
Suara getaran ponsel menyadarkan Rey dari lamunannya yang terjadi beberapa menit lalu. Ia merogooh saku celananya dan mengambil benda pipih itu. Seringaian tipis muncul dari sudut bibirnya ketika membaca nama yang tertulis dilayar sedang meneleponnya saat ini.
"Ada apa, Kak?"
"Kau dimana? Apa tidak ke Pabrik? Kau kesiangan?" Tanya Siska dari seberang sana.
Rey menggeleng walaupun Siska pasti tidak akan melihatnya. "Aku di Airport." Jawab Rey santai.
"Are you crazy? Kau benar-benar akan ke London hari ini? Aku harus jawab apa pada Papamu jika dia menelpon?" Siska mengomel dan Rey malah terkikik mendengarnya.
"Bantu aku kakakku sayang. Saranghae!" Rey menahan gelak diujung kalimatnya. Ia memutuskan panggilan itu secara sepihak dan langsung menyetel ponselnya dalam mode pesawat.
"Maafkan aku, Kak!" Gumam Rey dalam hatinya sendiri.
...๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ...
Saturday. 10:58 PM
Heathrow International Airport, London, United Kingdom.
Rey menarik pelan kopernya, Letih. Itu adalah hal yang pertama kali ia rasakan begitu tiba di London hari ini. Bagaimana tidak, rasanya ia baru mendarat di Seoul beberapa hari lalu dan sekarang ia sudah berada di Ibukota Inggris.
Berjalan perlahan dan memasuki pintu terminal kedatangan. Menunjukkan paspornya di eGate (pintu otomatis) lalu melakukan pemeriksaan paspor dan visa, ia harus bertemu dengan petugas imigrasi yang hanya melihat sekilas tanpa adanya senyuman. Yah, orang-orang disini memang terkenal tak ramah.
Rey harus menjawab beberapa pertanyaan sebelum bisa lolos dari tahap pemeriksaan itu. Pertanyaan-pertanyaan tak penting yang mau tak mau harus Rey jawab juga.
โKau tinggal di London selama berapa hari?" Atau, "Mau kemana saja selama di London?โ Semacam itulah.
Setelah menanyakan pertanyaan tersebut, si petugas kemudian menyerahkan paspor yang sudah diberi stempel sebagai tanda telah melewati imigrasi pada Rey.
"Thank you and have a good day." Ucap Rey berusaha ramah. Imigrasi pun selesai, begitu pula dengan beacukai. Lalu, Rey lanjut berjalan menuju pintu keluar โArrivalโ di terminal 4.
Rey duduk sebentar di sebuah kursi tunggu. "Fiuhhh." Gumamnya. Ia tak pernah merasakan jetlag selama ini. Perjalanan dengan pesawat bukan sekali dua kali dalam hidupnya, tapi kali ini harus ia akui bahwa ia kalah dengan fisiknya sendiri yang amat letih. Apalagi perjalanan ini amat lama dan jauh.
Setelah beberapa saat menetralkan diri pada keadaan, Rey mengambil ponselnya dan berjalan menuju penjualan simcard di vending machine yang ada di beberapa spot di bandara Heathrow. Walaupun di hotel nanti ada wifi dan akses public wifi di London cukup banyak, tapi Rey tetap membutuhkan simcard lokal di sini.
Setelah selesai dengan urusannya, Rey menelepon Doni dari ponselnya.
"Ini gue, lo udah dimana, Dal?" Tanyanya begitu panggilan itu tersambung.
"Gue udah di depan." Jawab Doni. Dan Rey otomatis memutuskan panggilan itu untuk langsung menemui sang kawan.
"Lama lo!" Ucap Doni ketika sudah melihat Rey, ia membantu Rey memasukkan koper ke dalam mobil yang ia kendarai. Sesaat kemudian, keduanya telah masuk dan berada dalam mobil yang sama. Doni sudah berada dibalik kemudi dan tentunya Rey duduk disampingnya.
"Nginap dimana lo?" Tanya Doni seraya tetap fokus menyetir mobil.
"Hilton.." Ucap Rey singkat. Dan Doni pun mengangguk sambil menyetel maps di mobil.
"Berapa lama lo disini?"
"Sampe urusan gue sama Kinan selesai lah." Jawab Rey enteng. Ia memandang kota London dari balik jendela.
"Kalo gak kelar-kelar gimana?" Ejek Doni sambil terkikik.
"Jangan gitu lo, Dal! Belum apa-apa udah buat gue pesimis lo! ingat ya urusan kita belum kelar juga." Jawab Rey serius.
"Emang kita ada urusan apa, Nyuk?" Doni melirik Rey bingung atau lebih tepatnya pura-pura lupa.
"Lo bilang lo ajak Kinan jalan-jalan kan?" Rey tersenyum miring, Doni refleks bergidik melihat senyuman itu. "Tapi, berhubung gue masih capek hari ini, jadi gak usah dibahas dulu." Sambung Rey lagi.
"Gak dibahas selamanya juga gak papa." Doni semringah sedangkan Rey mendengus, sesaat kemudian mereka berdua tertawa serentak.
"Makasih banyak, Bro! Lo bakal banyak gue repotin selama gue disini." Ucap Rey sesaat sebelum ia keluar dari mobil Doni untuk masuk ke dalam hotel.
"No Problem! Kalo nyokap gue tau lo disini juga pasti lo dipaksa ikut nginep dirumah Grandma gue, Nyuk!" Doni terkekeh mengingat Mamanya yang menyayangi Rey layaknya anak sendiri dan terkadang terkesan berlebihan pada Rey.
Rey mengangguk. "Nanti gue bakal kunjungi nyokap sama nenek lo deh!" Jawab Rey tulus seraya membuka pintu mobil dan keluar dari dalamnya dan lanjut mengambil kopernya di kursi belakang.
"Besok gue jemput, Nyuk!" Pekik Doni sambil membuka kaca jendela mobil.
Rey mengangguk pelan dan berjalan masuk. Perlahan tubuhnya menghilang dari pandangan Doni. Doni pun kembali mengemudikan mobilnya menuju pulang ke kediaman neneknya yang ada di London.
___
Musim gugur menjadi pemandangan indah bagi kota London pagi ini. Rey mengenakan sweater yang cukup tebal untuk menyesuaikan cuaca yang cukup sejuk. Musim panas sudah berlalu beberapa hari yang lalu dan berganti menjadi musim gugur. Bertepatan dengan kedatangan Rey ke London.
Cuaca musim gugur yang sejuk namun menghangatkan, dedaunan yang memunculkan warna-warna yang cantik dan begitu menarik perhatian. Rey menghirup udara dalam-dalam untuk menetralkan perasaannya. Hari ini ia akan menemui Kinan. Sejauh ini, ia sudah mengorbankan banyak hal untuk bertemu dengan Kinan di kota ini. Waktu, pekerjaan, terutama mengorbankan kondisi fisik dan hatinya.
Suara klakson menyadarkan Rey dari lamunannya. Ia yang berdiri mematung di depan hotel pun melihat keberadaan Doni dari balik mobil yang ia kendarai.
Rey masuk ke dalam mobil dan tetap terdiam dengan pikirannya sendiri. Doni pun tanpa aba-aba mulai melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang.
"Lo tau kan tempat tinggal Kinan di London?" Tanya Rey memecah keheningan diantara mereka.
Doni mengangguk. "Lo mau langsung temuin dia disana?"
"Iya. Kenapa?"
Doni berdecak lidah. "Ck..Gue rasa pasti sulit, Nyuk! Pertama, dia bilang dia punya suami. Dan kedua, dia punya banyak bodyguard!" Jelas Doni.
"Lo dengar baik-baik ya, Kadal. Pertama, Kinan udah gak punya suami lagi. Kalo pun dia punya suami lagi, itu pasti gue orangnya!" Jawab Rey percaya diri.
Doni menggeleng cepat.
"Gue tau lo tampan, men! Tapi percaya diri lo terlalu tinggi. Gue denger sendiri dia bilang dia udah punya suami." Ucap Doni tak mau kalah.
"Gak mungkin!"
"Serah lo deh!"
"Terus gimana?"
"Ya udah, hari ini gue tunjukin dulu alamatnya ke elo. Besok-besok lo mau jumpain dia sendiri aja. Gue gak ikut-ikatan. Lo pake deh mobil gue selama di London!" Jawab Doni pongah.
"Good boy!" Ucap Rey semringah dan Doni hanya mencebik melihat Rey tak mau mendengar kata-katanya soal suami Kinan.
"Terus bodyguard nya gimana?" Tanya Doni.
"Itu nanti gue pikirin. Udah lo nyetir aja yang bener." Ucap Rey menatap Doni serius. Ia benar-benar senang sekarang, Kinan sudah berada hampir didekatnya. Dan Rey tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.
.
.
.
Bersambung...
Next? Kita lanjut lagi jalan-jalan ke London yah, Guys. Kita temuin Rey dan Kinan apa enggak ya? Tinggalkan dulu komentar nya disini yuk...kasi dulu othor masukan biar semangat lanjutnya.๐๐๐