How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Menunggu



*POV. KINAN


Saat ini, aku sedang menunggu dengan harap-harap cemas didepan sebuah ruangan UGD sebuah Rumah Sakit Swasta. Berjalan mondar-mandir untuk mengurangi kecemasanku. Aku menantikan pintu ruang UGD itu terbuka, agar aku tahu kondisi Mas Rey setelah mengalami kecelakaan beberapa jam lalu.


"Bagaimana keadaannya dokter?" Aku bertanya pada dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu.


"Dia mengalami patah tulang di tangan kirinya. Selebihnya, semua kondisinya stabil. Kita tunggu pasien sadar ya!" Jawab dokter lelaki itu.


Aku mengangguk seraya mengucapkan terima kasih.


"Em, tunggu dokter! Boleh saya melihat keadaannya?"


"Tentu, setelah pasien dipindahkan ke ruang rawat. Oh ya, apakah anda keluarganya?"


"Bukan, saya yang ikut membawanya kesini!"


"Baiklah, pihak Rumah Sakit akan menghubungi keluarganya melalui identitas yang ditemukan di tempat kejadian!" tutur dokter itu membuatku hanya bisa mengangguk tanda mengerti. Dokter itu pun melangkah pergi setelah undur diri.


Selang beberapa menit, tubuh Mas Rey yang masih tak sadarkan diri itu dipindahkan keruang rawat. Aku tentu saja mengikuti para perawat itu untuk tahu lebih lanjut dimana Mas Rey akan dirawat.


-


Aku duduk disamping ranjang tempat Mas Rey terbaring, sudah hampir setengah jam aku menunggunya sadar, namun entah kenapa Ia belum juga bangun. Aku menatap wajahnya yang belum sadarkan diri itu. Wajahnya amat teduh dipandanganku. Betapa sempurnanya Tuhan menciptakan fisiknya-Batinku.


Walau tangan kirinya sudah terbalut kain elastis karena patah tulang, tapi itu sama sekali tak mengurangi kesempurnaan sosok ini dimataku. Jika saja aku belum mengetahui semua kebenaran yang ada, pastilah sosoknya yang tetap bertahta dihatiku. Dia adalah cinta pertamaku, walau dia bukan lelaki pertama yang ada dihidupku. Ah, batinku terasa nelangsa. Kandas sudah cinta itu, seperti kandasnya kepercayaan diriku sejak kesucianku telah direnggut tanpa se-pengetahuan-ku. Dan orang yang merenggutnya adalah orang yang juga telah merebut hatiku. Dan dia ada didepanku sekarang.


Buana tampaknya sedang mempermainkan perasaan makhluk lemah ini. Bagaimana tidak, aku jatuh hati pada orang yang ku anggap paling menyakitiku. Aku yang notabene nya sangat menjaga diri bahkan menghindari menjalin kasih dengan lelaki, harus menghadapi petaka setelah aku berumah tangga. Sangat miris.


Dan parahnya lagi, tanpa ku sadari aku jatuh terlalu dalam pada sosok lelaki yang terbaring didepanku ini. Lelaki yang sama dengan lelaki yang ku benci.


Setetes demi setetes air mataku luruh, akupun tak tahu kenapa sebab musabab aku bisa menangisinya. Entah karena perasaan kecewa masih menganga, atau karena keadaannya yang tak berdaya didepan mata. Entahlah, rasanya semua bercampur menjadi satu.


Aku ingin beranjak meninggalkan kamar rawat Mas Rey. Ku pikir, tidak ada gunanya aku berada disini karena gemuruh didalam dada masih amat sesak membayangkan perbuatan hina-nya terhadap tubuh ini. Sebelum ia menyadari kehadiranku ada baiknya aku undur diri.


"Apa kamu Kinanty?" Aku terhenyak mendengar suara lembut seorang wanita dihadapanku. Penampilannya sangat fashionable dan masih cantik diusianya yang tak muda lagi.


Aku tersenyum ramah, bibirku melengkung indah karena aura wanita dihadapanku amat positif ketika menatap wajah ini.


"Iya, Nyonya. Apa Anda mengenal saya?" Aku mencoba balik bertanya pada wanita itu. Ia mengangguk, tampak wajahnya berbinar memandangku.


"Saya Zehra Denizer, Mamanya Rey." Katanya memperkenalkan diri. Ia semakin menyunggingkan senyumnya yang ramah. Membuatku teringat senyuman mendiang ibuku.


Karena kebiasaan yang sudah ku lalui bertahun-tahun, aku dengan spontan mengambil tangan wanita itu dari posisinya, menyalami dan menciumnya dengan takzim. Saat aku mendongak kembali, aku melihat wajah Nyonya Zehra tampak seperti terkejut.


"Kamu membuat saya terkesima!" Ucapnya jujur dengan nada riang.


"Apa dengan menyalaminya saja begitu spesial baginya?" Gumamku dalam hati.


Seolah bisa membaca pikiranku, ia pun lanjut berkata.


"Sudah lama rasanya punggung tangan ini tidak ada yang menyalami seperti yang kamu lakukan!" Ucapnya seraya duduk di sofa yang ada diruangan VVIP itu.


Aku menunduk segan, tak tahu harus berkata apa lagi. Aku juga tak menyangka akan berurusan dengan orang seperti Nyonya Zehra yang terhormat. Dari segi penampilannya dan attitude-nya, aku bisa menilai bahwa dia benar-benar dari kalangan atas. Aku nyaris tak pernah membayangkan bisa berbicara dengan orang sekelasnya secara langsung begini.


"Rey belum sadar juga?" Tanyanya dengan nada terendah. Aku bisa melihat ia begitu khawatir tapi entah kenapa berusaha menutupi ke-khawatir-an-nya.


Aku menggeleng. Dan lagi-lagi ia seperti bisa membaca situasi dan pikiranku.


"Kinan, jujur saja sebenarnya mama benar-benar khawatir pada keadaan Rey, tapi karena kamu yang menjaganya disini mama sedikit tenang. Dokter juga sudah menyampaikan kondisinya melalui telepon tadi." Jelasnya dengan nada yang begitu akrab padaku. Aku pun sedikit syok dia menyebut dirinya 'mama' dihadapanku.


"Em, karena Nyonya sudah berada disini, Saya pamit pulang saja. Permisi..."


"Wait... kamu memanggil apa tadi? Nyonya? No! Kinan, saya ini mamanya Rey. Kamu bisa memanggil mama juga, sama seperti Rey memanggil saya!" Dia memandangku dengan tatapan penuh harap.


"Kamu ternyata sangat pendiam ya!" Wanita itu tertawa diujung kalimatnya.


"Try Kinan! coba kamu panggil saya mama!" Pintanya.


"Hah?" Mendadak aku kebingungan atas permintaannya yang sangat konyol menurutku.


"Ayo!" ujarnya dengan senyuman yang tak redup.


"I-iya ma, Kinan pulang dulu!" Akhirnya hanya kalimat itu yang bisa aku ucapkan. Dia pun tersenyum bahagia. Ya, aku melihatnya tersenyum senang.


Tapi sepertinya semesta tak membiarkanku lolos begitu saja dari ruangan ini, karena baru selangkah aku berjalan. Suara Mas Rey memanggil namaku dengan bergetar.


"Kinan..." Suaranya terdengar lirih. Entah sejak kapan ia sadar, apa mungkin dia juga mendengar obrolanku bersama mamanya tadi?


Aku tak ingin berbalik karena aku takut benteng pertahananku akan runtuh ketika melihat wajahnya lagi.


"Kinan..." Lagi-lagi ia memanggilku dengan suara lirih, hingga membuatku mau tak mau harus berbalik arah menuju tempat pembaringannya.


"Hmm?" hanya itu yang bisa ku ucapkan. Tak tahu lagi harus berkata apa. Nyonya Zehra terlihat mengulumm senyumnya melihat aku dan anaknya kini saling bertatap wajah. Sepertinya ia tak mau menyambut anaknya yang baru saja tersadar, atau lebih tepatnya ia lebih dulu tahu keadaan anaknya yang sudah sadar, hingga ia urung menanyakannya lagi dan malah membiarkan Mas Rey memanggilku. Berarti memang sedari tadi lelaki ini telah sadar dan mendengar pembicaraan kami. Tapi aku saja yang tak menyadarinya diruangan ini.


"Kinan, terima kasih!" Suara Mas Rey terdengar berat dan serak. Aku mengangguk dan pamit untuk pulang sekali lagi.


Mas Rey meringis beberapa kali saat merasakan sakit dibeberapa bagian tubuhnya, membuatku menjadi frustasi sendiri jika meninggalkannya begitu saja. Tak tega. Ah, benteng pertahananku tampaknya kurang kuat dan siaga.


Tiba-tiba saja Nyonya Zehra berpamitan untuk keluar sebentar, beralasan ponselnya tertinggal di mobil. Aku merutuki diriku sendiri yang membiarkannya pergi begitu saja sehingga hanya tinggal aku dan Mas Rey berdua didalam ruang rawat ini.


Aku melihat Mas Rey tersenyum tipis memandangi kepergian ibunya. Aku jadi mengerti jika disini baru saja terjadi konspirasi antara ibu dan anak. Mereka sengaja membiarkan keadaan ini terjadi.


"Ki, kau ingat tidak, rasanya baru kemarin aku yang mengunjungimu diruang rawat.." dia menatapku yang terpaku.


"Tapi lihat sekarang! Sekarang akulah yang terbaring di tempat tidur rumah sakit dan kamu yang datang berkunjung." Sambungnya lagi.


"Ki, kamu sekarang begitu pendiam, tidak mau mengutarakan isi hatimu lagi seperti waktu itu!" Mas Rey menatap langit-langit kamar, seperti membayangkan sesuatu yang pernah terjadi.


"Aku pulang ya!" Hanya itu yang bisa ku ucapkan untuk menghindari pembahasannya.


"Ya, pulanglah!" Ucapnya dengan tenang.


Aku berbalik menuju pintu keluar.


"Aku tahu kau belum memaafkanku. Tapi bisakah sekarang kita berteman?" Tanyanya ketika tangan ini menyentuh handle pintu.


Aku terdiam sejenak, kali ini benar-benar meresapi kalimatnya. Entah kenapa kata-katanya membuat hati ini berdenyut pedih. Apa karena dia mau menjalin pertemanan denganku? Bukankah dia mengatakan mau menikahiku? Ah, kenapa juga aku jadi berharap lebih? Kan aku juga yang sudah menolaknya untuk bertanggung jawab. Kenapa sekarang aku jadi 'plin-plan' karena kalimatnya yang mengajak berteman. Kenapa rasanya tak rela jika hanya berteman?


"Kinan?" Suaranya menyadarkan aku dari lamunan.


"Mau kan berteman denganku?" Tanyanya lagi dengan tangis yang tak bisa ia tahan. Demi apapun, aku bisa mendengar suara tangisnya. Ingin sekali rasanya aku menutup mulut bodooh nya itu supaya tak berbicara lagi tentang hal pertemanan.


"Setidaknya, dengan begitu aku bisa menjagamu, meski dari jarak jauh!"


Air mataku lagi-lagi harus bercucuran, kenapa teramat sakit mendengar permintaannya. Kenapa mendadak hati ini terasa teriris dengan kalimatnya. Kenapa ini semua harus terjadi pada kami? kenapa aku tak bisa melupakan saja semua perbuatannya, memaafkannya dan berlari kedalam pelukannya? Kenapa?


.


.


.


.


Bersambung...