How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
SEASON II - Pemuda yang haus darah



Joana Ivanka Veron, seorang gadis yang bisa dibilang tak muda lagi. Usianya kini menginjak 28 Tahun, bukan usia yang tepat untuk bermain-main lagi. Joana bukan tak pernah memikirkan tentang pasangan. Dia juga bukan tak tertarik pada lelaki. Joana juga ingin menikah. Sama halnya dengan Kinan, Desi dan Sinta yang sudah memiliki keluarga masing-masing.


Selama hampir 10 tahun kebelakang, Joana hanya fokus belajar dibidang kesehatan. Joana menyelesaikan study-nya dengan cepat, berkat kepintarannya ia bahkan mendapat jalur ekstensi yang bisa mempercepat kelulusannya di dunia kedokteran. Setelah lulus, Joana melanjutkan lagi study-nya untuk mengambil specialist dibidang Ahli kejiwaan atau Psikiater. (Jadi kalau mau menjadi Psikiater itu harus sekolah bidang Kedokteran dulu yah Guys✌️ baru abis itu bisa ambil specialistnya. Nah, kalau di Indonesia ambil kedokteran 6 Tahun dan specialist 4 tahun. Total 10 Tahun buat bener-bener bisa menjadi Psiakter dan buka praktek. Kalau diluar Negeri, ada istilah ekstensi buat Mahasiswa/i yang pintar jadi bisa lebih ngebut lulusnya ; kurang lebih begitu ya. Corect Me If I Wrong🙏)


Joana melakukan semua itu semata-mata bukan untuk dirinya sendiri. Cita-citanya menjadi seorang Psikiater handal terbentuk sejak ia berusia 17 tahun. Saat itu awal mula Joana mengenal masalah percintaan.


Joana yang menetap di London, sangat familiar dengan kencan-kencan buta anak remaja. Beberapa kali ia melakukan perkenalan dan dekat dengan lawan jenis; itu adalah hal biasa di Negara Barat. Dan lagi keluarga mereka memang tidak mempermasalahkan hal itu.


Hanya saja Joana yang masih berdarah Indonesia, sangat tidak tertarik untuk melakukan sampai sejauh mana yang teman-temannya lakukan. Semua masih ada batasnya bagi Joana. Jika diusia 17 Tahun kawan-kawannya sudah banyak yang tidak perawan, itu tidak berlaku bagi Joana. Walau di lingkungan sekolahnya menceritakan tentang kencan buta yang berakhir hilangnya keperawanan adalah hal yang tidak tabu lagi, tapi bagi Joana itu sudah langkah yang terlalu jauh. Gadis itu masih menganggap tabu hal yang dijadikan bahan cerita sehari-hari kawan-kawannya. Entahlah, Joana hanya menjaga dirinya untuk seseorang yang benar-benar berhak-itu menurutnya.


Sampai suatu saat, Joana mengenal seorang pemuda yang mampu membuatnya memiliki perasaan tak biasa. Steward Alexander Collin. Pemuda itu terkesan tertutup, berbeda dengan Joana yang selalu tampil ceria dan apa adanya. Awal perkenalan mereka adalah berawal dari pesta anak-anak muda yang sering diadakan saat Halloween.


Joana mengenakan dresscode putih berlumuran darah, sedangkan pemuda itu mengenakan Jas ala-ala seorang Vampir.


"Kau seharusnya menyembunyikan darah itu dari pandanganku. Ksu tahu, aku ini haus darah!" Ujar pemuda itu saat mereka belum mengenal dan mengetahui nama satu sama lainnya.


Joana terkikik geli mendengar ucapan pemuda itu yang dia anggap sebagai lelucon dan bagian dari aktingnya yang mengenakan setelan Vampir. "Kau tahu ini bukan darah sungguhan kan?" Tanya Joana balik sambil tertawa kecil.


Pemuda itu tersenyum miring. "Kalau itu darah sungguhan maka aku pasti akan sangat senang." Ucapnya menyeringai.


Lagi-lagi Joana hanya menganggap hal itu sebagai lelucon di acara Halloween. Joana tersenyum dan menyebutkan namanya. "Aku Joana, siapa namamu?"


Joana tidak sadar, disitulah awal mula kehancuran hidupnya dimulai.


...*...


"Joana, kamu dimana?" Suara wanita paruh baya memenuhi lorong rumah. Mencari-cari keberadaan anak gadisnya yang berusia 17 tahun.


Sayup-sayup wanita itu mendengar suara tangis anak gadisnya. Wanita dengan rambut hitam pekat itu membuka pintu kamar Joana yang tidak terkunci.


"Jo..."


"Sayang, kamu menangis?" Tanya Mama Joana melihat Joana yang duduk membelakangi posisinya sedang menatap layar televisi. Ia melihat pundak Joana yang bergerak-gerak seakan sedang terisak. Ia mendekat dan semakin mendekat kearah Joana yang tidak menyadari kedatangannya.


"Jo.." Mama Joana membalikkan posisi Joana agar anak gadisnya segera melihat kearahnya.


"Kamu kenapa? Nangis?" Dahinya mengernyit heran.


Joana tersenyum lembut, ia menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tadi nonton drama keluarga Ma." Ucap Joana datar.


"Terus nangis?"


"Eng-enggak."


"Jangan bohong." Sang Mama memindai wajah anaknya dan dia melihat ada kejanggalan. "Kenapa ujung bibir kamu?"


Joana terlihat gelagapan. "Ta-tadi jatuh pas olahraga disekolah." Jawabnya cepat.


"Jatuh? Jatuh kok lukanya disitu?" Tanya Sang Mama mulai curiga.


Joana mengangguk lagi. " Ya mana Jo tahu, Ma. Memangnya Jo bisa memilih mau luka dimana kalo pas jatuh."


"Hmm, ya sudah biar Mama kompres. Kok kayaknya bengkak. Seperti habis dipukul saja!" Ucap Mama seraya menuju lemari pendingin yang berada didalam kamar Joana. Joana yang sedang mengunyah snack sambil menonton televisi itu pun sontak tersedak dan terbatuk-batuk akibat ucapan sang Mama. Joana meraih botol minumnya dan langsung meminum air sampai botolnya kosong.


Mama kembali ke tempat Joana menonton sambil membawa sebaskom air es dan beberapa obat pembersih luka.


"Kamu kalau apa-apa hati-hati. Jangan sampai luka begini." Omel sang Mama seraya mengompres luka diujung bibir Joana.


"Iya, Ma..."


"Jo, kamu tahu keluarga baru yang menempati rumah kosong disebelah kiri sana?"


Joana menggeleng. "Enggak, Ma."


"Ck! Kamu itu jangan seperti orang sini yang tidak tahu wajah tetanggamu! Kalau kamu ikut Mama tinggal di Indonesia sana, semua tetangga tahu loh sama orang baru. Jangankan orang baru, sama permasalahan orang saja suka paling tahu, Jo!" Mama Joana terus mengomel yang tidak jelas.


"Mama kebiasaan..marahnya gak di filter. Terus salahnya Joana dimana, Ma?" Celetuk Joana.


"Salah kamu karena kamu gak bergaul! Jangan ngikutin tradisi orang sini, Jo! cuek dan terkesan tidak ramah!"


"Ya terus gimana? Mama sendiri nikahnya sama Daddy yang orang sini kan? Lalu apa salah, kalau Jo ikut bersikap layaknya orang-orang disini?" Joana mencebik.


"Ya setidaknya tirulah sifat Mama yang ramah pada semua orang." Mama terkekeh.


"Dan hasilnya Jo akan dipandang remeh karena ramah." Mereka berdua terkekeh bersama. Ditempat tinggal mereka, sikap ramah merupakan hal yang tak lazim. Hanya orang-orang tertentu yang bisa bersikap ramah dan bisa menerima keramahan orang lain. Semua terkesan tertutup dan cuek dengan sekelilingnya.


"Itu Mama buat Pancake, kamu datang ke tetangga baru itu dan berikan pancake sebagai salam perkenalan."


"Tapi, Ma..."


"Itu biasa di Indonesia, Sayang."


"Ini bukan Indonesia, Ma. Ini London."


"Maka lakukanlah di London." Mama pun pergi meninggalkan kamar Joana dan Joana mengerucutkan bibirnya.


Joana menuju dapur dan mengambil pancake hangat yang baru saja dibuat Mamanya beberapa waktu lalu. Ia mau tidak mau harus menuruti kemauan sang Mama. Joana pun mengambil alas kaki lalu setengah berlarian menuju Rumah yang biasanya kosong tapi sekarang sudah diisi oleh penghuni baru.


Joana menekan bell pintu dan saat pintu itu dibuka, ia terkejut karena disana ia melihat Xander yang menatapnya dengan seringaian. Pemuda yang berusia tak berbeda jauh dengannya itu lalu bersedekap dada.


"Apa kau begitu merindukanku hingga kau mengikutiku sampai kerumah ini?"


Joana mengernyit heran. Ia sendiri tidak tahu jika penghuni rumah baru ini adalah keluarga Xander.


"Xander...aku.."


"Masuklah." Ucap Xander sambil menggendikkan bahunya kearah rumah.


Joana masuk kedalam pekarangan rumah itu.


"Apa yang kau bawa?"


"Pancake."


"Kau membuatnya?" Xander tampak antusias.


"Bukan, Mamaku."


Xander merengut, tangannya mengepal. Entah kenapa tiba-tiba ia memukul meja yang berada dihadapannya.


"Xander, kau kenapa?"


"Tidak apa-apa."


"Kau tidak senang dengan kedatanganku?"


"Biasa saja." Jawab Xander datar.


"Tapi aku senang bertemu denganmu. Kau ternyata bertetangga denganku." Joana meletakkan Pancake keatas meja.


"Dimana keluargamu?" Tanya Joana.


"Mereka pergi membeli kebutuhan untuk dirumah baru ini."


"Oh..."


"Tampaknya kau senang sekali. Berbeda denganku." Xander menghela nafas panjang.


Joana mengernyit. "Kau benar-benar tidak senang dengan kedatanganku?"


"Ya, tapi aku lebih tidak senang saat ekspektasiku tidak sesuai dengan harapanku."


"Xander, memangnya kau berharap apa?"


"Aku berharap Pancake itu adalah buatanmu."


Joana terkikik. Ia menganggap Xander sedang membuat lelucon.


"Ya sudah nanti aku belajar membuatkannya untukmu." Ujar Joana. "Agar kau senang." Lanjutnya sambil menatap mata Xander yang kini meredup cenderung menggelap.


"Kenapa?" Tanya Joana yang melihat Xander tidak bergeming dan diam tanpa suara.


"Kau ingin aku senang?"


Joana mengangguk.


"Lakukan seperti yang tadi kita lakukan di belakang sekolah."


"Tapi..."


Xander menggaruk-garuk hidungnya, dan Joana kembali teringat peristiwa yang terjadi disekolah tadi pagi, yang menyebabkan ujung bibirnya berdarah.


"Kau bilang tadi ingin agar aku senang. Itu hal yang membuatku senang, Jo."


"Tapi itu sakit. Kau lihat ini masih luka dan baru saja diobati oleh Mamaku."


"Kalau begitu, kita buat dibagian yang lain. Kau mau?" Xander menyeringai penuh maksud.


Joana menggeleng, mendadak wajahnya pucat pasi dan Xander menikmati wajah pias yang ditampilkan oleh Joana. Ia tertawa sangat kencang.


"Hahaha... Jo, sepertinya aku menyukaimu. Sangat menyukaimu. Apa kau mau jika kita berpacaran mulai hari ini?"


Joana menggeleng. Walaupun dia sudah memiliki ketertarikan diawal pertemuan mereka saat pesta halloween, tapi Joana kini benar-benar takut pada Xander.


"A-aku tidak bisa. Aku ha-harus pulang " Joana ingin melarikan diri dari hadapan Xander, tapi saat itu juga tangannya dicekal oleh Xander. "Tidak ada yang boleh menolakku, Jo! Mulai saat ini kau adalah kekasihku. Sampai kapanpun itu!" Ujarnya.


Joana pucat pasi, keringat bercucuran dari pelipisnya dan saat ia ingin berontak pergi, Xander mencuri ciuman pertamanya dengan sangat brutal sampai luka diujung bibirnya kembali mengeluarkan darah.


"Kau adalah kekasihku. Ingat itu!" Suara Xander terus terngiang-ngiang dikepala Joana.


...Bersambung......