
Ammar masih berada dihadapan Rey dan menunggu lelaki didepannya untuk memberitahu keberadaan Kinan.
"Kau benar-benar memuakkan!"
Rey tersenyum miring sambil menggeleng pelan mendengar ucapan Ammar. Ia memilih mengabaikan Ammar yang tak jauh dari posisinya. Rey malah bersikap cuek dan memainkan ponselnya, membuat Ammar semakin frustasi saja. Ammar memaksa Rey untuk memberitahu keberadaan Kinan, bahkan ia mengancam untuk melaporkan ini kepada pihak kepolisian. Namun bukan Rey namanya jika ia mau menuruti kemauan Ammar begitu saja.
"Kau, pulanglah! Jangan harapkan aku memberitahu dimana Kinan! Laporkan saja aku pada polisi!" Tantang Rey pada Ammar dengan entengnya.
Tentu saja Ammar semakin jengkel melihat lelaki tengil didepannya ini. Ammar tentu tidak benar-benar berniat melaporkan ini ke polisi, sedikit banyak ini akan mempengaruhi karirnya jika publik tahu bahwa istrinya melarikan diri dengan lelaki lain, terlebih lagi istrinya Kinan sedang mengalami depresi dan sempat dirawat dirumah sakit jiwa. Ammar sangat menjaga image-nya didepan semua koleganya, ia tak mau memperburuk dan memperpanjang masalah. Untuk itulah, ia masih bersikeras untuk tahu keberadaan Kinan dari Rey, dengan berpura-pura mengancam Rey dengan menyangkut-pautkan pihak kepolisian.
°
Ammar menggaruk tengkuknya yang tak gatal, menggerutu melihat Rey yang tak menganggapnya ada. Tidak ada percakapan lagi diantara mereka. Kini haripun sudah mulai senja. Ponsel Ammar berdering, memecahkan keheningan yang tercipta. Rey melirik Ammar sekilas, Ammar langsung menjawab panggilan masuk ke ponselnya itu.
"Hallo?"
"....."
"Apa?" Ammar melirik ke arah Rey yang juga sedang mengamatinya, lalu kembali fokus ke si penelpon yang lanjut menjelaskan ucapannya.
"Baiklah, Saya akan ketempatmu!" Jawab Ammar dengan segera dan mematikan panggilan telponnya. Ammar melihat Rey yang masih saja cuek dengan sok sibuk bermain ponsel. Ammar tersenyum miring.
"Baiklah jika kau bersikeras terus menantangku, Kita lihat siapa yang akan menang!" Batin Ammar. Ammar langsung beranjak, tanpa ucapan apapun lagi terhadap Rey.
Rey sedikit bingung, ia menatap kepergian Ammar yang tergesa-gesa. Namun, ia memutuskan untuk tidak ikut campur urusan apa yang Ammar lakukan setelah pergi dari Villa ini, karena Rey pun akan segera beranjak meninggalkan Villa dan menjemput Kinan di Apartmentnya.
Rey memutuskan untuk mengemasi barang-barangnya seraya memesan taxi online untuk membawanya ke Apartment. Rey merasa telah membuang banyak waktu bersama Ammar. Waktunya sia-sia meladeni Ammar hari ini. Rey tidak berminat membalas pukulan Ammar tadi, ia hanya terfokus pada Kinan yang pasti sudah sangat lama menunggunya.
Sebelum hari semakin gelap, Rey gegas meninggalkan Villa milik keluarga Kevin dengan perasaan lega. Yang terpenting, Ammar belum dan tidak akan bertemu Kinan.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Ammar memarkirkan mobilnya dipekarangan rumah milik Desi, sahabat Kinan semasa kuliah. Tentu saja karena beberapa waktu lalu Desi-lah yang menghubunginya, karena kini Kinan tengah berada dirumah Desi.
"Mas, Kinan..."
"Dimana Kinan?" Ammar terlihat antusias dan ingin tahu lebih lanjut penjelasan Desi yang tidak detail melalui sambungan telepon tadi.
"Duduk dulu, Mas!" Ucap Desi. Ammar pun mendudukkan diri di ruang tamu rumah Desi, matanya menyelidik mencari-cari keberadaan istrinya yang ia tahu sekarang tengah berada di rumah Desi sesuai informasi yang Desi katakan tadi.
"Mas, maaf sebelumnya saya baru tahu jika Mas Ammar menikahi Kinan."
Ammar mengangguk. "Wina menitipkan Kinan padaku, dan meminta kami untuk menikah."
"Ya, saya sudah mendengarnya dari Kinan." ucap Desi pelan, namun Ammar tampak terkejut dengan ucapan Desi itu.
"Mas, sepertinya biar dulu Kinan berada disini. Saya hanya memberitahukan keberadaannya pada Mas Ammar, bukan berarti saya ingin Mas untuk menjemputnya dan membawanya pulang!" Jelas Desi, sesekali ia menunduk dengan tatapan sungkan.
"Apa maksudmu? Kinan itu istri saya. Kenapa saya tidak boleh membawanya pulang?" Suara Ammar mulai meninggi menunjukkan sikap tak sukanya atas pernyataan Desi.
"Saya tau Mas, Kinan adalah istrimu. Tapi, saya mengingatkan Mas tentang kondisi psikis Kinan. Dia lebih baik berada disini untuk sementara waktu. Saya tidak keberatan!"
"Tunggu dulu, kau mengetahui kondisi psikis Kinan? Apa Kinan yang menceritakan padamu?"
"Yah.."
Desi menggeleng, wajahnya tampak pias.
"Lalu bagaimana bisa Kinan tau menuju rumahmu? Jangan menutupi apapun, Desi! Aku suaminya, aku berhak tau! " Pungkas Ammar membuat Desi meremas jemarinya sendiri karena gugup.
"Maaf Mas, aku tidak menutupi apapun! Aku hanya mendengar Kinan mengatakan dia sakit dan sempat dirawat di RSJ. Dia datang kesini dan akupun tidak tahu jika sebelumnya dia sempat melupakan alamatku!" Jawab Desi sekenanya.
"Baik, Jika kau tidak mau memberitahuku, pertemukan aku dengan Kinan!"
"Kinan sedang tidur dikamarku Mas, besok saja Mas kembali kesini!
"Oke. Aku akan kembali kesini besok!" Ammar melangkah menuju untuk keluar dari rumah Desi.
"Mas, aku tidak tahu apa yang Kinan alami. Tapi sebagai temannya, aku tahu jika Ibumu tidak menyukainya, bisakah Mas mencari cara agar Kinan terlepas dari itu? Jika bisa, aku akan berterima kasih dan itu pasti juga akan membantu memulihkan psikis Kinan!" tutur Desi membuat langkah Ammar terhenti ditempatnya.
Ammar diam seraya berfikir. Ia berjalan tanpa menjawab. Desi mengantar kepergiannya hingga ambang pintu.
"Kau tidak usah menghawatirkan itu, semua sudah dikepalaku. Aku sudah menyiapkan rumah baru untuk Kinan, itu akan membuatnya lebih rileks" Jawab Ammar sebelum ia memasuki mobilnya.
Desi tertegun. Ia menatap kepergian Ammar dari depan pintu dan setelah matanya tak melihat lagi mobil Ammar, ia memutuskan masuk kedalam rumah.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Rey mengacak rambutnya frustasi. Ia telah sampai di Apartmentnya sejak setengah jam yang lalu. Namun, ia terkejut tak mendapati Kinan berada di apartment ini. Senyum Rey yang awalnya mengembang perlahan-lahan mulai layu ketika ia mencari-cari Kinan yang sudah pasti tak berada disini bersamanya. Rey menatap tas dan kotak makan yang ditinggalkan Kinan, Rey menyadari bahwa Kinan memang sempat kesini, bukan tersesat ataupun tidak pernah datang.
"Kinan, kamu dimana?" Rey mengurut pelipisnya. Rasa khawatir menjalar dipelupuk hati. Serta berbagai pikiran melintas dikepala lelaki itu.
"Apa Papa tahu Kinan kesini dan dia mengusir Kinan?" Rey mulai menerka-nerka.
"Atau, Papa mengirim Kinan kerumah Ammar?" Saat mengucapkan itu, Rey semakin gelisah dan tak tenang.
"Bagaimana jika Kinan kembali bersama Ammar?" Rey semakin frustasi dengan jalan pikirannya sendiri.
"Arkkkkkkhhh" Rey memukul udara, meluapkan kekesalannya. Ia menyesal, membiarkan Kinan menunggunya terlalu lama. Seharusnya tadi Rey tidak meladeni Ammar, seharusnya tadi Rey meninggalkan Ammar saja di Villa. Tapi Rey tidak melakukan itu karena ia juga menjaga diri agar Ammar tak mengikuti kemana ia pergi.
Rey memasuki kamarnya, ia melihat sprei tempat tidur yang sepertinya bekas diduduki Kinan. Rey mengernyit, menyadari sesuatu. Entah apa.
Semenit berfikir, lalu Rey menghembuskan nafas dengan kasar.
"Kinan, apa dia--" Rey baru sadar, ia terlalu terburu-buru meminta Kinan ke Apartment ini, keadaan yang memaksanya berfikir cepat saat menghindari kedatangan Ammar dan Papanya ke Villa tadi. Seharusnya ia tak menyuruh Kinan ke Apartment ini. Sialnya dia lupa akan hal itu. Rey lupa Kinan pernah berada disini sebelumnya, karena rasa kalut yang berlebihan ketika di Villa. Rey mencengkram kepalanya dan mengacak-acak rambutnya. Bisa gila dia jika sekarang Kinan mengingat semuanya akibat kecerobohannya sendiri.
"Kinan, maafkan aku.. Maafkan aku!" Rey menahan rasa sesak dihatinya. Ingin rasanya ia menjerit sekuat-kuatnya sekarang.
.
.
.
.
Bersambung...