How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Rumah Sakit



Udah mulai bosen? Nikmati aja biar puas dengan endingnya ya. Sedikit cerita, awalnya aku mau tamatin novel ini di akhir Agustus kemarin. Tapi berhubung gak mau terkesan buru-buru dan alurnya jadi kilat, aku tambahin sedikit konflik biar hubungan Rey dan Kinan juga ada ujiannya setelah menikah. Aku mau endingnya dengan alur yang teratur. Semua udah pada nanya Ammar kemana kan? Nah ini aku bahas dulu biar pada tahu dia kemana.โ˜๏ธ๐Ÿ˜‚


Happy Reading๐Ÿ’•


________________


Matahari mulai menyingsing, wanita tua itu mulai terbiasa dengan aktifitas barunya. Ia nampak sibuk setelah kepulangannya dari Pasar Tradisional. Sudah beberapa bulan ia tinggal menyendiri dirumah ini, diasingkan oleh anaknya sendiri karena kesalahan yang diperbuatnya. Latifa harus rela hidup sebatang kara padahal ia memiliki anak dan dua cucu dari anak semata wayangnya, Ammar Sadin.


Walau di awal pindahnya kesini ia sempat memberontak, tapi perlahan-lahan ia mulai menerima dan menjalani kembali hidupnya yang sudah terasing itu.


Semasa muda ia terbiasa hidup susah, sehingga ketika Ammar sukses dan membawanya hidup senang, Latifa bagai lupa menginjak bumi. Ia lupa tempatnya berasal, bahkan ia sering menghina Kinan yang hidupnya sebelas-duabelas dengan dirinya saat masih muda. Ah, banyak penyesalan dihati wanita tua itu telah berlaku keji terhadap Kinan.


Sesungguhnya ia lebih memilih untuk dihukum Ammar dengan cara yang lain, misalnya dengan tidak memberinya uang saku atau memintanya untuk berlutut dikaki Kinan. Latifa rela melakukan itu semua walau ia harus terhina daripada ia harus diasingkan dan dianggap tiada oleh anak dan cucunya sendiri. Percayalah ketika usia senja, kita menginginkan berada dekat dengan orang-orang yang kita kasihi. Dan Latifa baru menyadarinya sekarang, ia terlalu tua untuk bersikap picik terhadap Kinan. Lagi-lagi wanita itu menyesali perbuatannya.


Latifa mendengar kematian Shirly, ia sedikit terkejut dan ia merasa miris dengan karma yang wanita itu terima. Sehingga sekarang ia banyak mensyukuri apa yang Tuhan jadikan balasan untuk perbuatanannya, setidaknya ia masih hidup dan masih bisa mengubah kelakuan walau semua memang terlambat.


Saat ini Latifa tengah sibuk memotong sayuran, ia akan memasak untuk dirinya sendiri atau mungkin untuk Ammar. Ah, mengenai Ammar, anaknya itu tidak pernah datang mengunjunginya. Ammar benar-benar mengabaikannya dan menganggapnya tiada. Tapi, entah kenapa beberapa hari lalu Ammar datang dengan kondisi yang membuat hatinya sebagai seorang ibu seakan teriris. Latifa menerawang kejadian pada saat itu. Pada saat kedatangan Ammar ke tempat tinggal baru Latifa.


Awalnya, Latifa menganggap Ammar begitu karena merasa kalah akibat tidak mendapatkan hati Kinan. Ammar selalu mendapatkan apa yang ia mau, membuatnya menjadi seorang lelaki yang berambisi. Tapi, lama-kelamaan Latifa menyadari sikap Ammar begitu karena rapuhnya hati seorang Ammar Sadin. Penyesalan begitu besar dalam lubuk hati lelaki itu, sama halnya dengan penyesalan yang Latifa rasakan. Bedanya, Ammar memiliki rasa kasih sayang terhadap Kinan, sehingga membuatnya begitu terpukul atas pilihan Kinan.


Beberapa hari lalu Ammar datang berkunjung, tidak seperti biasanya. Ammar terlihat mabuk, tubuh yang biasanya tercium aroma parfum maskulin, kini berganti dengan aroma alkohol. Ammar terlihat berantakan. Dia terlihat kusut dan sesekali menangis tersedu-sedu. Sesekali mulutnya memanggil nama Wina, tapi didetik berikutnya ia memanggil dan menyebut nama Kinan. Latifa membatin, apakah ini karma yang juga baru dirasakan Ammar akibat semua yang terjadi pada Kinan? Entahlah.


"Kamu kenapa Ammar?" Wajah Latifa ikut pias melihat keadaan anaknya waktu itu. Ia membantu Ammar membuka jas yang Ammar kenakan.


"Wina? Dimana Wina? Ah ya Wina sudah meninggal. Hahahaha..."


Kening wanita tua itu mengerut saat menyadari Ammar dalam kondisi mabuk parah.


"Gadis itu, yang wajahnya mirip Wina. Ya Kinanty...istriku.... dimana dia?" Tiba-tiba Ammar menangis tersedu-sedu. Hati Latifa menjerit dan menyesali perbuatannya pada Kinan melihat kondisi Ammar seperti ini.


"Ammar kamu mabuk, Nak!" Latifa beranjak dan ingin mengambil air untuk membasuh wajah anaknya tapi tangannya ditarik oleh Ammar.


"Kenapa semua wanita meninggalkan aku, Ma?" Hisak pria itu, ia memeluk wanita yang melahirkannya.


Setelah berhari-hari melakukan hal yang sama, dan kemudian Ammar tahu jika Kinan telah menikah dengan Rey. Aktifitas bermabuk-mabukannya pun semakin parah. Ammar bahkan kehilangan banyak klien di perusahaannya karena ia sering mengabaikan perusahaannya itu. Sampai suatu waktu, perusahaannya diambang kebangkrutan hanya dalam jangka waktu beberapa hari. Saham yang ia tanam pun merosot turun. Ammar semakin gusar tapi ia tak berminat memperbaiki semua yang telah terjadi, seakan-akan dia merasa 'masa-bodoh' dengan hal itu.


Latifa kembali merasa perasaan bersalah yang begitu besar.


"Kita mulai semua dari nol. Kamu adalah anak yang Mama banggakan, kamu harus berubah dan jangan begini terus-terusan Ammar!" Ucap Latifa ketika itu.


Latifa membuyarkan lamunannya, ia kembali mengiris bawang yang saat ini sedang berada digenggamannya. Saat tengah sibuk tiba-tiba perasaannya tidak enak dan mendadak sedetik kemudian tangannya terkena irisan dari pisau yang ia pegang sendiri. Ia meringis beberapa saat dan mengelap darah yang keluar dari jarinya dengan tisu dapur.


Latifa menerima panggilan dari nomor tidak dikenal, ia mendengar pemberitahuan itu dengan hati tak kalah sakit. Ammar mengalami kecelakaan dan sekarang berada di Rumah Sakit. Lagi-lagi wanita tua itu merasa bersalah, ini semua karena kesalahannya. Ammar mabuk-mabukan bahkan sampai tertabrak mobil.


Dengan tergesa, ia segera menuju Rumah Sakit dimana Ammar tengah dirawat.


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


Pintu ruang rawat itu terbuka, Rey bisa masuk kembali kesana karena ia bersama Kinan. Walau terjadi sedikit perdebatan dengan polisi yang berjaga didepan pintu, akhirnya Rey bisa masuk kesana dengan perjanjian tidak akan mengganggu pasien dan membuat keributan lagi.


Kinan berjalan lebih dulu, ia melihat Ammar yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Kondisinya masih sama, tubuhnya dibalut gaun khas pasien. Dengan sedikit gemetar Kinan pun memanggil Ammar.


"Mas Ammar.." Kinan tidak bisa menutupi getaran di suaranya. Rey mendengar itu tapi ia mencoba tidak menanyakan kenapa suara Kinan tampak bersedih. Ia memilih diam.


Dan sang pemilik nama yang dipanggil oleh Kinan pun menyadari kehadiran Kinan, tadinya ia tengah melamun dan pandangannya menerawang entah kemana. "Kinan.." Lirihnya.


Kinan mendekat ke sisi ranjang, diikuti oleh Rey. "Bagaimana kondisimu, Mas?" Tanya Kinan memulai percakapannya.


"Aku baik-baik saja. Aku tidak apa-apa." Jawab Ammar seolah menutupi kenyataan.


"Mas, aku kesini bukan sebagai mantan istrimu. Tapi aku kesini sebagai keluargamu, aku saudara jauh Mbak Wina yang pernah kau tolong, pernah kau beri tempat tinggal dan pernah menganggapmu sebagai kakak lelakiku." Jelas Kinan. Dan itu adalah jawaban kenapa suaranya bergetar tadi, ia memandang Ammar sebagai keluarga. Ia juga merasa sedih melihat keadaan Ammar.


Rey melirik Kinan, ia sudah tahu kenapa Kinan bersedih, Kinan hanya menganggap Ammar sebatas Kakak lelaki, tidak lebih.


"Terima kasih." Jawab Ammar singkat, ia membuang pandangannya ke samping, padahal awalnya matanya berbinar menatap kedatangan Kinan tapi mendengar ucapan Kinan membuatnya hilang harapan.


"Aku harap kau lekas sembuh, Mas. Aku tahu kau tidak akan mencabut kasus ini di kepolisian. Tapi bisakah aku memohon untuk hal itu?" Kinan membentuk kepalan dengan kedua tangannya didepan dada, membentuk sebuah permohonan pada Ammar. Rey terbelalak melihat kelakuan Kinan, ia tidak terima istrinya bersikap demikian.


"Sayang.." Bisiknya ingin protes, namun Kinan membuat kode dengan matanya agar Rey diam.


"Doni itu adalah temanku. Aku tidak mungkin membiarkannya di penjara, Mas. Jika kau bilang kondisimu memang baik-baik saja, bisakah kau mencabut laporannya?" Lanjut Kinan lagi. Ammar melirik Kinan dan Rey yang berdiri bersebelahan. Timbul seringaian dari sudut bibirnya.


"Bisakah kita bicara empat mata, Ki?" Ammar tersenyum penuh maksud pada lelaki disamping Kinan.


.


.


.


Bersambung..