendongak untuk menatap suaminya yang menjulang. Ia ragu untuk mempertanyakan maksud Rey tapi ia benar-benar ingin tahu.
"M-mas?"
"Sebenarnya, sebenarnya untuk apa kita kesini? Aku yakin jika..." Kinan nampak ragu-ragu, ia tertunduk dalam.
"Ini kunjungan terakhir kita sebelum aku menjual Apartment ini." Jawab Rey enteng.
"Aku yakin maksudmu bukan hanya itu kan?" Kinan me-re-mas tangan Rey yang memang sedang menggenggam jemarinya.
"Ayolah.." Rey menarik tangan Kinan saat lift berdenting karena telah mengantarkan mereka le lantai dimana Apartment Rey berada.
Rey menekan password pintunya dan tak berapa lama pintu itu terbuka setelah sebelumnya mengeluarkan suara 'bip'.
Rey sudah masuk kedalam tapi ia segera sadar karena Kinan tak mengikutinya. "Sayang, jika kamu berpikir aku mengajakmu kesini untuk membuka luka lama, itu tidak sepenuhnya salah. Tapi ini semua ku lakukan untuk memastikan sesuatu.." Ucap Rey pelan dan disertai kepala Kinan yang mengadah kepadanya. Pandangan mereka bersirobok, saling menggali dan mencari jawaban di masing-masing mata.
"Aku ingin memastikan kesehatanmu, aku ingin kamu sehat dan tidak terdapat trauma lagi didalam sini." Rey menunjuk tepat ke dada Kinan dengan jarinya.
"Tapi..."
"Apa kau tidak penasaran dan ingin tahu?"
Kinan menggeleng. "Itu hanya akan membuatku sakit hati dan kembali mengingat kesalahanmu juga kebodohanku." Jawabnya.
"Lalu kau akan tetap seperti itu seterusnya? Lalu untuk apa terapi yang selama ini kamu jalani?"
Kinan menghela nafas kasar mendengar ucapan suaminya, ia membuang pandangan ke sisi lain di depan pintu.
"Masuklah! Setidaknya itu akan menjawab rasa penasaranku dan aku akan tahu sejauh mana kau masih membenciku, Sayang."
"Aku tidak membencimu lagi, Mas. Aku sudah memaafkanmu!"
"Jika memang begitu, ayo masuk! Buktikan jika kau tidak takut lagi dan tidak menyimpan dendam padaku!"
"Tapi Mas, kau tahu sendiri bukan itu.."
"Maka masuklah!"
Pada akhirnya, Kinan memang harus mengikuti keinginan Rey dengan masuk kedalam Apartment itu. Tampilan ruang tamu yang sama seperti dulu, tidak ada yang berubah. Kinan sedikit menelisik ke bagian ruang yang lain tapi tak memindahkan langkahnya dari depan meja ruang tamu. Sama. Tidak ada yang berubah dari tempat ini.
"Siapa yang menempati tempat ini?" Tanyanya.
"Tidak ada. Ini dibersihkan oleh petugas kebersihan setiap hari."
Kinan manggut-manggut mengerti.
"Ke kamar?" Tanya Rey sambil menyunggingkan senyum ke arah Kinan.
"Baiklah, aku akan mengikutimu." Kinan sudah malas berdebat dan pada akhirnya ia akan kalah jadi ia memutuskan menurut.
Pintu kamar itu terbuka dan Kinan membeku dihadapannya. Sedetik kemudian Rey kembali memintanya untuk masuk. Kali ini, tidak ada perdebatan seperti tadi, Rey memutuskan semua pada Kinan. Rey tak ingin memaksanya lagi.
Setelah beberapa detik berperang dengan perasaannya sendiri, Kinan melangkah masuk kedalam kamar itu. Kamar yang dulu menjadi saksi bisu kejadian itu terjadi. Kamar dimana pertama kali kesuciannya terenggut dan kamar yang pertama kali saat ia mendapati dirinya sendiri berada disana tanpa sehelai benang-pun.
Rey masih menyelidik kearah Kinan, tak mau melepaskan pandangan matanya sedetikpun pada reaksi tubuh dan gerakan Kinan. Ia menyaksikan tubuh wanitanya yang terlihat bergetar. Rey masih tahu diri untuk tidak menanyakan hal apapun lagi pada Kinan, karena ia mengerti letak kesalahannya di kamar ini.
Rey mengusap wajahnya, berusaha menetralkan detak jantungnya yang kini menjadi bertalu-talu. Apakah Kinan akan kembali membencinya setelah Rey dengan sengaja mengajak Kinan kesini? Tapi Rey harus mengambil konsekunsinya, ia ingin Kinan benar-benar sehat, bukan hanya sehat jasmani tapi juga sehat secara psikis dan mental.
Rey cukup terkejut Kinan berani masuk kedalam kamar ini dan pernyataan Kinan selanjutnya pun tak kalah mengejutkan Rey.
"Aku rasa Apartment ini tidak usah dijual, Mas. Kita saja yang tinggal disini." Ucap Kinan yang membuat kening Rey berkerut keheranan.
.
.
.
Bersambung ...
Akan update lagi hari ini kalo VOTE-nya bertambah. dan... kalo gak ada drama anak bayi yang minta dikelonin terus menerus. Hehe😁Salam mak-emak ketcehhh💕💕