
"Emm bagaimana kalau kita naik mobilku saja?" Usul Kinan.
Latifa segera menoleh untuk melihat Kinan, ia merasa Kinan terlalu baik, mau menawarkan bantuan disaat genting seperti ini.
"Tidak apa-apa. Ayo!" Ucap Kinan setelah melihat raut wajah Latifa yang tampak ragu-ragu.
Kinan menggandeng lengan Shaka agar mengikutinya ke arah basement Mal, tempat Kinan memarkirkan mobilnya, langkah mereka pun diikuti oleh Latifa.
Kinan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, setelah Latifa memberitahukan di Rumah Sakit mana Lesya dirawat.
"Tante sekarang bisa bawa mobil. Tante hebat deh! Nanti boleh enggak, ajarin Shaka bawa mobil juga?" Shaka menatap kesamping dimana Kinan sedang fokus menatap jalanan.
"Boleh aja, tapi gak sekarang ya. Tunggu umur Shaka diatas 17 tahun dan Shaka sudah punya SIM." Jawab Kinan seraya mengulas senyumnya.
"SIM?" Wajah Shaka mengernyit bingung.
"Iya, SIM itu Surat Izin Mengemudi, nanti kalau Shaka udah gede bisa diurus biar punya Surat itu."
"Kalau sekarang gak bisa ya, Tan?"
Kinan menggeleng. "Tentu saja gak bisa, sekarang kan Shaka harus utamakan sekolah dan belajar, jadi anak yang pintar, baru deh besar nanti bisa belajar mengendarai mobil."
Latifa yang duduk dibelakang hanya menjadi pendengar, dengan diam dan memperhatikan celotehan cucunya dan Kinan.
"Kakak sakit lagi ya, Nek?" Kini Shaka bertanya pada Latifa yang diam sedari tadi.
"Lagi? Memangnya Lesya sakit apa?" Tanya Kinan sedikit terkejut.
"Iya, Lesya dilarikan ke Rumah Sakit dan ini udah kedua kalinya. Kata Dokter Lesya menderita Anemia Gravis." Ujar Latifa dengan nada lesu.
"Kekurangan darah?" Kinan mengernyit.
"Iya, semacam itulah. Tapi kondisi Anemia Gravis lebih berat dari Anemia biasa. Saya kurang tahu detail penyakit itu."
"Kasihan sekali Lesya.."
Mobil yang dikendari Kinan mulai melambat karena sudah memasuki parkiran Rumah Sakit.
Setelah keluar dari mobil mereka langsung menuju Ruangan dimana Lesya sedang dirawat.
Kinan menghentikan langkah, ia memutuskan untuk mengabari Rey dulu sebelum memasuki ruangan Lesya. Sedangkan Latifa dan Shaka sudah lebih dulu untuk masuk.
"Sayang, apa kamu sibuk?"
"Lumayan, aku baru selesai meeting. Kamu sedang apa? Aku baru saja mau menelepon istriku ini." Seloroh Rey dari seberang panggilan.
"Aku sedang berada di Rumah Sakit."
"Hah? Siapa yang sakit? Kamu sakit, Sayang?"
"Bukan, Alesya yang sakit." Jawab Kinan agak ragu, tapi bagaimanapun juga Kinan tetap harus memberitahu suaminya.
"Alesya? Maksud kamu Alesya anaknya Ammar?" Terdengar Rey menghela nafasnya diseberang sana. "Kamu mencari keberadaan mereka? Alesya sakit apa, Sayang?"
"Bukan, aku tidak sengaja bertemu Arshaka di supermarket tadi. Nanti aku ceritakan detailnya di Rumah, ya. Aku cuma mau ngabarin kamu."
"Hemm, baiklah. Kirimkan aku lokasi Rumah Sakitnya, biar nanti aku nyusul kesana."
"Tapi, Mas.."
"Kenapa? Gak boleh?"
"Bukan begitu, aku rasa disini ada Mas Ammar juga.. aku takut suasananya jadi gak kondusif untuk Lesya."
"Kamu pikir aku kesana mau ngajakin Ammar ribut, gitu? Aku juga mau tahu keadaan Alesya."
"Baiklah, aku kirim alamatnya sama kamu, Mas. Tapi kamu janji ya jangan bikin ribut."
"Ya tergantung juga lah. Kalau Ammar ngajakin ribut ya aku ladenin." Rey terdengar terkekeh diujung sana. "Lagipula aku gak mau cari ribut kok. Semoga karena dua tahun tak bertemu, semuanya sudah berubah." Lanjut Rey.
Kinan mengangguk walau ia tahu Rey tak dapat melihat itu. Setelah memutus panggilan telepon itu, dengan langkah pelan Kinan mulai membuka pintu dan memasuki Ruang rawat Lesya.
Ruang rawat Lesya bukan kamar VIP, disana ada sekitar tiga orang yang juga sedang dirawat di ranjang pasien yang lain. Kebetulan letak ranjang Lesya berada diujung, membuat Kinan harus melewati dua pasien lainnya untuk mencapai ranjang dimana ada Lesya terbaring disana dengan kondisi lemah.
"Itu dia Tante Kinan!" Seru Shaka menunjuk ke arah Kinan yang berjalan mendekat.
Semua yang ada disana menatap arah yang dimaksud oleh Shaka, tak terkecuali Ammar yang kini menatap Kinan untuk pertama kalinya setelah pertemuan terakhir mereka di Rumah Sakit lain waktu itu-saat Ammar ditabrak oleh Doni.
"Ki.." Ammar menyapa Kinan yang tersenyum sekilas kearahnya. "Terima Kasih sudah membantu Shaka tadi. Terima kasih juga telah mengantar Shaka dan Mama kesini." Ucap Ammar, sepertinya ia sudah mendengar cerita dari Shaka sebelum Kinan masuk tadi.
"Iya Mas. Aku senang bisa membantu." Jawab Kinan. Ia melirik sekilas penampilan Ammar sekarang yang terlihat lebih kurus dari terakhir kali pertemuan mereka.
"Bagaimana kondisi Lesya?"
"Lesya terkena Anemia gravis. Dia memerlukan donor darah karena hemoglobin (Hb) nya di bawah 6. Kebetulan Anemia gravis berbeda. Kalau Anemia Defisiensi zat besi biasa, bisa diatasi dengan mengonsumsi suplemen penambah zat besi. Tapi kalau untuk Anemia Gravis yang diderita Lesya, dia membutuhkan donor darah dulu sebelum mengetahui penyebab utama timbulnya Anemia itu sendiri."
"Jika penyebab utamanya belum diketahui, penyakitnya masih akan terus terjadi dan pasokan darah yang terus Lesya dapat pun tidak akan memberi jaminan kesembuhan." Imbuh Ammar panjang lebar.
"Jadi, sudah ada yang mendonorkan darahnya untuk Lesya?" Tanya Kinan.
"Itu dia masalahnya, Stok darah di Rumah Sakit sedang kosong. Padahal Lesya sangat membutuhkannya sekarang sebelum Hb nya turun drastis."
"Sudah minta bantuan ke PMI?"
"Sudah, tapi belum ada kabar kelanjutannya."
"Apa golongan darah Lesya?"
"A Rhesus Negatif."
"Ah, sayangnya golongan darahku B." Ucap Kinan lesu.
"Aku AB.." Jawab Ammar lebih lesu. "Kami sedang mencari golongan darah A Negatif." Sambungnya.
"Aku akan tanyakan pada teman-temanku dulu, siapa tahu diantara mereka ada yang A negatif dan mau membantu." Ucap Kinan seraya mengambil ponselnya.
Latifa mempersilahkan Kinan duduk di kursi yang ada didekat mereka. Kinan mengangguk dan duduk, ia tampak sibuk dengan gadget di tangannya. Sesekali Kinan melihat Lesya yang tertidur dengan selang infus ditangan gadis kecil itu. Kinan jadi teringat Kirey yang sedang bersama Oma dan Opa-nya, ia mengirim pesan pada mertuanya untuk sekedar menanyakan kegiatan Kirey.
Kinan kembali fokus pada jawaban teman-temannya yang sudah ia hubungi untuk menanyakan perihal tipe golongan darah mereka. Teman-teman Kinan itu tak lain adalah Desi, Joana dan Sinta. Mereka sudah tergabung dalam sebuah grup di aplikasi chatting.
"Aku B.." Jawab Sinta.
"Aku ingin membantu, tapi sayangnya golongan darahku juga B." Jawab Desi dengan emoticon sedih.
Kinan pun kembali mengirim pesan pada Rey, menanyakan golongan darah A negatif. Siapa kiranya yang memiliki golongan darah itu?
"Sayang, golongan darahku O Negatif. Apa aku bisa membantu? Setahuku golongan O negatif itu Universal, bisa mendonor kemana saja." Jawab Rey melalui aplikasi pesan.
"Biar aku tanyakan pada Mas Ammar." balas Kinan.
"Oke. Aku juga sedang menuju Rumah Sakit." Ujar Rey melalui pesan singkat.
Kinan menatap Ammar yang berada di pojok ruangan, lelaki itu tampak melamun.
"Silahkan diminum, Kinan. Ini saya bawakan air mineral." Ucap Latifa yang baru kembali dari cafetaria Rumah Sakit.
Kinan mengangguk. "Terima Kasih.." Ujarnya. Lalu ia kembali melihat Ammar yang tak bisa menutupi keadaannya yang sedang banyak pikiran. "Mas Ammar..." Panggil Kinan.
Lelaki itu menoleh ke arah Kinan dengan tatapan bertanya.
"Kalau golongan darah O Negatif, apakah bisa melakukan donor untuk Lesya?" Tanya Kinan.
"Dokter bilang golongan darah O negatif juga bisa. Tapi itu hanya dilakukan dalam kondisi darurat. Sebenarnya, akan lebih baik jika golongan darahnya sama-sama A."
"Tapi aku akan diskusikan dulu pada Dokter nanti, apakah Lesya masih bisa menunggu atau tidak."
...*...
Kinan menjemput Rey diluar Ruang Rawat Lesya, tampak suami Kinan itu datang sendiri sambil membawa buket buah-buahan dan sebuah boneka berwarna pink.
"Boneka beruangnya buat aku?" Ejek Kinan.
"Kamu kan sudah punya beruang yang asli." Jawab Rey terkekeh.
"Mana?"
"Ini, aku. Aku kan ber-uang." Jawab Rey makin terkekeh dan Kinan ikut terkekeh dengan lelucon aneh yang dibuat sang suami.
"Ayo masuk." Ajak Kinan, ia menarik pelan tangan Rey agar memasuki ruangan itu.
Ammar melirik ke arah pintu masuk, ia melihat Rey dan Kinan yang datang kearah ranjang Lesya. Mata Ammar memanas melihat Kinan yang tampak serasi dengan suaminya. Tapi Ammar tidak bisa berbuat lebih, Ammar harus merelakan Kinan, sudah dua tahun berlalu dan dia tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan soal Kinan lagi.
"Apa kabarmu?" Sapa Rey pada Ammar yang terlihat minder seketika. Dulu, Ammar selalu terlihat percaya diri. Berbeda dengan sekarang, lelaki itu tampak beringsut menjauh dan membuang pandangannya saat Rey dekat dengan tempatnya berdiri.
Ammar menoleh, tak menyangka jika Rey mau menyapa dan bertanya keadaannya. "Aku sehat. Tapi anakku..." Ammar tak kuasa menahan tangisnya yang akan meledak. "Semua ini salahku. Orang-orang yang ku kasihi perlahan-lahan menderita karena aku." Sambungnya.
Rey tersenyum miris mendengar ucapan Ammar. Ia melirik istrinya yang tampak menunduk disampingnya. Rey tahu jika Kinan prihatin terhadap kondisi keluarga Ammar yang sekarang.
"Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Ku dengar kau sudah lebih baik sekarang dan sudah memulai usaha baru." Ucap Rey seraya meletakkan buket buah dan boneka diatas nakas samping ranjang Lesya. Lesya masih nampak tertidur akibat obat yang tadi sempat dokter suntikkan di cairan infusnya.
"Ya, usaha kecil-kecilan. Aku merintis lagi dan memulai semuanya dari Nol." Jawab Ammar.
"Aku berharap Lesya cepat pulih. Bagaimana dengan darahku? Apa bisa untuk didonorkan pada Lesya?" Rey melirik Kinan yang kini juga tengah menatapnya.
"Jadi maksudnya darah O negatif tadi adalah darah suamimu, Ki?" Tanya Ammar cepat dan Kinan mengangguk mengiyakan.
Ammar semakin tak enak hati pada Rey, Rey bahkan mau membantunya mendonorkan darah untuk sang anak.
"Bisa kita bicara diluar?" Ajak Ammar. Kinan, Rey dan Ammar pun keluar dari ruangan kelas dua itu.
Sekarang mereka telah duduk diluar ruangan, semacam lorong yang menyajikan deretan kursi yang menempel disisi dinding.
"Maafkan aku atas semua salahku dulu." Ucap Ammar menatap Rey dengan mata berkaca-kaca.
Rey tersenyum tulus. "Sudahlah, itu semua masa lalu. Lagipula aku juga bersalah waktu itu." Ujarnya, Rey tak mau mendeskripsikan kesalahannya, mengingat jika Kinan pernah berbohong pada Ammar kalau Rey tidak bersalah atas peristiwa pemer-kosa-an itu, Kinan malah mengatakan bahwa dia dan Rey mabuk dan melakukan kesalahan pada malam itu.
"Aku sungguh malu, apalagi jika kau yang membantuku." Kini Ammar benar-benar menurunkan harga dirinya yang dulu sangat tinggi.
"Tak apa, Mas. Sudah begitu jalan yang diatur Tuhan." Ucap Kinan bijak. "Jangan sungkan jika butuh bantuan. Anak-anak masih keluargaku juga." Sambungnya.
Rey mengangguk setuju dengan ucapan istrinya. Lelaki itu lalu berujar, "Apa Lesya akan nyaman dalam kamar itu? Pindahkan saja dia ke ruangan VVIP!" Celetuk Rey.
"Mas.." Kinan memukul pelan punggung tangan Rey, ia takut perkataan Rey akan menyinggung Ammar.
"Aku tidak akan sanggup membayar semua biayanya." Ucap Ammar. Ia benar-benar kehilangan image-nya yang dulu sangat ia jaga.
"Itu biar menjadi urusanku." Sahut Rey. "Dan juga soal usahamu, aku akan tanam saham disana dan membantumu mencari relasi lain agar usaha itu bisa berkembang pesat." Lanjutnya.
"Benarkah? Kau serius?" Ammar menitikkan airmatanya. Demi apapun, Kinan dan Rey baru kali ini melihat pemandangan memilukan itu.
Latifa yang baru keluar ruangan pun terkesima karena tak sengaja mendengar ucapan Rey. Wanita tua itu ternganga, mulutnya terbuka sangking terkejutnya. Dia pun terdiam ditempat untuk mendengarkan.
"Iya, aku serius. Jangan berpikir aku membantu karena mengejekmu. Aku melakukan ini untuk anak-anakmu. Mereka pantas mendapatkan yang lebih baik. Ah ya, dengan syarat kau tidak akan menghancurkan perusahaanmu sendiri dengan bertindak bodoh seperti dulu." Ucap Rey memperingati.
Seketika itu juga Ammar mendekat ke arah Rey dan berlutut dikakinya. "Terima Kasih. Kau memang lelaki baik yang tepat untuk Kinan. Aku malu.. Aku malu pada kalian dan pada dunia. Dulu, aku bukan suami yang baik dan Sekarang, aku juga bukan ayah yang baik untuk anak-anakku." Ammar menangis di kaki Rey membuat Rey tidak enak hati.
"Sudahlah, Mas..." Kinan mencoba menengahi apa yang terjadi.
"Jangan begini! Kau sudah ku maafkan. Aku juga salah pernah merebut Kinan darimu." Rey menarik nafas panjang. "Walau pada kenyataannya aku tak berniat untuk hal seperti itu tapi kenyataannya kami memang berjodoh dan aku turut merasa bersalah padamu. Jadi skor kita sama. ini semua ku anggap sudah impas." Ucap Rey.
Ammar bangkit dan disaat bersamaan tampak seorang wanita menghampiri mereka semua.
"Kinan, maaf ya aku tadi tak balas pesanmu. Aku ada pasien. Aku akan mendonorkan darahku untuk anak bernama Lesya itu. Golongan darahku A Negatif."
Semua yang berada di depan ruang rawat Lesya itu pun sontak melihat ke arah sumber suara dan disana ada Joana yang tersenyum dengan begitu manis pada mereka semua.
Rey menyeringai dengan penuh maksud. Di kepalanya tiba-tiba melintas sebuah ide.
"Setelah kau donor darah, bisa kan kau terapi lelaki ini?" Tanya Rey pada Joana dan ucapannya merujuk pada Ammar.
Ammar mengernyit atas ucapan Rey, sementara Joana tak kalah bingungnya.
"Dia seorang pemabuk dan penjudi setelah kehilangan istrinya. Tepatnya mantan istri." Rey tersenyum miring. "Ku rasa dia stress dan butuh bantuanmu, Jo!" Lanjutnya sambil terkekeh membuat Ammar memelototkan matanya karena terkejut akibat ucapan Rey.
"Benarkah?" Tanya Joana.
"Iya. Jadi ku rasa kau terapi dia sekaligus kalian bisa pendekatan diri." Celetuk Rey dengan ambigu, sementara Kinan sudah menangkap maksud lain dari ucapan suaminya yang tersenyum penuh arti.
.......
.......
.......
...______________Tamat______________...