
Lebih dari satu minggu Ammar dirawat di Rumah Sakit hingga akhirnya ia diperbolehkan pulang. Ammar tidak menyia-nyiakan waktu karena pekerjaannya sudah banyak terbengkalai.
Ammar pun memutuskan untuk langsung bekerja. Saat ia memasuki kantornya, ia melihat seorang wanita muda yang tengah duduk dimeja tepat didepan ruangannya. Penampilannya sangat rapi dan enak dipandang.
Ammar mengernyit heran tapi ia menghampiri wanita itu. "Maaf, kau siapa?" tanya Ammar.
Wanita itu bangkit dari duduknya saat menyadari bahwa Ammar sudah berdiri didepannya. Ia mengambil sikap hormat dengan sedikit membungkukkan tubuh.
"Selamat pagi, Pak. Saya Karin. Saya adalah Asisten baru Anda." ucapnya.
Ammar terdiam dan berfikir, ia memang meminta Sekretarisnya untuk mencarikan seorang Asisten pribadi, karena ia memang memerlukan itu untuk mempermudah urusannya, tapi siapa yang menyangka jika Asisten pribadinya justru seorang wanita?
"Saya mendengar dari Sekretaris Anda, jika hari ini Anda akan masuk ke kantor, Jadi, saya datang sebelum Anda tiba." Wanita itu tersenyum simpul.
Ammar masih terdiam, ekspresinya tidak terbaca.
Wanita muda itu kembali bersuara. "Selama beberapa hari ini, saya sudah mempelajari jadwal dan kegiatan Anda, Pak. Saya sudah mengerti apa saja yang Anda butuhkan serta apa saja yang Anda suka dan tidak suka." jelasnya.
Akhirnya Ammar mengangguk. "Baiklah, lakukan pekerjaanmu dengan baik." kata Ammar. Ammar tidak mendengar lagi jawaban dari wanita muda itu, ia memilih berlalu masuk kedalam ruangannya.
Sampai didalam ruangannya, ia langsung menelepon ke saluran yang menyambungkan dengan ruang sekretaris kantor.
"Ke ruanganku sekarang!" titahnya begitu panggilan itu tersambung.
Tak berapa lama, masuklah sang Sekretaris kantor kedalam ruangan Ammar.
"Ada apa Bapak mencari saya?" tanya Heni-Sang sekretaris yang mengatur jadwal pekerjaan Ammar.
Ammar menatap Heni. "Kamu yang merekrut Asisten pribadi untuk saya?"
"Iya, Pak. Apa ada yang salah?"
"Saya ingin seorang Asisten yang siap sedia membantu saya kapan saja. Jika seorang wanita yang menjadi Asisten saya, saya khawatir dia tidak akan bisa bekerja di jam-jam tertentu saat saya membutuhkan bantuannya." kata Ammar.
"Maaf, Pak. Anda tidak mengatakan jika Asisten itu harus seorang lelaki. Saya pikir, Karin adalah yang terbaik dibidangnya," jawab Heni gugup.
"Apa begitu?" tanya Ammar sarkas.
"Y-ya Pak, dia kompeten dan profesional. Saya melihat latar belakangnya. Dulu dia adalah Asisten Pribadi Direktur pemilik perusahaan Tambang."
"Kenapa dia keluar dari pekerjaannya yang lama?"
"Karena satu dan lain hal, Pak." jawab Heni absurd.
"Hah? Aku ingin tahu alasannya."
"Itu pirivasi Karin, Pak. Anda bisa menanyakannya langsung."
Ammar menghela nafasnya berat, "Aku akan memberi kesempatan dan menilai kinerjanya, jika dia tidak sesuai dengan kriteriaku, maka cepat cari gantinya." Ucap Ammar malas. "Dan pastikan itu seorang pria," lanjutnya.
"Ba-baik Pak." jawab Heni cepat.
"Keluarlah."
Dan Heni pun segera menyingkir dari hadapan sang Atasan. Ia takut terkena sasaran kemarahan Ammar karena ia membaca kilatan tak senang dari mata Ammar, tapi syukurlah Ammar mau memberi Karin kesempatan untuk bekerja karena Heni tahu Karin sangat membutuhkan pekerjaan ini.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
"Bagaimana harimu?" tanya Joana pada Ammar, saat ini mereka sedang melakukan panggilan video. Ammar menatap wajah perempuan yang dirindukannya itu dilayar pipih miliknya seraya memasang senyum yang paling cerah.
"Tidak terlalu baik." Ammar merubah ekspresi menjadi tersenyum kecut.
Joana merengut. "Kenapa begitu? Masih merasa sakit? Aku sudah mengatakan untuk menunda pekerjaanmu dulu." ucap Joana dengan suara yang manja. Ammar sangat senang mendengarnya.
Lagi-lagi Ammar tersenyum hangat. "Bukan itu ." katanya. "Hariku tidak terlalu baik karena belum bertemu kamu." Ammar terkekeh diujung kalimatnya.
Bisa-bisanya lelaki itu menggombal sitengah kesibukannya.
"Hisss.." Joana mendesis. "Itu karena kamu kekurangan orang untuk di ganggu." ejek Joana.
"Ada banyak orang disini. Semuanya bisa ku ganggu jika aku mau, hanya saja rasanya tetap berbeda."
"Berbeda?"
"Yah.. karena itu bukan kamu." jawab Ammar cepat seraya terkekeh diujung kalimatnya.
Sementara Joana terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya atas ucapan Ammar.
"Jo, boleh aku minta sesuatu?" tanya Ammar.
"Apa?" kata Joana.
Ammar tersenyum miring. "Beri aku semangat hari ini." katanya.
"Semangat Ammar." Joana menunjukkan tangannya yang terkepal seolah-olah itu bentuk semangatnya pada Ammar.
"Bukan begitu,"
Ammar menghela nafas panjang, "Beri aku panggilan sayang,"
Joana melongo, apa lagi ini?-pikirnya. Ammar sangat sulit ditebak, terkadang Joana merasa Ammar sangat dewasa dan memahami pola pikirnya yang juga bukan lagi seorang gadis remaja. Tapi, terkadang Ammar juga seperti anak kecil yang manja, suka menggodanya dan sekarang? Ammar malah menginginkan dipanggil dengan panggilan sayang.
"Apa itu harus?" tanya Joana.
"Ya jika kau menyayangiku." Kata Amamr seraya memainkan bola matanya.
Mendengar jawaban Ammar membuat Joana mencebik. "Baiklah, selamat bekerja, Honey..." kata Joana dengan wajah merah padam.
Ammar terkejut karena Joana mengabulkan permintaannya itu, padahal Ammar kira akan sangat sulit membujuk Joana, ia pikir Joana malah akan mengejeknya akibat permintaan konyol itu.
"Ulangi ..." katanya.
"Selamat bekerja, Honey." kata Joana lagi.
Ammar tersenyum. "Kau memanggilku apa?"
"Maksudmu Honey?" Joana kebingungan sementara Ammar terkekeh seraya memegangi perutnya. Ini terlalu lucu untuk Ammar yang notabenenya bukan lagi seorang remaja. Panggilan Joana tadi seperti remaja saja-pikirnya.
"Kau menertawaiku?" suara Joana naik satu oktaf.
"Bu-bukan. Aku, maksudku bukan begitu." kilah Ammar makin terkekeh.
"Ya sudah, aku tarik kembali kata-kataku."
"No... aku menyukainya. Aku justru ingin kau mengulanginya sekali lagi."
Joana memutar matanya malas.
"Oh...Come on, Honey!" kata Ammar sambil mengulumm senyum.
"Well, Aku tutup telponnya. Kau terus saja menggodaku." kata Joana.
"Tunggu, aku tidak melakukannya. Panggilanmu benar-benar membuatku bersemangat, hariku jadi lebih ceria."
Joana menggeleng-gelengkan kepalanya saat Ammar terus saja terkekeh nyaring.
"Maaf, Pak. Ini makan siang Anda." tiba-tiba suara seorang perempuan terdengar disela-sela pembicaraan mereka. Wanita itu membawa nampan yang berisi makanan keruangan Ammar.
Ammar melihat Joana yang terdiam di seberang sana. "Sebentar," katanya. Ammar meletakkan ponselnya dimeja tanpa memutus panggilan itu.
"Letakkan saja di meja itu." kata Ammar menunjuk meja yang diapit oleh dua kursi dalam ruangannya.
Wanita itu meletakkan nampannya disana dan kembali menatap Ammar.
"Ada lagi yang bisa saya bantu, Pak?" tanyanya.
"Tidak, terima kasih Karin." kata Ammar.
Karin mengangguk dan ingin undur diri dari ruangan kerja Ammar.
"Emm, Karin?"
Karin menoleh, "Ya, Pak?" jawabnya.
"Lain kali ketuk pintu dulu baru masuk ke ruanganku."
Karin mengangguk tapi mulutnya bersuara. "Tadi saya sudah mengetuk pintu, tapi sepertinya Anda tidak mendengarnya." katanya.
"Oh..." Ammar menyadari tadi dia terlalu asyik dengan Joana hingga tak mendengar suara ketukan pintu.
"Saya permisi, Pak."
Ammar mengangguk samar, tangannya kembali mengambil ponsel yang sedari tadi masih tersambung dengan panggilan video Joana.
"Itu siapa?" Baru saja Ammar memperlihatkan wajah ke layar pipih itu, suara tanya Joana langsung menginterogasinya.
"Itu Asistenku." kata Ammar datar.
Joana mencebik. "Asistenmu seorang wanita?" tanyanya dengan nada tak senang.
Astaga, sesuai dengan dugaannya, Joana pasti tak akan senang mengetahui hal ini.
"Ya, kenapa?"
"Tidak apa-apa, aku pikir asistenmu laki-laki." Joana terkekeh hambar.
"Asistenmu juga seorang wanita kan?" goda Ammar, ia ingin mengalihkan rasa tak senang kekasihnya itu dengan cara bercanda.
"Ya, aku akan segera menggantinya dengan asisten pria." kata Joana membuat Ammar melotot.
"Aku akan menjemputmu nanti sore." kata Ammar.
...Bersambung......