
Ditengah rasa jenuh menunggu operasi selesai, serta rasa frustasi akibat Doni yang sudah berada di kantor polisi sekarang, tiba-tiba Rey teringat Desi. Desi pasti mengetahui keberadaan Kevin. Demi apapun, Rey tidak bisa memecahkan masalah ini sendirian, ia harus mendiskusikan ini bersama Kevin untuk mencari jalan keluar terbaik buat Doni.
"Sayang, bisa tolong kirimkan nomor Desi padaku?" Pinta Rey pada Kinan melalui sambungan telepon.
"Aku akan mengirimkannya, Mas. Tapi untuk apa? Bagaimana dengan Doni?" Terdengar nada khawatir dari seberang sana.
"Aku ingin tahu kabar Kevin dari Desi karena nomor Kevin tidak bisa dihubungi. Kamu tidur duluan saja, ini sudah malam. Tidak usah menungguku." Dengan berat hati Rey mengucapkan kalimat terakhirnya.
"Baiklah, Mas. Semoga masalahnya segera selesai."
Tak berapa lama setelah panggilan itu terputus, Rey menerima pesan berupa nomor ponsel pribadi Desi dari istrinya. Rey mencoba menghubungi nomor itu beberapa kali. Untungnya di panggilan ke tiga panggilan itu dijawab.
"Des, ini gue.. Rey. Lo tau dimana Kevin?" Rey langsung to the point begitu panggilan itu tersambung.
Tak terdengar suara apapun sebagai jawaban. Tapi Rey mendengar selentingan suara perdebatan kecil dari seberang panggilan.
"Apa, Nyuk?" Tanpa disangka yang menjawab itu adalah Kevin.
"Og*b!!!! Kemana aja lo? Nomor pake gak aktif segala. Lo tau gak Doni dikantor polisi, dia nabrak orang!" Cetus Rey.
"Serius lo? So-sorry, Nyuk! Hape gue mati. Dibuang Desi ke jalan." Terdengar helaan nafas berat dari seberang sana.
"Pasti lo ngulah kan? Mam-p*s lo!" Sekarang cepat lo kesini. Gue share lokasi. Lo dateng sekarang juga!" Desis Rey.
"Iya, iya!"
Rey menunggu kedatangan Kevin sambil terus memantau ruang operasi itu. Sudah hampir empat jam Rey menunggu. Waktu berjalan terus dan hampir menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka bersamaan dengan sampainya Kevin ke Rumah Sakit itu.
"Gimana keadaannya, Dok?" Tanya Rey pada dokter yang baru saja keluar seraya menatap Kevin yang berjalan ke arahnya.
"Syukurlah operasi berjalan lancar. Pendarahan di kepalanya sudah berhenti. Pemasangan pen di bagian yang patah juga sudah dilakukan. Tapi jika pasien sudah sadar nanti, kemungkinan dia tidak bisa berjalan normal sementara waktu, mengingat ada fraktur tulang di kedua kakinya."
"Apa saya bisa melihat keadaanya?"
"Bisa, tapi setelah pasien dipindahkan ke ruang rawat."
"Baiklah, Terima kasih Dokter." Rey tersenyum ramah pada Dokter itu dan diikuti oleh Kevin.
Tak berapa lama seorang perawat datang menghampiri Rey. Perawat itu meminta Rey mengurus administrasi dan menjadi penjamin korban. Perawat itu juga ingin memberi Rey barang-barang pribadi milik korban yang tadi sempat dikenakan ketika kecelakaan terjadi. Rey segera mengikuti perawat untuk mengurus segalanya, ia juga ingin tahu identitas korban, berdasarkan identitasnya yang mungkin saja ada di barang-barang yang perawat tadi katakan.
Seperginya Rey, Kevin yang masih tinggal didepan ruang operasi pun melihat para perawat yang sibuk mengurusi kepindahan pasien ke ruang rawat. Ketika brankar pasien itu di dorong, Kevin sedikit terbelalak melihat lelaki yang tergeletak diatas sana. Kevin pun dengan tergesa-gesa menyusul Rey.
"Nyuk! Beneran orang yang ditabrak Doni itu... orang yang baru keluar dari ruang operasi?" Kevin terlihat kebingungan.
"Iya. Kenapa?"
"Lo tau korbannya siapa?"
"Ini gue mau cari tau, baru mau liat identitasnya ini!" Jawab Rey seraya menunjukkan dompet milik korban yang ia pegang.
"Kenapa?" Tanya Rey lagi ketika melihat sikap Kevin yang aneh.
"I-itu, kayaknya...Mantan suaminya Kinan yang jadi korbannya." Kevin mencoba menjelaskan dengan ragu-ragu.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Rey mendekati ruang rawat dimana korban kecelakaan yang disebabkan oleh Doni itu baru saja dipindahkan kesana. Korbannya tak lain tak bukan adalah Ammar, mantan suami Kinan. Rey dan Kevin saling bertatapan karena didepan ruangan itu sudah ada beberapa polisi yang berjaga.
"Gimana, Nyuk?" Tanya Kevin.
Rey menghela nafasnya. "Lo urus Doni di kantor polisi. Urusan disini biar gue yang atur. Gue mau bicara dulu sama dia. Biar dia bisa nyabut perkara ini." Dia yang dimaksud Rey merujuk ke Ammar. Rey berharap masalah ini bisa ditutup Ammar dengan kekeluargaan.
Rey menyapa polisi yang berjaga didepan pintu, ia ingin mengetahui sejauh apa penyelidikan polisi sampai saat ini.
"Permisi, Pak." Rey mulai berbincang dengan polisi itu. Polisi pun mulai menjelaskan berdasarkan penyelidikan tim-nya sampai pada saat ini.
Berdasarkan saksi mata, Mobil yang dikendarai Doni melaju dengan kecepatan sedang, korban sepertinya dengan sengaja menabrakkan diri pada mobil yang melintas. Polisi sudah menanyai dokter dan dari analisis dokter, terdapat aroma alkohol yang menyengat ditubuh korban. Dapat dipastikan, korban memang meminum alkohol beberapa jam sebelum kecelakaan itu terjadi. Jadi, korban yang dalam kondisi mabuk dan sengaja menuju kap depan mobil.
Tapi, posisi Doni sebagai pengendara tetap disalahkan. Jadi, polisi juga berharap kasus ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan mengingat kesalahan korban dan pengemudi.
"Boleh saya menemui korban? Saya hanya ingin bernegosiasi agar dia mencabut perkara ini." Ucap Rey pada polisi itu.
Rey memasuki ruangan pasien dan mendapati Ammar yang tergeletak disana. Kepalanya dibalut perban, kedua kakinya dibalut karet elastis. Dan Rey yakin tubuhnya yang dilapisi baju pasien juga dalam keadaan terbalut, karena patah dibagian rusuknya. Ammar dalam posisi sudah sadar, tangannya tersambung dengan selang infus.
"Jangan bilang kalau kau yang menabrakku!" Ammar menyambut Rey dengan senyuman miring.
"Tentu saja bukan." Jawab Rey, Rey tidak habis pikir kenapa lagi-lagi dia harus berurusan dengan lelaki ini.
Ammar mendesis seraya menyeringai penuh arti. "Aku pikir kau yang menabrakku. Lalu untuk apa kau kesini? Ingin menertawai keadaanku?"
"Tidak seperti itu. Yang menabrakmu adalah temanku. Bukan, bukan. Kau lah yang menabrakkan diri ke mobilnya. Benar begitu kan?"
"Aku yang dirawat dan aku yang disalahkan." Jawab Ammar cuek.
"Kau mabuk, kau tidak mengingatnya!" Gumam Rey.
"Ya, seperti yang kau dan Kinan lakukan. Kalian mabuk dan menghianatiku!" Jawab Ammar sarkasme.
"Bisakah kau tidak menyambungkan ini dengan masa lalu?" Rey mencoba bersabar padahal ia benci jika hal ini harus menyangkut-pautkan Kinan.
"Lalu apa maumu?"
"Aku ingin kau mencabut perkara ini dikepolisian. Tidak menuntut Doni, temanku. Mengingat ini tidak sepenuhnya kesalahannya!"
Ammar terdiam beberapa saat, kemudian seringaian itu muncul kembali dari bibirnya.
"Baik, aku tidak akan menuntutnya. Bisakah kau mengembalikan Kinan padaku?" Jawab Ammar dengan seringaian yang sama. Wajahnya tiba-tiba dipenuhi kelicikan.
"Jangan bawa-bawa istriku dalam masalah ini dan mengambil kesempatan!" Suara Rey mulai naik dan meninggi.
"Itu terserahmu. Itu adalah kesepakatan dari ku!"
"Kau tahu istriku bukan barang atau mainan yang bisa dibuat seperti itu!" Rey benar-benar terlihat marah sekarang, wajahnya memerah dan jika tidak mengingat Ammar adalah seorang pasien, Rey pasti sudah melayangkan tinjunya begitu mendengar ucapan yang Ammar katakan sebagai kesepakatan.
"Aku tahu, tapi aku tidak menginginkan apapun saat ini kecuali dia."
"Cih! Jadi kau mabuk dan meratapi nasibmu karena istriku?" Tebak Rey. "Kau lupa dia sedang mengandung anak kami?" Rey menghitung dalam hati agar meredakan amarahnya sendiri.
"Ceraikan dia setelah anak itu lahir, ambilah anakmu dan biarkan aku dan Kinan memulai hidup baru!" Jawab Ammar dengan enteng.
"Dasar br*ng-sek!" Rey mengepalkan tangannya dan siap menghantam wajah Ammar tapi sebelum ia melakukan itu badannya sudah ditahan oleh dua orang polisi yang berjaga didepan pintu. Mereka mengintip kedalam melalui kaca yang ada disisi pintu, karena sempat mendengar keributan dari dalam ruangan.
"Jaga sikap anda, Pak!" Ucap seorang polisi berbadan kekar yang menahan tubuh Rey. Rey mema-ki dan mengum-pat didepan Ammar. Beberapa kali badannya memberontak polisi yang membekap badannya. Ia benar-benar marah mendengar ucapan Ammar.
Kedua polisi itu mengiring Rey keluar ruangan, dan sesampainya diluar ruangan Rey menjadi semakin emosi karena amarahnya tak terlampiaskan.
.
Bersambung ...